From Abandoned Village to Powerful Kingdom

From Abandoned Village to Powerful Kingdom
2. Keluarga Baru



Di bidang pandangnya, ada sebuah rumah yang besar yang terbuat dari batu, beratapkan pelepah kelapa. Mereka tinggal di rumah yang paling besar di desa terbengkalai ini, karena atapnya hancur saat diserang bandit, mereka menggantinya dengan pelepah kelapa untuk melindungi diri dari hujan dan sengatan matahari.


Di dalamnya tinggal para penghuni desa, ketika melihat Baha, para orang yang berusia senja menatapnya dengan hati-hati.


Iarina menyuruh Baha untuk menunggu, dia berencana untuk menjelaskan maksud kedatangannya dan menghilangkan kesalahpahaman ini kepada orang-orang. Karena saat Iarina membawa Baha, penduduk menatapnya dengan waspada dan hati-hati.


Melihat kondisi orang-orang di desa ini membuat Baha prihatin, di dunia sebelumnya, dia hidup di dalam rumah yang layak, meski tidak mewah. Setindaknya semua kebutuhan pangan dan sandangnya terpenuhi, meskipun hidup sendiri. Kehidupan mereka sangat berbeda dengan kehidupan lalunya. (Ingatan Hary)


Di lain sisi, dia juga sangat iba dengan kondisi orang-orang, di dalam hati kecilnya, dia ingin membantu penduduk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Apalagi dia juga merasakan betapa pahitnya kehilangan tempat tinggal, harta, dan orang sekitar. (Ingatan Baha)


‘Bisakah aku membantu mereka?’ Baha bertanya-tanya di dalam hati kecilnya.


Baha berjalan menuju Iarina, dia memanggilnya sedari tadi. Dari dalam rumah, keluar pria sepuh dengan rambut dan jenggot yang memutih, Iarina menjelaskan bahwa beliau adalah kepala desa disini sejak


bertahun-tahun yang lalu.


“Kepala desa, maksud kedatanganku kesini adalah untuk singgah sementara karena perjalanan panjang. Aku harap kepala desa bisa mengizinkanku untuk bermalam selama beberapa hari.”


“Anak muda, kau sopan sekali. Laipula, jangan memanggilku kepala desa, aku sudah gagal memimpin desa ini, karena sebab itu beginilah kondisinya sekarang,” katanya dengan ekspresi menyesal dan sedih. “Kau bisa tinggal kapanpun kamu mau, kalau boleh tahu, kemana tujuan perjalananmu ini? Siapa tahu orang tua ini dapat membantu.”


Meskipun umurnya belum terlalu senja, dengan ekspresi wajah yang tertekan, ditambah rambut yang memutih, membuat Baha mengira dia berusia delapan puluh tahunan. Padahal sebenarnya, usianya masih setengah abad lebih sedikit.


Sepertinya, kegagalannya sebagai pemimpin desa membuat kondisinya menjadi buruk sedemikian rupa, perasaan rasa bersalah yang menghantuinya membuat umurnya terpangkas sampai separah ini.


Baha mengatakan bahwa dia tidak punya tujuan yang spesifik, tetapi dia ingin mencari gadis bernama Mia. Diingatannya, Mia sepertinya ditawan oleh bandit yang membunuhnya, dia tidak memiliki petunjuk sama sekali. Tentu saja Baha tidak menceritakan dia terbunuh, dia mengantinya dengan terluka parah.


Kepala desa menyuruh Baha masuk untuk mendengarkan ceritanya lebih jauh, Iarina yang penasaran juga ikut mendengarkan. Kepala desa mengerti sebagian besar ceritanya, dia juga tidak menemukan solusi untuk permasalahannya. Kemungkinan besar, Mia dipaksa bandit menjadi pelayan, atau dijual sebagai budak.


Baha cukup terguncang, dia lupa bahwa ini bukanlah era modern. Ini adalah zaman dimana perbudakan masih dianggap lumrah, Baha menyimpulkan bahwa di dunia ini masih berada pada abad pertengahan awal.


Iarina yang mendengarkan cerita Baha juga dibuat iba, sebenarnya dia juga pernah hampir menjadi budak. Dia sangat tahu seperti apa budak diperlakukan, itu adalah profesi terendah dalam kehidupan sosial.


“Aku sarankan kau tidak perlu mencari keberadaan temanmu itu terburu-buru, lebih baik kita menunggu karavan pedagang yang lewat, dan menanyakan kepada mereka informasi tentang gadis itu. Selagi menunggu karavan yang lewat, bagaimana kalau kau tinggal di desa ini untuk sementara waktu?”


“Ide bagus kepala desa.”


Selepas berbincang dengan kepala desa, Baha berkeliling desa ditemani Iarina dan kedua anak kecil. Mereka berkenalan dengan penduduk, karena Baha orangnya supel, ia bisa dengan cepat disenangi oleh penduduk. Dia dengan cepat akrab, ditambah watak sopan dan tenangnya.


Hari mulai petang, Iarina izin pamit untuk pergi membuatkan makanan kepada penduduk desa. Sementara, Baha sendiri memutuskan untuk berkeliling di sekitaran desa.


“Sayang sekali desa ini menjadi terbengkalai, padahal lokasi ini sangat strategis untuk bercocok tanam. Di tambah ada bukit yang mengelilinginya menambah nilai tambah untuk pertahanan dari hewan liar.”


terkesima dengan tingkat kejernihan udaranya.


Selepas berjalan-jalan, Baha kembali ke rumah singgah. Telah berkumpul semua warga di depan bangunan, tampak Iarina yang sibuk mengurus hidangan kepada para penduduk, sepertinya mereka membuat sup kelinci.


“Iarina, siapa orang itu?” Seorang pria dengan tubuh tinggi besar berdiri di bawah pohon dekat Iarina mengantarkan hidangan.


“Ah, dia bernama Baha. Seorang pengelana yang singgah di desa kita.”


Dengan wajah yang tegas dan mengintimidasi, dia memasang tatapan menyelidik dan menusuk. Iarina yang melihat hal tersebut langsung berdiri di hadapan pria besar itu.


“Ayah, Baha tidak ada hubungannya dengan kelompok bandit, dia orang baik.” Iarina memegang tangan  ayahnya yang berotot semampunya.


“Sebaiknya begitu, dan kau Iarina. Jangan terlalu mudah percaya dengan pria asing, sudah kukatakan padamu berkali-kali kan?” Ayah Iarina berkata tegas, membuat anaknya menundukkan kepalanya.


Sehabis berkata begitu, dia pergi ke belakang rumah, semua orang menatapnya sambil mendesah. Kepala desa menghampiri Baha dan berkata, “Jangan dimasukkan ke dalam hati perkataan Max barusan, dia sangat tegas, dan sangat protektif terhadap anaknya.”


“Aku mengerti.”


Iarina membawakan Baha semangkuk sup kelinci, Baha mengucapkan terima kasih. Iarina tersenyum kecil, dan berlalu. Sepertinya Iarina berusaha menjaga jarak dengannya kali ini. Baha merasa ada sesuatu hal yang terjadi di masa lalu tentang ayah dan anak ini. Meski penasaran, dia tidak mencoba untuk mengorek informasi, dia malah mencoba melupakannya.


Malam tiba lebih cepat, sebelum tidur, biasanya para penduduk menyalakan api unggun dan berbicara tentang kisahnya masing-masing. Karena ada orang baru di antara mereka, Baha lah yang banyak bercerita kali ini.


Dia bercerita tentang kehidupan masa kecilnya bersama Mia, semua berjalan dengan normal sebelum Baha bercerita mengenai kehancuran desanya oleh seorang penyihir jelmaan setan.


Penyihir itu memiliki kekuatan penghisap darah, meski tidak jelas, Baha melihat dengan samar tangan penyihir itu memancarkan cahaya kehitam-hitaman saat dia memegang mangsanya. Orang yang dimangsa penyihir itu berubah menjadi kering dan meninggal seketika.


Mendengar cerita Baha, napas semua orang tertahan. Meski terdengar tidak masuk akal, entah mengapa mereka mempercayai cerita Baha.


Setelah desanya diserang, Baha beserta penduduk-penduduk yang lain melarikan diri, mereka singgah dari satu desa ke desa lainnya, satu kota ke kota lainnya. Setiap kali singgah, mereka selalu mengalami penolakan dan pengusiran.


Saat itu semua orang kehilangan harapan dan sangat putus asa, karena terlalu jauh berjalan dan lelah. Baha dan Mia tertinggal dari kelompok, setelah itu terjadi kejadian bandit mengambil dan menculik Mia. Tentu Baha tidak menceritakan saat dia terbunuh oleh bandit itu, kalau dia cerita, maka orang-orang akan beranggapan yang aneh-aneh, karena dia sempat bangkit dari kematian.


“Saat ini, aku hanya bisa berharap keadaannya baik-baik saja.”


Penduduk desa mendekati Baha karena iba dan kasihan, mata mereka menilai bahwa Baha bukan lagi orang asing, namun keluarga mereka. Mereka pun saling berebutan untuk menceritakan kisah lelucon dan jenaka untuk menghilangkan suasana sedih.


Baha melihat tingkah lucu penduduk desa untuk menghiburnya yang tengah mengalami hal yang sulit, dia menatap kobaran lidah api unggun dengan tenang.


“Kakek, aku telah menemukan orang-orang yang bisa aku anggap sebagai keluarga di dunia ini. Aku harap kakek bisa tenang di alam sana.”