
Pagi-pagi sekali, Baha dan Iarina berkemas untuk pergi menuju ibukota. Mereka menyewa gerobak barang dari para bandit di Klan Lionfang, kuda yang akan menarik gerobak itu adalah kuda putih yang Baha jinakkan sebelumnya.
Sebelum berangkat, Baha memberi makan kuda kesayangannya dengan rumput kesukaannya. Sebab waktu yang akan mereka tempuh akan memakan waktu tujuh hari perjalanan. Iarina mempersiapkan baju-bajunya, perlengkapan kemah dan memasak.
Setelah semua sudah diangkut, mereka pun berangkat pagi itu juga. Semua orang masih tidur pada saat itu, Frank, Max, dan kedua pemburu yang mengantar kepergian mereka berdua.
Langit masih berwarna gelap dengan sedikit warna kuning di ufuk timur, angin yang berembus cukup dingin. Baha yang mengendarai kereta kuda memakai selimut untuk mengurangi suhu dingin, begitu pula Iarina.
“Baha, katamu sebelumnya, kau akan berdagang ke kota kan? Ngomong-ngomong, dimana barang daganganmu?” Iarina menyadari bahwa Baha tidak membawa barang apapun untuk dijual, padahal tujuannya pergi ke kota adalah berjualan.
“Kita akan mampir ke sebuah tempat, semua barang-barangnya sudah aku siapkan. Sebentar lagi kita akan sampai.”
Iarina hanya mengerutkan alisnya, mencoba menebak-nebak barang apa yang akan Baha jual, juga dimana Baha menaruh barang-barangnya tanpa takut jika ada orang yang mencurinya.
Yang Baha lakukan selanjutnya membuat Iarina menjadi takut, dan mencengkeram baju Baha dengan erat.
“B-Baha, jangan katakan bahwa barang-barangmu ada di ….” Wajah Iarina memucat seperti kertas.
“Benar, aku meletakkannya di mansion berhantu …. Jangan memberi tahu siapapun terkait masalah ini ya Iarina, kalau kau memberi tahu, aku tidak akan memaafkanmu!”
Ancaman Baha membuat Iarina makin takut, saat ini dia sangat takut dengan mansion berhantu, di saat yang bersamaan dia juga takut Baha tidak akan memaafkannya. Sementara Baha hanya tersenyum kecil melihat reaksi Iarina.
“B-Baik!”
Iarina menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik selimut cokelat yang terbuat dari serat tanaman yang lumayan kasar, saking takutnya dengan legenda mansion berhantu.
“Iarina, kau mau ikut aku atau tinggal di sini?”
Baha sudah memberhentikan kudanya, saat ini mereka berada persis di depan gerbang mansion berhantu. Di satu sisi dia tidak ingin masuk ke dalam mansion, di sisi lain dia tidak mau di tinggal sendirian di kereta ini.
“A-Aku akan ikut!” Iarina membawa selimutnya bersamanya, dia membungkus seluruh tubuhnya dengan kain dari serat tersebut.
Mereka masuk ke dalam mansion, bunyi derak engsel pintu membuat Iarina memekik sambil menahan suaranya. Tubuhnya gemetaran sementara Baha hanya berjalan santai.
“A-Aku berani … aku berani … aku berani ….”
Iarina berjalan di belakang Baha, dia menarik baju Baha agar bisa tahu kemana Baha akan bergerak.
Baha punya ide untuk menjahili Iarina, dia pelan-pelan membalikkan tubuhnya, dan ….
“….”
Yap, Baha menarik selimut yang membungkus Iarina. Iarina melihat tampilan mansion yang hitam kelam, gelap, dingin, dan lembap. Dia berhalusinasi mendengar jeritan dan raungan mayat hidup yang berasal dari lorong gelap di depannya.
Wajahnya membiru, bibirnya memucat.
“KYYAAAHHH! BAHAA! KAMU JAHAT!!!” Iarina menggigit Baha di perutnya dengan sangat keras, Baha hanya bisa meringis dan menjerit kesakitan.
“I-Iarina …. AWW! Itu sakit!”
Iarina melingkarkan kedua tangannya di dada Baha, dia menekan wajahnya dan mencoba menyembunyikan wajahnya. Dada Baha tertekan oleh perbuatan Iarina.
Iarina terisak dan menangis, Baha hanya bisa memeluknya dengan lembut. Meski perutnya terasa panas karena gigitan Iarina.
“Kamu jahat! Aku tidak akan memaafkanmu!” Iarina berkata sambil terisak di pelukan Baha.
“Maaf, bercandaku kelewatan ….” Baha mencoba menenangkan Iarina, dia berkata, “Begini deh, sebagai permintaan maafku, kau boleh memintaku apa saja deh, aku akan lakukan semampuku.”
Iarina tidak menjawab, dia malah semakin menekankan kepalanya, bersandar di dada Baha.
“Benar ….”
“Janji?”
“Janji ….”
Iarina menatap mata Baha, wajah Iarina sembap, airmatanya memberikan jejak di kedua pipinya yang seperti mochi itu. Baha merasa sangat bersalah, dia mengusap bekas airmata di pipi Iarina dengan lembut.
“Aku tidak akan mengulangi lagi deh.”
“Baguslah … tanggung jawab oke?”
Iarina menjelaskan kepada Baha bahwa dia minta agar permintaan itu disimpan untuk lain waktu. Saat ini dia tidak ingin memakai kesempatan meminta itu, dia sendiri saat ini sudah sangat senang dan gembira.
Alasannya sederhana, karena Baha telah memeluknya. Iarina sangat senang karena mereka bisa mesra-mesraan, meski dia harus menangis dulu.
Baha memutuskan untuk membawa Iarina kembali menuju kereta kuda, biar dia saja yang mengangkut barang-barang yang telah dia kumpulkan di mansion.
Barang-barang yang akan dia jual ke kota adalah barang-barang pecah belah yang masih memiliki nilai jual.
Dia nanti akan menjual pecahan kaca, kain dan baju dari lemari, dan pecahan cermin.
Dia hanya berhasil mengumpulkan barang-barang itu sebanyak empat peti kayu, dua peti kayu berisi pakaian-pakaian bagus dari bumi, dua peti lainnya berisi barang pecah belah, termasuk pecahan kaca seperti gelas, piring, dan cangkir. Juga cermin.
Baha tidak membawa semua baju dan pakaiang yang ada di mansion, dia pasti akan membutuhkan pakaian-pakaian itu di masa depan.
Ketika semua barang telah dimuat, Baha langsung memacu kereta kudanya menuju kota. Perjalanan akan memakan waktu tujuh hari, dia tidak boleh menunda-nunda, mereka hanya akan berhenti jika kuda mereka lelah saja.
“Baha, apa isi peti-peti itu? Mengapa aku mendengar ada suara seperti dentingan lonceng?” Iarina tidak bisa menahan rasa penasarannya terhadap isi peti tersebut.
“Lihat saja.”
Iarina membuka penutup peti, betapa terkejutnya dia dengan apa yang ada di dalamnya.
“Baha, ini kristal! Aku belum bernah melihat kristal transparan dan jernih seperti ini!” Iarina takjub. “Dan ada banyak sekali di dalam, apakah di dalam mansion itu masih mengandung banyak kristal seperti ini?”
“Itu bukan kristal, itu dinamakan kaca. Iarina, apa menurutmu benda-benda itu akan laku jika dijual?” Meskipun Baha tahu bahwa kaca adalah barang yang baru di dunia ini, dia penasaran apakah kaca memiliki nilai jual.
“Tentu saja, kristal seperti ini akan dihargai sangat mahal! Apalagi kau punya ratusan keping di peti ini! Kita akan kaya raya!” Iarina melihat dan membongkar isi peti, dia menatap takjub tiap kepingan-kepingan kaca.
“Iarina, apakah ini juga bisa dijual?” Baha menyodorkan sebuah cermin, Iarina memandang linglung pantulan cermin, dia melihat wajahnya sendiri dan tertegun dalam waktu yang lama.
“Baha, benda ini ….”
“Itu adalah cermin, gambar yang kau lihat di cermin adalah pantulan wujud asli benda. Wajah yang kau lihat itu adalah wajahmu.”
Iarina tidak percaya ada benda ajaib seperti ini, dia mencoba mengarahkan itu ke wajah Baha. Wajah Baha dengan gambar yang terpantul dicermin memiliki bentuk serupa.
“Ajaib! Benda bernama cermin ini, sangat ajaib!”
Untuk berjaga-jaga, Baha tidak membawa banyak pecahan cermin bersamanya. Dia berencana untuk memasarkan pecahan cermin ini di kota, sementara dia akan mengatakan bahwa produk ini juga dijual di Desa Bahamud. Sehingga, para pembeli nanti akan berbondong-bondong datang ke Desa Bahamud.
Maka, proses ekonomi para penduduk akan meningkat pesat, dan Desa Bahamud akan tersohor karena produk cermin ini. Apalagi, dia akan menjual cermin ini dengan harga tinggi.
Dia tidak sabar, kapan hal itu akan terjadi.