
Rumah yang sangat besar.
Itulah kesan pertamanya tatkala melihat kediaman kepala cabang serikat pedagang, Suwail langsung menuntun Baha memasuki kediaman kepala cabang.
“Penjaga, izinkan kami masuk untuk menemui Tuan Mundhalir!” Suwail berkata dengan lantang, beberapa penjaga berlari kecil membukakan gerbang.
“Tuan Suwail, tuan menunggu di kantornya, mari lewat sini untuk memarkirkan kereta kuda anda.”
Pintu besi tersebut dibuka perlahan, kereta kuda mereka masuk ke dalam kediaman Kepala Cabang Mundhalir.
Taman depan kediaman kepala desa terbilang luas, berbagai macam jenis bunga dikembang biakan untuk menambah estetika. Terdapat kolam yang luas, dengan berbagai jenis ikan hias dipelihara di dalamnya.
Bisa dilihat banyak tukang kebun yang merawat tanaman-tanaman di taman ini, menjadikan taman ini terurus dan enak dipandang mata.
Mereka berhenti tepat di depan mansion Mundhalir, Suwail menuntun Baha menemui Kepala Cabang Mundhalir.
Saat memasuki pintu masuk, pelayan-pelayan berdiri menunggu mereka masuk, mereka serentak berkata, “Selamat datang di kediaman Tuan Mundhalir!”
Baha bisa melihat pelayan-pelayan tidak semuanya berumur tua, tetapi ada di antara mereka yang berusia remaja, dan seumurannya. Baha terkejut ada di antara mereka yang memiliki telinga dan ekor kucing.
“Aku benar-benar berada di dunia lain,” kata Baha pelan.
“Kau bilang sesuatu tuan?”
“Ah! Tidak kok.”
Kantor Kepala Cabang Mundhalir ada di lantai dua, mereka menaiki tangga. Di sana banyak terdapat lukisan dan ornamen-ornamen. Lantainya terbuat dari marmer dan dindingnya terbuat dari batu pualam.
“Seperti yang diharapkan dari rumah kepala cabang serikat pedagang, dia bisa mendapatkan batuan-batuan ini dengan mudah.”
Tok! Tok! Tok!
“Tuan Mundhalir, ini Suwail dan Tuan Baha! Bolehkan kami masuk?”
Pintu langsung terbuka, ada seseorang yang membukakan pintu kantor, dia bukan Tuan Mundhalir, melainkan seorang wanita dengan wajah anggun dan menawan.
“Sayang, inikah Tuan Baha yang kau maksud?” Wanita itu memperhatikan Baha dengan saksama, “Dia sangat imut!”
“Sayangku Rayma, tidak baik wanita yang bersuami tertarik dengan pria lain, apalagi pria di bawah umur seperti Baha.”
Rayma memeluk Baha dari belakang, karena tubuh Baha yang pendek, kepala Baha hanya setinggi dada Rayma. Membuat kedua benda bergelantungan itu menghimpit kepala Baha.
“Lupakan saja, Baha, mari kita diskusikan mengenai barang-barang yang kau bawa. Pelayan, bawakan barang-barang Baha ke kantorku segera!”
“Baik tuan!”
Selagi menunggu barang-barang Baha dibawa, Mundhalir mempersilakan Baha duduk di kursi kayu. Rayma menyuruh pelayan untuk membawakan minuman dan camilan ringan, selagi mereka berbincang.
“Sebelumnya, aku mohon maaf karena tidak memperkenalkan diri dengan baik. Namaku Mundhalir, aku menjabat sebagai ketua cabang serikat pedagang di Kota Cihurup.”
“Perkenalkan, namaku Suwail. Aku adalah ketua penilai barang di serikat pedagang.”
Baha tidak menyangka bahwa Suwail yang memiliki wajah lemas dan tidak bertenaga ini adalah ketua penilai barang.
“Perkenalkan, namaku adalah Baha. Tujuanku di kota ini adalah untuk menjual barang-barang yang kubawa dari desaku.”
“Jika kau ingin menjual barang, sangat tepat bagi anda mengunjungi kota kami. Serikat Pedagang akan selalu menerima orang-orang yang menjual barang-barang unik. Kami bisa menilai barang dengan memberikan harga menurut keunikan dan kualitas barang itu sendiri.”
“Baguslah kalau begitu, kebetulan aku membawa beberapa barang dari desa. Rencanaku ingin menjual semua barang kami di kota ini. Jika harganya cukup memuaskanku, kita bisa langsung melakukan transaksinya.”
Tok! Tok! Tok!
Pintu kantor dibuka, peti-peti kayu yang Baha bawa semuanya telah diangkut. Selain barang bawaan Baha, pelayan yang membawa minuman dan camilan ringan itu juga datang.
Pelayan itu segera menyusun piring dan cawan dari gerabah itu di hadapan mereka, Baha melihat bahwa kemajuan teknologi di dunia ini memang masihlah prematur.
Peti-peti Baha sudah berada di hadapan mereka semua, Mundhalir dan Rayma penasaran dengan isi barang-barang yang Baha bawa, begitu pun dengan penilai barang Suwail.
“Tuan dan nyonya, peti-peti ini adalah barang-barang yang kubawa. Aku tidak membawa banyak karena perjalananku ke kota ini adalah untuk memastikan apakah barang-barangku terjual atau tidak. Kuperkenalkan barang-barang cantik ini kepada anda semua!”
Baha mengeluarkan pecahan kaca yang tembus pandang, Suwail dan Mundhalir yang sempat melihatnya mengangguk tanda kagum. Sementara Rayma yang pertama kali melihat permata sejernih ini membuka mulutnya lebar-lebar.
“I-Ini, permata yang sangat transparan!” Rayma langsung menerkam pecahan kaca yang Baha pegang.
Rayma melihat peti kayu, dia makin tidak percaya bahwa permata ini jumlahnya banyak.
“Suwail, menurutmu berapa harga permata transparan ini.”
Suwail mengusap dagunya, mencoba mengira-ngira harga yang tepat untuk benda ini. Dia mengambil salah satu kaca dan memeriksanya dengan teliti.
“Hmm, aku tidak yakin. Baha, aku sudah mengerti kelebihan benda ini, tetapi apa kau tahu apa kelemahan permata ini?”
“Benar, meskipun permata ini memiliki kejernihan dan tingkat transparansi tinggi, kelemahannya adalah permata ini mudah pecah menjadi serpihan-serpihan yang lebih kecil. Namun, jika kita panaskan dengan suhu tinggi, permata-permata ini akan bisa disatukan kembali.”
Suwail, Mundhalir, dan Rayma melongo, mereka tidak percaya apa yang baru saja mereka dengar. Permata yang mudah pecah, namun bisa dengan mudah dipulihkan. Permata ini bukan hanya langka, tetapi abadi!
“Adakah permata yang jika dipanaskan menyatu seperti semula!?”
“Kau bercanda kan!?”
“Tidak mungkin!”
Mereka bertiga menimbang-nimbang kemungkinan, benarkah apa yang dikatakan bocah ini memang nyata atau hanya gurauan semata.
“Yah, mari kita kesampingkan hal itu. Aku akan membuka peti selanjutnya.” Baha tidak terlalu memikirkan reaksi mereka, dia sudah mengantisipasi reaksi mereka.
Memaksa adalah jalan yang buruk, dia harus benar-benar meyakinkan mereka semua untuk membeli barang-barangnya dengan harga tinggi.
Baha mengeluarkan jas hitam, kemeja, celana bahan, dan aksesoris pakaian seperti dasi, topi, dan pita. Baha menyadari, meskipun baju yang dikenakan mereka memang bagus dari segi desain. Hanya saja, bahan yang mereka kenakan tidak terlalu lembut, bahkan Baha bisa melihat dengan jelas banyak serat-serat pakaian yang tidak rapi dalam segi sulamannya.
Dari semua orang, Rayma yang paling antusias. Dia langsung melihat ada pakaian yang menarik matanya, tanpa pikir panjang, dia menyerbu dan merebutnya dari tangan Baha.
“Gaun ini cantik sekali! Baha, bolehkah aku membeli gaun ini! Oh! Ini juga! Dan Ini ….”
Rayma mengacak-acak dua peti berisi pakaian yang Baha bawa, dia sangat bersemangat memilih baju-baju yang cocok untuknya. Semua orang hanya tersenyum kecil sambil menghela napas melihat kelakuannya.
“Ehem! Sayang, perhatikan etikamu di depan tamu kita.” Mundhalir tidak tahan dengan kelakuan istrinya yang agak kekanak-kanakan.
“Diam sayang! Baju ini bukan sembarang pakaian, bahan yang digunakan sangat lembut dan berbeda dengan baju-baju yang kita miliki!”
Rayma tidak peduli dengan tatapan semua orang yang tertuju padanya, yang dia pikirkan adalah memilih sebanyak-banyaknya baju selagi dia bisa.
“Ah! Ini sangat sulit untuk memilih semua baju bagus ini! Sayang! Mari kita beli semua barang yang Baha miliki! Atau kita cerai!”
Mundhalir menepuk keningnya sambil menahan tangisnya, dia berkata, “Sayang, jaga mulutmu. Tolong jangan katakan kata-kata seperti itu!”