From Abandoned Village to Powerful Kingdom

From Abandoned Village to Powerful Kingdom
1. Hary adalah Baha, Baha adalah Hary.



“Setindaknya, aku masih bisa melindunginya.”


Seharusnya, hari ini adalah hari dimana kencan pertamanya bersama seorang gadis yang telah dia taksir sejak lama berlangsung. Sayangnya, petaka yang merenggut nyawa Hary tidak terhindari.


Demi menyelamatkan gadis tersebut, dia rela melindunginya dari muntahan proyektil para perampok yang menyerang toko baju tempat mereka berbelanja.


Saat ini, dia masih bisa merasakan sensasi tubuhnya yang tertembus peluru, entah apa penyebabnya tubuhnya masih tidak bisa digerakkan di ruangan putih pucat ini.


Seharusnya tempat ini adalah tempat peristirahatan terakhirnya, tetapi mengapa dia masih bisa merasakan sakit? Itulah pertanyaan besar yang muncul di kepalanya.


“Sudah lama menjomblo, saat kencan pertama, malah kena musibah …,” desahnya pelan, sembari melihat lihat keadaan sekitar.


Ada sesuatu yang muncul dari kejauhan, saat itu penglihatannya menjadi putih, tubuhnya terasa terhisap oleh angin yang sangat kuat. Tubuhnya benar-benar terombang-ambing tanpa arah yang pasti.


“Apa sih yang sedang terjadi!”


* * * * *


“Dimana aku?” Mata anak tersebut menerawang langit yang bertaburan awan, dia menyaksikan hal yang sangat aneh sebelum dia sampai disini.


“Kita berada di kereta kuda, bagaimana luka-lukamu, apakah masih terasa sakit?” Seorang pria paruh baya duduk di sampingnya.


“Sudah terasa lebih baik …. Eh, tunggu, bagaimana bisa aku ada disini?” tanya dia keheranan.


Pria tersebut menjelaskan bahwa dirinya terkapar di tengah jalan dengan tubuh yang bersimbah darah, kebetulan rombongan kereta kuda ini lewat dan membawamu dari sana. Pria paruh baya itu terkejut melihat kondisinya karena di tubuhnya sama sekali tidak ada bekas luka.


Dia menopang dagunya, mencoba mencerna semua yang terjadi. Seingatnya dia baru saja mati tertembak oleh perampok, saat sadar, dia berada di ruangan putih pucat yang aneh. Lalu, apa yang selanjutnya terjadi, dan mengapa dia berada di tempat ini?


“Pak, kalau boleh saya tahu, dimana kita sekarang?”


“Kita berada di wilayah Duke Kasim, tepatnya di Kerajaan Bethelia.”


Ini jelas bukan di bumi, sepengetahuannya, tidak ada negara dengan nama Bethelia. Berarti dia telah pindah ke dunia lain, dan tubuh anak ini adalah raganya saat ini. Apakah semua ini nyata? Seharusnya ini cuma ada dalam cerita fiksi kan?


“Ada apa nak, wajahmu cukup pucat?”


“Tidak, aku hanya sedikit terguncang.”


Dia memijat keningnya, semua kilas balik tiba-tiba masuk ke dalam pikirannya. Dia pun pingsan sekali lagi karena banyaknya memori yang memenuhi otaknya.


* * * * *


“Baha, sampai kapan kita akan terus berjalan, kakiku sudah lelah.” Seorang gadis dengan tubuh kering menarik bajunya, wajahnya dan rambutnya yang dipenuhi debu membuat orang-orang yakin bahwa dia hidup sengsara.


Baha menoleh melihat teman masa kecilnya itu, dia juga sudah tidak kuat untuk melangkah lagi. “Bersabarlah Mia,” katanya dengan ekspresi sedih.


Mereka sudah berjalan dua hari tanpa henti, meninggalkan desa tempat tinggal. Kejadian nahas menimpa desa tempat mereka tinggal, desa mereka diserang oleh seorang wanita jelmaan iblis yang menghisap darah semua penduduk, banyak orang yang meregang nyawa karenanya.


Mereka sendiri bersyukur karena bisa menyelamatkan diri dari musibah tersebut, namun sekarang keadaannya menjadi sangat sulit.


Mereka harus mencari tempat tinggal yang aman dan lebih baik, hampir tidak ada penduduk desa yang peduli dengan sesamanya, mereka bertahan hidup masing masing, dengan mengerahkan semua tenaga yang mereka punya.


Baha dan Mia mengikuti penduduk desa yang selamat, semua penduduk desa berada jauh di depan, meninggalkan mereka berdua.


Dari belakang, terdengar bunyi derap langkah sepatu kuda. Mereka menoleh, sekawanan bandit mengejar dengan ganas.


“Mia, lari!” Baha menarik Mia dengan keras, Mia yang terkejut dengan tarikan Baha pun terjatuh mengingat kakinya sudah sangat lelah untuk berlari.


“Baha, aku capek, kakiku tidak bisa bergerak.” Mia menatap Baha memelas, dia hampir menangis, Baha mencoba untuk mengangkat tubuh Mia, namun gagal karena staminanya juga sudah habis. Bandit itu sudah sangat dekat dengan mereka, Baha menempatkan dirinya di depan Mia.


“Bocah, serahkan gadis itu, aku akan melepaskanmu.”


Baha merasakan celananya ditarik dengan sangat keras dari belakang, Mia memohon, “Baha, larilah! Aku tidak mau kau terluka.”


Dia tidak bergeming, tubuhnya tetap kokoh di depan bandit itu, seakan-akan mengatakan ‘Kau ingin mengambilnya, langkahi dulu mayatku.’


“Bocah tidak sayang nyawa, hei,” Bandit itu menyeru kepada rekannya yang berada di belakang untuk maju,. “Bereskan bocah ini biar aku yang mengurus gadis itu.” Bandit itu menyuruh kawan-kawannya untuk mengurus Baha sementara dia mencoba merebut paksa Mia.


“Bocah biadab, mati kau!”


Ayunan pedang sang bandit mengenai leher Baha yang kurus, cairan berwarna merah merembes keluar. Baha langsung terlempat jauh, dia terkapar di tanah kering berdebu, meski sudah menerima luka fatal, dia masih bisa membuka matanya.


Di visinya, dia melihat Mia yang menjerit dan memberontak sementara para bandit mencoba mengikat kedua kaki dan tangannya. Baha mengepalkan tangannya dengan keras sampai kuku-kukunya menusuk kulit tangannya sendiri.


Perlahan, visinya semakin pudar, dan pudar. Sampai akhirnya benar-benar berwarna hitam kelam.


* * * * *


“Haaahhh!” Seseorang menjerit.


“Kyaahhh!”


Ingatan pemilik tubuh bocah ini tereka ulang dalam mimpinya, sensasi kematian bocah ini terasa sangat nyata. Hary tidak bisa tidak merinding setelah menyaksikan bagaimana penyihir jelmaan iblis yang membantai penduduk desa, Hary merasakan aura kebencian yang bersemayam di tubuh bocah bernama Baha ini.


Hary memijat keningnya dan menyadari bahwa ada seorang gadis dengan pakaian bangsawan duduk di sampingnya. Dia sangat terkejut karena jarak antara wajah mereka sangat dekat satu sama lain, menyebabkan Hary dan gadis itu merasa malu.


“Maafkan sikap lancangku barusan putri!” Hary berlutut dengan kepala menunduk di hadapan putri. Karena pakaian gadis ini seperti bangsawan, spontan saja dia menunduk.


Putri tersebut berdiri sembari menepuk roknya yang kotor terkena debu, dia mendeham sembari membetulkan posisinya.


“Ahem, tidak apa-apa, putri ini telah memaafkanmu.”


Putri meliriknya sedikit, ketika Hary juga meliriknya, dia langsung mengalihkan kepalanya.


“Baguslah kalau kau sudah sadar, putri ini izin pamit.”


‘Sial, mengapa gadis kecil ini menjadi begitu cantik? Apakah aku sudah berubah menjadi penyuka loli?’ gumam Hary dalam hati.


“Baik putri.” Sang putri beranjak pergi dari lokasi, menuju kereta kencananya yang mewah, dari arah yang sama, muncul seorang pelayan sembari membawa hidangan sederhana.


Setelah memberinya piring, pelayan itu segera kembali tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hary langsung menyantap hidangan yang dibawa oleh pelayan tanpa pikir panjang.


“Pertama-tama, aku harus mengganti namaku. Dalam ingatannya, namanya adalah Baha, sepertinya aku akan memakai nama ini untuk kedepannya. Kedua, aku akan menyantap hidangan ini!”


“Rasanya … seperti anda menjilat batang besi berkarat!”


Baha diperbolehkan menumpang dengan rombongan putri selagi memulihkan kondisinya, dia dengan cepat akrab dengan para pelayan dan penjaga rombongan. Meskipun dia orang luar, dan berasal dari kalangan bawah, Baha sama sekali tidak merasakan adanya diskriminasi.


Meski orang-orang sangat baik kepadanya, tetapi Baha tidak boleh menyusahkan mereka lebih dari ini. Sehabis sarapan di hari berikutnya, Baha pamit untuk berpisah dengan rombongan putri.


Pelayan memberinya bekal, peralatan, dan sedikit uang saku. Baha sangat berterima kasih dan bersyukur dengan kebaikan mereka, rombongan kereta kuda pun berjalan meninggalkannya yang saat ini melambaikan tangan, berpisah.


“Baiklah … kemana aku harus pergi sekarang?”


Setelah berjalan mengikuti jalan setapak yang hampit tidak tampak karena terhalangi oleh rumput yang tinggi, dia menemukan ada sebuah desa yang berada di lembah, di sekitarnya berdiri bukit-bukit tinggi.


Jika dilihat sekilas, desa ini sudah seperti desa yang ditinggalkan oleh penduduknya sejak lama. Mengingat banyaknya pondasi rumah yang hancur, kondisi jalan yang berantakan, dan atmosfer heningnya.


Jikalau dia tidak melihat ada seorang gadis yang tengah bermain dengan dua anak kecil, dia bakalan percaya bahwa desa ini sudah lama terbengkalai. Meski kondisinya tidak layak untuk disinggahi, Baha tidak punya pilihan lain karena selama perjalanannya, dia belum menemukan pemukiman sama sekali.


“Permisi, bisakah aku singgah sementara di tempat ini?”


Gadis itu sedikit terkejut dengan kehadirannya, mengingat dia sama sekali tidak mendengar suara langkah kaki. Kedua bocah yang asyik bermain langsung berlari kemudian bersembunyi di belakang gadis berwajah ramah itu.


“Kami terkejut. Kami pikir kau adalah bandit-bandit itu.”


Gadis itu menjelaskan bahwa desa ini sampai berada dalam kondisi ini karena ulah para bandit, tiga tahun yang lalu desa ini normal kondisinya. Karena tidak ada orang yang kuat untuk melindungi desa membuat para bandit bertindak seenaknya. Mereka menjarah dan membuat rusuh di desa ini.


Beberapa penduduk memutuskan untuk pergi mencari tempat yang lebih aman, sementara sisanya lebih milih tinggal karena tempat ini menyimpan banyak kenangan. Sebagian besar penduduk yang bertahan berusia lanjut, kurang lebih ada 28 orang yang hidup di desa terbengkalai ini.


“Apakah kau pendatang, jika kau menginginkan tempat untuk beristirahat, sebaiknya ikuti aku.”