
Max tidak pernah terpikirkan sedikit pun bahwa seorang bocah berusia dua belas tahun mahir berkata-kata, dalam benaknya dia menduga-dua, darimana kemampuan lidahnya itu terasah. Dari berbagai kemungkinan, dia mengerucut, dia menduga Baha adalah seorang bangsawan, atau penipu ulung.
Yang lebih mengherankan baginya, bagaimana dia bisa berburu rusa secepat ini? Padahal dia yang seorang pemburu berpengalaman, tetapi dikalahkan oleh bocah seperti dia. Latar belakang bocah ini tidak biasa, Max harus mengamatinya dan waspada terhadap bocah ini.
“Sial, karena kurang nutrisi. Tubuh ini bahkan kesulitan untuk menyeret hewan ini.” Di belakang Max, Baha jengkel karena kemampuannya saat ini sangat menyedihkan. Dia bahkan tidak bisa menyeret hewan buruan ini.
Max menunggu Baha, kemudian dengan acuh mengangkat hewan buruan Baha dan mengangkatnya di pundaknya. Baha tidak memedulikan aksi Max, dia hanya mengikuti dari belakang.
Sampailah mereka di kamp bandit dengan nama Klan Lionfang, kalau dilihat secara sekilas, markas bandit ini tidak lebih seperti sebuah desa kecil. Ada bangunan besar tempat pemimpin bandit tinggal, di sebelahnya ada barak, dan gudang penyimpanan. Di sekitarnya dibangun tembok kayu dan menara pengawas.
Ada perbedaan yang mencolok antara desa dengan kamp bandit ini, di kamp bandit ini sama sekali tidak ditemukan perempuan. Entah apapun alasan itu, Baha sama sekali tidak mengerti pemikiran mereka. Baha menduga bahwa bandit-bandit ini juga bisa berfungsi sebagai prajurit bayaran, benar atau tidak tetapi itu bukanlah hal yang mustahil.
“Kami membawa empat rusa, apa yang bisa ditukar dengan jumlah itu?” Max berbicara dengan seorang penjaga gudang.
“Kami bisa memberikan berbagai pilihan, untuk lebih jelasnya ikuti aku untuk memilih barang-barangnya.”
Selagi Max dan kedua pemburu itu menuju gudang penyimpanan, Baha berkeliling kamp untuk mencari informasi, dia berbincang dengan para penjaga untuk mendapatkannya.
Seperti dugaan sebelumnya, bandit nyatanya bisa berfungsi sebagai prajurit bayaran. Mereka seringkali disewa sebagai penjaga karavan, berperang, dan melakukan operasi mata-mata. Sebenarnya, bandit adalah sekumpulan orang yang ingin hidup dengan bebas. Mereka tidak ingin terikat atau terlibat dengan sistem pemerintahan, dan situasi politik di desa-desa dan kota-kota.
Mengenai mengapa mereka tidak memiliki perempuan di kamp-kamp mereka, tidak lain supaya tidak terjadi perselingkuhan dan perebutan ranjang antar bandit. Karena bandit adalah sekumpulan orang yang bebas, saking bebasnya mereka sama sekali tidak peduli dengan ikatan pernikahan. Jika mereka ingin bermain dengan wanita, umumnya mereka akan pergi ke distrik-distrik malam di berbagai kota. Tetapi tidak jarang ada beberapa bandit yang memilih menyerang desa untuk menculik wanita-wanita, perbuatan ini sangat bertentangan dengan norma, Klan Lionfang adalah salah satu kamp bandit yang tidak melakukan perbuatan tercela seperti itu.
Kalaupun mereka ingin memiliki menikah dan mempunyai istri, mereka umumnya akan menyembunyikan istri-istri mereka di desa atau kota supaya aman dari tangan teman-teman mereka sendiri.
Dari informasi ini Baha hanya bisa menelan pahit ludahnya sendiri, dia berharap bahwa Mia baik-baik saja di luar sana. Jangan sampai hal yang tidak mengenakkan terjadi kepada Mia.
“Apakah kau orang baru dari Desa Bahamud?” Seorang pria kekar datang, tubuhnya berdiri gagah menjulang.
Baha langsung menoleh karena dia merasakan bahwa kerikil di tanah sedikit bergerak karena langkah kaki seseorang. Di sana dia melihat seorang pria yang punya potur tinggi besar, dengan baju zirah di badannya, dia tampak seperti tirani.
“Ah, maaf mengejutkanmu. Perkenalkan namaku Suherman, aku adalah pemimpin Klan Lionfang,” ujarnya sembari mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Baha juga mengulurkan tangannya, Suherman mengajak Baha untuk mengobrol tentang Desa Bahamud setelah berkenalan singkat.
“Bagaimana pendapatmu tentang Desa Bahamud?”
“Sebuah desa yang tidak terurus yang menyedihkan,” katanya pelan. “Meski desa ini tidak terurus, tetapi berdasarkan pengamatanku mengenai sumber daya dan lokasi desa yang strategis. Desa ini seharusnya bisa berkembang dengan baik, aku rasa masalahnya ada pada tenaga kerjanya dan semangat penduduknya yang rendah.”
Suherman mengangguk dan tersenyum, dia bisa merasakan aura yang baik dari pemuda di depannya ini. Dia memiliki pengamatan yang tajam, dia yakin di masa depan orang ini akan menjadi orang hebat.
“Pengamatan yang bagus, aku terkesan denganmu. Dilihat dari perkataanmu, apakah kamu punya rencana tentang desa itu?”
Baha tidak langsung menjawab, namun berpikir sejenak. Ingatan buruk tentang desanya yang diserang oleh penyihir jelmaan iblis terproyeksikan lagi di dalam kepalanya. Dia tidak ingin kejadian semacam itu terjadi lagi, dia ingin membuat sebuah pasukan untuk mempertahankan orang-orang dari bencana tersebut. Berdasarkan pengetahuan dan kemampuan yang dia miliki, dia tidak yakin.
Meskipun teknologi bumi lebih maju dengan yang ada di dunia ini, dia sama sekali tidak memiliki metode untuk mengembangkan teknologi pada zaman ini ke arah teknologi masa depan. Dia bukanlah orang yang giat mempelajari sejarah dan perkembangan teknologi dari masa ke masa.
Dari kecil, dia sudah hidup bersama kakeknya. Tidak mengetahui dimana orang tuanya, kakeknya pun tidak pernah memberitahu sebelumnya. Kakeknya sangat menyayanginya meskipun dia tidak sedarah dengannya, tetapi kakeknya sangat tegas saat dia berada di lapangan.
Mereka hidup di wilayah pelatihan militer di Indonesia, kakeknya adalah jenderal yang sudah lama pensiun. Di sana dia sangat disegani oleh orang-orang, tidak ada orang yang tidak kenal dengannya di kawasan pelatihan tersebut.
Nama saat dia hidup di bumi adalah Hary, Baha adalah pemilik tubuh dimana Hary bersemayam saat ini.
Sehari-hari, dia berlatih fisik dan mental di kawasan pelatihan tentara. Hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari, dia sudah menguasai berbagai macam keterampilan seperti menembak, berenang dengan tangan dan kaki terikat, terjun payung, mengendarai tank, dan keterampilan militer lainnya.
Karena berlatih sedari kecil, membuatnya cepat menguasai berbagai kemampuan. Tetapi hal yang menonjol dari dirinya bukanlah keterampilan militer, melainkan kemampuan ingatannya yang sangat bagus.
Namun sayangnya kemampuan itu baru dia sadari setelah berumur lima belas, sehingga dia tidak bisa menggunakan dan memanfaatkan bakatnya itu sedini mungkin. Apalagi, diumur itulah kakek yang mengasuhnya meninggal dunia akibat penyakit stroke yang dideritanya.
Butuh satu tahun bagi Hary untuk merelakan satu-satunya anggota keluarga yang dia punya. Setelah mempersiapkan dirinya dengan mengejar pelajaran dari SD sampai SMP, Hary sudah siap untuk bersekolah di SMA.
“Akhirnya aku merasakan sekolah untuk pertama kali!”
Seseorang menabrak Hary dari belakang, karena saat itu para siswa baru ramai, sehingga semua orang berdesak-desakan di koridor. Seorang gadis berambut hitam malam, memakai penjepit rambut berbentuk strawberry. Kulitnya mulus, sebening giok. Matanya lebar bak delima, dengan pupil berwarna crimson yang cemerlang.
Baru kali ini Hary melihat ada perempuan yang sangat cantik dan mulus, dengan aura feminim dan tenang. Di kawasan pelatihan tentara, tidak ada sosok perempuan seperti ini. Di sana hanya ada perempuan tangguh berambut pendek, berkulit sawo matang akibat kena paparan sinar matahari. Perempuan jenis ini, sangat misterius baginya. Ada rasa ingin melindungi yang muncul, melihat sosoknya yang terlihat benar-benar rapuh. Maklum karena Baha hidup di dunia militer.
Di dalam situasi yang kacau, Hary menarik gadis itu ke dekat tembok, supaya dia tidak diinjak-injak oleh orang yang berlalu. Baha membantu mengumpulkan barang-barangnya yang jatuh berserakan.
“Maaf, ini barang-barangmu.”
“T-terima kasih, seharusnya aku yang minta maaf karena telah menabrakmu.” Gadis itu menunduk, dia spontan merapikan penampilannya yang kacau.
“Kalau kau mau, bisakah kita mencari kelas bersama-sama nona?”
“B-boleh saja,” katanya. “Kyah!”
Gadis itu terkejut tangannya sudah diraih oleh Hary, dia sendiri jarang bersosialisasi dengan pria. Latar belakang gadis ini cukup unik, dia adalah anak dari seorang walikota dan kepala sekolah khusus wanita dari jenjang taman kanak-kanak, dampai sekolah menengah pertama.
Dengan latar belakang seperti itu, semasa bersekolah. Dia hampir tidak memiliki kenalan dan teman laki-laki, semuanya adalah perempuan. Di rumah pun juga demikian, laki-laki di keluarganya hanya ayahnya saja.
“Kau boleh panggil aku Hary, siapa namamu?”
“A-aku Mary, salam kenal.”
“Hary, Mary. Nama kita cocok ya!”
“C-cocok … cocok … hau.”
Pada hari pertama masuk SMA, di situlah dia bertemu dengan seorang gadis. Gadis yang akan menjadi pacarnya.