
Maaf ya teman² ku tersayang kalo penulisan ku masih banyak tipos nya..maklum aku kan masih tahap pembelajaran..selain itu yang aku punya hanyalah handphone tidak seperti penulis lin nya menggunakan laptop nya yang canggih..
Maklum aku mah cuma apa atuh..seorang ibu rumah tangga yang hanya menggunakan waktu luang dengan menghayal dan menerapkan nya dalam coretan novel di handphone yang jadul ini..hee
Jadi mohon memaklumi ya say... 😘😘
Gimana hari ini apakah kalian sudah bahagia ??
Kalo belum coba senyum sedikit sambil ngaca..tuh bisa kan bahagia..wkwkwk
Apa sih aku ini ya..geje banget..tapi semoga kalian semua tetap sehat selalu dan bahagia.. Sekarang kembali ke laptop...eh salah...ke handphone...
"Happy reading all"
.
.
.
Episode 3
"Lagian kamu juga yang masa cemburu sama Mitsuki..kamu jelas lebih segalanya dibandingkan dengan dia." rika main dengan memasang muka cemberut.
"Jelas aku cemburu lah..kamu kan cuma milikku seorang..tidak boleh ada seorangpun yang menyentuh mu dan terlebih merebutnya." haris dengan posesip menekan kan bahwa rika hanyalah milik nya seorang.
"Sudahlah...kita cepat pulang saja..tapi tunggu mobil kmu gimana..??" rika bertanya pad haris.
"Tenang saja..aku tadi suruh sekertaris yin untuk membawanya ke kantor sekalian dia menyelesaikan laporan hasil meeting tadi bersama pak rio, jadi aku bisa langsung pulang bersamamu.." haris menjelaskan.
"Owh...."
Haris pun langsung menginjak gas dan segera melakukan mobilnya menuju pulang ke rumah, diperjalanan menuju rumah haris menanyakan ica yang mungkin bisa pulang cepat dan sekalian saja menjemput anak nya dulu.
"Sayang apa ica tidak sekalian kita jemput saja, bukankah dia juga bisa pulang cepat hari ini??"
"Tidak usah..tadi ica sudah ijin sama aku katanya mau ke perpustakaan umum dulu mencari buku yang dia perlukan bersama rendi dan sekalian diantar pulang oleh nya juga." rika memberitahukan.
"Kenapa ica selalu saja ditempeli bocah yang namanya rendi itu sih?? Itu tidak akan baik untuk hubungan keluarga kita dengan keluarga pak juan jika keluarga mereka mendengar hal itu."
"Hei...biarkan anak kita sendiri yang memutuskan akan memilih siapa antara mereka..yang bakal menjalani hubungan kan mereka jadi kita tidak usah terlalu ikut campur." rika sedikit membela putri kesayangan nya.
"Tapi kita dulu sudah sepakat bukan untuk menjodohkan anak dari keluarga juan dengan anak kita sayang." haris tidak mau sampai rencana penggabungan dua perusahaan nya gagal begitu saja.
Tidak terasa mobil yang haris kendarai sudah sampai di depan rumah nya dan tanpa menunggu haris membukakan pintu penumpang rika sudah duluan membukanya sendiri dan berlalu masuk ke rumah dengan buru².
"Hei...sayang tunggu aku belum selesai.." haris mengejar rika yang sekarang ini mungkin sedang marah.
"Bi tolong ambil belanjaan di mobil dan bereskan semua nya..sekalian masakan buat nanti makan siang, kalo sudah siap panggil saya dikamar." rika menyuruh bi Inah pembantu nya untuk membereskan belanjaan nya dan segera masuk kamar dan mengunci pintunya karena tidak mau berdebat lagi dengan haris.
"Baik bu.." bi Inah langsung menuruti perintah tuan nya.
Haris langsung menuju kamar nya mengejar rika.
Tok.tok.tok.
"Sayang buka pintunya jangan dikunci seperti ini..ayolah jangan marah..kita bicarakan baik².."
Tidak ada jawaban dari rika sama sekali membuat haris kebingungan sendiri sedangkan di dalam kamar rika langsung menyalakan air hangat dengan wewangian beraroma jasmine di bak kamar mandi untuk dirinya berendam karena sudah kebiasaan rika jika sedang tidak senang hati dia pasti ingin berendam air hangat aroma jasmine kesukaan nya guna merilekskan badan dan pikiran nya.
"Hah...terserah kamu mau berteriak teriak ampe kapanpun tak akan aku buka pintu kamar itu..lebih baik aku berendam air hangat dengan menikmati jus yang ada di kulkas." gumam rika lalu menanggalkan pakaian nya kemudian masuk kamar mandi tanpa mengunci pintu kamar mandi nya.
Sedangkan diluar pintu kamar haris masih saja mengetuk pintu agar rika mau membukakan pintu nya sampai bi Inah yang sudah selesai menata belanjaan di dapur merasa kasian pada tuan nya lalu menghampiri sang tuan.
"Maaf tuan kenapa anda tidak membuka pintu dengan kunci cadangan saja, mungkin ibu sedang berendam air hangat seperti biasa." bi Inah memberi saran yang jitu.
"Hiss....kenapa aku sampai lupa kebiasaan istriku sendiri ya.." haris menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Ya sudah bi ambilkan kunci cadangan nya di atas lemari yang ada di ruang baca saya cepat."
"Baik tuan segera saya ambilkan.."
Beberapa detik kemudian.
"Ini tuan kunci nya. " bi Inah menyerahkan kunci cadangan kamarnya.
"Makasih bi..bibi bisa lanjutkan apa yang tadi ibu suruh."
"Sama² tuan.." Bi Inah pun berlalu ke dapur untuk memasak.
.
.
Akhirnya ica dan rendi sudah menghabiskan bakso yang tadi mereka pesan dan bahkan minuman nya pun sudah tandas mereka minum.
"Eeegghhhh....." rendi bersendawa lalu nyengir kuda di hadapan ica.
"Iiihhh....rendi kamu jorok banget sih...tidak sopan tau." ica melemparkan tisu ke muka rendi.
"Hehe...iyah maaf..kan tidak sengaja juga."
"Sudahlah...lain kali jangan seperti itu lagi..lalu kapan kita nyari buku buat ujian terakhir kita?? Aku sudah dapat ijin mommy jadi hari ini kamu bertanggung jawab mengantarkan aku pulang juga nanti."
"Iyah aku tau..ayo sekarang saja biar aku tidak terlalu sore nganter kamu pulang..nanti kalo aku terlalu sore atau bahkan kemalaman bisa dicincang habis aku sama abang mu itu." rendi merinding mengingat kalo kakak ica sangatlah galak padanya.
"Wkwkwkwk......kamu beneran takut sama kakak ku ?? Tenang saja dia sekarang lagi ke Monaco untuk selama sebulan mengurus pengembangan hotel kita di sana." ica menjelaskan namun sangat asik menertawakan rendi yang begitu lucu dan pasang muka yang susah dijabarkan.
"Ahhhh....bagus kalo begitu..aku bisa sepuasnya jalan sama kamu kemana saja tanpa batas waktu." rendi melompat kegirangan dan memeluk ica dengan gemas.
"Hei..lepaskan..aku tidak mau diajak oleh mu..lepas..."
Rendi pun melepaskan pelukan nya lalu memanggil pelayan kantin lalu menaruh uang seratus ribu di meja dan menarik ica pergi dari kantin.
"Jang ini uang nya aku taro dimeja kembalian nya ambil saja." rendi berteriak.
( si ujang pelayan kantin hanya mengangguk lalu mengambil uang yang rendi tinggalkan. "uh..rejeki anak soleh mah timana bae jajan na lima puluh lewihna kanggo ujang sadaya..orang kaya mah bebas nya.. 🤣🤣 ").
"Heii...pelan sedikit nanti aku terjatuh ren..lagipula tas ku ketinggalan di kelas tadi ketika mencari kamu." ica meneriaki rendi yang menarik tangan nya.
"Wow..wow..wow...pasangan baru nih kaya nya??" dindin yang ada dikelas memprovokasi ica dan rendi bahkan teman yang masih ada di kelas.
"Jangan asal ngom kau..atau ku cabik² muka kau tu.." ica mengancam dindin dengan mata sang pembunuh membuat dindin merinding ketakutan.
"Woles ca..aku cuma bercanda.." dindin mengangkat tangan nya menyerah.
"Ambilkan tas ku dibelakang mu.." ica dengan galak menyuruh dindin mengambilkan tas nya.
Ya memang sepeti itulah diriku paling galak pada setiap siswa yang berani membuat masalah dengan ku, bahkan ica tidak segan berkelahi membuat siapa saja tidak ingin berurusan dengan ku..secara ya MARISA HERTANTO gitu....hahaha...
Tapi sayang hanya satu sahabatku yang berani ngajak ribut tidak ada rasa takut sama sekali terhadapku dan bahkan aku sering kena buli dirinya..hufff...ya siapa lagi kalo bukan RENDI JULIANA entah setan apa yang merasuki nya sampai aku saja yang galak seperti ini bisa dia jinakan.
"Sudah cepat berikan tas nya din..kita mau pergi nyari bahan buat ujian nanti..kalian semua juga boleh pulang karena guru juga semua sedang rapat dewan guru percuma kalian berada dikelas untuk sekedar absen masuk." rendi memberi pencerahan pada teman² nya membuat semua teman sekelasnya kegirangan dan langsung berhamburan pulang.
"Terimakasih ketua kelas.." serempak semua teman nya yang berlalu keluar.
"Hadeuhhh....ternyata aku berada dikelas yang paling teraneh sejagat..kenapa juga mereka selalu patuh pada mu.." ica menggelengkan kepalanya yang hanya dijawab rendi dengan mengangkat kedua bahunya dan tangan di samping menandakan tidak tau.
"Masa bodo lah...ayo kita berangkat.." ica menggandeng tangan rendi seperti biasanya karena memang sedari dulu sejak mereka bersahabat ketika berjalan mereka selalu beriringan jika bukan ica ya rendi yang menggandeng bahu ica.
Namun ketika mereka bergandengan secara tidak sadar mereka sudah melukai hati seseorang yang suka terhadap rendi. Seperti sekarang ini ketika ica dan rendi berjalan di koridor sekolah menuju parkiran motor ada wanita cantik yang sedang terbakar amarah karena cemburu pada ica.
"Dasar ******..berani nya kamu merebut cowok pujaan ku.." batin lila.
Setelah diparkiran rendi mengambil motornya lalu menstater motor tersebut dan memberikan helm untuk ica pakai.
"Ayo buruan naik dan ini pakai dulu helm mu."
Ica menerima helm nya lalu naik ke motor dan tanpa ragu tangan ica pun sudah memegang pinggang rendi. Kemudian rendi langsung tancap gas melakukan motornya meninggalkan sekolahan, tanpa mereka sadari dari belakang lila sudah mengikuti mereka dari belakang mengenakan mobil yang dia kemudikan sendiri. Karena sekolah hari bebas jadi siswa siswi boleh membawa kendaraan masing² namun karena ica bukan lah orang yang suka pamer kekayaan jadi dia lebih memilih di antar jemput atau naik kendaraan umum lain nya untuk pergi ke sekolah.
Setelah perjalanan 15 menit akhirnya rendi dan ica sampai di tujuan nya yaitu perpustakaan umum yang ada di dekat pusat perbelanjaan milik keluarga rendi. Namun tidak ada satu orang pun tau jika rendi adalah anak orang terkaya ke 2 setelah keluarga ica tentunya bahkan ica teman terdekatnya selama ini tidak mengetahui kebenaran nya jika rendi merupakan anak tunggal dari keluarga kaya raya namun karena rendi ingin mandiri dia sendiri sengaja sekedar menyewa koskosan khusus laki² saja.
Bukan karena hal lain melainkan alasan satu² nya rendi ingin ngekos yang khusus laki² saja agar tidak diganggu dengan wanita² yang ingin mendekatinya.
"Sudah sampai ayo buruan kamu turun ca..berat nih..." rendi dengan candanya.
"Hei...baru tadi pagi kmu bilang aku ini kurusan dan sangat enteng..kenapa sekarang kamu mengeluh kalo aku ini berat..??" ica dengan kesal turun dan menyerahkan helm yang dia pakai tadi.
"Hee...yasudah kamu tunggu sebentar disini aku parkirkan motor dulu ya."
Belum rendi melajukan motornya tiba² saja ada mobil yang melaju dengan cepat ke arah ica berdiri.
"Ica awas..."
rendi dengan cepat menarik ica hingga mereka jatuh ke trotoar dan ica berada di samping motor rendi yang terguling dan naas rendi terjatuh dengan kaki tertimpa motor ninja cbr nya. Sedangkan mobil yang hendak menabrak sudah melarikan diri.
"Aww...tanganku sakit.." ica merasakan tangan nya terluka karena tergores trotoar jalan dan benar saja tangan nya sudah berdarah.
Namun ica tidak menghiraukan sakit nya seketika melihat rendi yang sama² terjatuh dan tertindih motor nya. Dengan cepat ica berdiri membantu rendi namun karena terlalu berat mendirikan motornya ica meminta pertolongan pada orang yang ada disekitar.
"Tolong...tolong..." ica berteriak.
"Rendi kamu tidak apa² kan..rendi.." rika menggoyangkan badan rendi agar sadar.
"Tolong...tolong kami..." berteriak lebih keras.
Orang pun langsung berdatangan dan menolong ica dan rendi.
"Mba mari naikan mas nya ke mobil saya untuk segera ke rumah sakit nampak nya kaki teman mba patah tulang karena tertimpa motor, nanti saya suruh asisten saya yang mengurus motor nya." seorang laki² paruh baya seumuran ayah ica menawarkan bantuan secepatnya.
"Baik..terima kasih pak sudah mau menolong kami." ica masuk ke mobil bapak² tersebut dan begitu juga rendi yang dibantu masuk ke dalam mobil karena rendi mengalami pingsan.
"Sebaiknya mba menghubungi keluarga terlebih dahulu agar nanti orang tua mb nya tidak merasa khawatir." bapak itu memberi saran pada ica.
"Iyah pak saya hubungi sekarang juga..tapi saya tidak tau orang tua rendi dimana.." ica mulai kebingungan dan menangis karena takut terjadi sesuatu pada rendi.
Ica memutuskan menghubungi mommy nya terlebih dulu.
" tut...tut...tut...."
"Hiss...kenapa mommy tidak angkat telpon nya..?? Coba telpon rumah deh."
"Tut..tut..tut..."
" aduh...pada kemana sih ni orang semua..hik..hik.." ica mulai menangis dan meneteskan air mata.
"Kamu tenang dulu..coba telepon ayah kamu." bapak yang menolong menenangkan ica.
Dengan ragu ica mencari kontak ayah nya sebelum tersambung ica memejamkan matanya karena dia begitu takut ayah nya akan marah besar jika dia mengalami sesuatu yang buruk. Tak terasa ica meneteskan air mata lagi yang mengenai pipi rendi membuat rendi tersadar dari pingsan.
"Ca..kamu jangan nangis..aku tidak apa²." dengan suara lemah menahan rasa sakit di kakinya rendi menenangkan ica.
Ica kaget dan langsung memeluk rendi dan masih saja menangis namun tidak meraung² karena malu jika itu terjadi.
"Rendi maafin aku..semua gara² aku..kamu jadi seperti ini sekarang." ica merasa bersalah karena rendi ikut celaka gara² dirinya.
.
.
.
..............
Siapa coba bapa² yang bantuin ica sama rendi...apa jangan² penjahat juga.. Atau siapa nih...?????
Terus rendi anak orang kaya dari mana ya enak nya coba....
Bikin konflik dikit apa banyak nih....
"Semakin berisi semakin merunduk"
"Jangan lupa bahagia"
Like and komen nya ditunggu ya.... 🤭🤭🤭🤭