
Episode 1
Hai...perkenalkan nama ku Marisa Hartanto sehari-hari aku sering dipanggil ica karena sedari kecil aku lebih suka dipanggil ica. Aku adalah seorang siswi kelas 3 sekolah menengah pertama alias SMP kalo sekarang SLTP , aku siswi dari SMP NEGERI BINA BANGSA katakanlah sekolah ku ini salah satu sekolah terbagus di kota ku tinggal dan selalu menjadi sekolah terfavorit karena selain terkenal dengan siswa siswi nya yang berprestasi banyak juga alumni dari sekolah ku ini yang sudah menjadi orang sukses.
Salah satu alumni nya adalah ayah dan kakak ku yang sekarang sudah menjadi orang sukses bahkan ayah ku sekarang ini menjadi orang nomor satu di bidang bisnis perhotelan. Ayah ku seorang direktur komisaris utama hotel green garden bintang 5 yang memiliki cabang diberbagai kota dan bahkan sekarang memiliki beberapa cabang di luar negeri yang sekarang dibawah pengawasan kakak ku.
Haris Hartanto itulah nama kebesaran ayah ku yang begitu tersohor di seluruh penjuru negara K dan sekarang sudah merambat ke Negera luar utamanya di belahan negara eropa yang sekarang ini dipercayakan pada kakak ku Bagas Hartanto pengusaha termuda yang menjadi penerus perusahaan ayah nantinya.
Aku sangat bangga menjadi putri dari keluarga Hartanto, selain mempunyai ayah yang pengertian terhadap anak² nya dan seorang kakak yang baik hati aku dikaruniai seorang malaikat tak bersayap yaitu ibu ku Rika Hartanto yang begitu menyayangi ku dengan sepenuh hati dan jiwa nya.
.
.
"Pagi mom..pagi ayah.." ica menyapa ibu dan ayah nya yang sekarang sudah ada dimeja makan untuk sarapan bersama.
"Pagi sayang..." rika dan haris menjawab bersamaan.
"Dimana kakak mu..ini sudah siang nanti dia terlambat dan bisa ketinggalan pesawat." haris menanyakan bagas yang tak kunjung turun untuk segera sarapan.
"Ayah ini kaya gak tau kakak..dia kalo bersiap lama kaya cewe dandan dulu, aku aja tidak selama itu kalo dandan.." ica menyahut pertanyaan sang ayah.
"Hey...siapa yang suka dandan lama??" bagas datang tergesa-gesa dan langsung melingkarkan satu tangan nya merangkul bahu ica sekaligus mencubit Pipi nya.
"Iih...mom...kakak nakal..sakit tau pipi nya." ica mengerucutkan bibir nya dan melepaskan pelukan sang kakak.
"Sudah..kalian ini masih saja seperti anak² ayo segera sarapan nanti kalian telat." rika memperingatkan anak² nya.
Sedangkan haris hanya menggelengkan kepala karena baginya sudah tidak aneh melihat hal itu. Ditengah sarapan bersama ica menanyakan perihal keberangkatan kakak nya ke Monaco untuk beberapa lama, karena sejujurnya dalam hati ica sendiri dia sangat menyayangi bagas dan tidak mau berjauhan dengan kakak nya karena selama ini bagas selalu menjaga dirinya meski terkadang ica juga sering dibuat jengkel sang kakak.
"Berapa lama kakak di Monaco..kapan pulang nya..??" ica bertanya tanpa menatap bagas karena rasa gengsinya yang besar.
"Pengen nya sih menetap di Monaco biar kaga dikepoin mulu sama ade yang bawel..lagian berangkat juga belum udah ditanya pulang nya kapan..takut kangen ya pasti.." bagas menjawab sekena nya padahal dalam isi hatinya dia pun merasa berat meninggalkan adik kesayangan nya dan juga kedua orang tua nya.
"Idihh...siapa juga yang bakal kangen sama kakak yang super nyebelin." ica menyudahi sarapan nya dan berlari menaiki tangga dengan tergesa lalu masuk ke kamar nya karena sedari tadi dia menahan air mata yang sudah mau meluncur bebas ke pipinya.
Ica dari kecil memang sering menangis jika ditinggal kakak nya entah itu ditinggal main dengan teman sebayanya atau sekedar disuruh rika ibunya untuk les di tempat bimbel.
"Dasar anak itu pasti dia sedang menangis karena mau kamu tinggal..sudah sana samperin adik mu dulu ke kamar 15 menit lagi kita berangkat bersama ke bandara." haris menyuruh bagas untuk menenangkan ica yang tidak mau jauh dari sang kakak.
"Haahhh.....merepotkan saja.." bagas menghabiskan segelas susu hangat kesukaan nya lalu pergi menghampiri ica di kamar nya.
"Tak terasa anak² kita sudah besar ya yah..dan mommy bersyukur mereka saling menyayangi satu sama lain..ya meski sering berantem juga." rika bergumam.
"Hempp...meski berat untuk berjauhan dengan putra putri kita nantinya tapi kita juga tetap harus mengajarkan mereka untuk hidup mandiri kan sayang..aku tidak mau jika nanti setelah kita tiada mereka tidak bisa hidup mandiri maka dari itu mereka harus belajar untuk tidak selalu bergantung pada kita orang tua nya..mereka harus bisa berdiri di atas kaki mereka sendiri..kita juga pasti akan sering menjenguk bagas di Monaco jika kau mau." haris memberi penjelasan agar rika tidak merasa khawatir dan percaya pada kemampuan anak² nya.
"Iyah sayang..aku mengerti, tapi kamu janji ya akan sering mengunjungi anak kita kelak jika mereka sudah menentukan jalan kehidupan nya masing²." rika menghampiri haris dan segera memeluk dengan posesif yang mulai beranjak dari kursi makan untuk mengambil tas kerjanya yang telah rika siapkan di sopa ruang tamu.
Haris pun membalas pelukan rika dan sesekali mengecup kening istri tercintanya itu.
.
.
Bagas sudah berdiri di depan pintu kamar ica, sebelum dia membuka pintu nya tidak sengaja dia mendengar ica yang sedang meracau kesal dengan suara isak tangisnya yang sedikit ditahan. "Dasar kakak bodoh tidak peka sama adik nya yang tidak mau ditinggal..kakak nyebelin..kakak jelek..kakak tidak sayang ica lagi." ica meracau.
Bagas hanya terkekeh geli mendengar ica mengumpat pada dirinya dan dengan segera membuka pintu kamar nya lalu memeluk adik kesayangan nya dari belakang.
"Kakak minta maaf ya..kakak bakal pulang cepat ko..karena di sana pasti kakak rindu adik kesayangan kakak yang lucu ini..".
Ica membalikkan badan nya dan membalas pelukan sang kakak yang begitu dia sayangi.
"Kakak janji cuma sebentar di sana..kakak tidak bohong kan sama ica??" ica mulai menangis kencang membuat bagas tambah kesusahan meninggalkan sang adik selama satu bulan ke Monaco.
"Iyah..kakak janji cuma sebulan ko kakak disana lagian ade kan minggu depan sudah libur setelah kemarin ujian praktek kelas 3, jadi ica bisa nyusul kakak ke sana bersama ayah dan mommy. Lalu bisa berlibur selama seminggu di monaco kalo mau." bagas membujuk ica agar tidak menangis lagi.
Benar saja ica langsung berhenti menangis dan melepas pelukan nya dari bagas lalu menatap serius mata sang kakak.
"Kakak benar..hiss...kenapa aku bisa lupa kalo minggu besok ica kan libur dan bisa nyusul kakak..ahh...benar.." ica melompat dan memeluk bagas dengan begitu senang sampai ica menginjak kaki bagas membuat sang empunya mengaduh kesakitan.
"Aduh...ica sakit.." bagas melepas pelukan ica dan memegangi kakinya yang berdenyut karena terinjak ica.
"Wkwkwk...rasakan tuh kak..sakit kan..nakal si.. Hahahaha...." ica berlari meninggalkan bagas yang kesakitan di kamar nya dan segera masuk ke mobil sang ayah yang sudah parkir manis di depan rumah nya.
"Icaaaa....awas ya kamu.." bagas berteriak lalu turun menghampiri rika ibunya untuk segera ikut mengantarnya ke bandara.
"Ayo mom kita berangkat nanti aku ketinggalan pesawat lagi."bagas mengajak ibu nya untuk bergegas.
"Iyah sayang..ayo.." rika merangkul tangan sang putra kesayangan nya dan segera berangkat menggunakan mobil bagas yang nanti dia kemudikan sendiri.
Mereka pun berangkat bersama namun berbeda mobil karena setelah mengantar bagas ke bandara haris langsung berangkat ke kantor sedangkan rika hendak belanja keperluan sehari hari, tentunya setelah mengantar ica ke sekolah.
.
.
Sampailah mereka di bandara, ica dan rika menggandeng bagas seolah-olah bagas akan lari jika tidak dipegangi nya. Meski seperti itu bagas tidak pernah merasa risih bahkan sebalik nya dia merasa sangat senang karena bisa melindungi dua wanita yang begitu dia sayangi. Berbeda dengan haris dia hanya berjalan dengan gagah nya di belakang mereka bertiga memperhatikan istri dan anak² nya.
Mereka pun hanya bisa mengantarkan bagas sampai ke tempat pemberangkatan.
"Hati² di sana kak..jaga kesehatan dan jangan lupa kasih kabar sama mommy ya.." rika memeluk lalu mengecup kening bagas dengan mata yang berkaca kaca.
"Iyah mommy jangan khawatir bagas bisa jaga diri, dan pasti selalu memberi kabar mommy." bagas mencium tangan sang ibu bentuk dari hormat dan sayang nya.
"Ica jaga mommy dan ayah selama kakak tidak ada..dan satu lagi jangan dekat² dengan pria brandal itu terus." bagas memberi peringatan pada adik kesayangan nya lalu mencium kening nya.
"Apa sih kak..dia bukan berandalan ya..dia itu sahabat ica." ica cemberut kesal pada kakak nya yang selalu oper protektif terhadap nya jika ada pria yang mendekati nya.
"Sudah cepat masuk nanti kamu benar ² ditinggal pesawat mu.." haris merangkul putra nya sekilas.
Bagas melambaikan tangannya pada keluarga yang begitu disayangi yang dibalas see you good bye juga dari orang tua begitu juga adik nya dan segera masuk menuju ke pemberangkatan pesawat nya. Setelah bagas berlalu dan tidak terlihat lagi haris, rika, dan ica pun segera meninggalkan bandara dan menuju tujuan masing².
.
.
Sampailah ica di sekolah.
"Mom hati² bawa mobil nya nanti ica pulang diantar rendi saja sekalian beli buku buat referensi ujian dulu sepulang sekolah." ica meminta persetujuan.
"Baiklah..tapi bilang pada rendi jangan kebut²an bawa motor nya y.." rika memperingatkan putri nya.
Mobil rika pun berlalu meninggalkan sekolahan ica. Dan ica menuju kelas nya sambil mengedarkan pandangan nya mencari sosok yang dia cari sampai dia masuk kelas pun orang yang dicari tidak ada dia temukan.
"Din li liat rendi gak ??" ica bertanya pada dindin teman sekelasnya.
"Tadi gue liat dia di atap gedung serba guna tau lagi apa.." dindin mengangkat bahu nya dan meneruskan kegiatan membaca komik yang dia pegang.
"......" ica segera menuju tempat rendi berada yang dindin bilang tadi.
Hingga sampailah ica di atap gedung dan benar saja rendi sedang duduk ditepi atas gedung menatap pemandangan dibawah nya. Ica menghampiri rendi perlahan dia ikut duduk dengan hati² karena takut terjatuh ke bawah. Kan konyol kalo jatuh dari gedung setinggi ini bisa mati muda sia².
Rendi menoleh sebelah kiri nya mendapati ica yang sama² duduk dipinggir atap gedung lalu tersenyum dengan begitu manis sampai ica hanya bisa diam terpesona oleh senyuman nya.
Perlahan rendi mundur untuk berdiri dan mengajak ica ikut mundur karena terlalu bahaya berada ditepian atas gedung tanpa tembok penghalang.
"Kamu ngapain ke sini..kalo jatuh gimana??" rendi memperingatkan ica.
"Hey...justru kamu tuh yang ngapain diam ditepian gedung seperti itu, apa mau nyoba bunuh diri??" sarkasme ica pada rendi.
"Yeh...ditanya malah balik nanya.." rendi menarik tangan ica untuk ikut duduk disebuah sopa bekas yang ada di atap gedung itu.
"Sini ikut aku duduk menikmati angin di atap gedung ini.."
Ica hanya nurut mengikuti apa yang rendi ajak padanya, dan sekarang mereka sudah duduk di sopa bekas itu.
"Kamu kenapa si ren?? Ko tumben banget diem di atap gedung kaya gini, jangan² kamu punya rencana bunuh diri karena ditolak cewe ya??" ica bertanya tanpa jeda.
"Pletakkk..."
Rendi menjentikkan jari nya di kepala ica dengan enak nya membuat sang empunya mengelus kepalanya karena terasa sakit.
"Iihh....sakit tau ren...kamu tuh kalo kesel ke cewe lain jangan malah aku yang kena getahnya dong.."
Rendi memutar bola matanya dengan malas bahkan sampai menghembuskan nafas nya begitu kasar.
"Huffff.....ampun deh ni bocah satu..cewe apanya sih?? Cewe mana coba?? Mana ada cewe yang dekat dengan ku selain dirimu Marisa Hartanto.." rendi sekarang membelai rambut ica.
"Masssaaa....."
"Itu benar...coba kamu pikir saja sendiri kemana² aku jalan pasti lah dengan mu bukan begitu??"
"Apa iyah...??" ica berusaha berpikir keras mengingat nya dari awal mereka kenal dan tak lama ica tersenyum sendiri karena benar adanya hanya dirinya yang selalu dekat bersama rendi.
"Nah...udh ingat cuma kamu cewe yang dekat dengan ku?? Jadi gimana kalo kita jadian saja.." rendi dengan santai sambil menatap langit mengucapkan kata² yang membuat ica menganga saking terkejut.
"Apa kamu bilang ??????" ica langsung menghadap rendi yang terlihat sangat santai.
"Apa memang nya yang aku bilang ?" rendi balik menghadap dan menatap wajah ica begitu dekat.
Deg.deg.deg.
Dalam saling tatap ica merasakan detak jantung yang semakin cepat dan terdengar terasa begitu kencang begitupun dengan rendi yang merasakan hal yang sama. Sejenak mereka dalam saling tatap yang tak lama saling berpaling muka karena dikagetkan oleh suara bel tanda istirahat yang berbunyi.
"Sudah jam istirahat..dan..dan ini juga sudah cukup panas ayo kita turun." ica beranjak dari duduk nya hendak meninggalkan rendi yang sebenarnya ingin lari sejauh mungkin lalu menutupi dirinya dengan selimut yang amat tebal agar tidak terlihat muka yang sedang memerah karena malu.
Namun dengan cepat rendi menangkap tangan ica dan menariknya hingga ica terjungkal ke belakang dan jatuh dipangkuan rendi yang tentunya dengan spontan rendi merengkuh pinggang ica agar tidak terjatuh dan ica pun memegang bahunya rendi.
"Ca..kamu kurang makan ya..ko enteng banget si..??" rendi merangkul lebih kencang agar ica tidak langsung pergi dari pangkuan nya.
"Apa kamu bilang..?? Makan ku banyak ko..memang nya ada yang salah.." ica menajamkan tatapan nya pada rendi.
Rendi yang mendapat tatapan tajam malah terkekeh menertawakan ica yang begitu lucu.
"Iih...rendi kamu jahat...." ica memukul dada rendi lalu membuang muka.
"Apa nya yang jahat coba..lagian kamu enteng banget si...udh gitu betah banget ya di pangkuan aku.."
Ica langsung sadar dari tadi dia berada di pangkuan rendi.
"Huuhh....ya udah lepas dong..dari tadi kamu juga meluk aku terus tau.." ica tidak mau kalah sengit dari rendi.
Ica pun berusaha bangun dari pangkuan rendi sekarang namun rendi tidak kunjung melepaskan rangkulan tangan nya di pinggang ica justru rendi malah semakin merapatkan badan ica sampai ica merasa sesak.
"Aduh...ren lepas aku sesak tau..udah lapar juga tau..ini kan jam istirahat.." ica masih berusaha mendorong rendi agr bisa lepas dari pelukan nya.
"Jawab dulu pertanyaan ku yang tadi..mau atau enggak ??" rendi memaksa ica untuk menjawab mau jadi pacar nya atau tidak.
"Pertanyaan yang mana??" ica berpura-pura tidak mengerti masalah pertanyaannya.
"Hahhhh....ya udah kita makan dulu saja dikantin." rendi ikut mengalihkan pembicaraan tentang permintaan nya untuk ica menjadi pacarnya.
Namun bukan nya rendi melepaskan pelukan nya pada ica sekarang rendi mengangkat tubuh mungil ica dan menggendong nya didepan ala gendongan anak kecil. Bahkan tanpa melepas ica dalam gendongan rendi berjalan menuju kantin meski ica meronta² minta untuk diturunkan.
"Rendi kamu gila nya sudah akut ya..cepat turunkan aku sekarang juga..apapun yang kamu permintaan mu padaku pasti aku kabulkan."
Rendi menghentikan langkahnya di depan pintu menuju kantin yang masih sepi dan menurunkan ica dari gendongan nya. Ica turun dan menengadah menatap rendi yang memang memiliki tinggi badan bak atlit basket internasional sedangkan ica hanya setinggi bahu nya rendi saja.
"Aku pegang kata² mu ya..jika kamu ingkari janji mu untuk memenuhi segala permintaan ku maka aku tidak akan mau kenal kamu lagi." rendi menundukkan kepalanya mencari kepastian ica.
"Iyah kamu bisa pegang kata² ku." ica berlalu meninggalkan rendi yang masih mematung depan pintu menuju kantin.
"Bagus..maka jangan harap kamu bisa jadi milik orang lain karena kamu hanya miliki ca." batin rendi.
.
.
.
.............
Gimana sayang ku semua nya sehat kah... 😘😘
Akhirnya aku bikin novel baru ini semoga kalian senang dengan karyaku yang ini ya..setelah cerita ranhi yang mungkin kutang seru mohon di maklumi dan banyak maaf karena saya mah apa atuh...hanya bubuk rangginang.. 🤭🤭🤭🤭
Tapi jangan lupa like nya ya..aku berharap pada novel yang ini semoga bisa populer seperti novel yang lain nya..semoga..amin...
"Hati yang senang bertanda jiwa yang sehat"
Happy reading gaess... 💪🏻😁