Friend Is My Love

Friend Is My Love
Episode 11



Episode 11


"Dih...ni bocah ngapain pakai geleyotan segala si..??" bagas merasa tidak nyaman karena Diandra memperlakukan nya seperti seorang kekasih nya.


"Untung saja kali ini iman ku lagi kuat kalo iman nya lagi goyah udah gue terkam nih bocah." batin bagas meronta².


.


.


Sampai lah bagas dan Diandra di depan pintu apartemen ibunya Diandra.


"Tok.tok.tok.."


"Bu..ibu ini Diandra bu..tolong buka pintunya.."


"Ceklek..." pintu pun terbuka dan dengan haru ibu dara langsung memeluk Diandra yang dia lihat didepan pintu.


"Sayang...kamu tidak apa² kan nak..??" dengan berderai air mata ibu dara memeluk Diandra.


"Aku gak papa bu..ada kak bagas yang nolongin aku tadi.." Diandra menjelaskan agar ibunya tidak khawatir.


Ibu dara merenggangkan pelukan nya dan melihat seorang pria yang begitu tampan, penuh dengan karismatik dan tampak berkelas. Meski bagas hanya mengenakan kaos santai nya dan celana pendek dia tetap terlihat elegan.


"Masuk nak..terimakasih sudah mau menolong anak ibu.." ibu dara mempersilahkan bagas masuk ke dalam.


Bagas mengangguk dan memberikan senyum termanisnya tanda menghormati orang yang lebih tua.


"Terimakasih bu.." bagas masuk bersama Diandra.


"Silahkan duduk nak bagas..Diandra temani nak bagas sebentar ibu akan buatkan minum untuk kalian dulu."


"Baik bu.." Diandra menjawab.


Diandra menjadi canggung dan gugup karena bagas dari tadi hanya memandangi dirinya begitu tajam, namun untung nya ibu dara kembali dengan cepat dari dapur untuk membawakan air minum.


"Maaf nak ibu tidak punya apapun untuk disuguhkan..hanya sekedar air putih dingin biasa yang bisa ibu suguhkan.." ibu dara merasa malu karena dirinya tidak bisa menyuguhkan minuman yang layak untuk seorang tamu orang kaya.


"Tidak apa² bu..ini sudah lebih dari cukup..saya minum ya bu.." bagas meminum air yang ibu dara suguhkan.


"Silahkan nak.."


"Bu diandra ke kamar sebentar hendak ganti baju sebentar..kak bagas aku tinggal sebentar."


"Hmp..." bagas menganggukkan kepalanya.


Diandra pun segera pergi ke kamarnya dan langsung bersih² dikamar mandi, mengganti baju seragam nya dengan kaos bersih dan rok selutut menambah begitu imutnya seorang gadis seusia nya sekarang ini.


Dilain sisi ibu Diandra mengajak ngobrol bagas ketika menunggu Diandra kembali.


"Nak..sekali lagi terimakasih sudah menolong Diandra putri ibu satu²nya.."


"Sama² bu..ibu tidak perlu terus menerus berterima kasih karena sudah seharusnya kita saling tolong menolong."


Tiba² ibu dara meneteskan air matanya karena begitu sedihnya memikirkan nasib Diandra yang harus menjadi tulang punggung keluarga disaat dia masih seorang pelajar.


Bagas melihat ibu dara yang menangis menjadi lebih bersimpatik.


"Bu..kenapa anda menangis..maaf jika saya lancang bertanya.." bagas merasa ada yang mengganjal di hati ibu dara.


"Tidak apa² nak..ibu hanya sedih melihat Diandra yang harus menjadi korban perbuatan ayah nya dan belum lagi dia harus bekerja paruh waktu untuk menghidupi kami berdua."


Bagas tidak menyangka ternyata gadis cantik yang di tolong nya begitu memprihatinkan dengan posisinya di keluarga. Begitu beruntung nya bagas dan ica dilahirkan di keluarga yang sempurna dan berkecukupan.


"Ibu tidak perlu khawatir..sepertinya putri ibu kuat dalam jalani semua ini..kedepannya pasti dia menjadi kebanggan ibu dan bisa jadi orang sukses." bagas memberi keyakinan pada ibu dara agar tidak bersedih lagi.


"Nak bagas benar..Diandra memang anak yang paling kuat..semoga kelak dia memang bisa menjadi orang sukses..nak bagas nampak nya dari negara indonesia..apa nak bagas sedang bekerja atau berlibur disini.."


"Owh..saya sedang bekerja disini bu.."


Belum sempat ibu dara melanjutkan obrolan nya Diandra sudah selesai berganti baju setelan kaos dan rok nya dengan menenteng tas kecil dipundaknya.


"Bu Diandra mau berangkat untuk kerja dulu..ibu hati² di rumah sementara kunci pintu dan jangan membukakan pintu untuk siapapun." Diandra berpamitan dengan ibu nya.


"Iyah..tapi nak apa kamu tidak ijin tidak masuk saja dulu hari ini..?? Ibu takut preman itu datang lagi atau mengganggu kamu lagi."


"Tidak bisa bu..jika Diandra tidak masuk kerja hari ini pasti Diandra dipecat pak yu.."


"Ibu tenang saja saya yang akan antar Diandra berangkat kerja.." bagas menyahut.


Diandra menengok pada bagas.."apa kakak yakin mau nganter Diandra..?? Tapi apa tidak merepotkan.."


"Tidak sama sekali..ayo nanti kamu bisa terlambat..bu saya pamit.." bagas menarik tangan Diandra dan mencium tangan ibu dira terlebih dulu.


"Eh..." Diandra kaget karena bagas menariknya.


"Hati² nak.." ibu dara tersenyum manis dan merasa lega sepertinya Diandra sudah ada yang melindunginya.


.


.


Sampai diparkiran mobil Diandra begitu terkejut karena belum pernah sekalipun dia melihat mobil yang begitu mewah dengan lambang kuda hitam dengan pintu yang terbuka ke atas.


"Ayo masuk mobil..apa kamu hanya akan bengong seperti itu sampai berjamur..??" bagas yang sudah ada didalam mobil.


"Ah..iyah kak.." Diandra masuk mobil duduk di samping bagas.


"Sumpah demi kolor seponsbob mimpi apa aku semalam, sudah ditolong cogan sekarang diantar Kerja naik mobil semewah ini.." batin Diandra meronta.


Bagas sekilas melihat Diandra yang sedang tersenyum senyum sendiri seperti orang gila namun bagas sedikit terpesona dengan senyum manis nya. Setelah keluar dari kawasan gedung apartemen bagas menanyakan kemana dia harus mengantar Diandra kerja.


"Hei aku harus antar kamu kemana nih..??"


"Ah..apa kak..??"


"Hadeuh 🤦🏻‍♂ aku harus antar kemana ini..?"


"Oh..kirain apa..hee 😁 ..aku kerja di kafe Jundan kak..dipertigaan depan belok kanan sudah sampai.." Diandra menunjukan tempat kerjanya.


"Ok.."


Tak lama kemudian sampailah di kafe Jundan yang dimaksud diandra, bagas kaget ternyata tempat kerja Diandra merupakan kafe yang menyediakan tempat hiburan malam seperti tempat pelacuran.


Diandra yang turun dari mobil bagas, namun dengan cepat bagas yang ikut turun menghentikan langkah Diandra dengan menarik tangan Diandra.


"Sebentar..kenapa kamu bekerja ditempat seperti ini..??" bagas menyelidik.


"Apa yang salah kak?? Aku jadi waiters disini karena selain tempat ini mana ada yang mau menerima seorang pelajar bekerja..lagipula gaji disini lumayan untuk mencukupi kebutuhan aku dan ibu." Diandra menjelaskan.


Bagas tidak suka dengan jawaban Diandra, dengan cepat bagas mendorong Diandra agar masuk kembali ke dalam mobilnya.


"Masuk mobil..aku tidak mau kamu bekerja ditempat kotor itu lagi.."


Ketika Diandra sudah masuk bagas langsung lari masuk ke mobilnya dan membawa nya pergi dari tempat itu.


"Kak..tapi jika aku tidak kerja di sana Diandra harus mencari kerja diman lagi..??" Diandra terlihat sedih karena pastinya jika malam ini dia tidak masuk kerja maka dia dipecat dari pekerjaan nya.


Bagas tidak menjawab atau menanggapi pertanyaan diandra, dengan cepat dia kembali membawa diandra pulang ke apartemen milik nya.


"Lhoo...kak ko kita malah kembali ke apartemen..??"


Bagas masih bungkam dan setelah dia sampai diparkiran dengan cepat bagas mengajak Diandra ke apartemen milik nya namun langkah nya tiba² terhenti karena dua preman yang mengejar Diandra tadi sore sudah ada di depan mereka berdua.


"Aduh.."Diandra menubruk bagas karena bagas berhenti mendadak padahal tangan nya ditarik sedari tadi oleh bagas.


Diandra kaget dan mengeratkan pegangan tangan nya pada bagas karena merasa takut pada dua preman yang mengejarnya tadi sore sudah menghalangi jalan nya diparkiran menuju lip dengan sebuah pisau ditangan nya.


"Diandra kamu bersembunyi lah dibelakang mobil dulu biar aku bereskan dulu dua cecunguk ini." bagas melepaskan pegangan nya pada Diandra.


"Tapi kak..tolong hati².." Diandra mundur dan diam dekat mobil yang parkir di dekat nya.


"Mau apa kalian..?" bagas mempertanyakan keberadaan preman itu.


"Serahkan gadis itu..dia milik kita.." preman 1 memainkan pisau yang dia pegang.


"Hahaha..." bagas tertawa mengerikan sejenak lalu menatap tajam pada kedua preman itu.


"Dia gadis ku bukan milik kalian..jika kalian mampu hadapi aku silahkan ambil." bagas menyeringai sinis.


"Brengsek..hajar dia." preman 1 memberi komando pada preman 2 yang langsung menyerang bagas bersamaan.


Dengan cepat bagas menghindar dari serangan yang hendak menusuk nya dengan pisau lalu mengikis pukulan dari preman satu nya yang berbadan sedikit gemuk. Kemudian bagas menendang preman 1 yang membawa pisau tadi sampai tersungkur, preman 2 melayangkan tendangan nya dengan sekejap bagas membalas tendangan sebelum tendangan preman itu sampai mengenai bagas. Preman 2 pun tersungkur karena tendangan bagas mengenai perutnya, preman 1 yang bangun kembali menyerang bagas dengan pisau nya dan dengan cepat bagas menangkis dan merebut pisau preman itu lalu menodongkan nya pada si preman.


Diandra yang melihat perkelahian itu begitu ketakutan sampai dia berjongkok dan menutup matanya dengan kedua tangan namun sesekali dia mengintip nya karena sedikit penasaran.


Ketika bagas menodongkan pisau pada preman 1 yang sudah terkunci oleh bagas dia meminta ampun dan preman 2 pun tidak dapat menyerang lagi karena takut jika teman nya dilukai bagas.


"Ampun bang..ampuni kami..kami tidak akan mengganggu gadis itu lagi..tolong lepaskan kami.."


"Hehh...tidak segampang itu.." sebelum bagas melepaskan si preman bagas mematahkan tangan si preman dahulu.


"Trekk..."suara tulang si preman itu patah.


"Akhhh.....tangan ku....." si preman berguling kesakitan ketika bagas melepaskan nya.


Preman 2 dengan cepat membantu teman nya dan membawa pergi preman 1.


Setelah dikira cukup jauh preman itu ternyata belum benar² melepaskan Diandra malah mengancam bagas.


Bagas hanya tersenyum sinis menanggapinya, dan dengan cepat berbalik menghampiri Diandra yang sedang berjongkok serta menutup matanya. Bagas ikut berjongkok menyamakan diri dengan diandra lalu mengelus kepala diandra membuat kaget dirinya sampai terjungkal ke belakang.


"Akhh...jangan dekati aku.." Diandra langsung jatuh terjengkang duduk karena kaget.


"Hei..kita sudah aman..kenapa kamu berteriak..?" bagas langsung bangun dari jongkok nya.


Diandra dengan cepat ikut berdiri lalu memeluk bagas dengan tubuh yang masih gemetaran, bagas merasakan tubuh Diandra yang gemetar karena takut. Bagas kemudian membalas pelukan Diandra seraya mengelus punggung nya agar Diandra bisa tenang.


"Kamu tidak perlu takut ada aku disini..preman² itu sudah kabur..ayo kita ke apartemen ku saja dulu." bagas mengangkat badan Diandra dan dia gendong ala bridal menuju apartemen bagas.


Diandra yang masih ketakutan hanya diam dan menuruti saja apa yang bagas lakukan, sepanjang jalan orang yang melihat begitu merasa iri pada mereka yang disangka pasangan suami istri yang mungkin sedang berbulan madu. sampailah mereka berdua di depan pintu apartemen bagas namun karena kesusahan untuk membuka kunci mau tidak mau bagas meminta tolong pada ob yang kebetulan lewat hendak membersihkan apartemen atau mungkin selesai dia bersihkan.


"Mas tolong bantu saya buka kunci pintu apartemen saya, ini kunci nya..istri saya sedang tidak enak badan." bagas mencari alasan agar tidak ada salah paham.


Diandra yang mendengar perkataan bagas tidak bisa berbuat apa² karena selain dia malu dia juga merasakan dada nya berdegup kencang sama seperti irama jantung bagas yang dia dengar. Maka dari itu Diandra memilih untuk menyembunyikan wajahnya yang merona dan berpura"tertidur saja.


Setelah pintu terbuka dan berterimakasih pada mas ob bagas membaringkan Diandra di sebuah sopa besar.


"Dasar bocah..apa senyaman itu dia aku gendong sampai bisa² nya dia tertidur dipangkuan ku..apa dia tidak takut sama sekali padaku..?" bagas bergumam.


Setelah membaringkan Diandra bagas kembali ke depan untuk mengunci pintu apartemen nya.


Diandra membuka sedikit mata nya memperhatikan bagas yang sedang mengunci pintu dan memejamkan kembali matanya.


Bagas yang kembali menghampiri Diandra yang tidur memperhatikan lekat² wajah Diandra membuat Diandra yang saat itu berpura² tidur merona, bagas menyadari bahwa ternyata Diandra hanya berpura² tidur.


Bagas menyunggingkan senyum licik nya dan perlahan bagas mendekatkan wajahnya ke wajah Diandra seolah olah bagas ingin mencium Diandra.


"Emh...apa yang mau lakukan..??" Diandra menutup muka nya dengan kedua tangan nya.


"Wkwkwkwk......" bagas tertawa terbahak bahak.


Diandra membuka tangan nya dan segera duduk melihat bagas yang sedang tertawa.


"His...kakak kehabisan obat ya..??" Diandra heran karena melihat bagas yang tertawa begitu geli sendiri.


"Kamu tuh lucu..apa kamu pikir aku akan mencium mu tadi..hahaha 🤣🤣🤣🤣 .."


"Menyebalkan..lebih baik aku pergi kerja daripada harus ditertawakan seperti itu.." Diandra beranjak bangun.


Namun bagas menarik tangan Diandra sampai Diandra duduk dipangkuan bagas.


"Akh..." Diandra terduduk dipangkuan bagas.


"Kamu tidak bisa keluar tanpa seijin ku.." bagas dengan cepat menempelkan bibirnya pada bibir Diandra.


Diandra tidak menyangka bagas akan menyerang nya dengan ciuman dan itu adalah ciuman pertama diandra, karena tengkuk nya ditahan oleh bagas Diandra tidak bisa melepaskan bibirnya yang menempel dengan bibir bagas.


Dengan kuat Diandra mendorong dada bagas untuk melepaskan ciuman itu dan berhasil.


"Heyy...apa yang kakak lakukan itu adalah ciuman pertamaku..dan..dan...dan..." Diandra tidk bisa melanjutkan kata² nya karena dia benar² malu mengatakan bahwa itu adalah ciuman pertamanya.


Bagas menyeringai dan menjilat bibir nya yang tadi bertempelan dengan bibir diandra membuat Diandra merinding dan ingin turun dari pangkuan bagas namun bagas menahan Diandra agar tetap duduk dipangkuan nya.


"Pantas saja bibir mu begitu manis.." bagas yang baru merasakan begitu manisnya bibir Diandra membuat gairah lelakinya terpancing sampai dalam benak bagas begitu menginginkan kembali merasakan bibir diandra.


Tanpa sungkan bagas merebahkan Diandra di sopa kembali dan menahan kedua tangan Diandra lalu bagas menempelkan kembali bibirnya pada bibir Diandra bahkan bagas dengan lembut sedikit ******* bibir Diandra.


Diandra yang memberontak tidak memiliki tenaga sekuat bagas yang menahan nya, sampai ketika Diandra sudah hampir kehabisan nafas barulah bagas melepasnya agar Diandra bisa bernafas kembali. Diandra yang terengah engah membuat dadanya ikut naik turun sampai bagas yang kini mulai hilang kendali melihat begitu menggodanya gadis di bawah Kungkungan nya.


Bagas kembali melakukan aksinya dengan menciumi leher Diandra bahkan bagas menggigit leher Diandra membuat Diandra yang merasakan hal baru itu menjerit membuat bagas sadar dengan apa yang dilakukan nya sudah salah dan itu kelewatan batas.


"Ahh...kak hentikan.." Diandra menjerit.


"Maaf Diandra..aku kehilangan akal ketika dekat dengan mu.." bagas melepaskan tangan nya dan beranjak bangun lalu pergi ke dapur mengambil air minum.


Diandra gemetaran karena takut pada bagas namun dalam Benak hatinya merasakan sensasi lain ketika bagas sedang menciumi dirinya tadi. Diandra duduk dan merapihkan rambut nya yang menjadi sedikit acak² an, ketika Diandra sedang mengikat rambutnya ke atas yang memperlihatkan lehernya yang jenjang dan begitu mulus bagas kembali dengan dua gelas air dingin di tangan nya.


"Ampun deh ni anak entah sengaja atau tidak kenapa selalu membuat naluri laki² ku ini meronta dan ingin segera menerkam nya." benak bagas.


"Emh...maaf bisakah kamu menggerakkan saja rambut mu itu..??" dengan kikuk bagas menyodorkan gelas berisi air dingin itu.


"Iyah.." Diandra dengan cepat menggerakkan rambutnya kembali.


"Emh...Diandra maafkan kelancangan ku barusan..entah kenapa aku bisa hilang kendali padamu." bagas menyesal karena pastinya Diandra akan benci padanya.


"Tidak apa² kak.." Diandra meminum air yang bagas berikan.


Beberapa saat mereka terdiam masing² dengan pemikiran masing² yang ngebleng entah karena apa, sampai tiba² perut bagas mengeluarkan suara dan terdengar oleh Diandra juga.


"Kruyukkk...." 🙀🙀


Tiba² saja mereka saling pandang dan membuat mereka berdua tertawa bersama.


"Wkwkwkwk...." bagas dan Diandra tertawa.


"Kruyukkk...." 😯😯


Perut Diandra ikut mengeluarkan suara hingga mereka menghentikan ketawanya.


"Ternyata kamu juga kelaparan ya..?" bagas bertanya pada Diandra.


"Hee..iyah kak..ini kan juga sudah jam makan malam..ngomong² apa di dapur ada bahan yang bisa aku masak kak..?"


"Memang nya kamu bisa masak..?" bagas ragu kalo Diandra bisa memasak.


"Tentu saja aku pintar masak karena itu hobby ku dari kecil.."


"Baiklah..liat saja di dapur apa bahan yang kamu perlukan ada di sana.."


"Ok..kakak tunggu saja disini ya..biar Diandra yang masakan untuk kita makan malam."


"Wanita idaman banget..pas buat istri.." lirih bagas.


Diandra menengok ke belakang." apa yang kakak bilang barusan..??"


"Eh..tidak ada.."


"Oh..kirain manggil.." Diandra pun langsung melihat bahan apa saja yang ada di kulkas milik bagas.


Begitu membuka kulkas Diandra menganga begitu terkejutnya ternyata semua bahan lauk pauk begitupun sayuran begitu komplit tersedia di sana.


"Wowww....ini kulkas apa pasar induk kak.." Diandra berteriak histeris.


Dengan cepat bagas menghampiri Diandra.


"Memang nya kenapa..apa semuanya sudah tidak pres lagi..??" bagas khawatir jika persediaan yang disediakan oleh pengurus apartemen nya tidak berkualitas.


"Bukan..tapi ini begitu komplit..emang nya kakak bisa masak semua ini..??"


"Yah..aku lebih suka masakan rumah daripada masakan yang di restoran mahal sana."


"Baiklah...kalo begitu aku akan senang hati masak kali ini spesial buat kakak."


Bagas menganggukkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah Diandra yang terkadang begitu polos dan lugu tapi galak bahkan manja tapi begitu mandiri.


Bagas meninggalkan Diandra yang sedang masak di dapur dan mengambil laptop nya untuk mengecek email yang masuk.


Ketika mereka sibuk dengan kegiatan masing² suara bel pintu berbunyi menandakan ada yang bertamu. Bagas menghentikan kegiatan nya lalu membuka kunci pintu dan membukanya.


"Malam bos..maaf saya mengganggu, dari tadi saya berusaha menelepon tapi tidak dijawab makanya saya langsung datang kemari."


"Tidak apa² aldo..masuklah kita makan malam bersama dulu.." bagas menggandeng bahu aldo.


"Eh...tapi bos..saya hanya mau laporan saja kalo tadi acara berjalan lancar dan pak mark ingin bekerja sama dengan perusahaan kita untuk acara pertunangan putranya." aldo menerangkan.


"Santai saja..ini bukan kantor kau tidak usah begitu formal."


"Baik lah bos..terimakasih.."


"Begitu beruntung nya aku mempunyai bos sebaik bagas, aku janji mulai sekarang akan selalu mengabdi padanya dengan tulus." batin aldo bertekad.


.


.


.


.


........................


Maaf ya reader ku tersayang..kemarin rhe kaga up soalnya lagi miskin banget 😂😂 ampe kuota saja kehabisan..ya mau gimana lagi, aku kan hanya ngandelin ngetik lewat hp saja..


Dimohon jangan marah dan berhenti baca novel ku yah...toh kalian baca juga kan gratis tidak usah pakai koin untuk buka gembok..😁😁


Semoga kalian tetap setia nunggu novel ini up ya..


Jangan lupa like nya dong say...kan kaga bayar..


😍😘😘😘😍


"Berfikir lah logis ketika hati sedang bimbang"


"Positif thingking"