Friend Is My Love

Friend Is My Love
Episode 10



Episode 10


Monaco resort green internasional, hotel baru termegah yang sedang menjadi trending topik di kalangan pebisnis dan masyarakat internasional kini sedang mengadakan pesta pembukaan secara resmi yang dipimpin oleh bagas Hartanto.


Disela kesibukan bagas untuk menyapa satu persatu tamu yang datang di acara nya dia melihat jam ditangan nya menunjukan jam 16:00 sore menandakan kalo di indonesia sudah jam 21:00 karena perbedaan nya sekitar 5 jam lebih cepat waktu di indonesia.


Bagas sudah merasa lelah karena dari semenjak dia datang ke Monaco dia disibukkan dengan bermacam meeting sampai ke acara inti dari pembukaan hotel baru milik keluarga nya yang bagas pimpin sendiri. Bagas menyerahkan semua berjalan nya acara itu kepada asisten nya aldo yang baru dia terima bekerja saat di Monaco.


"Aldo tolong kamu handel semuanya sampai selesai, saya merasa lelah dan ingin segera beristirahat dulu dikamar.." bagas memberi tugas pada aldo dan segera berlalu menuju apartemen nya.


"Baik pak.." aldo menjawab.


Meski belum lama bahkan baru beberapa hari aldo menjadi asisten bagas namun karena pekerjaan nya yang bagus dan keloyalitasan nya saat bekerja bagas sudah sangat percaya sepenuhnya pada aldo, karena sebelum bagas menerima nya menjadi asisten dia sudah terlebih dulu mengecek latar belakang dari aldo.


Aldo dan bagas memang seumuran dan mempunyai satu pemikiran untuk maju dalam berkarir di masa depan sehingga mereka bisa cepat kompak dan disegani banyak orang.


Meski aldo mempunyai badan yang lebih pendek dari bagas tetapi ketampanannya tidak kalah saing dengan bagas. Namun aldo lebih terlihat manis berbeda dengan bagas yang lebih cool.


Setibanya bagas di pintu apartemen tiba² saja ada seorang gadis belia yang menubruk bagas sampai kunci apartemen yang bagas pegang terjatuh dan gadis itu pun jatuh tersungkur di dekat bagas.


"Brugh..."


"Akhh..." Diandra jatuh tersungkur.


"Hey...apa kamu pikir ini di lapangan sampai kamu bisa berlarian dengan seenaknya..??" bagas membentak Diandra yang terlihat panik.


"Kak..tolong saya kak..saya dikejar orang jahat kak.."Diandra meminta pertolongan pada bagas.


"Aku tidak mengenalmu jadi maaf saya tidak mau ikut campur urusan anda.." bagas membuka pintu apartemen nya dan akan segera masuk tiba²..


"Grepp.."diandra memeluk bagas dari belakang menahan bagas agar bisa menolong nya.


Dari ujung jalan apartemen terlihat dua orang pria berpakaian layaknya preman seperti mencari seseorang, bagas menoleh ke belakang hendak melihat gadis yang terlihat sangat berantakan dan menggigil ketakutan.


"Tolong saya sekali ini saja kak tolong.."Diandra begitu memelas meminta pertolongan pada bagas.


"Huff...baiklah..cepat masuk.." bagas menyuruh Diandra masuk ke apartemen milik nya.


Sedangkan para preman itu pun hanya berlalu melewati bagas yang baru saja ikut masuk setelah Diandra masuk, namun tanpa diduga para preman itu menahan pintu apartemen bagas yang hendak ditutup nya.


"Hei sob..apa kamu melihat seorang gadis memakai seragam sekolah lewat sini..??" pria preman yang bertato dileher nya bertanya pada bagas.


"Tidak.." bagas dengan santai menjawab pertanyaan sang preman.


"Jika kau melihat nya beri tahu kami." preman itu pun pergi menyusul teman nya yang memanggil dia dari kejauhan.


Sedangkan Diandra yang sedari tadi memegang kuat tangan bagas bersembunyi dibalik pintu terus saja menggigil ketakutan. Bagas menutup pintu apartemen nya lalu mengajak Diandra duduk.


"Mereka sudah tidak ada, kamu aman disini.." bagas menenangkan.


Diandra pun melepaskan pegangan nya pada tangan bagas. Dan bagas memberikan segelas air dingin yang dia ambil dari dapur.


"Nih minum dulu.."


"Terimakasih kak.." Diandra menunduk malu.


"Hmp...kenapa kamu bisa dikejar dua preman itu..?"


Diandra menyimpan gelas minum yang sudah kosong habis diminumnya dan mulai menjelaskan awal kejadian.


"Akan aku ceritakan semuanya kak.." Diandra memulai kisah awal sebelum dia ditolong bagas.


.


.


Flashback on


Sepulang sekolah ketika Diandra sampai di lorong yang menuju apartemen milik ibu nya yang merupakan warisan dari kakek nya yang sudah meninggal 5 tahun lalu. Terdengar suara keributan didalam apartemen ibunya itu begitu gaduh, Diandra langsung masuk ketika dia mendengar ibu nya menjerit ketakutan karena dua preman itu menghancurkan barang² yang ada bahkan ketika itu Diandra sudah tersungkur dengan banyak luka lebam karena dipukuli preman itu.


"Berhenti..." Diandra yang masuk berteriak lalu langsung menghalangi kedua preman yang akan melemparkan kursi kayu pada ibunya.


"Ibu siapa mereka..??" tanya Diandra pada ibunya tapi tidak dijawab oleh sang ibu.


"Wow..ternyata kamu mempunyai seorang anak gadis yang begitu cantik.." seorang preman yang memiliki tato dilehernya mendekati Diandra.


"Tolong jangan sakiti putri saya..saya akan bayar semua hutang suami saya tapi saya minta tenggang waktu..tolong.." ibu nya Diandra memohon dengan begitu memelas pada dua preman itu.


"Ibu kenapa kita harus membayar hutang laki² yang tidak bertanggung jawab itu..?" Diandra protes pada ibunya.


"Sayang keselamatan kita adalah yang terpenting biarlah ibu akan bayar semua hutang itu." mereka saling berpelukan karena begitu pilu mengingat betapa brengsek nya lelaki yang menjadi suami dan ayah Diandra.


"Hei...sudah cukup drama nya..sebagai ganti bayar hutang kalian akan aku bawa putrimu ini untuk menemani kami bersenang senang.." preman itu menarik paksa Diandra hingga terlepas dari pelukan ibunya.


"Tidak jangan..tolong lepaskan putri ku..akan aku lunasi semua kalian bisa ambil apartemen ini sebagai gantinya.." ibu dara merangkak memohon agar putrinya bisa dilepaskan.


"Ibu tolong Diandra bu.." Diandra berusaha berontak melepaskan diri dari preman yang memeluknya dengan erat.


"Tolong lepaskan putri saya.."


"Dasar ****** sialan..enyah lah aku akan anggap lunas hutang mu sebagai gantinya putri mu yang harus membayar dengan tubuh nya yang indah ini.." preman itu mendorong ibu dara sampai terjungkal.


"Cukup...tolong jangan sakiti ibu ku..aku akan ikut dengan kalian.."Diandra dengan berderai air mata dan bahkan gemetaran memberanikan diri agar ibu nya selamat.


"Itu baru gadis baik.." preman satu membelai pipi Diandra namun Diandra menghalau nya.


"Ibu Diandra mohon percaya pada Diandra, setelah kita keluar ibu kunci semua pintu dan jendela.." Diandra memberi kode pada ibu nya agar menuruti perkataan nya dan memahami jika dia bisa lolos dari dua preman itu.


"Tapi..."


Diandra menganggu kan kepalanya memberi tanda kepercayaan nya.


"Aku akan ikut kalian tapi tanpa kalian pegangin seperti sekarang ini..aku janji tidak akan kabur."


Diandra berusaha meyakinkan para preman.


"Baiklah..lepaskan dia..toh dia tidak akan bisa lari kemana pun.." preman 1 berbicara pada preman 2.


"Ok.." preman 2 akhirnya melepaskan dekapan tangan nya pada leher Diandra.


Dengan tenang Diandra dan dua preman itu keluar apartemen ibunya, dan dengan cepat ibu dara pun mengunci pintu dengan begitu khawatir tapi percaya dengan apa yang Diandra lakukan pastinya dia bisa meloloskan diri.


Ketika pintu lip terbuka dan preman itu masuk ke dalam lip Dengan cepat Diandra berlari kencang menghampiri pria itu ketika kedua preman itu terlihat lengah menerima sebuah telepon entah dari siapa dan untung nya pintu lip itu sebelum tertutup rapat.


"Lho kemana gadis itu.." preman 2 bertanya pada teman nya.


"Akh...sial dia kabur..cepat keluar dari lip.."


Pintu lip pun terbuka dan kedua preman itu berlarian mencari diandra.


"Brugh.." Diandra menubruk bagas.


.


.


Flashback off


"Owh...jadi kamu mempunyai hutang pada mereka.." bagas memahami kejadian nya.


"Iyah..begitulah ceritanya kak..terimakasih sudah menolong saya, kenalin nama aku diandra.." dengan menyodorkan tangan Diandra bermaksud memperkenalkan diri.


Namun bagas tidak membalas uluran tangan Diandra yang mengajak bersalaman, yang ada bagas malah beranjak meninggalkan Diandra menuju dapur untuk mengambil minuman kaleng di kulkas karena bagas merasa kehausan.


"Hei...kenapa kakak malah pergi..??" Diandra merasa bingung dan kesal karena salaman nya tidak disambut bagas.


"Ambil minum haus..." dengan santai bagas menjawab dari dapur.


"Oh..kirain kebelet..hihihi...☺☺☺☺ " Diandra tersenyum manis membuat bagas terpana.


"Kak hei..apa boleh aku minta antar ke apartemen ku untuk melihat keadaan ibu..?"


"Aku punya nama panggil saja bagas jangan hei.." bagas dari dapur.


"Ok kak bagas yang ganteng.."


Bagas mengernyit karena Diandra berani menggodanya dengan memanggil ganteng. Bagas melihat Diandra mirip dengan ica adik nya yang jail dan mungkin umur mereka hampir seumuran dengan ica, Bagas jadi kangen sama adik kesayangan nya.


"Tunggu sebentar aku akan ganti baju dulu dan menelepon adik ku.." bagas meninggalkan Diandra sendiri di ruang tamu.


.


.


Hampir 20 menit bagas mandi dan ganti baju di kamar nya, ketika selesai bagas langsung menghampiri diandra dan mendapati nya sudah tertidur begitu pulas.


"Lah..ni bocah kaga ada waspadanya sekali sama persis dengan ica gampang percaya pada orang yang baru dia kenal..bikin khawatir orang saja..lebih baik aku telepon saja dulu adik ku itu."


"Tut.tut.tut." tanda panggilan tersambung namun belum ada yang menjawabnya.


"Kok kaga diangkat² sih telepon nya ya..apa udah pada tidur..?? Tumben banget..di sana kan sekarang paling baru jam 22:00 malam deh..coba sekali lagi deh.." bagas bermonolog.


"Tut.tut.tut...


"Halo..ada apa sih kak..udah malam tau di indo.." dari seberang telepon ica marah² pada bagas kakak nya.


"Sewot bener..lagi pms ya..??"


"Lagian kakak tuh kalo telepon ya kalo disini pas siang hari gitu.."


"Iyah maaf dek..abis nya kakak tiba² kangen kamu gara² nya nolongin anak SMA ini yang lagi tidur..upss" bagas keceplosan bilang kalo dia sedang bersama seorang gadis SMA.


"Apaa...??? Kakak ngajak gadis SMA ke apartemen??? Wah kacau nih punya kakak satu.."


"Woy..jangan salah paham, bukan ngajak orang dia tadi yang maksa masuk juga."


"Terus sekarang sama saja kan kakak lagi bareng sama dia?? Awas lo kak kalo macem² ica bilangin ayah.."


"Ah..serba salah dah jadinya..ya udah kakak mau antar dia pulang dulu..bye.."


"Tutt......" bagas memutuskan telepon nya sepihak.


.


.


.


Di kamar ica yang terbangun karena mendapati telepon dari bagas kakak nya.


"Dasar kak bagas ngeselin..udh ganggu tidur ica sekarang main tutup telephon sepihak tanpa pamit..nyebelin.." ica merutuki bagas.


"Hachiii...." bagas bersin.


"Lah...pasti ica nih yang lagi ngutuk aku..sudah lah..aku bangunin dulu diandra saja.." bagas bermonolog.


"Hei..bangun woy..katanya mau pulang.."


"Emh...iyah ayo kak.." Diandra dengan lemas setengah sadar menggandeng tangan bagas dan menyenderkan kepalanya di bahu bagas.


"Dih...ni bocah ngapain pakai geleyotan segala si..??" bagas merasa tidak nyaman karena Diandra memperlakukan nya seperti seorang kekasih nya.


"Untung saja kali ini iman ku lagi kuat kalo iman nya lagi goyah udah gue terkam nih bocah." batin bagas meronta².


.


.


.


..........................


"Ketika ujian sedang datang mencoba keimanan kita pastilah sangat menyulitkan hati."


"Tetaplah sabar, dan tawakal"


"Jangan lupa bahagia"


Like and komen nya ditunggu.......


😍😘😍😘