Friend Is My Love

Friend Is My Love
Episode 2



Episode 2


Rendi menghentikan langkahnya di depan pintu menuju kantin yang masih sepi dan menurunkan ica dari gendongan nya. Ica turun dan menengadah menatap rendi yang memang memiliki tinggi badan bak atlit basket internasional sedangkan ica hanya setinggi bahu nya rendi saja.


"Aku pegang kata² mu ya..jika kamu ingkari janji mu untuk memenuhi segala permintaan ku maka aku tidak akan mau kenal kamu lagi." rendi menundukkan kepalanya mencari kepastian ica.


"Iyah kamu bisa pegang kata² ku." ica berlalu meninggalkan rendi yang masih mematung depan pintu menuju kantin.


"Bagus..maka jangan harap kamu bisa jadi milik orang lain karena kamu hanya milikku ca." batin rendi.


Ica pun masuk ke kantin dan segera duduk di bangku meja yang kosong yang di ikuti rendi. Sejenak rendi mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kantin yang ternyata sepi.


Ica hanya cuek menanggapi tingkah rendi yang kebingungan karena ruangan kantin sepi.


"Hei kenapa kantin sepi ?? Tidak biasanya.." rendi bertanya pada ica yang masih ngambek padanya.


"Aduh...kenapa masih marah begitu..katanya janji mau selalu dengar dan menuruti permintaan ku tapi sekarang sikap apa ini??" rendi berdiri dengan malas seakan mau meninggalkan ica.


"Hisss...menyebalkan sekali..apa kamu lupa kalo sekarang itu masa hari bebas dari kegiatan belajar mengajar??" ica menjelaskan pada rendi.


"Hehe...iyah aku lupa sayang ku.." rendi memperlihatkan deretan gigi nya yang putih seperti sedang unjuk gigi.


Ica hanya menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari tempat duduk nya hendak memesan makan dan minum.


"Kamu mau makan apa..biar aku pesankan sekalian.."


"Terserah kamu saja." rendi membenarkan kerah baju dan membuka satu kancing kemeja seragam nya membuat dirinya terlihat sexi karena memperlihatkan tulang selangka nya.


Ica tidak memperhatikan sebelum nya karena dia sedang memesan makanan ke kasir yang didepan nya sekarang. Setelah kembali menuju mejanya tadi dengan membawa dua gelas jus jeruk ditangan nya ica baru melihat betapa sexi rendi sekarang yang sedang mengipas² kan kerah baju nya yang sudah terbuka satu kancing karena kepanasan dengan keringat yang membasahi kening dan lehernya membuat ica menelan Slavina nya.


Setelah sampai depan rendi yang sedang kepanasan ica hanya bengong di depan nya.


"Ya tuhan..ternyata rendi sangat sexi..dan ya ampun tulang selangka nya begitu bagus membuat aku ingin menandainya di sana.." batin ica meronta.


Rendi melihat ica yang hanya diam karena terpesona oleh nya keisengan nya pun mulai kumat dan senyuman mengerikan yang diperlihatkan rendi membuat orang yang melihatnya merasa ngeri.


"Aku punya ide bagus.." batin rendi mode devil nya.


Ica masih membayangkan betapa indahnya dia jika bisa menyentuh badan rendi yang bagus itu Hingga tanpa ica sadari sebenarnya rendi sudah ada di samping nya sekarang ini.


"Ica...apa kamu sangat menyukai rendi??" rendi dengan pelan membisikkan kata² itu di telinga ica yang masih belum konek.


"Hempp..."ica spontan menganggukkan kepala nya pelan.


Rendi semakin gemas dibuat nya karena ica ternyata menyukainya, dengan tanpa segan dan ragu sekalipun rendi mengambil gelas yang dipegang ica dan menyimpan nya terlebih dulu lalu.


"Cup.."


Rendi mencium pipi ica membuat ica sadar dari lamunan nya, tapi masih saja asik menghayal.


"Ahh...apa dia mencium pipi ku..??" lirih ica yang terdengar oleh rendi.


"Cup..."


Lagi rendi mengecup ica namun sekarang berbeda rendi bukan mengecup pipi nya melainkan di bibir nya ica.


"Bagaimana..manis kan rasanya??" rendi tersenyum penuh kemenangan didepan ica.


"Rendi apa yang kamu lakukan hah..???" ica berteriak membuat orang yang ada di kantin melihat ke arah dimana ica dan rendi berada.


"Kenapa memang nya dengan diriku??" rendi menjawab sekena nya membuat ica bertambah kesal.


Tak lama pelayan kantin mengantarkan dua mangkok baso pesanan ica membuat perut ica yang lapar dari tadi berbunyi keroncongan dan terdengar begitu memalukan sehingga ica mengurungkan niat nya yang tadi ingin sekali meninggalkan rendi sendirian. Ica akhirnya duduk dengan tenang dan langsung memakan baso yang ada dimeja nya, begitu juga rendi yang masih setia dengan senyum kemenangan nya ikut duduk dan menyantap baso yang dipesankan ica.


.


.


.


.


Di dalam pesawat keberangkatan bagas melihat pemandangan yang ada dibawah karena dia duduk tepat di sebelah kaca jendela pesawat yang dia tumpangi.


"Kepada para penumpang yang terhormat selamat menikmati hidangan yang pramugari kami persiapkan, jika anda memerlukan bantuan kami silahkan pencet tombol yang ada di depan kursi anda semoga perjalanan anda menyenangkan dan terimakasih." suara pramugari memberitahukan lewat speaker.


Karena perjalanan dari Indonesia ke Monaco memerlukan 12 jam 35 menit dengan jarak tempuh 11.385 km itu pun dengan kecepatan penerbangan maksimal 900km/jam pastinya membuat bagas merasa sangat bosan berada dalam pesawat dia pun memutuskan untuk tidur saja dengan earphone di telinga mendengarkan lagu² yang dia sukai.


.


.


.


..............


Ketika berbelanja kebutuhan sehari hari rika tidak sengaja di tubruk seseorang pengunjung toko lain yang ternyata orang itu adalah seseorang yang dulu dia kenal begitu baik sejak masa sekolah SMA.


"Dughh.."


"Aduh..." rika mengaduh merasa kesakitan karena ad yang menubruk dirinya dari samping ketika dia hendak meraih barang yang dia butuhkan.


"Maaf apa anda tidak apa²..??" Mitsuki meminta maaf karena tidak sengaja menubruk rika karena terburu buru mengejar pencopet yang tadi mengambil handphone milik nya.


"Iyah..tidak apa² lain kali tolong lebih berhati hati ini bukan jalanan umum yang luas." rika belum memperhatikan siapa yang menubruk nya.


"Rika..kamu rika kan ??" Mitsuki mengingat siapa wanita yang dia tubruk tadi.


"Eh..Mitsuki kamu ko bisa ada disini..??" rika melihat betapa kaget nya ternyata dia bertemu lagi dengan teman dekat nya dulu waktu kuliah di paris.


"Ya ampun rika ini beneran kamu, aku kangen banget sama kamu..apa kabar kamu sekarang..??" Mitsuki memeluk rika tanpa melihat tempat.


Rika merasa tidak enak hati karena semua orang memperhatikan nya dengan tatapan seolah olah mencibir dirinya karena bermesraan di tempat umum. Jangan lupa kalo budaya kita masih kental dengan etika dan moral yang tinggi tidak sama dengan negara luar negeri.


"Aku baik..Mitsuki maaf tolong lepaskan pelukan nya dulu..ini bukan luar negeri." rika mendorong Mitsuki pelan agar tidak menyinggung perasaan nya.


Mitsuki adalah teman dekat rika saat kuliah bersama di paris dengan jurusan yang sama tepatnya Mitsuki adalah mantan pacar rika saat kuliah dulu namun karena selisih paham akhirnya mereka putus dan menentukan jalan masing². Mitsuki kelahiran blasteran orang jepang dan Indonesia namun karena sang ayah berasal dari jepang makanya dia tinggal dengan ayah nya sejak perceraian orang tua nya.


Namun Mitsuki saat ini tinggal bersama ibu nya di indonesia karena ayah nya sudah meninggal hingga Mitsuki memutuskan untuk tinggal bersama ibu nya demi mengurus beliau. Tujuan utama sebenarnya adalah ingin dekat dengan rika kembali.


"Baiklah Mitsuki aku selesaikan belanjaku dulu baru nanti kita ngopi di kafe dekat² sini saja." rika menyetujui ajakan Mitsuki.


"Ok..aku tunggu di parkiran ya.." Mitsuki meninggalkan rika dengan begitu antusias dan senang karena akhirnya tanpa disengaja dia bisa bertemu kembali dengan wanita yang dulu dia cintai.


Setelah selesai membayar belanjaan nya rika menuju parkiran dimana mobilnya terparkir dan segera memasukan barang belanjaan nya ke dalam mobil bagian jok penumpang agar dia lebih mudah mengambilnya. Setelah beres menata belanjaan nya rika menutup kembali pintu mobilnya dan mengedarkan pandangan nya mencari mitsuki.


Sebenarnya rika menyetujui untuk ngobrol dan ngopi bersama Mitsuki hanya karena tidak enak menolak permintaan Mitsuki yang begitu tulus. Karena setelah kelulusan nya di paris rika langsung pulang tanpa memberi tahu Mitsuki dan perasaan nya pun sudah berubah dengan seiring nya waktu. Apalagi sekarang rika sangat mencintai haris dan anak²nya, hingga tak ada tempat sedikitpun untuk orang lain lagi selain untuk suami dan anak nya.


"Hei...ternyata kamu parkit di sini..aku kira kamu bakal langsung pulang dan melupakan ajakan aku." Mitsuki menghampiri rika.


"Aku tidak pernah ingkar janji seperti orang lain..kita bisa ngobrol sebentar di kafe sebrang sana tanpa mengendarai mobil karena pastinya kamu juga membawa mobil kan?" rika menyindir Mitsuki yang dulu mengingkari untuk setia terhadap cintanya.


"Baiklah..mari.." dengan nada yang tertahan di tengkuk nya yang terasa sesak di dada karena Mitsuki yang mengerti arah perkataan rika padanya itu mengingatkan hal tentang penghianatan dirinya pad rika.


Mereka bersua jalan beriringan dengan rika yang berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh Mitsuki. Rika pun memilih duduk di meja yang terkesan tidak privat karen tidak ingin timbul fitnah dari orang yang mungkin mengenalnya.


Namun di meja lain ternyata ada yang sudah memperhatikan mereka berdua diam² dengan tatapan tajam mematikan dan tangan mengepal menandakan betapa marah nya dia saat ini.


"Kamu mau pesan apa rika ??


"Cukup kopi krim cappucino saja.."


"Baiklah.." Mitsuki melambaikan tangan memanggil pelayan kafe yang langsung datang menghampiri nya.


"Kopi krim cappucino nya dua."


"Baik tuan." pelayan pun berlalu.


Tak perlu menunggu lama kopi pun sudah datang disuguhkan pada rika dan Mitsuki.


"Gimana kabar kamu Mitsuki??" rika membuka pembicaraan.


"Aku baik..sekarang bahkan jadi lebih baik setelah bertemu dengan mu."


"Kenapa memang nya tadi kamu tergesa gesa saat di toko perbelanjaan ??" rika menanyakan perihal kejadian tadi di toko dengan santai sesekali meneguk kopi dengan anggun.


"Tadi aku buru² mengejar orang yang ngambil handphone aku tapi malah nabrak kamu..hee." Mitsuki nyengir kuda membuat rika ikut tersenyum.


"Kamu ini tidak berubah sedikitpun Mitsuki..masih saja teledor seperti dulu.."


"Ya gimana lagi setelah kamu meninggalkan aku di paris tanpa ada kabar aku tidak pernah perduli kan lagi hal² kecil seperti itu."


"Sudah lah kamu ini juga kan sudah dewasa mestinya kamu bisa jaga diri sendiri."


"Iyah..tapi aku masih mengharapkan kamu bisa jadi pendamping hidupku rika." Mitsuki menggenggam tangan rika.


"Maaf Mitsuki aku sudah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak yang sangat aku sayangi." rika dengan cepat menarik tangan nya.


"Ekhemmm..."


Dari samping rika berdiri seseorang yang rika kenal dan hafal siapa yang batuk. Sepontan rika pun menoleh ke samping nya dimana haris berdiri.


"Sayang kamu ko bisa ada di kafe ini juga??" dengan santai rika berdiri dan langsung merangkul tangan sang suami tercinta.


"Iyah aku tadi selesai meeting bersama pak rio.." dengan tenang dan cool haris menjawab agar tidak memperlihatkan rasa cemburu nya karena dia juga yakin kalo rika tidak seburuk yang dia pikir.


"Owh...sini duduk dulu dan kenalin yang dia Mitsuki teman ku waktu kuliah di paris." rika memperkenalkan Mitsuki.


"Perkenalkan saya Mitsuki teman rika..maaf saya mengajak istri anda untuk menemani saya ngopi karena sudah lama kita tidak bertemu." Mitsuki menjelaskan pada haris dengan sopan berjabat tangan.


"Salam kenal saya haris..untuk sekarang tidak apa anda ajak istri saya tapi lain kali tidak." tetap dengan mode cool haris membalas jabat tangan dari Mitsuki.


Karena suasana menjadi canggung akhirnya rika ambil inisiatif untuk segera mengajak suami nya pulang daripada terjadi perang yang tidak di inginkan.


"Baiklah Mitsuki terima kasih traktiran kopi nya..kalo gitu aku permisi pulang bersama suami saya duluan." rika berpamitan.


"Iyah silahkan..terimakasih sudah menerima ajakan saya rika." Mitsuki mengembangkan senyum nya meski dalam hati nya merasakan sakit hati yang begitu perih.


Baiklah..sampai jumpa." rika dan haris berlalu meninggalkan Mitsuki sendirian di meja nya tadi.


Sampai nya diparkiran mobil rika yang ada di toko perbelanjaan tadi.


"Sayang maaf aku tidak minta ijin kmu dulu tadi..kamu tidak marah kan ??" dengan suara mendayu rika memeluk haris.


"Tidak..buat apa aku marah..mana kunci mobil nya." dengan ketus haris menjawab pertanyaan rika dan Dengan segera haris membuka pintu mobil nya rika lalu masuk hendak menyetir.


Rika dengan cepat pula masuk ke dalam mobil di bangku penumpang depan tepat sebelah haris mengemudi.


"Katanya tidak marah tapi muka dan ngomong nya sinis banget." rika sengaja menggerutu kencang dengan nada ketus agar haris mau memaafkan kesalahan rika.


"Hey..kenapa malah kamu yang ngambek si yang..?? Kan harusnya aku yang marah sama kamu yang tadi pegangan tangan sama pria lain." haris menghadap pada ranhi yang sedang bersedekap tangan dan melihat ke arah luar kaca jendela mobil.


"Yes...berhasil juga jurus andalan ku ini." batin rika bersorak penuh kemenangan.


"Lagian kamu juga yang masa cemburu sama Mitsuki..kamu jelas lebih segalanya dibandingkan dengan dia." rika main dengan memasang muka cemberut.


"Jelas aku cemburu lah..kamu kan cuma milikku seorang..tidak boleh ada seorangpun yang menyentuh mu dan terlebih merebutnya." haris dengan posesip menekan kan bahwa rika hanyalah milik nya seorang.


.


.


.


.......................


Like dan komen terus ya.. 😁😁 jangan lupa bahagia untuk hari ini ya..