Fly Away With Me

Fly Away With Me
28. Episode 28




Episode 28



Setelah mengantarkan Audry pulang kerumahnya, Bryan pun langsung melajukan motornya untuk pulang ke rumah. Beberapa menit kemudian dia telah sampai di rumah dan segera memarkirkan motornya di garasi. Saat dia memasuki garasi, dia melihat mobil Arya sudah terparkir rapi diantara mobil lainnya disana. "ahk, dia pulang lebih cepat dari ku" ucapnya mulai sedikit khawatir karena bosan akan menerima omelan lagi. Dia pun berlalu dari garasi tersebut dan langsung masuk ke rumah, terlebih dahulu dia menuju kamar untuk sekedar membersihkan dirinya, kemudian dia menuju ruang makan untuk makan malam dan sudah dia pastikan bahwa Arya akan berada disana menunggunya dengan santai dan sudah mempersiapkan diri untuk omelannya.


Setelah sampai di ruang makan, dia melihat Arya sedang menunggunya, dia pun langsung duduk tanpa menunggu aba-aba, kemudian mbok Ana menyiapkan makanannya. Dia sedikit melirik Arya yang masih asyik memperhatikan gerak geriknya. "Jika ada yang ingin kau katakan, katakan lah aku akan mendengarkan mu dengan seksama" ucap Bryan yang sudah menyiapkan dirinya menerima omelan dan ocehan kakaknya itu. "Tidak ada yang ingin aku katakan pada mu, aku hanya ingin melihat adik kecilku" jawab Arya yang berusaha menahan senyumnya. Dia berpikir bisa-bisanya dia mengucapkan kalimat yang menjijikkan itu, umpatnya dalam hati. "Mbok apakah Arya sudah pulang dari kantor? Sepertinya ada penyusup yang masuk ke rumah kita ini" Tanya Bryan kepada mbok Ana yang juga menahan senyumnya karena melihat tingkah kedua bersaudara tersebut. Mbok ana heran kenapa hari ini mereka terlihat sedang mengungkapkan rasa sayang diantara saudaranya. Mbok Ana hanya tersenyum dan geleng- geleng kepala kemudian dia kembali ke duduk dan makan bersama mereka.


Acara makan malam yang penuh dengan kegelian itu pun telah selesai dan mereka kembali ke kamarnya masing- masing. Didalam kamar Bryan dia masih memikirkan, kenapa Arya bisa berkata seperti itu kepadanya, sepertinya ada yang tidak beres dengan hari ini, "Ahk sudahlah itu urusan dia" ucapnya kepada dirinya sendiri, kemudian dia mengambil benda pipih di atas mejanya dan mulai memainkannya. Setelah lama berkutat dengan handphone yang di pegangnya, tiba- tiba dia tersenyum sendiri, entah apa yang terlintas di pikirannya sehingga dia bisa terlihat seperti orang gila. Dia terlihat senang tangannya menutup kedua wajahnya kemudian menghentakkan kakinya berulang kali, berguling kesana kemari, berteriak seperti orang yang mendapatkan juara satu dalam pertandingan. Apa yang membuatnya merasa begitu senang? Apakah dia sedang mendapatkan lotre?. Tiba –tiba saja dia melingkarkan tangannya di pinggangnya dan dia mengulangi tingkah gilanya yang tadi. Ahk dan ternyata yang membuat dia seperti orang gila karena kejadian tadi sore saat dia mengantarkan Audry pulang ke rumahnya. Dia sangat senang karena Audry memeluknya di perjalanan tadi, dia kemudian meloncat kegirangan di atas tempat tidurnya seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru dari orangtuanya.


"Ahk kenapa aku sesenang ini karena mengantarkannya pulang? Kenapa aku senang saat dia memeluk ku tadi? Huh. Jantung ku, jantung ku, jantung ku. Hei jangan meledak dulu, aku masih ingin hidup dan melihatnya besok di sekolah" rancau Bryan sembari memegang jantungnya di balik baju yang dia pakai, senyumnya sangat merekah, melengkung sempurna, terlihat sangat manis dan menambah ketampanan nya. Dia melirik handphone nya di atas meja, kemudian dia mencari kontak seseorang dan membuka kotak percakapan, dia mulai mengetik sesuatu. Tangannya asyik mengetik sana sini, "Ahk jangan seperti itu, kelihatan sekali maksudnya" ucapnya, kemudian tangan berkutat kembali di layar handphone nya, "apakah tidak masalah kalau aku mengatakannya?" ucapnya mulai frutasi tidak tau apa yang akan dia ucapkan. Tangan tetap saja berkutat sana sini, tidak tahu apa yang akan di lakukannya, tetap saja dia merancau tidak jelas, kira-kira apa yang akan di ketik nya dan kepada siapa pesan itu akan dia kirimkan?.


Trrriinngg


Bryan terkejut mendengar notife tersebut dia langsung secepat kilat meraih handphone dan dia melihat pesan yang terkirim kepada si penerima. Akhirnya pesan tersebut tersampaikan juga setelah sekian lama berkutat dan berfikir keras dengan apa yang akan dia lakukan. Tetapi tidak dengan Bryan yang berteriak teriak karena merasa bahwa pesan yang dikirimkannya tidak sesuai dengan apa yang seharusnya akan dia ucapkan dan kirimkan. Dia sejenak memperhatikan pesannya dan membacanya, "Besok berangkat ke sekolah bersama ku" itu lah pesan yang di kirimkan tanpa sengaja olehnya. "Pesan apa- apaan ini, tidak kah ini terlalu biasa? Seharusnya aku menyapa dia terlebih dahulu untuk basa-basi kan? Ahk" dia sangat kesal dengan dirinya sendiri. Bisa- bisanya dia pesan itu terkirim dengan sendirinya, Bryan terlihat sangat prustasi dia melemparkan handphone itu kembali, tangannya mengacak- acak rambutnya yang tidak bersalah. " seharusnya aku bisa kan menarik person tersebut dan mengirimkan yang lebih layak untuk di baca kan?" Tanyanya pada angin, dia baru memikirkan hal tersebut setelah sekian lama. Dia beranjak untuk mengambil handphone nya yang terletak di karpet bawah tempat tidurnya. Dia meraih handphone itu, melihat pesan yang telah di kirimkan itu kembali, dia membaca beberapa kali pesan yang tertulis dan tiba- bisa matanya tertuju pada ceklis dua yang sudah berwarna biru. Seketika dia terkejut "Ahk!!!!!" dia dengan spontan melemparkan benda pipih itu seperti orang yang ketakutan.


*Bersambung


Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga


Ayo pra readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini


Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah 😊😊