DON'T HATE ME

DON'T HATE ME
part 8 : feel lonely



Jum'at, xx Agustus 20xx


" Kamu tetap wangi bahkan kalau belum mandi. " Bisik Keano tepat di telinga Violetta


" Bisakah kau singkirkan kaki mu Ed, geli. "


" Biarkan sayang, aku masih mau seperti ini bersama mu. " Bisiknya lagi.


Cklek...


Atensi mereka bertiga beralih menatap pintu. Di sana James tengah terkejut melihat pemandangan yang membosankan. Ketiga adik nya suka sekali berpelukan di tempat tidur.


...................................................


...next...



" Apa mereka gak tahu sekarang udah sore? Bahkan seragam mereka masih melekat. Ck. " Batin nya.


" Violet..... Edward..... Keano..... What are you doing guys? " Ketiga nya hanya tersenyum.


" Don't smile! "


" Kakak gak bakal membiarkan mu lolos kali ini Vi. Kamu janji menemui ku pulang sekolah, tapi apa? Hari udah sore dan kamu masih memakai seragam. "


" Ya ampun kak, Ed dan Ken juga belum ganti baju. Kenapa kakak hanya memarahi ku? "


" Ooh kamu mengelak? Ingin dihukum ternyata. Hei kalian, bantu gue menghukum gadis manis ini. She wont escape today. "


Dengan memasang wajah pura-pura menakutkan, James mendekat. Mengisyaratkan dengan mata nya pada Keano dan Edward untuk membantu memegangi Violetta.


Jarak wajah di antara mereka semakin terkikis. Tangan kanan nya terangkat menyingkirkan anak rambut pada wajah adik nya dan menyelipkan ke belakang telinga. Bibir nya mendekat ke sana untuk membisikkan sesuatu.


Violetta terus saja mengedipkan mata nya, menelan air liur dengan susah payah. Detak jantung nya bekerja lebih cepat, was-was terhadap kemungkinan terburuk yang direncanakan kakak nya.


" Bernafaslah sweety! "


" Huft..... Kakak membuatku takut. Bagaimana kau aaaaaww..... " Kalimat nya terpotong karena hidung nya ditarik begitu saja.


" Itu baru permulaan mengerti? Dan sekarang kakak tak akan berhenti menggelitiki sampai kamu memohon dan meminta maaf. "


" Aaaaaaaaa kakak curang. "


" Geliiiiiiii ampun. "


" Oh masih kurang. " Ucap James menyeringai.


" Eeeed..... Keeen..... Please..... "


" Pegang yang erat tangan nya, Ken! "


" Ed, pegang kaki nya! "


" Aaaaaaaaa tiga lawan satu curang. "


" Kamu gak akan lolos sayang. "


" Issh, kalian jangan bantu kak James dong. Help me! "


" Okey okey, aku minta maaf. "


" Udah lepaskan! Bagaimana sayang? Mau meremehkan kakak lagi? "


Violetta berusaha menetralkan nafas nya. Sebenarnya ia sedang berusaha menahan sesak dan rasa sakit. Ia tak ingin menunjukkan sisi lemah nya lagi pada siapa pun.


" Vi, kamu lucu banget setiap berhadapan sama kak James. " Ucap Edward.


" Kelihatan nya seru juga. Suatu saat kita lakukan lagi. " Ucap Keano.


" Dasar kalian ini, bukannya menolong ku malah lebih memilih membantu orang paling menyebalkan ini. " Omel Violetta.


" Sudahlah, cepat kalian mandi! " Perintah James.


" Okey kapten! Perintah akan segera dilaksanakan. "


" Setelah itu turun ke bawah! "


Tiga bersaudara dengan kompak menjawab dan mengangguk. Keano dan Edward langsung berlomba menuju kamar mandi. Sedangkan Violetta memilih menunggu kedua kembaran nya di balkon dari pada ikut berebut siapa yang akan mandi terlebih dahulu.


Ia merasa sedikit bahagia mendapat perlakuan manis dari ketiga saudara nya. Meski ia takut jika semua tidak bertahan lama. Baru satu hari dan ia merindukan keluarga nya sebelum kedatangan Luvena.


...****************...


...Seminggu Kemudian...


...****************...



Sudah satu pekan dan sedikit demi sedikit mulai banyak perubahan. Dimulai dari David yang menjaga jarak. Revian yang jarang pulang. James yang sibuk pacaran. Entahlah yang jelas kini mereka berbeda.


Juga Bryan dan Nathan yang tidak ada waktu luang. Mereka sangat sibuk dengan tugas kuliah yang menumpuk dan pekerjaan yang melelahkan.


Keano, Edward dan Sean yang selalu beralasan ketika diminta menemaninya saat jam istirahat. Ya, Violetta sangat mengerti Sean. Ia akan menjadi ketua osis akan tetapi Keano dan Edward seperti menghindari nya. Bahkan sering kali terlihat mereka bersama Luvena.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya Violetta sampai di rumah. Suasana di sekolah hari ini sangat membosankan. Meski jam pulang sekolah dipercepat bukan berarti menyenangkan. Itu artinya mereka 6 jam penuh belajar tanpa istirahat.


Seperti hari sebelumnya, lebih tepatnya sudah satu pekan ini ia pergi dan pulang sekolah menggunakan bus. Tentu tidak sendiri, Sean yang diam-diam mengikuti tetap melakukan nya. Alex sama sekali tidak mencegah putri nya itu. Dan membiarkan Luvena bersama Nathan dan lain nya.


Sebelum pulang, Violetta menyempatkan diri mampir ke sebuah toko untuk membeli sesuatu. Hari ini termasuk hari spesial bagi Xander Family's, tidak pernah satu pun tahun terlewatkan untuk dirayakan.


Ketika gadis itu memasuki rumah, ia tidak mendapati siapa pun. Rasa nya ada yang aneh. Feeling nya mengatakan sesuatu yang berbeda dan berharap bukan hal yang buruk.


Semenjak kedatangan Helen, Alex meminta putri nya untuk satu kamar bersama putri istri barunya, Luvena. Awalnya Edward dan Keano tidak setuju berpisah kamar dengan kembaran nya itu. Namun bagaimana lagi, Violetta sebentar lagi akan mengalami masa remaja. Tidak baik bukan seorang gadis tidur satu tempat bersama laki-laki meski saudara nya.


Oh no! Pemandangan kamar nya sangat tidak pantas disebut sebagai kamar seorang gadis, ini terlalu buruk. Sprei tidak kencang, bantal tidak tertata, pakaian tergeletak di mana-mana. Ya, bisa dikatakan seluruh barang tidak pada tempat nya.


Bahkan satu kamar bersama kedua kembaran nya tidak pernah terjadi semua hal tersebut. Hanya satu yang patut disyukuri, tidak ada sampah.


...................................................



Violetta baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Bahkan sudah setengah jam lebih ia bersemedi. Namun belum juga ada tanda-tanda seseorang datang.


Sebenarnya ada di mana mereka semua. Rumah ini kosong. Ia telah menyelusuri setiap ruang dan tempat. Tidak satu orang pun menampakkan batang hidung nya.


" Apa semua nya pergi? Saat di sekolah tadi Ed dan Ken tampak terburu-buru. Aku kira akan ada kejutan sampai di rumah gak ada apa-apa. Bahkan semua mobil juga terpakai. " Ujar Violetta dalam hati.


" Sebenarnya ke mana mereka semua? Ah, mungkin mereka mengirim pesan untuk meminta ku pergi ke sesuatu tempat. " Pikirnya.


Berusaha berpikir positif ia mengambil ponsel dan dugaan nya meleset setelah mengecek notifikasi pun tidak ada tanda sama sekali.


Mungkin saja jika rumah mewah Xander Family's tidak memiliki security, sudah dipastikan ia tidak dapat masuk ke dalam rumah. Dikerenakan akhir pekan para asisten rumah tangga juga diliburkan.


Menyedihkan, sendirian dan tanpa pemberitahuan. Yang pasti membosankan sekali.


Pada akhirnya ia memutuskan menunggu. Kembali ke kamar, mungkin lebih baik istirahat. Tubuh dan pikiran nya sangat lelah. Namun nihil, sampai dua puluh lima menit gadis itu memejamkan mata Violetta tidak berhasil tidur. Pada akhirnya ia memilih bangkit dan mulai merapikan kamar yang tampak seperti terkena badai.


...................................................



Hingga kini pukul 7 malam tidak ada satu pun yang kembali. Rumah sangat sepi dan gelap. Violetta bukan tidak berani menyalakan seluruh lampu. Namun memang listrik sedang padam dan memaksa nya menggunakan lampu emergency yang tidak terlalu terang.


Ia baru saja terpikir bagaimana rumah sebesar ini tanpa asisten rumah tangga. Pasti sangat sulit jika membersihkan rumah sendirian dan membutuhkan waktu lama.


Meski selama ini para asisten mungkin hanya merapikan bagian-bagian rumah yang utama saja. Seperti mengurus taman, membersihkan kolam renang, menyapu dan mengepel seluruh ruangan kecuali kamar. Namun semua itu sangat membantu bagi anak-anak orang kaya seperti Xander bersaudara.


Hidup mandiri dimulai dengan merapikan kamar sendiri, menyiapkan makan sendiri, mencuci dan menyetrika pakaian sendiri. Itulah yang diajarkan mendiang ibu mereka, Excelia.


Rasanya benar-benar kesepian sejak tadi, bingung apa yang harus dilakukannya. Tidak masalah bukan jika pergi sebentar. Sebelum itu tidak lupa ia mengabarkan kakak nya terlebih dahulu. Namun hanya James yang terlintas dipikirannya. Ia mencoba menghubungi akan tetapi ponsel nya tidak aktif.


Selanjutnya ia mencoba menghubungi yang lain. Sayang, hasil nya tetap nihil bahkan Alex tak menjawab panggilan nya. Tinggal satu nama David, Violetta mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghubungi nya.


Bip.. Diangkat.


" Hallo..... "


" Luvena? "


Tut... Tut... Tut.. Panggilan terputus.


" Kenapa ponsel kak David ada pada Luvena? Tak mungkin aku salah dengar bukan tadi benar-benar suara nya. " Batin Violetta.


...................................................



Sebuah keluarga sedang menikmati makan malam di sebuah restoran. Setelah letih menyiapkan sesuatu di tepi pantai yang akan mengejutkan atau dapat dikatakan kejutan untuk seseorang.


Mereka merasa puas atas hasil nya meski yakin seseorang itu akan sangat marah nanti nya. Dan saat melihat kejutan ia akan melompat-lompat gembira. Itulah yang berada dalam bayangan mereka.


" Bryan, lebih baik kau jemput sekarang. Dia pasti kesal karena sendirian sejak siang. Ia baru saja menelpon dan papah abaikan. Don't forget to divert attention until we contact you! " Perintah Alex pada putra sulung nya.


Bersambung.....