DON'T HATE ME

DON'T HATE ME
part 4 : cemburu



Kamis, xx Agustus 20xx


" Bagus kalau begitu setidak nya kalian berdua saling kenal. Luv, papah sudah pindahkan semua kebutuhan mu di kamar baru mu. " Ujar Alex dengan penuh kebahagiaan.


" Terima kasih om. "


" Panggil papah saja sama seperti yang lain. Dan kalian juga panggil Helen, mamih. Mengerti? " Semua hanya mengangguk pelan.


...................................................


...next...


" Oh i... i... iya pah, Luv senang sekali bisa satu sekolah lagi dengan Violet. " Lagi-lagi Luvena terlihat aneh baru saja ia menatap tajam Violetta.


Alex mengangguk akan tetapi begitu ia melihat perubahan sikap pada diri putri nya ada rasa khawatir.


" Kamu baik-baik saja Vi? Muka mu tampak pucat, istirahatlah sayang. " Sang ayah mendekati putri nya yang tetap terdiam.


" Sayang? "


Violetta tersenyum menunjukkan sisi kuat nya. Seperti ada yang aneh pada ekspresi putri nya. Apa ada yang disembunyikan?


" Hanya sedikit pusing pah. " Meski ragu Alex kembali mengangguk.


" Kalian harus perlakuan Luv dengan baik. Dia juga adik kalian mulai sekarang. Okey? Itu perintah! " Ujar Alex tegas.


" Baik pah..... " Semua menjawab.


" Boleh aku panggil kalian kakak? Maaf kalau lancang. " Ucap Luvena yang dibuat semanis mungkin.


" Sure. Kau adik kami sekarang, tidak perlu merasa sungkan. Anggaplah kita sudah lama mengenal. " Jawab Nathan ramah sembari mengusap lembut kepala Luvena.


" Pah, papah memindahkan Luvena ke sekolah kita? " Tanya Keano.


" Aku sudah ada di sana semenjak awal masuk, Ken. " Jelas Luvena dengan wajah murung nya.


" Oh ya, aku gak tahu. Banyak cewek yang dekati aku tapi semua gak ku kenal. " Keano tersenyum bangga pada diri nya.


" Hahaha..... Mana mungkin kau memperhatikan cewek biasa sepertiku lagian kita berbeda kelas. "


Sedangkan Violetta yang melihat itu agak kesal, mungkin bisa dibilang cemburu. Pasal nya Luvena mencari perhatian semua orang. Oh no! Ia harus berbagi mulai sekarang dan jangan bersikap egois. Walau ia yakin pasti akan sangat sulit menjalani nya.


" Pah, Vio izin masuk kamar ya? Badan Vio pegal semua, mau istirahat dulu. " Ucap nya dan beranjak meninggalkan ruangan.


" Istirahatlah jangan dipaksakan! Turun saat makan malam tiba nanti. " Ujar Alex sedikit berteriak.


" Baik pah! Terima kasih. "


Gadis itu pun kembali melanjutkan langkah kaki nya menaiki tangga menuju lantai 2 yang sempat terhenti.


...................................................



Setelah memasuki kamar ia segera mengunci pintu nya. Berganti pakaian dan mencuci muka. Berusaha tenang dalam setiap langkah nya agar pikiran nya tidak ikut kacau seperti hati nya.


Saat dihadapan cermin, ia merasa rasa sakit nya kembali menyerang. Ia langsung berlari mencari obat nya menelan tanpa air untuk pertama kali nya. Rasa sakit nya sedikit berbeda ia harus segera meredakan nya sendiri.


Diambilnya bingkai foto mendiang ibu nya yang tersenyum bahagia. Foto itu satu-satu nya yang dapat menguatkan diri nya untuk bertahan. Tidak ingin pengorbanan ibu nya menjadi sia-sia.


" Mamah..... Vio takut. Firasat kali ini seakan bencana yang menanti. Selama ini firasat Vio menjadi nyata dan berakhir bahagia. Tapi tidak kali ini mah, Vio takut... " Lirih Violetta.


Sakit kepala menyerang lebih dari biasa nya. Detak jantung nya bekerja lebih cepat. Rasa nya melelahkan. Setelah sedikit tenang ia membuka kunci pintu kamar nya dan beranjak tidur. Namun ia masih terasa sulit menuju alam mimpi. Hingga ia memutuskan menelan satu butir obat lagi.


...................................................



Saat ini setelah makan malam seperti biasa, Xander bersaudara akan berbincang-bincang hangat bersama sang ayah. Namun kali ini berbeda ada dua anggota baru dan tanpa ada yang menyadari bahwa Violetta tidak berada di sana. Melainkan memilih memandang langit yang bertabur bintang di balkon kamar nya.


" Anak-anak, papah sama mamih ke kamar duluan ya. Kalian lanjutkan saja bercerita. "


" Luv, jaga sikap mu ya! Meski mereka sekarang saudara mu jangan bertindak buruk, mengerti? "


" Good night kids. "


" Good night. "


" Selamat menikmati malam pertama kalian. "


" Ya ampun James..... Ada anak kecil! "


James hanya tersenyum tampan seraya menggaruk kepala nya yang sama sekali tidak gatal. Yang tidak mengerti maksud perkataan sebenarnya hanyalah Luvena.


" Hahahahaha..... " Semua tertawa melihat James salah tingkah.


" Aishhh, berhenti ngetawain gue! " Ucapnya dengan wajah cemberut.


" Jadi kamu seumuran dengan Sean bahkan tanggal lahir kalian sama. Wah menakjubkan sekali. " Tanya Revian dengan wajah terkagum.


Luvena mangangguk antusias berbeda dengan Sean yang memutar bola mata nya malas. Melihat itu membuat semua tertawa cukup bahagia. Ya setidaknya tidak seburuk yang dibayangkan.


" Apa perlu aku dan Ken memanggil mu kakak? Kau lebih tua setahun dari kami. " Edward terkikik oleh perkataan nya sendiri.


" Jangan! Aku merasa sangat tua sekali dan pasti di sekolah aku akan menjadi bahan obrolan. " Tolaknya sambil mempoutkan bibir nya.


" Ah iya, gak akan aku panggil kakak. Jadi jangan marah ya. "


Setelah Luvena menceritakan kehidupan nya mendadak mereka semua merasa iba. Ia lahir tanpa ayah yang menemani ibu nya melahirkan. Ayah nya memiliki keluarga lain yang harus diutamakan. Hidup bersama ibu nya penuh kesepian. Pengiriman uang tetap berjalan akan tetapi yang dibutuhkan hanya sesosok ayah.


Tidak ada yang ingin berteman dengan nya karena banyak yang mengira ia terlahir di luar pernikahan. Hanya Violetta saja yang menjadi teman nya saat itu. Namun tidak berselang lama, Helen memindahkan nya dari sekolah ke sekolah lain. Karena takut suatu saat ayah Luvena tidak bisa mengirimkan uang lagi, ia harus bekerja keras meski berpindah tempat.


" Your life must be difficult, Luv. But calm down now you have us who will support you. " Ucap David seraya menghapus air mata Luvena.


" Dan papah will be your father in his place irresponsibly. Don't worry! " Ucap James sambil menepuk pundak Luvena.


" Thank you very much brothers. "


Pembicaraan terus berlanjut dengan topik-topik hangat yang menenangkan Luvena dan sesekali membicarakan hal yang lucu. Namun tidak semua terlihat senang. Bryan dan Sean tidak begitu menyukai sikap Luvena yang cerewet dan sengaja mencari perhatian.


Jujur saja Sean sangat gelisah saat menyadari tidak ada adik kecil nya. Namun kaki nya seakan lumpuh untuk melangkah pergi dari sana.


.............................................



Tepat jam 9 malam semua kembali ke kamar masing-masing. Violetta yang sedang berdiri melihat canda tawa mereka dari atas di ujung tangga merasa sesak bukan karena sesak nafas melainkan merasa dikhianati.


" Semudah itukah kalian melupakan diri ku. Aku tau Luvena membutuhkan kasih sayang dari kalian sekarang. Dan aku harus bisa berbagi. Tapi jika kalian seperti tak menginginkan aku lagi. Ku mohon jangan tinggalkan aku dengan melupakan aku. "


Sakit hati karena tidak ada seorang pun yang menyadari ketidakhadiran nya. Bahkan rasa nya ingin menangis akan tetapi ia bukan gadis yang cengeng. Ia berjanji akan selalu kuat dan bertahan demi orang yang disayangi.


Saat melihat semua mulai meninggalkan ruang tengah, ia berpura-pura ingin ke bawah. Tanpa menoleh pada mereka yang berjalan melewati nya.


" Vi, kau di sini? Kenapa gak gabung tadi? Kami baru aja selesai. " Tanya Keano saat berpapasan.


" Karena kalian seperti tak ingin aku hadir. "


Violetta hanya tersenyum mendengar ucapan nya.


" Iya benar. Kamu mau ke mana? Kakak gak sadar, kalau kamu gak ada dari tadi. Kenapa juga kamu gak turun makan, hm? " Tanya Nathan dengan polos nya.


" Karena kalian semua melupakan aku. "


Lagi. Violetta hanya tersenyum paksa yang semakin lama menyiksa nya.


" Oh ya? Kayaknya gue juga gak sadar. Kau melewatkan cerita Luvena, ia sangat menderita hidup nya. " Sambung Revian yang baru saja ingin menuju lantai 2.


" Aku tau dan mungkin sebentar lagi, penderitaan ku yang akan dimulai. "


Dan tetap pada pendirian diam dan seakan semua baik-baik saja. Revian tidak mengerti dan tetap berjalan menuju kamar nya.


" Are you okey? " Pertanyaan yang ia tunggu keluar dari mulut Sean yang kini berada di samping Nathan.


Bersambung.....