
Selasa, xx April 20xx
Mereka membicarakan banyak hal setelah Willy dan Windy meninggalkan mereka agar lebih leluasa mengobrol. Calista adalah gadis periang yang mudah merubah suasana.
Alex yang melihat itu diam-diam tersenyum. Putri nya sudah sangat lama tak tersenyum saat berbicara. Ini pertama kali nya setelah hari itu. Violetta tampak enjoy mengeluarkan suara dan tanpa ragu menatap lawan bicara nya.
...................................................
...next...
Malam yang sedikit merubah suasana hati seorang gadis berpengaruh cukup besar. Seperti nya memang benar jika ia kesepian, butuh teman untuk sekedar mengungkapkan satu kata. Tanpa disadari beberapa orang tersenyum melihat pemandangan itu. Ikut merasa bahagia sangat-sangat bahagia.
Mereka ingin mendekat akan tetapi ego kembali menyelimuti mata hati tanpa belas kasih. Rasa sayang seakan hilang saat angin datang berhembus. Jika benar mereka membutuhkan waktu, sebenarnya mereka butuh berapa lama lagi.
Waktu menunjukkan pukul 10, itu berarti pesta benar-benar selesai. Ruang utama tampak kosong dari tamu undangan begitu juga pihak keluarga. Hanya tersisa maid yang sedang membersihkan ruangan itu.
Violetta yang akan memasuki kamar nya terhenti setelah mendengar nama nya di panggil. Ia tampak menghela nafas dan mengatur wajah lelah nya dengan begitu datar.
Setelah membalikkan badan nya, ia cukup terkejut mendapati Calista dengan senyum menghias di wajah nya. Violetta segera merubah kembali ekspresi menjadi ceria, saat mendapati teman baru nya masih berada di kediaman Xander family's.
" Bagaimana bisa kau masih di sini, Cal? Ini sudah cukup larut bukan? "
" Aku akan menginap di sini beberapa hari, lagi pula sekarang aku sedang libur setelah Ujian panjang. Dan aku gak mau libur di sini sendiri. Jadi kau mau kan temani aku? " Jelas Calista.
" Oh tentu, kau tidur di kamar tamu? Mau aku antar ke sana? Seharusnya kau sudah menemukan nya lebih dulu sebelum ke mari. "
" Tidak, aku ingin tidur di kamar mu. Di mana kamar mu? Meski baru saling mengenal, tak masalah bukan kita tidur bersama. "
" Tentu saja. Tapi masalah nya..... "
" Ah, sudah lah aku mengantuk. Bisa kau tunjukkan letak nya Vio? "
" Mungkin lebih baik kau tidur di kamar tamu atau di kamar Luvena. Aku rasa itu pilihan tepat, Cal. "
" Tidak mau. "
" Why? "
" Ku mohon, biarkan aku tidur di kamar mu. "
Nada bicara nya yang tiba-tiba berubah dingin membuat Violetta mau tidak mau menunjukkan kamar nya. Calista terlihat biasa bahkan tanpa rasa terkejut sedikit pun memasuki ruangan tersebut.
" Single bed dan tanpa ranjang, juga tanpa pendingin tanpa penghangat... Huft... Apa tidak apa-apa? " Ujar Violetta sembari memandang kasur nya.
" No problem, I like it. "
" Okey, biar aku tidur di sofa. Sekarang cuci muka dan gosok gigi sana. "
" Hei, kenapa kau harus tidur di sofa? Meski kasur nya hanya cukup untuk satu orang, kita bisa menggunakan metode lain dong. "
" Hah? Maksud mu bagaimana? Kita gak lagi ngerjain soal matematika bukan, gak perlu metode lagi pula cuma tidur? "
" Isssh kau ini..... Kasur nya kan hanya beralas karpet tentu kita bisa tidur dengan arah yang berbeda. "
" Aku semakin tidak mengerti. Jelaskan lebih rinci! "
Calista mengabaikan Violetta dengan melangkah kan kaki keluar kamar menuju kamar mandi. Ia pikir lebih baik langsung di praktik kan saja. Sedang kan gadis kecil yang terabaikan dan kebingungan memilih mengambil satu selimut untuk teman nya itu.
...................................................
Kejadian beberapa saat yang lalu membuat seorang gadis tampak kesal. Ini hari ulang tahun nya akan tetapi mengapa ia harus bertemu seseorang yang selalu menang atas diri nya. Jelas itu membuat nya kesal dan juga gelisah karena hampir saja ia dipermalukan di depan kakak-kakak nya.
Ya sebelum Calista menghampiri Violetta, ia sengaja menemui Luvena yang menyebabkan diri nya harus datang ke pesta ulang tahun tadi. Sungguh sejak pertama kali bertemu gadis berambut sebahu itu, ia merasa tak akan baik jika berteman dekat.
Namun mamah dan papah nya lah yang tak henti-henti membujuk agar diri nya datang. Dan pada akhir nya bertemu gadis berambut coklat dan bermata coklat siapa lagi kalau bukan Violetta. Meski nama nya tertera violet akan tetapi entah mengapa ia sama sekali tidak tertarik dengan warna tersebut.
Sekarang bukan saat nya membahas tentang itu. Yang terpenting sekarang adalah suasana kamar gadis berambut sebahu itu. Sejak awal memang sama sekali kamar itu tidak terlihat rapi. Namun kini benar-benar berantakan, tidak menunjukkan bahwa pemilik nya adalah seorang gadis.
" Menyebalkan, kenapa Calista ada di sini dan dia seperti nya akrab dengan Violetta. Aduh.... Bagaimana ini? Aku gak mau sampai dipermalukan dan, aaaaakhhh... " Ujar Luvena tampak penuh rasa kesal.
" Tenang lah semua pasti tetap bisa kita kendalikan. Jangan khawatir hanya dengan satu kerikil. " Ucap seseorang menenangkan.
" Tapi... Bagaimana bisa mamih bisa percaya seperti itu. Calista bukan gadis biasa yang mudah dipengaruhi. " Keraguan dalam diri Luvena tak lagi bisa tertahan.
" Yang perlu kita lakukan sekarang adalah secepat nya buat dia pergi dari rumah ini. " Ujar Helen sembari berpikir apa lagi yang perlu di rencanakan nya.
" Okey, aku mengerti. Serahkan pada ku saja tugas ini. " Tiba-tiba saja terlintas ide yang menurut nya cukup brilian.
" Apa yang akan kau lakukan? " Helen merasa sangat penasaran atas rencana anak nya.
" Membuat Calista gak nyaman untuk tetap tinggal di sini lebih lama. Dia selalu merasa harga diri adalah yang terpenting. Jadi karena dia bukan anggota keluarga ini maka dia gak akan memaksa ikut. "
" Maksud mu..... Kau ingin membuat acara yang mengharuskan dia menyingkir begitu, Luv. Tapi apa kau sudah memikirkan sesuatu yang lebih bisa diandalkan jika saja plan A gagal, kita perlu plan B. "
" That's true, mom. Aku akan memikirkan nya nanti. Sekarang bantu aku menyusun acara dulu. " Ujar Luvena dengan penuh kebanggaan.
...................................................
Kamis, xx April 20xx
Sudah dua hari gadis berambut pirang itu tinggal di kediaman Xander family's. Meski begitu Calista banyak menghabiskan waktu hanya dengan Violetta. Tidak berdekatan dengan Luvena adalah kebahagiaan tersendiri.
Jika saja Luvena menghampiri, kedua gadis manis di rumah itu pasti memilih pergi. Entah itu berpindah tempat atau keluar untuk sekedar jalan-jalan. Sungguh melelahkan bermain kucing-kucingan akan tetapi itu lebih baik.
Di mana ada Luvena pasti Violetta akan disalahkan bahkan tanpa mengetahui apa pun. Sungguh cerdik ia dalam bermain kata. Namun ketika Calista datang, habis sudah mulut nya terbungkam hanya dalam hitungan detik.
PRANG...
" Ups, sorry gue gak sengaja. " Ucap seseorang tanpa rasa bersalah.
Violetta menghela nafas panjang, berusaha sabar. Ia berjongkok dan membersihkan pecahan gelas yang baru saja dijatuhkan. Ia yakin gelas itu sengaja dijatuhkan orang tersebut dan bukan sebuah kecelakaan. Dan yang menyebalkan diri nya pasti akan disalahkan.
Langkah kaki terdengar tergesa-gesa seperti nya akan ada peristiwa besar pagi-pagi. Gadis kecil itu tampak tak peduli, ia hanya fokus pada pecahan kecil yang menyebar.
" Sudah lah, aku gak bisa mengelak apapun juga pada akhir nya. "
Bersambung.....