DON'T HATE ME

DON'T HATE ME
part 7 : don't worry



Jum'at, xx Agustus 20xx


" Hei, apa kalian akan terus kayak gini? Aku benar-benar bosan, ada tiga orang di sini tapi kayak di kuburan. Ayolah, ini hari pertama ku. Dan kalian menekuk wajah, itu membuat ku tersinggung. " Tak ada respon dari ketiganya.


" Aku jadi merasa bersalah berangkat sama kalian begini. Adik kalian pasti bakal baik-baik aja kok. "


Luvena terus mengoceh dan tak ada yang menggubris. Hingga tak menyadari jika mereka telah sampai di sekolah.


...................................................


...next...



Sebelum Bryan pergi, ia mengusap sayang kepala adik tiri nya. Memegang kedua bahu nya dan menatap dalam manik gadis itu dengan lembut. Pipi Luvena merona mendapat perlakuan manis yang baru kali ini ia dapat selain dari ibu nya.


" Jangan tersinggung Luv! Semua bukan salah mu, Vio mau kau merasakan apa yang dia rasakan selama ini. " Ucap sang kakak tertua menenangkan.


" Benar kata kak Bryan. Maafkan kami yang mengabaikan mu. " Timpal Edward.


" Okey, tuan putri Luvena. Selamat belajar, tersenyumlah jangan cemberut ya? "


" Thank you kak Bryan. Kakak is the best deh. "


" Ya udah, I entered the class first kak. Bye... "


" Bye cantik. Dan kalian berdua ingat pesan papah perlakukan dia dengan baik. "


Pesan Bryan hanya diangguki kecil dari lawan bicara nya. Perhatian mereka teralihkan pada Violetta. Gadis itu baru saja menuruni bus yang diikuti Sean di belakang nya.


Di sekolah tepat saat Luvena pergi meninggalkan mobil, bus yang ditumpangi Violetta dan Sean baru saja berhenti. Sean, Bryan, Keano dan Edward melihat gadis itu bergegas lari menuju kelas. Berkali-kali ia menabrak orang akan tetapi diri nya hanya meminta maaf dan kembali berlari.


Perbedaan gedung kelas dan bel masuk yang berbunyi mengurungkan niat Sean mengejar adik nya. Diri nya ingin memeluk, menenangkan dan membuat sang adik tersenyum. Jarak dan waktu yang tidak memungkinkan menjadi penghalang nya.


.............................................



Sampai bel pulang tadi mereka bertiga sama-sama membisu. Tidak ada yang berniat menegur atau sekedar saling menatap. Bahkan Violetta memasukkan buku-buku dengan terburu, ia harus mengejar bus tercepat. Rasanya sangat lelah hari ini, tidur adalah pilihan terbaik.


Tiba di rumah nyeri di dada nya sangat terasa, batuk nya tidak berhenti sedari tadi. Perut nya terasa diaduk-aduk akan tetapi saat hendak memuntahkan nya kepala nya berdenyut. Pemandangan nya memburam, kaki nya terasa berat untuk melangkah.


Violetta segera mencari obat pereda nyeri. Lagi, menelan nya beberapa butir tanpa air. Dan tak lama kemudian, sedikit demi sedikit rasa sakit nya hilang. Ia terlelap karena efek obat yang ditelan nya.


.............................................


Keano menghela nafas lega saat menemukan kembaran nya tertidur. Ia sampai berlari untuk memastikan Violetta baik-baik saja.


Edward pun sama cemasnya melihat wajah pucat Violetta meski dengan sikap nya yang tenang. Ya, berbeda jauh dengan Keano yang hampir frustrasi jika belum menemukan gadis itu.


Tanpa berpikir panjang dan tanpa mengganti pakaian. Mereka membaringkan diri di samping kanan kiri. Memeluk adik nya itu dan mencium wajah nya berkali-kali.


Gadis itu tampak tak terganggu sedikit pun dengan perlakuan mereka. Pengaruh obat dan efek kurang tidur semalam membuat nya terlelap. Keano dan Edward pun menyusul ke alam mimpi masih pada posisi mereka yang berpelukan.


.............................................



Di ruang osis Sean sangat gelisah. Berkali-kali ia melirik jam yang terasa lambat. Rapat kali ini membahas tentang diri nya. Namun fokus nya hilang memikirkan adik nya yang entah sudah sampai di rumah atau belum.


" Sst, Sean... Sean... " Bisik Javier, teman dekat Sean yang di samping nya.


" Sean... Sst, Sean... " Bisik nya lagi.


Hening.


" SEAN AIRELLIO! BISAKAH KAMU FOKUS. " Bentak sang pembina OSIS.


" Maaf pak, saya melamun. "


" Baiklah jangan diulangi. "


" Kamu pelajari materi ini dan tanyakan pada saya yang belum dimengerti. " Pinta sang pembina OSIS.


" Iya pak terima kasih. "


Selesai rapat ia masih diam di ruang itu. Tidak berniat pergi padahal sedari tadi mata nya menatap jam agar bergerak cepat. Hati dan pikiran nya ingin segera menemui adik nya akan tetapi tubuh nya berat untuk digerakan. Yang ia lakukan hanya memandangi galeri foto keluarga nya pada ponsel milik nya.


Drrrt... Drrrt...


Sebuah panggilan masuk menyadarkan lamunan nya. Entah sudah berapa kali hari ini ia lakukan. Melamun saat pelajaran, melamun saat bersama teman-teman nya dan melamun saat rapat tadi.


Tertera nama Kak Niel pada layar ponselnya.


" Hallo kak, ada apa? "


" Lo sekarang di mana? "


" Masih di sekolah, aku baru selesai rapat OSIS. "


" Apa Violet udah pulang atau sama lo sekarang? "


" Aku gak tau, terakhir ku lihat tadi waktu jam istirahat di kantin. "


" Tapi apa kemungkinan besar dia udah pulang? "


" Oh iya aku lupa, Edward tadi kabari kalau Violet udah keluar kelas sebelum mereka. Tapi gak tau apa udah sampai rumah atau belum. "


" Ya udah, lo bakal pulang kan? Gue di depan sekolah lo. "


" Okey, aku segera ke sana. Tunggu 5 menit masih ada yang harus aku bereskan. "


Nathan memutuskan panggilan. Ia menyisir rambut nya dengan tangan. Seseorang memenuhi pikiran nya seharian ini, siapa lagi kalau bukan Violetta. Rasa cemas terus mengikuti di mana pun ia memejamkan mata. Memukul setir seakan diri nya, yang telah membiarkan adik nya sendiri sejak semalam sampai pagi tadi.


.............................................



" No problem. Lo udah makan? "


" Belum..... Dari siang gue sibuk banget, buang air aja ditunda. "


" Ya udah, kita ke resto. "


" Cek restoran? "


" Hm. "


" Ada yang mau lo bicarakan? "


" Hm. "


" Mengenai Violet? "


" Hm. "


" Seharian kepikiran tentang tadi pagi sama semalam? "


" Hm. "


" Ishhh... Lo ini ditanya cuma jawab ham hem ham hem doang. "


" Lo kenapa jadi cerewet banget kayak James. "


" Hm. "


" Lo mau balas gue ya. "


" Hm. "


" Huft..... Never mind. "


.............................................



Tiba di Nath' Resto mereka memesan makanan. Dan sampai pesanan datang yang mereka lakukan hanya diam. Tidak ada yang memulai bicara bahkan menyantap makanan dalam keadaan sangat hening. Mungkin bisa dibilang enggan.


" Kita kayak nya satu pemikiran. Lebih baik pulang aja, percuma di sini. Gue juga udah capek gak ada yang perlu dibicarakan lagi. "


" Sean, You must always take care of him. " Ucap Nathan membuka suara.


" Why? "


" Because gue gak bisa selalu di samping nya. Dan kemungkinan beberapa hari gue bakal sibuk banget. Gak peduli keadaan di rumah. Kak Bryan juga sama, dia menggantikan papah selama 3 hari dan semua pekerjaan jadi tugas nya. "


" Satu lagi jangan biarkan David mengungkit masa lalu. Entah bagaimana semalam dia bisa berpikir kayak gitu. "


" Gue juga gak tau kak. Waktu pemilihan ketua osis sebentar lagi. Rapat mendadak dan tugas sekolah terus bertambah. "


Keduanya menghela nafas. Menyenderkan punggung mereka pada kursi. Makanan yang tersedia sudah berantakan karena sedari tadi diaduk-aduk. Tak lama kemudian mereka memutuskan kembali ke rumah.


.............................................



Mata nya mengerjap menyesuaikan cahaya. Tubuh nya seperti tertindih sesuatu yang berat dan tak bisa bergerak.


Ketika kesadaran nya penuh mata nya otomatis melotot. Tubuh nya terlilit oleh dua orang yang tengah memeluk nya. Deruan nafas terdengar sangat dekat di telinga kanan dan kiri.


Kepalanya menoleh ke kanan memastikan siapa pemilik tubuh di samping nya. Cup


Bibir nya mengenai hidung mancung seseorang yang sangat dikenal nya. Ia menggigit bibir bawah nya. Takut jika si pemilik hidung terbangun.


Ia membalikkan badan ke arah sebaliknya. Di sebelah kiri nya adalah orang yang sangat ia sayang. Deg


Dada bidang seseorang menempel tepat di kening nya. Ia menahan ringisan yang dapat membangunkan sang pemilik.


" Uhhhmmm..... Oh Letta kamu udah bangun. Aku merindukan mu seharian ini. Kenapa kamu memilih pulang pergi ke sekolah sendiri? Gak ajak kami, eoh. " Edward bergumam tanpa membuka mata.


" I am sorry Ed, jujur aku juga sangat merindukan mu. "


Ya, ia Violetta. Kini tangan nya membalas pelukan Edward. Laki-laki itu mengeratkan tangan dan kaki nya agar tetap memeluk sang adik. Tak mereka sadari Keano pun sudah terbangun. Ia tersenyum melihat adik kesayangan nya berbicara dan berpelukan posesif dengan kembaran nya.


" Ekhem..... Apa kalian gak mau mengajak ku? "


" Kamu udah memeluk ku sejak tadi Ken. Bahkan perut ku tertekan oleh telapak tangan mu. "


" Hahahahaha..... Tangan ku bergerak sendiri. Dan kamu tau Letta, aku suka wangi rambut mu, sayang. "


" Ken, jangan mencium leher ku! Aku belum mandi tau dan pasti berkeringat. "


" Kamu tetap wangi bahkan kalau belum mandi. " Bisik Keano tepat di telinga Violetta


" Bisakah kau singkirkan kaki mu Ed, geli. "


" Biarkan sayang, aku masih mau seperti ini bersama mu. " Bisiknya lagi.


Cklek...


Atensi mereka bertiga beralih menatap pintu. Di sana James tengah terkejut melihat pemandangan yang membosankan. Ketiga adik nya suka sekali berpelukan di tempat tidur.


Bersambung.....