
Senin, xx Agustus 20xx
" Kak, dengarkan aku. Jujur aku tak mengerti. " Lirih Violetta.
" JANGAN PANGGIL KITA KAKAK LAGI! AKU MEMBENCI MU. " Teriak Bryan.
" Maaf. " Ucap James sebelum pergi.
Revian hanya diam dan berjalan ke luar mengikuti yang lain. Ia kembali teringat masa lalu yang membuat semua berubah. Dan sekarang pun keadaan tidak lagi sama seperti yang diharapkan.
...................................................
...next...
Hati terasa sakit dan langit seakan runtuh. Angin hempaskan segala harapan yang tinggalkan angan-angan kehampaan. Tidak mungkin ini terjadi begitu saja, semua sudah diperhitungkan.
Sekuat tenaga ia melangkah menuju impian akan tetapi kenyataan tak seindah mimpi. Ingin rasanya semua berjalan normal sesuai harapan. Namun ternyata tidak, takdir tidak sejalan dengan pemikiran dan kemauan.
Mungkin ini cara Tuhan memberi pesan saat merubah haluan dalam mencapai tujuan. Atau hanya sekedar ujian bagi ketegaran hati.
" Mereka yang berubah mah, bukan aku. Papah bohong, aku bukan pembohong apalagi kebohongan besar. Aku tak mengerti yang sebenarnya, mah. Kenapa kak David terlihat membenci ku bahkan dia sudah mengatakan nya mah. Apa yang pernah aku lakukan memang nya? " Jerit Violetta dalam hati.
" Kak Bryan juga membenci ku mah. Semua kecewa sama aku tapi aku gak tau kenapa. Begitu mudah mereka tinggalkan aku. Hati ku sakit..... Sakit sekali..... " Isakan demi isakan mengiringi tangis gadis itu.
" Dunia berubah begitu pula mereka. "
...................................................
Air mata terus mengalir tanpa izin. Entah sekarang ia harus bagaimana, semakin hari keadaan semakin buruk. Ia takut untuk kembali ke rumah. Atau sebenarnya ini hanya mimpi dan besok saat terbangun semua masih tetap sama.
Sampai gadis tersebut tidak sadar jika dokter Vandi sudah berdiri di samping nya sejak tadi.
" Vio, maaf. Om yakin papah mu pasti salah paham tadi. "
" Tak apa om. Aku baik-baik saja semua pasti kembali seperti semula. " Bohong gadis itu.
" Om akan menjelaskan sama papah kamu. Kamu benar, semua pasti akan baik-baik saja. " Dokter Andi sangat mengerti perasaan Violetta sekarang meski berusaha ditutupi.
" Dok? "
" Panggil om aja. "
" Om, memang benar pneumonia yang aku derita udah gak ada lagi tapi kenapa rasa nya aku semakin lemas akhir-akhir ini. "
" Pneumonia itu memang sudah tidak ada tapi..... "
" Tapi apa om? "
" Papah mu tadi gak mendengarkan penjelasan selanjutnya. Maaf semua menjadi kacau dan kamu dianggap pembohong. "
" Bagaimana hasil tes kemarin om? " Violetta mengalihkan perhatian, ia tau dokter Vandi berbicara berputar-putar.
" Lebih baik langsung ke inti om. "
" Jadi..... "
" Jadi apa? "
" Kamu mengidap heart failure. "
" Heart failure itu apa? "
" Gagal jantung. Antibiotik yang kamu minum berlebihan sehingga bereaksi pada jantung. Kamu pasti terlalu stres dan pola makan kurang teratur. " Jelas dokter Vandi yang membuat Violetta jelas sangat terkejut.
" Dua bulan lalu paru-paru kamu sudah membaik tapi ternyata berpindah ke jantung. "
" Huft..... Bisa om merahasiakan itu?Ku mohon. "
" Kenapa harus dirahasiakan nak? "
" Ku mohon, aku janji akan berusaha bertahan tapi biar seperti ini. Jika aku pergi mereka tak perlu bersedih nanti nya. "
Dokter Vandi terdiam tak lama kemudian ia hanya mengangguk menjawab permintaan itu.
" Terima kasih om. Aku ingin istirahat. Bisa om biarkan aku sendiri sekarang?"
" Baik. Om permisi dulu. Istirahatlah dulu nak! Om yang akan urus kebutuhan mu, kamu hanya perlu mengikuti arahan Om. "
Dokter Vandi sangat mengerti bahwa kini Violetta membutuhkan ketenangan setelah mendapat kenyataan pahit. Entah bagaimana ia semudah itu menyanggupi permintaan pasien kecil nya.
Memejamkan mata hanya dapat menyakiti nya, karena terbayang kata-kata yang baru didengar nya. Membuka mata juga tidak lagi sanggup bahwa memang semua nyata bukan mimpi.
Mereka berubah begitu cepat bahkan sebelum pelangi datang setelah hujan turun. Kenyataan ini terlalu pahit dan sangat sulit jika dihadapi seorang diri.
...****************...
...Dua Hari Kemudian...
...****************...
Dengan susah payah, Violetta memaksa dokter Vandi agar mengizinkan nya pulang dari rumah sakit. Kini ia telah sampai di kediaman Xander Family's. Suasana sepi mungkin karena semua orang belum juga kembali.
Tidak terlihat satu pun asisten rumah tangga. Padahal ini hari selasa juga bukan hari libur. Kaki nya melangkah memasuki ruang tengah. Hingga sebuah suara mengejutkan nya.
" Masih berani pulang ternyata. "
" Papah? " Gumam Violetta.
Di sana Alex, Helen dan semua saudara nya sedang menatapnya. Tatapan yang tidak dimengerti oleh nya. Ia juga tak berani banyak berkutik, ia tahu semua kecewa pada nya akan tetapi bukakah jelas ia yang paling dikecewakan. Tentang nya apapun itu, tidak ada lagi yang mau mendengar.
Lalu apa yang harus dilakukan gadis itu? Mengatakan jika sekarang ia menderita gagal jantung dan masa hidup nya semakin menipis. Jawaban nya tentu saja tidak.
" Luv, tolong antar dia ke kamar nya! "
" Baik pah. "
...................................................
Luvena membawa nya pergi dari sana. Namun bukan kamar sebelumnya, bukan di lantai 2 atau di kamar tamu juga bukan kamar siapa pun melainkan mereka berjalan ke arah dapur. Dan sekarang Luvena tengah membuka pintu gudang.
Apa? Gudang? Bagaimana mungkin ia dibawa ke sana yang pasti akan membuat keadaan nya semakin buruk. Oh mungkin, ia akan dihukum membersihkan tempat itu akan tetapi Alex bilang kamar nya.
" Selamat menikmati hidup baru lo. Gue udah pindahkan beberapa barang lo tapi mungkin tempat nya masih kotor. Lo bisa bersihkan sendiri kan? Lagi pula lo bukan lagi pengidap pneumonia. "
Violetta hanya meneguk saliva dengan sangat susah payah. Jadi semua benar-benar berubah. Ia tersingkir dan sebentar lagi terbuang. Atau mungkin sebenarnya sudah terbuang.
" Kenapa diam? Cepat masuk! " Ucap Luvena seraya mendorong nya kasar.
Setelah itu Luvena langsung pergi meninggalkan nya dengan tersenyum puas tentu nya. Violetta terdiam, meratapi takdir yang sedang dihadapi, yang sedang menguji nya. Sudah tidak akan ada lagi canda tawa bahagia di hidup nya.
Memandangi kamar baru nya yang kecil dan berantakan. Bisa dikatakan ruangan nya sangat kotor dan tanpa kamar mandi di dalam. Miris sekali hidup nya berubah dalam hitungan hari. Bahkan pelangi belum muncul setelah hujan kemarin.
...................................................
Seharusnya ini adalah waktu makan siang. Sejak kemarin perut nya hanya terisi air tanpa makanan sedikit pun. Ia berniat keluar gudang. Oh bukan, kini tempat itu menjadi kamar nya.
Setelah merasa kerongkongan nya tidak lagi kering. Kaki jenjang nya melangkah menuju meja makan. Ia berpikir mungkin ada sisa makanan atau secuil nasi. Belum sempat mengintip isi di dalam tudung saji. Sebuah tangan menghempaskan nya dan tanpa permisi menarik nya kasar.
Meski tidak melihat wajah nya, Violetta sangat mengenal genggaman itu. Genggaman yang beberapa pekan lalu menguatkan nya saat ia sedang ketakutan mendengar petir. Bryan, seseorang yang tersenyum setiap kali mata nya bersitatap dengan adik nya, dulu.
Langkah nya membatu setelah menyadari di mana diri nya sekarang. Sedari tadi ia hanya menunduk dan memejamkan mata. Di sana semua anggota keluarga berkumpul. Menatap penuh kebencian dan keengganan yang begitu kentara.
" Silahkan duduk, nona kecil! "
Panggilan yang paling tak ia sukai dan pasti biasanya ia akan marah. Namun tidak kali ini yang dilakukan nya hanyalah diam.
" Kenapa diam? Bukannya kau benci panggilan itu. "
" Oh, saya lupa. Kau bukan lagi anak kecil sekarang. Kau sudah besar dan merasa besar kan selama ini. Tapi apa pantas kau berbohong dengan masalah sebesar itu dan membuat semua perhatian terpusat pada mu? "
" Jawab! " Bentak Alex, ia seakan lupa bahwa gadis itu putri kesayangan nya.
" Tenang pah. Kita dengar penjelasan nya dulu. "
" Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Sean, mulai sekarang jangan membela tentang dia sedikit pun. "
" Tapi pah..... " Sela Violetta.
" Jangan membantah Sean! Kau harus bersikap tegas untuk menyadarkan apa yang telah dilakukannya. "
Rasanya membingungkan, gadis seusianya berurusan dengan hal yang belum tentu bisa ia pahami sepenuh nya. Alex seperti sudah terselimuti keegoisan dan pengaruh seseorang.
" Dengar, mulai sekarang semua pekerjaan rumah kau yang mengerjakan. Semua asisten diberhentikan karena mereka membelamu. Dari hal sekecil apapun mengerti? "
" Kau bisu? " Bentak Bryan.
" Mungkin tuli dia. " Celetuk David.
" Baik, akan ku kerjakan semua. Tapi satu hal yang perlu kalian tau, mulai sekarang aku tak ingin lagi bicara dengan kalian. Jadi jangan paksa aku mengeluarkan suara. "
" Kau mencoba merajuk? "
Sebisa mungkin ia tegar, tanpa isakan tanpa air mata tanpa ekspresi apapun. Alasan kenapa ia tak lagi membantah adalah karena ia merasa sudah cukup merepotkan. Mulai hari ini tak akan ada lagi pelangi setelah hujan.
Mereka berubah dan meninggalkan diri nya seperti di dalam jurang. Di luar cuaca sangat cerah tetapi tidak bagi nya. Rumah yang megah terasa sempit dan gelap. Janji? Bullshit, semua telah mengingkari. Untuk percaya ia akan butuh waktu lama.
Bersambung.....