
Violetta pov.
Entah sudah berapa banyak tetesan air mata yang ku keluarkan saat ini. Saat ku melihat keluar jendela ternyata langit pun ikut merasakan apa yang aku rasakan.
Satu malam, waktu yang singkat mengingat kenyataan ini. Aku sungguh tak mengerti bagaimana kalian berpikir tentang ku. Aku tak pernah berbohong mengenai penyakit ini. Sakit sekali, dan aku menahan nya seorang diri. Semua yang ingin ku lakukan harus mandiri, tanpa bantuan siapa pun.
Hati ku menangis tersedu menyadari kenyataan pahit ini. Hati ku juga merasakan luka yang teramat sangat menyakitkan. Ku lihat bunga yg tadi pagi mekar amat indah pun ikut layu merasakan rasa sakit ini.
Sungguh siapa pun tak akan menyangka. Bahwa kebahagiaan dapat sirna dalam sekejap mata. Harapan memperbaiki kesalahpahaman hanya titik kecil di atas hamparan salju.
Bukan aku menyalahkan takdir. Juga bukan berarti aku menyalahkan mereka. Semua hanya butuh waktu, aku yakin itu. Aku bahagia sejak pertama kali melihat dunia. Mungkin dua belas tahun cukup. Jadi sekarang saat nya menghadapi cobaan. Ingat! Bukan menderita tapi hanya cobaan.
Kupu-kupu berusaha menghibur ku dengan tarian yang indah agar aku mengalihkan apa yang ku pikirkan sekarang. Tapi hati ku seperti nya buta. Angin pun menyanyikan sebuah lagu agar aku melupakan apa yang ku rasakan sekarang. Tapi hati ku seakan tuli.
Air mata terus jatuh dari mata ini. Betapa jahat nya kalian yang melukai hati yang rapuh ini. Kalian goreskan belati yang amat tajam. Menabur garam di atas luka yang belum kering benar-benar menyakitkan.
Boleh aku meminta waktu untuk mengembalikan semua? Oh Tuhan, sungguh biarkan aku pergi setelah menyelesaikan ujian yang Kau beri. Dua kenyataan yang meruntuhkan pertahanan. Hidup ku apa masih berarti? Ku mohon beritahu aku.
Aku merindukan genggaman kalian yang menguatkan saat diri tak lagi mampu. Membawa keteduhan dalam pikiran yang sedu. Mendatangkan rasa yakin kala hati dilanda ragu.
Beberapa waktu lalu kalian memberi semua itu. Namun semua berlalu dan tinggallah asap menyesakkan. Harapan bersama kalian kini telah sirna. Tak ada lagi canda tawa saat bersama. Hanya air mata yang mampu berbicara.
Rasa sakit ini hanya dapat aku simpan. Hanya dengan setetes pena aku torehkan. Dengan selembar kertas aku ceritakan. Tak perlu lagi bibir ini mengungkapkan.
Senyuman pun kian membeku dalam dingin nya gelap hitam malam. Tangisan pun kian melarut pilu dalam haru nya lautan malam. Seakan hendak bercerita, inilah jejak yang perlu ku tempuh.
Kenyamanan, keteduhan, ketenteraman tak akan ada lagi. Entah apa lagi yang ku harapkan dengan kenyataan yang ku terima beberapa saat lalu.
Sanggupkah ku bertahan dalam dingin hembusan angin salju?
Hanya tersedia satu jawaban hari kan ku lalui dan ku jalani bersama kasih murni setulus hati. Bersama Tuhan dan diriku sendiri. Namun jika ada yang hendak menemani ku mungkin akan lebih baik.
Sungguh aku hanya bisa diam membeku, menghadapi kenyataan pahit ini. Aku tak mampu lagi berdiri, menopang tubuh ini.
Tak pernah ku sangka akan secepat ini. Kalian pergi tinggalkan sejuta kenangan indah. Kenangan indah yang tak akan ku lupakan sampai kapan pun. Kenangan indah yang akan jadi sejarah dalam hidup ku. Sejarah hidup yang tak kan lekang oleh waktu.
Baru kemarin rasa nya aku ikut tertawa dan bermanja bersama kalian. Kalian tersenyum manis di hadapan ku. Namun kini semua sudah berubah aku sekarang hanya diam membisu. Hati terasa teriris memandang kalian mengabaikan diri ku.
Ku rindukan keluarga yang utuh. Utuh..... bukan sekadar milik kalian tanpa aku. Namun kalian yang sanggup untuk saling sharing rasa, berbagi cerita dan mengerti satu sama lain seperti dulu. Dulu... suka duka dihadapi bersama, tangis dan tawa imbang dihadapi. Kini... mengapa semua berlalu tanpa jejak. Kebahagian itu keharmonisan itu berubah jadi derai tangis yang menggores hidup ku.
Minggu lalu, mereka membuat perayaan ulang tahun ku. Meski pada akhirnya gagal, aku bahagia setidaknya prasangka ku salah mengenai mereka.
Mereka mengingat nya hanya aku yang tak sabar menunggu. Tapi apa kesalahpahaman ini tak bisa diselesaikan dengan baik. Aku tak bisa menyalahkan gadis itu, aku juga salah. Karena yang bisa ku lakukan hanya membisu dan mematung.
Rasa sakit yang mereka rasakan? Oh aku bahkan lebih tau pahit nya bunga dandelion. Aku akan berusaha bertahan jika memungkinkan. Hari ini bukan akhir tapi awal. Sebuah permulaan yang penuh rintangan.
Malam ini akan selalu ku ingat sebagai tanda bahwa aku merasa sendiri. Dan berharap akan ada seseorang yang menemani. Meski nyata nya dunia ini terlalu sepi.
Kali ini saja ku mohon izinkan aku menangis, mengatakan segala yang ingin ku katakan. Tapi aku tak mampu bercerita maka dari itu semua hanya bisa tertuang tanpa suara.
Ku tulis di atas kertas putih dengan tinta hitam. Ditemani angin malam yang semakin mencekam diri ini. Bersama tetesan merah yang pekat, aku tak bisa menyembunyikan rasa sakit ini.
Sungguh aku menyayangi kalian dan memaafkan perlakuan menyakitkan hari ini. Namun aku tak mampu berjanji untuk setelah nya. Aku harap tak kan pernah ada kata selamat tinggal dengan air mata. Yang ada hanyalah senyuman selamat datang suatu saat nanti.
Sungguh maafkan aku, ku mohon maafkan aku..... Aku tak bisa katakan bahwa aku baik-baik saja tapi aku juga tak bisa katakan bahwa aku kini terluka. Harapan tentang kebahagiaan terganti kesepian.
Kalian memaksa tangan ku menggapai sesuatu yang sulit tercapai.
Kalian memaksa kaki ku melangkah ke tempat yang sukar terlewati.
Kalian memaksa ku melihat sesuatu yang sungguh menyakitkan.
Kalian memaksa ku mendengar kata-kata yang begitu menyiksa.
Hari ini aku sadar, aku bukan seberharga itu yang kalian jaga bertahun-tahun dengan sangat hati-hati. Karena nyata nya hanya beberapa tetesan hujan rasa sayang kalian hilang tersapu angin kencang yang datang. Kata nya waktu seperti pedang, ya benar hanya sekejap mata pun semua dapat terbunuh jika Yang Maha Kuasa berkehendak.
Ku harap kalian bahagia dengan kehidupan baru yang kini kalian pilih tanpa diri ku. Papah, kak Bryan, kak Nathan, kak Revian, kak James, kak David, kak Sean, Edward, Keano.....
Kepercayaan adalah hal terpenting dan paling utama dalam segala hubungan. Begitu juga dalam hubungan keluarga dan persaudaraan kita. Entah bagaimana kalian berpikir aku yang menghancurkan kepercayaan kalian padahal kalian sendiri yang meruntuhkan nya.
Air mata ini terlalu mahal untuk menangisi perubahan kalian jadi ku putuskan kesedihan tanpa air mata selama aku mampu. Namun mengapa rasa nya aku tak bisa hidup tanpa kalian. Maafkan aku....
^^^Rabu, xx Agustus 20xx^^^