
Senin, xx Agustus 20xx
Perintah langsung dilaksanakan. Edward mengeluarkan ponsel nya dan menekan nomer rumah sakit. Sedangkan Keano berlari mengambil tas mereka berempat sambil mengumpati dirinya.
Sean menyesal, ia terlambat menemukan adik kesayangan nya. Ini kejadian fatal dan keteledoran terburuk yang dapat membahayakan nyawa sang adik.
Ya, memang Violetta handal dalam berenang akan tetapi bukan untuk bertanding. Nafasnya tidak akan bisa bertahan lama di dalam air.
...................................................
...next...
Sampai di rumah sakit Alex dan Nathan berlari tergopoh menuju IGD. Setelah dihubungi Edward bahwa Violetta masuk rumah sakit, mereka langsung pergi dan meninggalkan pekerjaan.
Terlihat Keano terus memukul dinding putih di sana, Edward termenung mengingat apa yang baru saja dilakukan nya.
Sean? Entah dimana sekarang.
" Ken..... Ed..... " Sebuah suara mengalihkan atensi kedua nya.
" Bagaimana bisa terjadi seperti ini? " Tanya Alex setelah tiba di depan IGD.
" Maaf pah, ini salah Edward. "
" Bukan! Ini salah Keano. "
" Gak Ken, ini salah ku. Aku yang menyarankan buat..... "
" Papah gak paham. Kenapa kalian jadi saling menyalahkan? " Alex semakin bingung.
" A... A... Aku mengajak Vio untuk bertanding dengan syarat memaafkan kejadian kemarin. "
Plak...
Sean datang tiba-tiba dan menampar pipi Edward keras. Benar dugaan nya rencana konyol adik nya adalah kesalahan fatal. Namun sayang ia tidak menyadari dari awal. Sungguh ia sangat menyesal bahwa ia terlambat.
" Sean, apa yang kau lakukan? "
" Sudah jelas bukan pah. Dia hampir membunuh adik ku. " Ucap Sean tegas.
" Enggak! Aku gak sengaja. Pah, aku benar-benar gak bermaksud buat Vio jadi kayak gini. " Edward membela diri nya sendiri, meski ia tahu itu tetap salah nya.
" Dan lo Ken..... Lo yang nyuruh Fleyta untuk hukum Vio tadi pagi kan? Lari keliling lapangan dan hormat bendera. Ke mana akal lo, hah? "
" Ken, apa benar yang dikatakan Sean? " Tanya Bryan yang baru saja datang. Dan disusul Revian, James dan David.
" I... I... Iya kak. Maaf gue tau, gue dan Edward melakukan kesalahan fatal. Tapi sekarang gue benar-benar menyesal. "
Plak...
Satu tamparan membekas pada pipi Keano dengan darah sedikit mengalir dibibirnya. Semua tercengang dan hanya diam menyaksikan.
Kini James menarik Sean yang ingin sekali memberi pelajaran kedua adik nya menjauh dari sana. Juga Nathan yang menahan sang kakak agar tidak berbuat lebih.
" Berani-berani nya kalian berdua hukum adik gue. Kalian bakal gue beri pelajaran kalau sampai terjadi apa-apa sama Vio. " Ancam Bryan seraya berusaha lepas dari cekalan Nathan.
" Sudah kak. Ini di rumah sakit, kita bisa diusir kalau buat kegaduhan. "
" Tapi Nath mereka keterlaluan, mereka diberi tugas buat selalu jaga dia bukan kayak gini. "
" Apa kak, jaga dia? Bukan nya selama ini kita jadi bayangan nya. Yang selalu disalahkan atas kesalahan nya dan dihukum menggantikan nya. " Ujar Keano.
" Gue sama Ken capek diperlakukan kayak gitu terus. Kita gak bisa selalu menjaga nya. Ya, gue cuma mau dia merasakan apa yang kita rasakan selama ini. " Timpal Edward.
Alex yang melihat anak-anak nya bertengkar hanya diam memperhatikan. Tidak protes atau melarang. Ia merasa sangat bersalah. Hanya kesalahan kecil yang ia besar-besarkan membuat semua semakin kacau. Entah bagaimana jalan pikir nya menjadi sesempit ini.
Cklek...
Atensi mereka teralihkan pada pintu yang baru terbuka di mana menampilkan seorang dokter bersama seorang perawat.
" Van, bagaimana keadaan nya? " Alex tanpa basa-basi langsung bertanya pada sahabat nya itu.
" Lebih baik kita bicarakan di ruangan ku! "
" Okey, Nathan ikutlah dengan papah! Yang lain tunggu di sini saja. "
...................................................
Nathan menurut mengikuti dua orang dewasa menuju salah satu ruangan di rumah sakit. Suasana kembali hening dan perasaan canggung sangat kentara saat tiba di ruangan dokter Vandi.
" Bagaimana Van? Dia baik-baik saja kan. "
" Emmmmm..... Baik, kondisi nya sudah stabil hanya perlu istirahat. Beruntung air yang masuk tidak sampai paru-paru. "
" Bukan terhenti hanya saja alveolus nya tersumbat air. Jadi tenang saja. Mmm..... ada yang ingin ku katakan Lex..... " Dokter Vandi memutus ucapannya.
" Ada apa Van? Kau tampak cemas katakan saja demi kebaikan Vio. "
" Sebenarnya..... Sebenarnya..... Huft, sebelum itu kau harus janji untuk jangan panik ya. " Dokter Vandi menjeda ucapan nya.
" Baiklah. Dan kau harus lakukan yang terbaik. "
" Pasti. "
" Bisakah kau tidak bicara bertele-tele. "
" Sabar Lex, kau harus lapang menerima kenyataan yang akan ku sampaikan. "
" Sudah cepat katakan, Van. Aku ingin segera menemui putri ku. "
" Jadi begini..... Sungguh aku harus katakan berita buruk dan baik secara bersamaan tapi lebih tepatnya berita buruk. Huft... Begini Lex, sebenarnya dua bulan terakhir pneumonia yang diderita Violet ternyata bisa dikatakan tidak ada. Dan aku..... "
" Apa? Jadi dia sudah sembuh? " Pekik Alex setengah berteriak.
" Ya bisa dibilang tapi ada... "
" Kurang ajar. Dia membohongi ku? "
" Membohongi? " Dokter Vandi mengernyit bingung.
" Akan ku beri pelajaran dia. " Ujar Alex sembari melangkah ke luar ruangan.
" Alex! Kau mau ke mana? " Ujar dokter Vandi yang melihat sahabat nya berniat pergi.
" Terima kasih atas info nya. Seharusnya kau bilang dari awal Vandi. "
" Lex, apa yang kau katakan? Aku belum selesai bicara. "
Alex menghiraukan Vandi yang berusaha menahan dengan mencekal tangan nya. Namun sayang Alex tetap tidak peduli dan langsung melepas cekalan itu. Dan saat ingin mengejar seorang perawat berlari tergesa-gesa menghampiri nya.
" Maaf dok, pasien di ruang 12 A mengalami kejang dan detak jantung nya melemah. " Ujar perawat tersebut.
" Baik, saya akan segera ke sana. Siapkan peralatan nya! "
Vandi tidak dapat mengejar sahabat nya, pasien nya membutuhkan penanganan nya sekarang. Ia tahu Alex salah paham tadi dan sekarang apa yang akan dilakukan nya.
" Semoga semua baik-baik saja. " Do'an nya dalam hati.
...................................................
Alex terlihat marah besar. Saat memasuki ruang rawat Violetta semua anak nya bingung melihat air muka sang ayah. Violetta baru saja dipindah ke sana dan bersyukur ia sudah sadar.
" Ada apa pah? " Alex tidak mempedulikan pertanyaan Bryan.
" Dengar Violet, mulai sekarang saya benar-benar gak akan peduli lagi pada mu. Apa yang kau lakukan pada kami, hah? Membuat kebohongan besar adalah kesalahan besar. "
" Kau masih ku izinkan tinggal di rumah saya. Tapi jangan panggil saya dengan sebutan papah dan jangan harap kami peduli lagi pada mu. Setelah apa yang kau lakukan pada istri ku dan juga putri ku, Luvena. Ternyata kau benar-benar memiliki sifat yang buruk. " Ujar Alex dengan nada yang sangat dingin. Seperti bukan seorang ayah pada anak nya.
" Pah, apa maksud nya? Aku gak mengerti. Kenapa papah bilang seperti itu? "
" Dengar Ken dan juga kalian semua. Mulai sekarang jangan peduli apa pun pada pembohong ini. Ya benar dia sudah berubah. Dia sudah besar dan tidak butuh kita lagi. " Ujar Alex tegas dan menatap Violetta tajam.
" Pembohong? Maksud nya apa pah? Aku gak paham maksud papah. "
" Gak perlu pura-pura lagi Vio. Kau sudah tak memiliki penyakit pneumonia dan kau diam saja. Berpura-pura lemah dihadapan saya dan kakak-kakak mu? Cih, menjijikkan. "
" Ingat! Jangan panggil papah! "
Alex meninggalkan Violetta yang terdiam. Ia masih belum memahami apa pun. Apa yang sebenarnya terjadi? Semua kata-kata ayah nya tadi seakan ribuan jarum yang menusuk hati dan tubuh nya.
" Lo benar-benar keterlaluan. Jangan panggil gue dengan sebutan kakak! Gue bukan kakak lo dan asal lo tau gue benci lo. " Ucap David mengeluarkan emosi yang lama terpendam.
Semua tercengang dengan kata-kata David dan menatap tak percaya. Padahal mereka baru mencerna pernyataan Alex. Tanpa diketahui Violetta menangis dalam diam.
Wajah kecewa terlihat dari semua saudara nya. Ia tidak tahu harus bagaimana bahkan ia sama sekali tidak mengerti. Satu persatu meninggalkan ruangan. Sean tak mengucapkan satu kata pun dan pergi begitu saja.
" Kau berubah Vio. Tapi aku senang kamu gak lagi sakit. Maaf, aku juga kecewa pada mu. " Edward tak sanggup menahan air mata, ia lebih memilih pergi secepat nya disusul Keano.
" Kak, dengarkan aku. Jujur aku tak mengerti. " Lirih Violetta.
" JANGAN PANGGIL KITA KAKAK LAGI! AKU MEMBENCI MU. " Teriak Bryan.
" Maaf. " Ucap James sebelum pergi.
Revian hanya diam dan berjalan ke luar mengikuti yang lain. Ia kembali teringat masa lalu yang membuat semua berubah. Dan sekarang pun keadaan tidak lagi sama seperti yang diharapkan.
Bersambung.....