DON'T HATE ME

DON'T HATE ME
part 16 : pesta ulang tahun



Rabu, xx Agustus 20xx


Sebisa mungkin ia tegar, tanpa isakan tanpa air mata tanpa ekspresi apapun. Alasan kenapa ia tak lagi membantah adalah karena ia merasa sudah cukup merepotkan. Mulai hari ini tak akan ada lagi pelangi setelah hujan.


Mereka berubah dan meninggalkan diri nya seperti di dalam jurang. Di luar cuaca sangat cerah tetapi tidak bagi nya. Rumah yang megah terasa sempit dan gelap. Janji? Bullshit, semua telah mengingkari. Untuk percaya ia akan butuh waktu lama.


...................................................


...next...


...****************...


...Beberapa Bulan Kemudian...


...****************...


Selasa, xx April 20xx



Hari ini semua orang di kediaman Xander sedang sibuk. Sibuk mempersiapkan perayaan ulang tahun Sean dan Luvena, bahkan Violetta ikut andil dalam persiapan tersebut. Ya, Alex merasa perlu merayakan ulang tahun Luvena secara meriah. Selain bersamaan nya dengan ulang tahun Sean. Ini juga pertama kali nya Luvena merayakan bersama keluarga lengkap.


Bukan keberuntungan bahwa Violetta menyibukkan diri. Ia seolah-olah pelayan yang bisa diperintah siapa pun dan apa pun itu. Sejak dini hari, ia sudah dibangunkan paksa oleh Nathan. Pukul 3 pagi tadi ia diminta pergi ke pasar sendirian dan tanpa mengenakan pakaian layak di saat udara yang cukup dingin.


Tiba-tiba rasa sakit kembali menyerang, alasan utama nya karena ia belum mengisi perut nya sedari tadi meski hanya air. Setiap kali ingin menuangkan benda cair itu ke dalam wadah, pasti ada saja yang menghentikan nya. Meminta bantuan kepada nya tanpa peduli apa yang sedang dilakukan nya. Nafas nya terengah saat nampan berisi gelas-gelas berada di tangan nya.


Tidak! Penglihatan gadis itu semakin buram. Sedangkan jika tangan nya melepas nampan maka tamatlah riwayat nya. Sekuat tenaga ia menyeret kedua kaki nya menuju bar table.


" Bertahanlah, aku harus bertahan. Aku gak mau mereka semakin membenci ku. "


Sudah setengah tahun, tepat nya 7 bulan lama nya dan itu bukan waktu yang singkat. Tanpa teman dan keluarga. Sampai sekarang pun di sekolah diri nya tak memiliki teman dan hubungan dengan keluarga nya tidak semakin membaik .


Ia berusaha memperbaiki kesalahan tanpa menunjukkan kelemahan nya. Yang ditunjukkan pada semua orang hanya keteguhan dan fake smile setiap hari nya. Sakit, sungguh rasa nya ingin menyerah menjalani hari dengan kepalsuan di usia yang sangat belia.


" Ekhem... "


" Kak Rev? " Lirih Violetta.


" Jangan panggil gue kakak! "


" Maaf. " Ujarnya seraya menunduk dengan suara yang sangat kecil.


" Heh, kita harus selesaikan semua nya sebelum jam makan siang. Jadi jangan kaya kura-kura! " Titah sang kakak.


Violetta hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia terlalu malas untuk membuka mulut nya. Ingatkah saat ia meminta jangan memaksa diri nya mengeluarkan suara?


Seseorang tiba-tiba menghampiri mereka berdua. Namun seperti nya gadis itu tak terlihat atau lebih tepat nya tak dianggap ada.


" Rev, lo lagi ngapain di sana? "


" Oh ada..... Lo ada urusan sama dia? "


" Gue cuma minta dia buat jalan lebih cepat. Soal nya dia lambat banget dari tadi kayak kura-kura. "


" Kak, boleh aku ke kamar? " Violetta bertanya takut-takut pada kakak nya itu.


" Denger ya. Pertama jangan panggil gue kakak, gue bukan kakak lo. Kedua selesaikan pekerjaan lo baru silahkan pergi. "


" Baiklah..... Tuan. "


Kedua laki-laki di sana sempat tercengang mendengar itu. Namun tak berselang lama entah mengapa mereka tersenyum.


" Gue gak bisa benci dia, tapi di sisi lain gue juga belum bisa terima dia dan bersikap kayak dulu lagi. " Ujar Revian membuka suara setelah keheningan beberapa saat.


" Apa bisa kita berkhianat ke diri kita sendiri? " Ujar Bryan menimpali apa yang ingin adik nya bicarakan.


Ya seseorang yang datang menghampiri adalah Bryan, anak pertama keluarga Xander. Ia paling dewasa dan kakak yang paling mengerti adik-adik nya, dulu.


" Maksud lo kak? " Entah memang tak mengerti atau berpura-pura tak mengerti. Revian menanyakan itu yang jelas bermaksud meminta penjelasan dari kakak nya itu.


" Gue sayang sama dia, tapi kenapa dia melakukan hal yang paling gue benci. "


" Sebenarnya..... Kalo kita boleh jujur, kita juga bohong tentang masa lalu sama dia, menipu nya dengan banyak hal dan..... "


Ada rasa bersalah dan kecewa dalam satu waktu dihati kecil Revian. Ia sama sekali tidak begitu dekat dengan Violetta. Karena banyak hal dan alasan yang membuat nya melakukan itu, terutama takut ia salah dalam mengambil langkah.


" Entahlah Rev, gue hanya berharap semua kembali seperti semula. "


Kedua nya hanya bisa menghela nafas dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Bisa dikatakan mereka sama-sama saling menyakiti diri mereka.


" Woi, kalian berdua bukan bantu-bantu malah asyik ngobrol. " Teriak seseorang.


" Nathan... Nathan... Sampai kapan lo mau jadi orang lain? "


Sejak waktu itu sikap Nathan berubah 180 derajat. Tidak seperti yang lain, mereka semua bersikap dingin dan acuh tak acuh. Namun Nathan yang biasa nya paling menjaga image tidak lagi seperti dulu.


" Lo pikir gue siapa sekarang? "


" Niel. "


" Kak Niel bisa kembalikan kak Nath. Jangan bersadiwara terus, ku mohon! Padahal nyata nya lo sekarang lagi sedih kak, karena kehilangan adik kesayangan lo kan. "


" Apa? Adik kesayangan gue? Maksud kalian siapa? Gue gak kehilangan adik gue. Lagi pula hari ini kan adik kesayangan gue mau ulang tahun. Jadi yang lo maksud siapa? "


" Terserah deh, apa kata lo. "


" Kalian ini kebiasaan selalu tinggalin gue sendiri. " Tingkah kekanakan yang Nathan perlihatkan terus berulang. Tidak ada lagi sikap dingin nya pada siapa pun itu.


" Dasar jomblo. " Ejek Revian pada Nathan.


" Jangan pernah katakan jika kasih sayang kalian hanya untuk ku. Karena kalian kini telah memilih nya. Kalian yang telah membuat luka dalam dihati ku. Kalian yang telah membuat janji palsu dihidup ku. "


...................................................



Tak apa, Jika kalian memilih dia dari pada aku yang selalu lemah.


Tak apa, Jika aku ini hanya sebuah ruangan kosong dimata kalian.


Tak apa, Jika kalian bersama dia yang menurut kalian lebih pantas dari ku.


Tak apa, aku baik-baik saja. Meski ada rasa berkecamuk dalam hati ini.


Malam ini malam penuh kebahagiaan bagi keluarga Xander akan tetapi tidak untuk satu gadis kecil yang sedari tadi berdiam diri. Ia terlalu lelah bahkan sekedar mengangkat kepala dan tersenyum sungguh begitu sulit.


Mata indah nya menatap sekumpulan orang dihadapan nya. Berusaha tegar sebisa mungkin, berusaha menjadi sosok lain di saat hati dan pikiran beradu. Tangan nya mengepal kuat, menggenggam ujung baju nya.


Jika dilihat sekilas mungkin orang tidak akan menyadari bahwa baju itu tak layak untuk sebuah pesta. Ujung gaun nya robek beberapa bagian dan sebenarnya sudah kekecilan.


Oleh karena itu, ia memilih duduk dan menggambar. Wajah nya menutupi segala kekurangan diri nya. Bukan karena pandai berdandan. Bukan karena pandai berakting.


Pesta berlangsung lancar karena apa? Karena Violetta berdiam diri dan hanya memandang dengan penuh luka hati. Memendam semua dalam diam. Tidak berniat mengganggu kebahagiaan yang sedang berlangsung.


...................................................


" Hai Vio... " Sapa seseorang.


" Dia sedang kurang enak badan. " Jawab Alex mewakili.


" Oh pantas sedari tadi kau diam. "


Violetta mengangkat pandangan nya saat melihat pria dan wanita paruh baya yang masih tampak memiliki jiwa muda. Ya terlihat jelas dari penampilan mereka yang cukup mencolok. Willy dan Windy, mereka adalah suami istri yang sudah cukup mengenal keluarga Xander dan termasuk rekan kerja Alex.


" Maaf Om, Tante. "


" Tak apa sayang. Om mengerti, oh ya kenalkan ini anak Om dan Tante. Calista sini nak... "


" Maaf ya kalian baru bisa bertemu, padahal umur kalian gak beda jauh seharusnya bisa berteman baik. "


" Gapapa kok, Tante. "


" Hai Vio, aku sudah dengar banyak hal tentang kamu. Tapi ternyata kamu seperti nya lebih keren dari yang mamah sama papah bilang. "


" Hai juga, Calista... Seperti nya kita pernah bertemu bukan? "


" Oh iya, kita pernah bertemu sebelum aku tinggal di Jerman. Waktu itu kita masih sekolah dasar. Kau mengingat dengan baik rupa nya. "


Mereka membicarakan banyak hal setelah Willy dan Windy meninggalkan mereka agar lebih leluasa mengobrol. Calista adalah gadis periang yang mudah merubah suasana.


Alex yang melihat itu diam-diam tersenyum. Putri nya sudah sangat lama tak tersenyum saat berbicara. Ini pertama kali nya setelah hari itu. Violetta tampak enjoy mengeluarkan suara dan tanpa ragu menatap lawan bicara nya.


Bersambung.....