DON'T HATE ME

DON'T HATE ME
part 6 : tergantikan



Kamis, xx Agustus 20xx


Setelah yakin pintu sudah tertutup rapat. Ia sedikit berlari sambil menahan suara isakan yang hampir keluar. Tubuh nya bergetar, keringat dingin mengalir di pelipis nya.


Berusaha tenang untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Waktu tetap berjalan dan ia harus bertahan. Sungguh berat jika ia harus memikul beban sendiri.


...................................................


...next...


Jum'at, xx Agustus 20xx


Kemarilah sebentar.....


Aku ingin bermain dengan kalian.....


Berlarian dan terbang.....


Memutari lily basah dipagi ini.....


Temanilah aku sebentar.....


Aku ingin bersama dengan kalian.....


Berbicara dan tertawa.....


Menikmati sinar mentari di pagi ini.....


Hanya sebentar ku mohon.....


Setidaknya sebelum kabut itu datang.....


Dan menenggelamkanku.....



Keesokan hari nya Violetta terbangun kesiangan pasal nya ia memikirkan perkataan David semalam. Sepanjang malam ia tidak menemukan jawaban atas kesalahan apa yang telah ia perbuat di masa lalu. Saat jam 3 pagi tadi ia baru saja memasuki alam mimpi nya.


Terbangun dengan mata bengkak dan muka pucat, tubuhnya juga begitu lemas. Namun semua itu dihiraukan nya. Seperti biasa gadis kecil itu secepat mungkin bersiap karena waktu telah menunjukkan pukul 05 : 15 WIB.


Ia berlari menuju kamar nya. Mengambil seragam, handuk, tas dan beberapa keperluan. Kembali berlari menuju kamar tamu tanpa melihat kedua kembaran nya yang tercengang memperhatikan diri nya. Mereka menepati janji nya untuk bangun lebih awal setiap hari.


.............................................



Saat tiba di dapur terlihat Luvena dan kedua kakak tertua nya menyiapkan sarapan. Saudari tiri nya itu mengambil peran nya pagi ini. Ia mematung di balik pintu dapur. Pikiran nya tidak lagi jernih, hati nya terasa dihujami bebatuan.


Ini hari pertama akan tetapi mengapa tidak semudah yang dibayangkan. Semalam perlakuan Nathan membuat nya tenang. Namun pagi ini sedikit berbeda. Violetta ingat jelas semalam Bryan terlihat tidak nyaman bersama Luvena. Namun pagi ini sang kakak lebih ceria dari pada dengan diri nya.


" Hei, Vio sejak kapan kamu berada di situ? " Suara Nathan membuyarkan lamunan nya.


" Baby? " Bryan ikut memanggil.


" Oh kak. Why? " Violetta setengah terkejut.


" Kamu yang kenapa? "


" It is okey, memang aku kenapa? "


" Kamu melamun sayang..... "


Panggilan tersebut membuat Violetta tersenyum. Sedangkan Luvena mencebik kesal karena merasa terganggu.


" There is something I can help for you? "


" Seperti nya hari ini gak perlu sayang lain waktu aja, lagian udah ada Luvena yang bantu. Lebih baik kamu panggil yang lain, sarapan udah siap. " Ujar Nathan.


" Iya udah ada Luvena, dia bangun pagi banget tadi. Kamu kesiangan ya? Gak biasa nya kamu telat bangun. " Timpal Bryan.


Mereka berkata tanpa rasa bersalah. Tak tahu jika itu membuat sang adik tersinggung, pengusiran secara halus.


Gadis itu berusaha menutupi kekesalan nya pada kedua kakak-nya dengan sebuah senyuman. Ia tak ingin masalah baru menjadi muncul hanya karena hal sepele. Berusaha melupakan kejadian semalam dan memulai hari yang baru.


" Okey kak, aku ke atas dulu. "


" Dia seperti menyembunyikan sesuatu, senyuman nya tampak terpaksa. "


" Iya lo benar kak. Apa karena kejadian semalam? " Ujar Nathan meski jelas Bryan tak mengerti.


" Mmm..... Kak, aku bawa Falafel Sandwich nya dulu ke ruang makan ya. " Sela Luvena yang diangguki Bryan dan Nathan.


" Oh ya kak, air nya udah mendidih dari tadi. "


Mereka yang sebelum nya terdiam, tersentak mendengar penuturan Luvena. Gadis itu kembali mengalihkan perhatian mereka untuk peduli pada Violetta.


.............................................



Selesai sarapan semua orang beranjak meninggalkan meja makan menuju ruang utama. Violetta kembali ke kamar untuk mengambil obat nya. Helen terlihat sedang membisikkan sesuatu pada Alex.


" Pah, Luvena berangkat sama siapa sekarang? " Bisiknya.


" Sebentar. "


" Nath, kamu hari ini ada kelas kapan? Pagi atau siang? "


" Siang pah mungkin jam 1. Ada apa? "


" Bisa aja sih pah, memang kak Bryan kenapa? "


" Gue ada kelas pagi. Jadi biar gue yang gantiin tugas lo. " Jawab Bryan.


" Ya udah, berarti Luvena berangkat sama kamu ya. " Titah Alex.


" Tapi mobil Bryan cuma bisa buat lima orang pah. " Jelas Bryan yang sebenarnya ingin menolak Luvena.


" Oh iya ya. Rev, apa bisa kau yang antar..... "


" Pah, arah sekolah kita aja beda. Nanti kita bisa terlambat, lagi pula ini udah jam setengah tujuh. "


" Jadi gak ada yang mau mengantar Luvena? Kalian gak kasihan dia selama ini hidup nya menderita. " Ujar Helen menyela percakapan dengan memasang ekspresi sedih.


" Tak apa mam, biar aku berangkat naik bus aja. Aku udah biasa juga setiap hari nya. "


Sama hal nya Helen, Luvena berkata dengan memasang ekspresi sedih sekaligus memelas. Sean memutar bola matanya malas, jengah akan sikap Luvena yang selalu dibuat-buat dan mencari perhatian.


" Bukan begitu mam, tapi..... "


" Iya Luv, cuma waktu sama tempat nya yang gak sinkron."


" Jadi bukan kita gak mau bareng kamu. "


" Beneran, kakak gak nolak kamu buat berangkat bareng. "


" Terserah kalian. Jelas kalian gak mau pergi bersama putri ku. "


" Biar aku yang berangkat sendiri. Luv, berangkatlah dengan yang lain. Ini sudah siang, papah sama mamih bisa tertinggal pesawat. Aku pamit, permisi. " Violetta tiba-tiba datang dan berjalan menuju gerbang. Sontak semua tertegun dengan ucapan nya.


Bagaimana tidak? Adik mereka memutuskan untuk pergi sendiri tanpa siapa pun mencegah. Alex hanya diam menatap punggung putri nya sampai menghilang dari pandangan.


Kecuali satu orang, ia berjanji akan selalu berada di dekat sang adik apa pun yang akan terjadi. Ia berjalan menyusul tanpa mengatakan sesuatu. Keano yang akan memasuki mobil menyadari hal tersebut pertama kali.


" Kak Sean, kau mau ke mana? " Ujarnya sedikit berteriak.


" Ikutin adik gue, gue gak bakal biarkan dia sendirian. " Ucapnya dingin.


" Aishhh..... Anak itu bikin pagi gue buruk aja. " Gerutu David.


" David, lo mau gue tinggal? Cepat masuk! " Teriak Revian.


" Iya gue masuk. "


" Cepat kalian semua berangkat udah siang. " Titah Alex.


.............................................



" Kenapa kamu melakukan hal yang sama sekali gak perlu kamu lakukan, Vio? Apa kamu gak takut terjadi sesuatu? "


Dari kejauhan Sean melihat adik nya menelan sesuatu. Ia mencoba mendekati untuk melihat nya lebih jelas. Sesampainya di halte, bus berhenti dan beberapa menit kemudian sang sopir berteriak bahwa bus akan meninggalkan halte. Hal itu membuat Sean tersadar dari lamunan nya.


Sang kakak masih setia mengikuti dengan jarak tiga baris kursi penumpang di belakang adik-nya. Ia ingin menghampiri akan tetapi sang adik tampak membutuhkan waktu sendiri.


Sejak semalam Sean sudah memperhatikan nya bahkan saat Violetta keluar kamar nya. Juga saat diri nya terbangun tengah malam dan mendapati lampu kamar tamu masih menyala. Ia mengintip sedikit membuka pintu perlahan tanpa disadari Violetta. Gadis itu terlihat meringkuk membelakangi nya dengan punggung bergetar.


.............................................



Di dalam mobil Bryan suasana terasa canggung. Edward yang duduk bersebelah dengan Keano terus saja melirik kembaran nya. Luvena tampak tersenyum manis menatap jalanan, ia duduk di samping Bryan yang sedang fokus menyetir.


" Apa gak masalah Letta pergi sendiri kayak tadi? "


" Maksudmu apa Ken? " Edward balik bertanya.


" Huft... Akhirnya dia mau bicara rasa nya canggung banget. Benar kata nya, apa gak masalah? " Ucap Edward dalam hati.


" Calm down Ken, Sean was with him he was not alone. "


" Dia keras kepala dan kak Sean terlalu mudah buat ditipu. "


" Aku yakin Sean mengawasi nya dari kejauhan. Violet gak akan mengelak tentang apa yang dia lakukan. "


" Tetap aja aku takut kak. Kita saudara kembar, kakak gak lupa kan tentang ikatan batin? "


" Kau kira aku gak cemas lihat dia pergi gitu aja. "


" Bukan gitu Ed, aku... "


" Never mind, kita selalu bertengkar hanya karena masalah kecil Violet. Sekarang diamlah! " Ujar Bryan menutup pembicaraan.


" Semua mengkhawatirkan mu baby, semoga kamu baik-baik aja. Kakak mau mencegah kamu tapi tadi bukan situasi yang tepat. " Batin Bryan, ia sama cemas nya dengan Keano.


" Kak Sean, aku harap kakak bisa selalu ada di samping nya kapan pun. Aku takut dia gak baik-baik aja. " Ujar Keano dan Edward dalam hati.


Suasana di dalam mobil kembali hening dan semakin canggung. Edward yang selalu menjahili kedua kembaran nya kini terlihat kaku. Keano sang pembuat keributan menjadi pendiam. Bryan yang suka mengomel lebih memilih fokus menyetir.


" Hei, apa kalian akan terus kayak gini? Aku benar-benar bosan, ada tiga orang di sini tapi kayak di kuburan. Ayolah, ini hari pertama ku. Dan kalian menekuk wajah, itu membuat ku tersinggung. " Tak ada respon dari ketiga nya.


" Aku jadi merasa bersalah berangkat sama kalian begini. Adik kalian pasti bakal baik-baik aja kok. "


Luvena terus mengoceh dan tak ada yang menggubris. Hingga tak menyadari jika mereka telah sampai di sekolah.


Bersambung.....