DON'T HATE ME

DON'T HATE ME
part 13 : terlambat



Minggu, xx Agustus 20xx


Benar-benar tidak terduga. Hari ulang tahun nya yang ke 12 membuka lembar penderitaan nya. Ia ingat betul janji semua saudara nya yang akan selalu di samping nya dan memaafkan segala kesalahan nya.


Malam ini hujan kembali turun seperti hari sebelum nya ikut merasakan kesedihan Violetta. Bahkan bulan sedang bersembunyi tak sanggup melihat gadis itu merasakan kesedihan.


...................................................


...next...


Senin, xx Agustus 20xx



Pagi ini terasa sangat berat untuk Violetta. Bergelung dalam selimut cukup menghangatkan nya. Semalaman ia kembali menggigil, tubuh nya sangat panas dan ia menahan nya seorang diri.


Kriiiiiiiiiing.....


Dengan segera pemilik alarm mematikan nya. Di samping nya tidak terlihat saudari nya, biasa nya ia yang terlebih dahulu bangun.


" Luvena ke mana ya? Semalam dia bilang gak mau tidur sama aku. Terus di mana dia sekarang, semoga aja gak buat masalah baru sepagi ini. " Gumam nya.


" Entahlah. Ayo semangat Vio! "


Violetta langsung beranjak dari tempat tidur. Dengan cekatan ia membereskan tempat tidur dan bergegas untuk mandi.


Setelah siap dengan seragam dan juga tas nya. Ia bergegas turun ke bawah untuk membantu mempersiapkan sarapan. Diri nya sendiri sebenarnya tidak yakin hari ini ia dapat melakukan kebiasaan nya itu. Karena semenjak kedatangan Luvena ia seperti tersingkir.


...................................................



Sampai di dapur sarapan telah siap dan seluruh keluarga nya sudah berada di meja makan. Bisa dibilang ia terlambat padahal jam masih terlalu pagi untuk sarapan. Bryan dan Luvena datang membawa setumpuk Mitraillette Sandwich asal Belgia.


Nathan sempat melirik ke arah adik nya. Rasa nya tidak tega melihat wajah sendu Violetta. Namun kini ego mulai mengalahkan kepedulian nya.


Gadis itu ingin menarik kursi yang tersisa akan tetapi ditahan sang kakak yang berada di samping nya. Violetta tersenyum seharusnya ia segera pergi.


Tatapan enggan tertuju pada nya. Baiklah. Lagi pula sudah satu minggu bukan ia tidak ikut serta makan bersama.


" Siapa yang suruh kau duduk di sini? Hari ini kamu tidak ada jatah makan. Saya tidak menyangka kau sejahat itu pada Luvena. " Ujar Alex dengan air muka menahan amarah.


" Ma... ma... maksud papah apa? " Tanya Violetta terbata-bata.


" Tidak perlu berpura-pura Violetta, semua udah jelas kau menyuruh Luvena tidur di luar karena kau marah tentang kejadian semalam dan cemburu pada nya. Ck, benar-benar kekanakan. " Jelas Bryan.


" Tapi pah..... "


" Semua udah jelas, kamu berubah. " Potong Alex.


" Berubah? " Violetta mengernyit bingung.


" Kamu bukan Violetta yang dulu. Kamu merasa sudah besar dan egois. " Timpal Bryan.


Violetta berusaha meredakan amarah nya. Menenangkan hati nya agar penyakit nya tidak kambuh sekarang. Yang hanya ia tunjukkan hanya tersenyum miring dan memejamkan mata. Menyadari bahwa dirinya kini terbuang. Kenyataan yang sungguh harus terpaksa ia terima.


" Kenapa pah? Kenapa papah gak mau dengar penjelasan ku? Bukan aku yang berubah tapi kalian yang berubah. " Ujar Violetta dengan menekan setiap kata.


" DIAM! Lebih baik kamu pergi sekarang juga. " Bentak Alex pada putri yang sebelum nya sangat ia sayang.


" Tanpa papah minta aku juga akan pergi. " Ucap Violetta dengan nada dingin.


" Jangan membela nya Sean! Bahkan tadi kau yang menemukan Luvena tertidur di sofa jadi jelas anak itu mengusir nya. "


" Maaf pah tapi aku gak pernah melakukan hal itu. Tapi mulai sekarang terserah kalian mau anggap bagaimana. Aku pergi, permisi. "


Violetta berlari sekencang mungkin meninggalkan area perumahan dan menahan tangis sekuat mungkin. Pikiran nya sangat kacau, ia memilih menenangkan hati di taman dekat sekolah.


...................................................



Hari-hari berjalan begitu rumit. Takdir kini mungkin sedang mempermainkan nya. Ia masih bersyukur bus tiba lebih cepat dari biasa nya. Menangis dalam diam tak ada isak tangis hanya air mata nya yang mengalir deras.


Sebentar lagi bel masuk berbunyi dan gerbang ditutup. Dengan berat hati ia melangkahkan kaki menuju sekolah. Sayang takdir kembali berubah. Ia terlambat. Dan para anggota OSIS sedang berjaga di sana.


Seorang siswi yang diketahui adalah anggota OSIS menghampiri nya. Dengan tangan dilipat di depan dada nya dan juga jalan angkuh nya yang diikuti dua siswi lain nya berdiri tepat dihadapan nya.


" Siapa nama kamu? " Tanya nya.


" Violetta kak. "


" Sekarang kamu lari keliling lapangan tiga kali dan setelah itu hormat bendera 10 menit. " Perintah siswi itu tegas.


" Tapi..... "


" Ini hari senin jika terlambat itu hukuman nya. Masih mau mengelak? Atau perlu ditambah? "


" Tidak kak. " Bantah Violetta.


...................................................



Setelah menjalani hukuman pertama nya selama sekolah. Rasa sakit kembali mendera pada kepala gadis itu, matanya terlihat berkaca-kaca. Tubuh nya hampir saja merosot jika tidak ada yang menahan nya. Sepasang tangan membantu nya menuntun menuju kelas nya.


" Edward..... Keano..... " Lirih nya.


" Hmm. " Jawab kedua nya yang seakan enggan berbicara.


" Kalian juga gak percaya sama aku? "


" Huft, kamu mau kita percaya dan memaafkan mu? " Edward menghela nafas dalam-dalam.


" Iya. "


" Maksud kalian be... berenang? "


" Materi olahraga hari ini renang jadi kita bisa langsung mulai setelah itu. " Jelas Edward.


" Tapi..... "


" Kalau kamu gak mau juga gapapa. Ayo Ken kita pergi saja! "


" Kami gak mau dekat sama kamu lagi baik di sekolah atau pun di rumah. " Timpal Keano.


" Kenapa kalian melakukan ini? " Tanya Violetta sambil menunduk.


" Karena..... Karena memang kamu selalu ingin benar dan menyalahkan orang lain atas kesalahan mu. " Ujar Edward seraya menahan emosi.


" Masih belum paham? "


" Apa maksud mu Ed? "


" Ya, dari dulu kamu gak pernah dapat hukuman bukan? Kita yang selalu gantikan kamu. Kita yang selalu jadi bayangan kamu. Iya kan? "


" Kamu gak pernah merasa kesakitan saat dipukul. Karena kesalahan mu, kita berdua yang dihukum papah, dimarahi sama kak Bryan dan kamu terbebas dari semua itu. "


" Maaf..... Maaf aku gak tau, kalau kalian merasa sesakit itu. Baiklah kita bertanding nanti. Akan ku lakukan apa yang kalian inginkan tapi aku harap kalian bisa memaafkan ku. "


" Berjanjilah setelah itu maafkan aku. Ku mohon..... " Pinta Violetta.


...................................................



Mereka kini tengah berada dalam kolam renang. Jujur Violetta sangat takut penyakit nya kambuh saat perlombaan. Sedangkan Edward sibuk mengambil aba-aba.


Berbeda dengan Keano yang kini menatap Violetta intens, memastikan hal ini tidak berakibat fatal. Sungguh hatinya gelisah mengingat kembaran nya yang mengidap pneumonia dan sekarang ia akan melakukan sesuatu yang cukup berbahaya.


Bersedia


Siap


Mulai


Byur...


Satu detik ( 00.00.01 )


Dua detik ( 00.00.02 )


Tiga detik ( 00.00.03 )


Empat detik ( 00.00.04 )


Lima detik ( 00.00.05 )


Enam detik ( 00.00.06 )


Violetta memimpin


Tujuh detik ( 00.00.07 )


Di detik ke delapan ( 00.00.08 )


Edward berhasil menyalip Keano


Di detik ke sembilan ( 00.00.09 )


Keano tepat di belakang Edward


Sepuluh detik ( 00.00.10 )


Sebelas detik ( 00.00.11 )


Di detik ke dua belas ( 00.00.12 )


Edward dan Keano berhasil mendahului kembaran nya, mereka jauh di depan Violetta.


Sudah hampir tiga puluh detik Edward dan Keano mendekati sisi lain kolam renang.


Namun mereka tiba-tiba kompak menghentikan aksi dan menoleh ke belakang.


Mereka tak menemukan sosok kembaran nya dan tak mendengar suara air yang berkecipak.


Terlihat warna merah bercampur air kolam beberapa meter di belakang dari mereka.


Byur.....


Tanpa melepas seragam tampak seseorang memasuki kolam renang.


Tak lama kemudian muncul dua sosok dari dalam air. Ia adalah Sean yang sedang menggendong Violetta menuju pinggiran kolam. Edward dan Keano segera menghampiri dengan wajah bersalah.


Keadaan Violetta sama sekali tidak dapat dikatakan baik-baik saja. Mata terpejam, hidung kemerahan, bibir pucat dan telapak tangan yang sangat dingin.


Sean mengusap-usap tangan Violetta untuk memberi kehangatan akan tetapi tetap tidak ada reaksi. Akhir nya ia memutuskan memberi CPR pada adik nya.


" Ku mohon, Vio! Bertahanlah, please. "


" Jangan diam aja! Cepat kalian panggil ambulans! " Bentak Sean pada kedua adik nya yang lain.


Perintah langsung dilaksanakan. Edward mengeluarkan ponsel nya dan menekan nomer rumah sakit. Sedangkan Keano berlari mengambil tas mereka berempat sambil mengumpati dirinya.


Sean menyesal, ia terlambat menemukan adik kesayangan nya. Ini kejadian fatal dan keteledoran terburuk yang dapat membahayakan nyawa sang adik.


Ya, memang Violetta handal dalam berenang akan tetapi bukan untuk bertanding. Nafasnya tidak akan bisa bertahan lama di dalam air.


Bersambung.....