DON'T HATE ME

DON'T HATE ME
part 3 : bad feeling



Senin, xx Juli 20xx


Hening..... Tidak ada satu pun bersuara mengatakan setuju atau menolak. Semua tidak ada yang menyahut dan melanjutkan makan yang sempat tertunda, meski begitu mereka berpikir. Alex menghela nafas berat, ia sudah tahu jika anak-anak nya akan merespon seperti ini.


" You do not agree? " Tanya Alex membuka suara.


Dan lagi-lagi tidak ada yang merespon. Violetta geram dengan tingkah semua saudara nya yang seakan tidak peduli dan pada akhir nya ia mewakili seluruh nya.


...................................................


...next...


" No! " Semua pandangan heran tertuju pada gadis itu. Mengernyitkan dahi dan menatap nya meminta penjelasan.


" Kami setuju pah, lagi pula papah udah lama sendiri. Bukan nya lebih baik jika ada yang mengurus papah. Iya kan kak? " Violetta menatap kakak-kakak nya penuh harap.


Meski dihadiahi tatapan tajam oleh semua saudara nya, gadis tersebut tidak berubah pikiran. Rasa nya keputusan cepat memang tidak baik, ia hanya ingin membuktikan bahwa feeling kali ini salah.


Xander bersaudara hanya dapat menghela nafas dengan berat. Tidak yakin keputusan Violetta adalah yang terbaik. Yah, akan tetapi tidak semua ibu tiri jahat bukan. Mereka hanya diam memikirkan keputusan itu hanyut dalam pikiran masing-masing.


" Benarkah? Terima kasih sayang. Papah akan tetap menyayangi kalian sama seperti sebelum papah menikah dengan ibu baru kalian nanti. Papah janji..... " Xander bersaudara tidak merespon ucapan sang ayah, mereka tetap melanjutkan makan.


...................................................



" Princess... "


Tak ada sahutan.


" Princess Letta..... "


Masih tak ada sahutan.


" Violetta Zelene..... "


Pada akhir nya pemilik nama membalikkan tubuh nya. Menghadap sang kakak yang menggaruk tengkuk yang tak gatal sama sekali.


" Hei, kau sedang apa? Malam-malam begini di rooftop sendirian, tanpa jaket. Nanti kamu bisa masuk angin princess. "


" Maaf kak, aku gak dengar kakak panggil tadi. "


" Sudah ku duga pasti kamu melamun ya. You have something on your mind? "


" Huft..... Ya mungkin, but I don't know. "


" Kau ada-ada saja. " Ucap David sembari mengusak rambut adik-nya.


Suasana kembali hening. David menatap adik nya dari samping. Sudut bibir nya tersenyum simpul akan tetapi terasa pahit.


" Kak David. "


" Hm. "


" Jika suatu saat aku melakukan kesalahan besar, apa kalian akan membenci ku? "


" Kenapa kau bertanya seperti itu? Kamu gak akan pernah melakukan nya dan jika hal itu terjadi semua pasti akan memaafkan mu. "


" Kak, berjanjilah pada ku. Kakak gak akan berubah bila semua berubah. "


" Tapi mengapa? "


" Entahlah kak, ku mohon berjanjilah pada ku. "


David menatap lekat sang adik. Menangkup kedua pipi nya yang berisi. Mencium kening nya cukup lama hingga turun mengecup hidung nya singkat.


" Iya kakak janji akan selalu ada di samping kamu dan akan memaafkan apa pun kesalahan kamu. Sekarang jangan bersedih ya. Tersenyumlah sayang..... "


Violetta tersenyum menyakinkan diri nya bahwa semua akan baik-baik saja. David memeluk nya erat seakan takut kehilangan adik kecil nya. Dan ia juga takut tidak dapat memenuhi janji nya. Bayangan masa lalu kembali terlintas dalam pikiran nya.


Gadis itu tak kunjung membalas pelukan kakak nya membuat David menarik tangan Violetta agar memeluk pinggang nya. Terdapat kehangatan yang mereka rasakan sekarang. Waktu seakan berhenti ikut menikmati nya.


...................................................



Violetta memasuki kamar nya. Terlihat kedua kembaran nya sedang berdebat sesuatu. Mereka tidak menyadari kedatangan nya. Jadi ia putuskan untuk sedikit menjahili mereka.


Brak...


" VIOLETTAAAAA! " Teriak kedua nya bersamaan.


" Hei, tenanglah. Kenapa kalian suka sekali berteriak? " Pertanyaan yang justru mendapat jawaban dengan tatapan tajam.


" Apa yang kau lakukan? " Tanya Edward sambil memegangi dada nya.


" Menutup pintu. "


" Apa perlu kau banting? " Tanya Keano sambil mengusap dada nya.


" Tadi tertiup angin. "


Edward dan Keano menghembuskan napas kasar. Adik nya benar-benar mencari masalah. Menjawab pertanyaan mereka kelewat santai seolah bukan masalah.


" Sekarang aku yang bertanya. Kenapa kalian mengabaikan ku di sekolah hah? "


" Sudah ku tebak. "


" Hahaha..... Maaf, aku cuma bercanda jangan kamu ambil hati ya. " Edward tertawa sumbang mengetahui idenya terbaca.


" Tenang aja, aku udah melupa... "


Cklek...


" Melupakan nya. "


" Papah? " Alex menampakkan diri di balik pintu.


" Kalian belum tidur? Tadi papah dengar suara pintu dibanting, siapa yang melakukan nya eoh? "


" Ah itu pah tadi..... "


" Tadi Vio menutup pintu. Dan..... " Potong Edward.


" Kata Vio tertiup angin. " Lanjut Keano.


" Issh, kalian ini! " Geram Violetta.


" Kau bilang begitu. "


" Kita cuma mewakili. "


" Sudahlah, lebih baik kalian sekarang istirahat. Besok bukan nya kalian ingin bangun pagi. "


Sebelum Alex keluar, ia menyempatkan untuk mencium kening anak-anak nya. Berkat Violetta diri nya yakin untuk melanjutkan rencana nya. Membuat keluarga kembali utuh dengan istri baru nya nanti.


" Baik pah, selamat malam. "


" Malam. "


...****************...


...10 Hari kemudian...


...****************...


Kamis, xx Agustus 20xx



Hari ini ibu baru mereka dan anak nya mulai tinggal di kediaman Xander Family's. Setelah resmi menjadi bagian keluarga Xander tentu nya. Setelah melewati hari yang melelahkan mereka pun langsung menuju rumah. Perjalanan dari hotel di mana resepsi pernikahan dilangsungkan cukup memakan waktu.


Alex terlihat bahagia dengan keluarga baru nya. Ia merasa lebih tenang dengan ada nya seorang istri. Tidak perlu takut anak-anak nya kekurangan kasih sayang orang tua. Meski tetap tidak akan sebanding dengan mendiang istri nya. Kini mereka semua telah berkumpul di ruang utama.


" Duduklah. Berikan salam pada ibu baru kalian dan juga anak nya. " Titah Alex.


" Kenalkan nama ku Helen Kenward Madison, kalian bisa memanggil ku mamih jika kalian tidak keberatan. Dan ini anak ku Luv. " Ujar Helen sambil menggenggam tangan putri nya.


" Perkenalkan aku Princella Luvena. Saudari baru kalian, mohon bantuan nya. " Ujar gadis berambut pirang memperkenalkan diri.


Semua anak nya tampak tidak senang saat Alex memperkenalkan mereka. Hanya satu gadis kecil yang tampak ceria melihat saudari baru nya. Ia senang sekali akhir nya memiliki saudari, belum lagi ia adalah teman dekat nya saat masih di sekolah dasar.


" Nah, anak-anak sekarang giliran kalian yang berkenalan. "


" Febryan Anthonio, anak pertama keluarga Xander. " Ujar nya formal.


" Perkenalkan saya Nathan, Nathaniel William. " Ujar nya ramah.


" Revian Earl, salam kenal. " Ucap nya seraya tersenyum.


" Anak ke 4 dari 9 saudara, saya James Alfred. " Ucap nya dengan menyengir tampan.


" Perkenalkan saya David Durant, panggil saja David. " Ujar nya sambil menatap arah lain.


" Sean, Sean Airellio. " Ujar nya dingin.


" Saya Edward Frans, salam kenal. " Ucap nya sembari mengalihkan tatapan.


" Keano Alfariel, Saya biasa di panggil Ken. " Ucap nya datar.


Sebelum menikah Alex belum memberitahu siapa calon istri nya. Ia membutuhkan waktu yang tepat untuk memperkenalkan nya. Takut anak-anak nya ingin membatalkan pernikahan nya, terutama Sean. Ia bersikeras membuat yang lain ikut menolak meski hasil nya sia-sia.


" Hai senang bertemu dengan mu lagi, Luvena. " Sapa Violetta dengan tersenyum lebar. Ia cukup kesal karena yang lain tidak merespon.


" Iya, aku senang sekali bisa menjadi saudari mu Vio. " Ujar nya dengan tersenyum menyeringai.


Tidak ada yang menyadari hanya Violetta yang benar-benar memperhatikan. Mata nya membulat sempurna. Ia tidak menyangka teman baik nya melakukan itu. Rasa nya ada firasat buruk mengenai nya, entahlah semoga bukan apa-apa dan semua akan baik-baik saja.


" Papah dengar kau dan Luvena dulu teman dekat ya. " Tanya Alex.


" Iya pah, kami dekat saat awal sekolah tapi setelah ia pindah aku gak tau lagi kabarnya. " Jawab Violetta sambil tersenyum semanis mungkin.


" Bagus kalau begitu setidaknya kalian berdua saling kenal. Luv, papah sudah pindahkan semua kebutuhan mu di kamar baru mu. " Ujar Alex dengan penuh kebahagiaan.


" Terima kasih om. "


" Panggil papah saja sama seperti yang lain. Dan kalian juga panggil Helen, mamih. Mengerti? " Semua hanya mengangguk pelan tak terkecuali Violetta.


Bersambung.....