
Kamis, xx Agustus 20xx
Dan tetap pada pendirian diam dan seakan semua baik-baik saja. Revian tidak mengerti dan tetap berjalan menuju kamar nya.
" Are you okey? " Pertanyaan yang ia tunggu keluar dari mulut Sean yang kini berada di samping Nathan.
...................................................
...next...
" Kak Sean love you. "
" Oh i...i...iya kak. Aku tadi sedikit demam tapi sekarang baik-baik aja. Aku mau ke dapur ambil air. "
" Tunggu, Vio... maaf. Maafkan aku. " Lirih Keano. Violetta mengernyit mendengar ucapan kembaran nya.
" Maaf, aku lupa bangunin. Aku gak tahu kalau kamu demam. Jadi..... " Violetta mengangguk kecil.
" Gapapa, aku mengerti. "
" Kamu mau makan? Ayo biar kakak buatkan sesuatu. " Ucap Nathan.
" Iya, aku sangat lapar. "
" Tidak perlu, aku hanya ingin minum. "
" Kamu harus makan nanti tambah sakit. "
" Tidak ingin, rasanya mual. "
" Baiklah. Biarkan kakak yang ambil air di dapur, kamu kembalilah ke kamar ya. " Perintah Nathan.
Nathan segera menuju dapur untuk membuat sesuatu. Ia tidak akan membiarkan Violetta tidur dengan keadaan perut kosong. Dan juga menambah demam nya jika saja tidak mendapat asupan.
Tanpa diminta lagi Violetta berbalik arah dan menggandeng tangan Sean posesif. Hal tersebut membuat Keano cemburu dan juga kesal secara bersamaan karena lagi-lagi diacuhkan.
" Kak, aku tidur di kamar kakak ya. Kalau di kamar ku pasti Keano dan Edward berisik. Aku masih pusing, ingin istirahat yang tenang. "
" Vio, sorry..... jangan marah. " Ujar Keano memelas.
Selama ini jika Violetta memisahkan diri artinya ia sedang marah antara pada Keano atau Edward atau mungkin kedua nya. Dan alhasil mereka berdua akan dimarahi Alex atau Bryan. Sama halnya jika gadis itu melakukan kesalahan mereka yang akan terkena hukuman.
" Let's go kita ke kamar! " Seru Sean sambil menggenggam tangan sang adik ke kamar nya dan David.
Keano terdiam merasakan sesak di dada nya, ia merasa terjadi sesuatu pada kembaran nya.
" Ken, lagi apa kau di sini? Jangan ngelamun di tangga, kau bisa jatuh. "
" Gak ada Ed. Kau mau ke kamar kan? Ya udah, ayo bareng! " Seru Keano mengalihkan perhatian.
" Okey. "
.............................................
Saat di kamar Edward merasa aneh, melihat kembaran nya yang tiba-tiba menjadi pendiam.
" Kau kenapa? Ada yang mengganjal dalam pikiran mu? "
" Entahlah. "
" Oh ya ampun, aku baru ingat. Di mana Vio? Bukan nya waktu kita turun makan tadi dia masih tidur. "
" Iya benar. "
" Terus sekarang dia di mana? "
" Di kamar kak Sean. "
" Oh ya ampun, kita lupa bangunin. Apa dia marah? "
" Banget. "
" Ken, kau kenapa? "
" Dia demam tadi dan kita semua gak ada yang sadar. "
" Gitu ya. Terus gimana? "
" Berdoa aja semoga dia gak marah besok. Bahkan kita lupa kalau dia belum makan apapun dari siang. "
" Kita terlalu fokus sama kedatangan Luvena dan ibu nya. "
" Mungkin iya. "
" Never mind. Jangan terlalu dipikirkan! Dia udah besar dan harus mengerti, apa lagi bukan cuma dia cewek di rumah ini sekarang. "
Edward mengakhiri pembicaraan meski kedua nya masih tetap memikirkan bagaimana reaksi kembaran nya. Mereka yakin akan perasaan Violetta sekarang yang pasti nya sangat terluka.
.............................................
David terkejut melihat gadis di tempat tidur nya sedang meringkuk. Tak lama kemudian Sean keluar dari kamar mandi. Ia memberi kode pada kakak nya agar tidak berisik. Dan meminta nya berjalan menuju balkon.
" Kenapa dia tidur di sini? " Tanya David dengan berbisik.
" Kita melakukan kesalahan. " Ujar Sean.
" Apa? Bagaimana bisa bahkan gue gak ketemu sama dia dari tadi siang. "
" Nah itu dia. " David mengernyit tak mengerti.
" Jadi dia belum makan juga berarti? Dasar kekanak-kanakan. "
" Bukan gitu. Dia demam bahkan wajah nya pucat banget. "
" Ah, sudahlah. Sebaiknya kita tutup pembicaraan ini. "
David memasuki kamar dan meninggalkan adik nya termenung sendirian di luar bersama udara malam. Angin berhembus semilir. Dingin menusuk tulang. Hati nya bertanya-tanya tentang apa yang dibicarakan kakak nya.
Ia gelisah. Takut terjadi hal buruk yang tidak pernah diinginkan nya. Air mata nya tiba-tiba menetes seakan menggambarkan kesedihan akan tetapi ia tak tahu artinya.
Tok... Tok... Tok... Tok...
David membuka pintu dan terlihat Nathan membawa nampan berisi sup ayam dan teh hangat.
" Dav, apa Vio di kamar lo? "
" Iya. "
" Emmm kak, Vio baru tidur. " Ujar Sean yang baru saja dari balkon.
" Dia harus makan dari siang perut nya belum terisi apa-apa. "
" Oh ya? Apa dia bakal kayak gini selama nya? " Ucap David tiba-tiba.
" Apa maksudmu? " Sean tidak menyangka David berkata begitu.
" Yah, mengandalkan kita. Dia udah besar, bukan bayi yang harus selalu diperhatikan dan kita urus setiap waktu. " Jelas David.
Ucapan David membuat Nathan menahan emosi mengeratkan pegangan nya pada nampan dan berusaha tenang. Sean mengernyitkan dahi nya semakin tak memahami jalan pikiran kakak nya.
David adalah kakak yang paling lembut di antara yang lain dari cara bicara dan perlakuan nya. Namun mengapa ia mengatakan hal seperti itu.
" Dia sakit Dav. Kenapa lo bisa bilang kayak gitu? " Ucap Nathan berusaha lembut.
" Kalian dengar tadi kan, betapa sulitnya kehidupan Luvena. Dia benar-benar menderita, selalu kesepian. "
" Lalu? Kak David mau membandingkan mereka. Kau gak bisa menyamakan Vio sama siapa pun. " Sean tampak emosi mendengar alasan kakak nya.
" Kalau lo ga mau dia tidur di sini bilang aja. Jangan bandingkan dia sama siapa pun! " Ucap Nathan berusaha tenang.
" Eits, gue gak bermaksud buat kalian berdua jadi emosi. "
Nathan dan Sean berusaha mengontrol emosi. Mereka tak habis pikir pada ucapan David.
" Dan gak masalah bagi gue dia tidur di sini, gue senang-senang aja. " David tersenyum meyakinkan kedua saudara nya.
" Jangan ngomong yang bisa bikin dia sakit hati lagi, Dav. Masih baik dia tidur. "
" Kau keterlaluan. Itu bisa bikin dia tertekan kalau aja dia dengar. "
" Yah, mungkin lebih baik dia dengar tadi. "
" DAVID! " Pekik Nathan.
Nathan tidak sengaja meninggikan suara nya. Itu bisa saja membuat Violetta terbangun dengan terkejut.
" Okey sorry, gue mungkin masih terbawa suasana cerita Luvena. "
Nathan meletakkan nampan di atas nakas dan membangunkan Violetta dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin adik nya terkejut. Sedangkan David dan Sean diam hanya memperhatikan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sekali lagi tak ada yang menyadari bahwa sejak tadi gadis itu hanya berpura-pura menutup mata seakan terlelap. Mendengar seluruh pembicaraan kakak nya.
Hatinya sungguh terluka mendengar ucapan David yang sangat sensitif baginya. Meski sudah mengetahui alasannya yaitu terbawa suasana cerita, cukup masuk akal.
" Kak David orang pertama yang mengingkari janji nya pada ku. Malam itu malam kak David memeluk ku erat, aku bisa merasakan nya. Tapi kenapa kak? Apa aku pernah membuat kakak terluka? Pembicaraan kak David dengan kak Sean tadi aku bisa menyimpulkan bahwa kakak seperti tak ingin membahas masa lalu. Tentang apa? Katakan pada ku! Tolong..... " Jerit Violetta dalam hati.
" Uhhhmmm... Ada apa kak? " Violetta terbangun lebih tepat nya berpura-pura.
" Ayo makan! "
" Gak mau. "
" Sedikit saja! "
" Gak mau. "
" Jangan menolak! "
" Kakak akan menyuapi mu. "
" Huft..... Baiklah, kak. "
Pada akhir nya Violetta membuka mulut. Tidak dapat dipungkiri sup buatan Nathan sangat lezat belum lagi perut nya sangat lapar. Sebenarnya egonya yang menyiksa nya.
Setelah menyuapkan sup meski beberapa sendok saja, Nathan memberikan teh hangat pada Violetta. Meredakan rasa mual dan pusing di kepala nya.
Selesai membersihkan mulut, Violetta memilih kembali ke kamar. Kamarnya saat ia ingin sendiri, di kamar tamu di mana ia merasa tenang. Langkah nya terasa berat akan tetapi ia harus segera pergi sebelum cairan bening menetes dari pelupuk mata nya.
Tak ada yang mencegah semua terdiam. Membiarkan gadis yang mereka sayangi selama ini pergi begitu saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Jika saja tadi ia benar-benar tertidur mungkin hati nya tidak akan sesakit ini.
" Princess..... Selamat malam. "
" Malam juga kak Dav. " Balas Violetta tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
Jujur Sean ingin mengejar jika tangan nya tidak ditahan oleh Nathan. Dari tatapan kakak nya, ia tahu. Adik nya sedang berusaha untuk menenangkan diri. Semua yakin Violetta pasti mendengar percakapan mereka.
Setelah yakin pintu sudah tertutup rapat. Ia sedikit berlari sambil menahan suara isakan yang hampir keluar. Tubuh nya bergetar, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Berusaha tenang untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Waktu tetap berjalan dan ia harus bertahan. Sungguh berat jika ia harus memikul beban sendiri.
Bersambung.....