DON'T HATE ME

DON'T HATE ME
part 11 : the first meeting



Minggu, xx Agustus 20xx


" Benar apa yang dikatakan David. Selama ini Violet meremehkan kita yang selalu memanjakan nya. Yang peduli tentang keadaannya dan acuh pada kesalahannya. " Bryan angkat bicara.


" Bahkan kita menyalahkan Ed dan Ken atas apa yang dia perbuat. Alasan apapun gue gak bisa terima lagi. "


" Tapi kak, kita perlu penjelasan. "


...................................................


...next...


" Jika seseorang melakukan kesalahan yang sama dua kali, gue gak bakal bisa memaafkan orang itu. Lo tau kan Nath? Jadi ini peringatan buat dia. "


Setelah mengucapkan semua itu Bryan meninggalkan kedua nya yang terdiam. Nathan menghembuskan nafas kasar. Semakin hari keadaan semakin kacau. Ia mengira acara yang seharusnya berlangsung tadi malam dapat mengembalikan keadaan semula. Namun kenyataan nya berbanding terbalik, semua kacau. Keluarga nya menjadi berantakan.


...................................................



Prok. Prok. Prok. Prok.


" Gue gak nyangka semua semudah ini. Gue pikir harus banyak cara agar lo menderita. Kayak nya lo mau cepat dimulai ya. "


" Let's start this game. Violetta Zelene Xander. " Bisik Luvena.


" What do you mean? "


" Gak perlu berpura-pura polos Violet, You know what I'm saying. "


" Why? " Violetta mengerang.


Ia benar-benar tak mengerti dengan pemikiran Luvena yang note bene nya teman baik dan kini adalah saudari nya.


Menderita? Perangkap? Apa yang direncanakan sebenarnya?


" Do not think about it! Gue pergi dulu. Istirahatlah! Masih banyak kejutan buat lo. "


" Bye. " Ucap Luvena seraya melambaikan tangan.


" Where are you going? "


" Bukan urusan lo! " Desis Luvena dan menutup pintu sedikit kasar.


...................................................


Setelah kepergian Luvena tak lama kemudian Sean muncul dengan menghembuskan nafas lega. Adik nya kembali dengan selamat adalah hal terpenting.


" Are you okey, princess? " Tanyanya dan Violetta hanya mengangguk.


" Syukurlah. Kamu dari mana? Semua khawatir sama kamu. " Tanyanya lagi setelah duduk di samping ranjang.


" Apa kak Sean mau dengar penjelasan ku dan percaya? " Ingat bukan semua tak ada yang menanyakan dan selalu Sean yang peduli.


" Ya, memang kenapa? "


" Tadi gak ada yang mau dengarkan aku. " Ujar Violetta.


" Kakak akan mendengarkan tapi kamu harus jujur. " Pinta Sean pada adik-nya.


" Iya kak. Tapi..... "


" Tapi apa? "


" Setelah itu kakak juga harus jelaskan kemarin seharian ke mana ya. " Pinta Violetta pada sang kakak.


" Okey. "


Flashback on.....


Setelah menghubungi David yang ternyata diangkat oleh Luvena. Violetta kembali mengirim pesan untuk mengabari diri nya akan keluar rumah. Rasa bosan mendorong nya untuk mencari udara segar malam ini.


..._________________________...


To : kak Dav


" Kak, aku mau izin keluar ya. Bosan di rumah sendirian dari tadi siang nih. Sebenarnya kalian di mana? "


-send-


Read


^^^From : kak Dav^^^


^^^" Silahkan nikmati malam lo yang kesepian Prin. Cess. Let. Ta. "^^^


To : kak Dav


" Luv? Di mana kak David? "


-send-


Read


To : kak Dav


" Hei..... Kalian di mana? "


-send-


Read


To : kak Dav


" Luvena, jawab! "


-send-


Read


^^^From : kak Dav^^^


^^^" Violetta, kami sedang bersenang-senang. Lo jangan ganggu ya, mengerti? "^^^


To : kak Dav


" Terserah kau, tapi tolong katakan kalau aku izin keluar. "


-send-


Read


^^^From : kak Dav^^^


^^^" Semua gak akan ada yang peduli sama lo, Vio. Lakukan sesuka hati lo!  Mereka milik gue sekarang. "^^^


To : kak Dav


-send-


Read


^^^From : kak Dav^^^


^^^" Tentu. "^^^


..._________________________...


Air mata menetes bersama turun nya hujan di luar malam ini. Ia berlari keluar rumah untuk mencari ketenangan. Sebuah suara dihiraukan begitu saja. Ya hatinya terluka setelah membaca pesan dari Luvena.


" Kenapa? Kenapa kalian begitu mudah melupakan aku? Bersenang-senang dengan Luvena tanpa memberitahu ku. Aku tak ingin egois tapi apa perlu melupakan aku. "


" Seminggu aku diabaikan diacuhkan dibiarkan sendirian. Ku mohon jangan terus seperti ini. Aku tak yakin sanggup menjalani nya. "


" Kak David, kakak berjanji tak akan berubah bukan? Kak Sean, kakak bilang akan selalu ada untuk ku? Jangan tinggalkan aku! "


" Mamah, maafkan aku. Aku menangis hari ini. Aku takut mah, mereka benci aku nanti. Aku harus ke mana? Aku takut mah, mereka tinggalkan aku. Mamah tolong aku mah, aku gak mau sendiri. "


" Papah, jangan berubah pah! Papah berjanji untuk tetap menjadi papah yang aku kenal. Pah, maafkan aku. Kalau memang aku salah sama papah, maaf. "


Violetta berlari tanpa tujuan, menangisi masalah yang tiba-tiba menimpa. Ya, apa mungkin ini salah nya. Ia yang pertama menyetujui Alex menikah lagi dan membuka takdir yang tak pernah diharapkan.


...................................................



Ciiiiiiiiiit..... Brak.....


Sebuah mobil tiba-tiba melintas dengan kecepatan penuh dan hampir saja menabrak seorang gadis. Meski sempat mengenai nya akan tetapi tak sampai terluka.


Mobil silver menabrak pembatas jalan dan beruntung rem nya masih berfungsi baik. Sang pengemudi segera turun untuk mengecek sesuatu. Ia merasa menyerempet seseorang akan tetapi di mana orang itu?


Jalanan memang licin karena hujan tadi. Suasana terlalu gelap dan sepi. Tak sengaja ia kaki nya menginjak sesuatu dan berhasil mengalihkan perhatian nya.


" Ponsel? Tapi di mana pemilik nya? " Gumam nya karena ia yakin ada orang tadi.


" TOLONG! SIAPA PUN TOLONG AKU! KU MOHON, TOLONG AKU! " Teriak seseorang.


" LO DI MANA? "


" HEI, BERSUARALAH! "


" AKU DI SINI, TOLONG SIAPA PUN!


Setelah mencoba mengikuti asal suara, orang itu berhasil menemukan seseorang yang tengah berpegangan pada pilar jembatan. Violetta di sana sekuat tenaga menahan tangan kanan nya agar tak terlepas. Berharap seseorang datang menyelamatkan nya.


Grep...


Tangan satu nya tertarik. Seseorang menarik nya dan membawa nya kembali ke permukaan. Keringat membasahi seluruh tubuh. Ia belum siap mati apa lagi di temukan hanyut di sungai deras di bawah nya.


" Are you okey? Sorry, gue benar-benar minta maaf. Ayo kita ke rumah sakit! " Ajak seseorang berambut coklat.


" Maaf merepotkan. It is okey, I'm fine. Thank you for helping me. "


" Hei, gue yang seharusnya minta maaf. Lo hampir terluka dan nyaris jatuh ke sungai. "


" Never mind. "


" Bisa kita berkenalan? Gue Sebastian, panggil aja Tyan. " Ujarnya ramah.


" Aku Violetta, senang berkenalan dengan mu. Tapi seperti nya kau lebih tua dari ku. Boleh aku panggil kakak? "


" Sure. "


Tiba-tiba nafas Violetta kembali tak beraturan. Denyut nadi nya melemah dan pemandangan nya menjadi buram.


Bruk...


Tubuh gadis itu limbung, Tyan segera menggendong nya dan membawa ke mobil. Ia menjalankan mobil nya menuju rumah sakit.


...................................................



Setengah jam kemudian, Tyan memasuki parkiran rumah sakit. Ia dengan terburu-buru keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang.


Di gendongan nya ada seorang gadis kecil yang sangat pucat. Berlari tergopoh-gopoh menuju IGD, berteriak memanggil perawat untuk cepat menangani Violetta. Keadaan nya cukup kacau melihat seseorang yang baru ia temui tampak kesakitan.


Padahal beberapa jam lalu, Tyan baru saja menghindari obrolan keluarga menyangkut diri nya. Ia pergi karena kesal keluarga nya menuntut melanjutkan study yang tak pernah terpikir oleh nya.


Dan sekarang ia menyesal sekaligus bersyukur. Menyesal karena tadi mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Bersyukur ia bertemu gadis kecil yang manis dan bisa membuat nya sekhawatir ini.


Suara pintu mengalihkan atensi nya. Seorang dokter paruh baya dengan jas kebanggaan nya keluar dari ruangan yang sedang menangani Violetta.


" Apa anda keluarga dari gadis tadi? " Tanya dokter ber name tag Vandi.


" Bukan dok, saya orang yang hampir saja menabrak nya. Bagaimana keadaan nya? Saya akan bertanggung jawab. " Ujar Tyan tegas.


" Tenang, pasien sudah dalam kondisi stabil sekarang tapi masih perlu beristirahat. Anda hanya perlu menghubungi keluarga nya. " Jelas dokter Vandi.


" Baik dok, akan saya hubungi. Bisa saya menjenguk pasien? " Izin Tyan.


" Silahkan! Saya permisi, nanti jika pasien sudah sadar tolong panggil saya. " Pamit dokter Vandi.


" Terima kasih. "


...................................................



Setelah kepergian dokter Vandi. Tyan memasuki ruang IGD, dilihat nya seorang gadis berbaring di atas brankar dengan ventilator dihidung nya. Entah bagaimana ia merasa sangat bersalah. Gairah hidup nya muncul setelah menatap gadis kecil dihadapan nya.


" Terima kasih sudah menolong ku. " Ujar Violetta seperti berbisik, ia sudah sadar saat Tyan masuk tadi.


" Lo udah sadar. Maaf gara-gara gue..... " Lirih Tyan.


" Bukan salah kakak, aku memang sakit. Jadi terima kasih sudah menolong ku. Maaf merepotkan lagi. " Ucap Violetta sendu.


" Itu udah tanggung jawab gue. Dan lo sama sekali gak merepotkan. " Ujar Tyan tegas.


Cklek...


" Ekhem..... Kamu melupakan saya nak. Apa kamu sudah menghubungi keluarga nya? " Ujar dokter Vandi dan menghampiri Tyan.


" Oh maaf saya lupa, dok. "


" Tidak perlu dok. Mereka sedang sibuk, aku baik-baik saja. " Tolak Violetta pada dokter Vandi.


" Kenapa? Mereka harus tau keadaan mu semakin mengkhawatirkan. Kita perlu melakukan CT scan dan tes darah. " Ujar dokter Vandi dan menatap lekat pasien nya 6 tahun terakhir ini.


Bersambung.....