DON'T HATE ME

DON'T HATE ME
part 12 : awal badai



Minggu, xx Agustus 20xx


" Oh maaf saya lupa, dok. "


" Tidak perlu dok. Mereka sedang sibuk, aku baik-baik saja. " Tolak Violetta pada dokter Vandi.


" Kenapa? Mereka harus tau keadaan mu semakin mengkhawatirkan. Kita perlu melakukan CT scan dan tes darah. " Ujar dokter Vandi dan menatap lekat pasien nya 6 tahun terakhir ini.


...................................................


...next...



" Dokter, maaf menyela. Violet sakit apa? Maaf saya mungkin tidak perlu tau. Tapi sebagai tanggung jawab saya akan membiayai nya. " Ujar Tyan.


Dokter Vandi menghampiri Violetta yang kini menundukkan kepala. Memberitahu soal penyakit pada seseorang yang baru dikenal bukan hal baik. Namun setelah melihat pasien sekaligus anak sahabat nya menatap nya dan mengangguk. Artinya ia diizinkan.


" Pneumonia sejak lahir. " Lirih dokter


" What? Lalu bagaimana mungkin lo tadi jalan sendirian di malam hari yang dingin ini? Bukan nya bahaya bagi kesehatan? Kenapa lo lakukan itu? Lo dari mana? Mau ke mana? " Tanya Tyan beruntun setelah cukup terkejut mendengar pernyataan itu.


" Aku tadi hanya ingin mencari udara segar. " Jawab Violetta.


" Beneran? Tapi mata lo kayak habis nangis. " Ya meski tersamarkan hujan tadi akan tetapi bekas nya tampak kentara.


" Aku gapapa cuma sedikit masalah di rumah. "


" Okey, gue percaya saat ini. Kalau lo mau cerita sesuatu gue siap jadi pendengar. "


" Nak, saya mohon jangan menyembunyikan apa pun. "


" Dokter, anda telah banyak berbuat untuk ku. Terima kasih. " Violetta mencoba mengalihkan perhatian.


" Berhenti berterima kasih, kamu harus segera melakukan tes tanpa bantahan. " Pinta dokter Andi.


" Ya. Asalkan izinkan aku pulang sekarang. " Pinta Violetta.


" Tidak sekarang Vio. Besok siang setelah pemeriksaan baru kamu boleh pulang. "


" Okey, tapi dokter janji tidak akan memberitahu keluarga ku. Mereka sedang menikmati pesta malam ini. "


" Pesta? Dan kau..... " Dokter Andi mengernyit tak mengerti.


" Dok, aku mau istirahat. "


" Huft..... Kamu keras kepala. "


" Nak, siapa nama kamu? "


" Saya Sebastian dok. "


" Sebagai tanggung jawab kamu jaga Vio malam ini dan antar dia besok ke rumah nya. " Pinta dokter Vandi pada Tyan.


" Dengan senang hati. "


" Saya permisi. " Setelah pamit dokter Vandi langsung keluar ruangan.


" Kak Tyan, kakak gapapa temani aku di sini? "


" Sure. I'll take care of you tonight, tidurlah! "


Sebelumnya Tyan tidak pernah peduli pada seseorang. Bahkan pendidikan selanjutnya yang akan ditempuh dihiraukan nya. Namun sekarang berbeda ia yakin akan memilih study nya meski tidak sesuai keinginan nya.


...................................................


" Maaf nunggu lama, gue pulang sebentar tadi. "


" Iya kak. Kakak bawa apa? "


" Oh ini baju sama bubur. Lo gak mau keluarga lo tau kan, jadi ganti dulu. Baju lo kemarin basah. Tapi maaf gue cuma punya kemeja yang mungkin pas buat lo. Tadi gue gak sempat berpikir buat beli. "


" Iya kak. Thanks, ini lebih baik dari pada harus pakai baju rumah sakit. "


Violetta mengambil alih pakaian dari tangan Tyan sebuah kemaja panjang. Bersyukur infus telah dilepas jika tidak pasti ia akan kesusahan memakai sendiri. Ia beruntung bertemu orang yang baik dan mau menolong nya.


Tyan merasa tak tega saat melihat gadis manis itu keluar kamar mandi dengan bibir pucat pasi dan tangan gemetar.


" Lo yakin kuat? "


" Iya kak. Semua pasti cemas mencari ku. (Meski aku tak yakin) " Violetta melanjutkan ucapan nya di dalam hati.


" Sekarang makanlah bubur nya! Kalau gak mau, dokter Vandi gak akan izinin lo pulang. " Ancam Tyan.


" Aku ingin cepat pulang. Mereka pasti marah nanti, aku gak mau makan bubur hambar itu juga. " Tolak Violetta.


" Lo harus makan, semalam perut lo bunyi terus. Jangan bilang gak lapar! "


" Gue suapin, biar cepat. "


" Senyum! Lo cantik kalau senyum, jadi jangan cemberut lagi ya. "


" Emang aku cantik. "


Pipi Violetta bersemu merah. Mendapat pujian dari laki-laki di hadapan nya. Entah kenapa hati nya menghangat berada di dekat Tyan. Laki-laki yang baru ia jumpai karena nyaris menabrak nya.


...................................................



Sesampainya di kediaman Xander, Violetta menjadi ragu untuk kembali ke rumah. Pasal nya tampak Nathan dengan wajah cemas menatap mobil yang ditumpangi nya. Tyan melihat keraguan pada gadis itu.


" Jangan takut! " Ucap Tyan sambil mengusap rambut Violetta.


Tyan mendekatkan wajah nya pada Violetta. Ia membisikkan sesuatu yang membuat pipi nya kembali bersemu.


" Gue sayang lo bukan sebagai kakak. Gue harap kita bertemu lagi di masa depan. Lo mau nunggu gue kan? " Bisik nya.


Violetta mengangguk. Ia tidak mengetahui pasti ucapan Tyan akan tetapi ia berharap dapat bertemu kembali. Kecupan dipipi nya reflek membuat gadis itu memeluk lawan bicara nya.


" Tak peduli seberapa lama aku harus menanti. Berjanjilah untuk datang menemui ku nanti. " Ujar Violetta. Sebenarnya ia tak mengerti ucapan nya sendiri.


" Dan lo harus janji apa pun hasil tes nya tetap bertahan ya. "


" Thank you. "


" Your welcome. "


Violetta keluar mobil setelah pintu dibukakan. Dan dengan bantuan Tyan, ia turun dengan hati-hati. Tyan kembali memasuki mobil dan melambaikan tangan.


" Bye kak. "


" See next time. "


Violetta melangkahkan kaki jenjang nya menuju teras. Kakinya terasa berat untuk berjalan. Wajah nya yang tampak pucat dan mata yang sembab terlihat sangat miris. Dilihat nya Nathan berdiri menatap nya.


Hari-hari nya berlalu dengan melelahkan. Violetta hanya bisa berharap semua baik-baik saja. Meski dalam diri nya ketakutan akan kekecewaan meliputi nya.


" Tuhan, bantu aku menghadapi semua yang akan terjadi. Sungguh aku benar-benar takut." Doa nya dalam hati.


Flashback off...


Violetta dan Sean bertukar cerita meski tidak keseluruhan. Violetta tidak menceritakan tentang pemeriksaan. Ya seharusnya ia tidak terpengaruh pesan Luvena dan tetap di rumah akan tetapi semua tiba-tiba terjadi. Hati nya terlalu lemah hanya dengan kata-kata.


Sean menepati janji setidaknya itu yang dipikirkan Violetta. Pelukan menenangkan ia berikan pada sang adik. Apa pun alasan nya kepercayaan yang paling utama.


" Ayo kita makan! Kamu pasti belum makan dari kemarin. " Ajak Sean.


" Kakak tau? "


" Berarti benar, kakak cuma menebak dan kamu membenarkan. "


" Ish..... Dasar kakak menjebak ku. Tapi kakak salah aku sudah makan sebelum pulang tadi. "


...................................................



Di meja makan suasana sangat canggung. Tidak ada yang membuka suara, hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar. Mungkin lebih baik jika tadi Violetta menolak ajakan Sean.


" Papah..... Maaf , Vio gak bermaksud membuat kecewa. " Violetta bermaksud membuka suara.


" Jika kamu mengulangi nya lagi papah akan menghukum mu kali ini. " Ujar Alex dengan nada dingin.


" Seharusnya kita jangan memanjakan nya pah, sekarang dia jadi bertingkah seenak nya. " Celetuk Bryan.


" Pah, berhenti membuat nya sebagai putri. Dia udah besar dan bisa mengurus diri nya sendiri. " Timpal David.


" Kalian benar. Mulai sekarang terserah kamu akan melakukan apa, papah membebaskan mu. "


Sakit. Itu yang dirasakan Violetta saat ini, mendengar kata-kata dari ayah dan kakak nya. Ayah nya tak lagi peduli dan yang paling menyakitkan tak ingin mendengar apa pun alasan putri nya.


Ting... Violetta membanting sendok ditangan nya. Matanya menahan amarah dan cairan bening yang siap meluncur. Sean menggenggam tangan adik nya dan mengusap lembut.


" Mengapa kalian tak mau dengar penjelasan ku? "


" Gak ada yang perlu dijelaskan, semua sudah jelas. Kamu gak pulang semalaman. Memakai kemeja laki-laki. Dan kamu datang bersama laki-laki gak dikenal. Jelas bukan? " Ujar Bryan.


" CUKUP! KALIAN KETERLALUAN. Kalian gak mau dengar alasan nya. Kalian merasa benar? Padahal jelas kita yang salah mengabaikan nya begitu saja tanpa alasan. " Bela Sean.


" Jangan membela nya Sean! " Bentak Alex.


" Pah, papah janji gak bakal berubah tapi apa sekarang? "


" Apa maksud mu Sean? " Elak sang ayah.


" Biarkan saja, kak. "


Violetta meninggalkan meja makan, Sean ingin mengejar jika saja Nathan tidak menahan nya. Sebenarnya Alex tidak yakin putri nya melakukan hal buruk, ia terlalu dini. Semua terdiam setelah pertengkaran itu, menatap punggung Violetta yang bergetar menahan tangis.


Benar-benar tidak terduga. Hari ulang tahun nya yang ke 12 membuka lembar penderitaan nya. Ia ingat betul janji semua saudara nya yang akan selalu di samping nya dan memaafkan segala kesalahan nya.


Malam ini hujan kembali turun seperti hari sebelumnya ikut merasakan kesedihan Violetta. Bahkan bulan sedang bersembunyi tak sanggup melihat gadis itu merasakan kesedihan.


Bersambung.....