
Sabtu, xx Agustus 20xx
Seorang ibu yang semesti nya mengajarkan kebaikan pada anak nya telah mengubah hukum alam. Semua terjadi atas takdir dan menyalahkan mereka yang sebagai perantara adalah bukan hal yang benar.
Usia nya masih terlalu dini untuk mengerti kesalahan. Ego dan dukungan dari sang ibu mendorong agar terus melakukan tipuan. Ia sendiri dalam kehampaan. Menyulut api di dekat minyak sering dilakukan hanya saja dalam bentuk ringan.
...................................................
...next...
" Mam, apa rencana kita selanjutnya? Hari ini aku senang sekali, rasanya ingin cepat berlanjut. " Tanya gadis kecil itu pada ibu nya.
" Kamu tenang dong sayang, sabar. Perlahan tapi pasti jadi jangan khawatir. Mamih udah persiapkan semua dengan baik. Kamu ikuti saja intruksi mamih, okey? " Ujar Helen.
" Okey mam, aku percaya apa pun yang mamih persiapkan akan membuahkan keuntungan. " Luvena mengangguk setuju perkataan ibu nya.
" Ngomong-ngomong apa yang terjadi saat mamih dan papah bulan madu? Ada hal menarik atau sesuatu yang mempermudah rencana kita? "
Ya sebenarnya tujuan utama Helen mengajak putri nya ke rooftop memang ingin menanyakan hal itu.
" Banyak mam. Dengan ide kak Bryan pasti sekarang Violet curiga pada saudara-saudara nya. "
" Wow, apa itu? Kamu terlihat sangat senang. Cepat katakan! "
" Pertama entah bagaimana kak David selalu kelihatan menjaga jarak pada anak itu. Lalu kak Revian, dia lebih memilih menginap di luar dari pada pulang ke rumah. "
" Lalu siapa lagi? " Sela Helen.
" Tunggu mam, aku belum selesai. " Wajah Luvena cemberut saat Helen tiba-tiba menyela ucapan nya.
" Baiklah, lanjutkan! "
" Aku juga berhasil membuat Ed dan Ken mengalihkan perhatian dari Violet di sekolah. "
" Terus karena kesibukan kak Bryan juga kak Nathan. Waktu kebersamaan mereka berkurang. "
" Dan kalau kak James, yang ku dengar dia punya pacar jadi sering keluar rumah. "
" Bagaimana dengan Sean? " Helen sempat ragu jika Sean paling mudah menjadi umpan.
" Ah itu dia mam, walau pun dia sibuk dengan OSIS tapi selalu saja ia memperhatikan adik nya dari kejauhan. "
" Bukan masalah besar, kita bisa singkirkan dia secepat nya. "
" Mamih memang is the best, dan gak pernah mengecewakan ku. Love you..... "
" Love you to..... Ya udah, Luv. Ayo masuk! Kamu bisa tidur nyenyak malam ini. Anak sialan itu seperti nya gak akan pulang. "
Helen dan Luvena meninggalkan rooftop dengan senyuman terukir jelas di wajah mereka. Tanpa mereka sadari seseorang mendengar percakapan mereka akan tetapi hanya kalimat akhir saja.
...................................................
David baru saja selesai berendam setelah setengah jam lama nya. Pikiran nya kacau, ia membutuhkan pendingin untuk kepala nya. Meski cuaca menunjukkan ketidaknyamanan dan hari sudah cukup malam. Bahkan Sean yang memperingati nya dihiraukan begitu saja.
Adik tercinta-nya belum kembali, ia sedikit merasa bersalah. Ya hanya sedikit karena bayangan masa lalu mengalahkan kepedulian nya. Ego kini menguasai, sifat keras kepala dan ingin menang semakin besar.
" Ayah..... Bunda..... Aku gak tau harus apa, semua memang sudah terjadi. Tapi mengingat mereka seakan gak pernah terjadi apa-apa aku benci. Kak Rev mungkin bisa melupakan begitu saja, tapi aku gak bisa terus-menerus seperti ini. "
" Dia harus tau yang sebenarnya, aku akan segera memberitahu. Apa pun hasil nya, aku udah berusaha mengembalikan ingatan nya. Setidaknya aku gak akan menyesal setelah ini, meski masih belum sepenuhnya yakin. " Batinnya.
" Dav, lo lagi ngapain? "
" Jangan terlalu khawatir! Gue yakin Violet pasti baik-baik aja. " Ucap Revian menenangkan. Ya, ia datang membuyarkan lamunan sang adik.
" Apa lo gak berpikir kalau Violet merebut kebahagiaan kita? " Sang kakak mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.
" Gue gak bisa melupakan gitu aja. Ini benar-benar menyakitkan. " Revian tahu benar adik nya sangat terpukul saat itu.
" Listen me, kebahagiaan kita sekarang adalah melihat Violet tersenyum. She needs us to stay afloat. " David mengangguk membenarkan ucapan kakak-nya.
" Gue tau, sorry. Pikiran gue kacau akhir-akhir ini. "
" Udara dingin bisa bikin lo sakit, lebih baik kita sekarang masuk dan tidur. "
" But... Where is she now? We should be celebrating his birthday. " Ucap David yang tampak khawatir.
Revian terdiam dan memilih meninggalkan David. Ia sangat khawatir, di mana dan bagaimana adalah pertanyaan yang sedari tadi dipikirkan nya juga.
Jika saja Alex mengizinkan semua mencari. Pasti kini Xander bersaudara tidak hanya berdiam diri di rumah. Dan lebih memilih untuk mengurung diri di kamar masing-masing. Malam yang diharapkan penuh kebahagiaan seketika tandas begitu saja.
Minggu, xx Agustus 20xx
Pagi ini semua anggota keluarga kini berada di ruang tengah. Semalam Violetta tidak kembali ke rumah. Ponselnya tetap tidak aktif meski sebentar.
Mereka merasa bersalah meninggalkan nya sendiri dengan keadaan yang entah bagaimana. Rasa cemas meliputi mereka. Tentu saja kecuali anggota baru Xander family's. Helen dan Luvena.
Alex telah menghubungi polisi akan tetapi diminta menunggu 24 jam. Keano pun telah menanyakan teman-temannya dan hasil nya nihil. Tidak ada yang mengetahui keberadaan nya. Pada akhirnya Revian dan James memutuskan mencari sendiri. Diikuti Sean yang kini keadaan nya tampak kacau.
Tak lama kemudian setelah kepergian mereka bertiga terdengar suara deru mobil memasuki pekarangan rumah. Mendengar itu Nathan berlari menuju sumber suara.
Dilihat nya sang adik ke luar dari mobil bersama seorang laki-laki. Mungkin seumuran dengan Nathan atau mungkin Revian. Setelah itu mengucapkan terima kasih dan tersenyum. Laki-laki tersebut kembali memasuki mobil dan melambaikan tangan.
Violetta gadis yang sedari tadi ditunggu oleh keluarga nya itu melangkahkan kaki nya menuju teras. Dengan sedikit menyeret paksa kedua kaki nya. Wajahnya yang tampak pucat dan mata yang sembab terlihat jelas.
" Dari mana saja kamu? " Tanya Nathan saat adik nya tiba di hadapan nya.
Nada bicara nya yang dingin membuat Violetta membeku memikirkan jawaban yang tepat. Ia bersalah. Namun tidak sepenuh nya. Belum sempat ia berbicara tangannya ditarik kasar oleh seseorang. Mata nya membulat sempurna saat mengetahui pelaku nya.
Kak David? Kakak nya yang satu ini sangatlah lembut pada nya. Bagaimana mungkin ia tega menarik adik nya sekuat itu. Tubuh Violetta terseret mengikuti langkah sang kakak.
Diikuti Nathan di belakang nya yang tersirat wajah kecewa. Violetta sempat melihat nya. Sesampainya di ruang tengah semua berdiri melihat kedatangan nya. Alex tersenyum bahagia melihat putri nya kembali. Namun seketika senyum nya luntur melihat keadaan Violetta.
Keano dan Edward berniat menghampiri kembaran nya. Belum sempat mengambil langkah, Bryan mendekati nya terlebih dahulu. Ia menatap manik sang adik begitu lekat dan tatapan yang tak bisa diartikan.
Plak...
Satu tamparan keras mengenai pipi mulus Violetta. Ia terkejut kakak terbaik nya menampar nya. Bahkan tanpa bertanya apapun sebelumnya atau mendengar penjelasan adik nya. David dengan kasar menghempaskan tangan nya.
" Lihat! Dia udah besar bukan. Pergi semalaman tanpa pamit dan tanpa mengabari siapa pun. " Ucap David seraya menunjuk-nunjuk Violetta.
" Kamu mau jadi apa? Pulang pagi dengan kemeja laki-laki. Ponsel juga gak aktif. Semua cemas dan kamu..... " Ucap Bryan penuh emosi dan tekanan disetiap kata.
" BRYAN. JANGAN BERLEBIHAN! " Bentak Alex.
" Udahlah pah, jangan terlalu memanjakan anak ini mulai sekarang. Mungkin dia ingin bebas sebelum kehabisan waktu. "
" DAVID, JAGA UCAPAN MU! " Bentak Nathan.
" Luv, tolong antar Violet ke kamar ya. Dan Ken hubungi James, kabari mereka kalau Violet udah pulang. " Titah Alex.
Di sana tersisa Nathan, David dan Bryan. Nathan menatap sengit kedua saudara nya. David menghindari kontak mata kedua kakak nya. Sedangkan Bryan termenung mengingat tindakan nya. Ia seketika reflek melayangkan tangan seperti tadi, sungguh ia sama sekali tidak berniat menampar adik nya.
Adik kecil nya pergi tanpa kabar, pulang pagi dengan memakai kemeja laki-laki. Apa yang sebenarnya terjadi? Ia sampai tidak memperhatikan wajah pucat Violetta. Menyesal dan kecewa tercampur menjadi satu, tidak tahu mana yang mendominasi.
" Kenapa? " Tanya Nathan datar.
" Dia pantas mendapatkan nya. " Jawab David ringan.
" Bahkan kita belum dengar alasan nya. "
" Dia udah kelewatan. "
" Kalian lupa selama ini kita berusaha menjaga nya dan menyingkirkan setiap kesalahan yang dia perbuat. Dia sakit jika kalian lupa dan..... " Peringatan Nathan terpotong.
" Ck..... Sudahlah, dia yang memulai. Jangan bertengkar hanya karena hal sepele. " David berdecih dan menatap malas.
" Benar apa yang dikatakan David. Selama ini Violet meremehkan kita yang selalu memanjakan nya. Yang peduli tentang keadaan nya dan acuh pada kesalahan nya. " Bryan angkat bicara.
" Bahkan kita menyalahkan Ed dan Ken atas apa yang dia perbuat. Alasan apapun gue gak bisa terima lagi. "
" Tapi kak, kita perlu penjelasan. "
Bersambung.....