DON'T HATE ME

DON'T HATE ME
part 9 : rencana yang gagal



Sabtu, xx Agustus 20xx


Mereka merasa puas atas hasil nya meski yakin seseorang itu akan sangat marah nanti nya. Dan saat melihat kejutan ia akan melompat-lompat gembira. Itulah yang berada dalam bayangan mereka.


" Bryan, lebih baik kau jemput sekarang. Dia pasti kesal karena sendirian sejak siang. Ia baru saja menelpon dan papah abaikan. Don't forget to divert attention until we contact you! " Perintah Alex pada putra sulung nya.


...................................................


...next...



" Okey dad, I go first. Oh ya Ed..... Ken.....  Jangan membuat kerusuhan sampai-sampai kejutannya berantakan! "


Setelah mengatakan itu Bryan bergegas pergi. Sedangkan Edward dan Keano hanya tersenyum penuh arti. Mereka semua mulai beranjak satu persatu menuju parkiran restoran. Hingga tersisa David, Luvena dan Helen.


" Mam, tolong beritahu papah aku segera menyusul. Aku izin ke toilet sebentar. "


" Baik, jangan lama-lama Dav! "


" Okey.


" Come on Luv! "


" Wait mam. "


Helen mengernyit tak mengerti, Luvena tersenyum pada nya seakan mengatakan Let's start this game.


David tidak sengaja meninggalkan ponsel nya. Tak lama kemudian ponsel itu berdering menandakan panggilan masuk. Tertera nama yang sangat dibenci oleh kedua wanita di sana.


" Princess Letta " Gumam mereka.


Keduanya saling menatap, tersenyum dan tertawa dalam hati. Helen memilih meninggalkan putri nya agar terlihat alami apa yang telah direncanakan.


Permainan dimulai oleh sang korban sendiri dan menurut nya tidak begitu buruk. Luvena menggeser lingkaran hijau pada layar dan terhubung.


" Hallo..... "


" Luvena? "


Terdengar suara di seberang telepon. Segera gadis itu menutup panggilan secara sepihak. Lalu mengetikkan pesan dan send. Berhasil, tugas pertama nya adalah membuat mereka saling mencurigai.


" Luv, you are still here? "


" Ah iya kak, ini ponsel mu tertinggal. Tadi aku kembali lagi karena merasa ada yang kurang. "


" Baiklah. Kita harus segera pergi, mereka pasti menunggu lama. "


" Iya benar kak. "


Luvena merangkul lengan David tiba-tiba yang membuat sang empu sedikit terkejut. Sedangkan gadis itu tersenyum penuh kemenangan. Ini awal yang baik, pikir nya.


David berpikir apa mungkin adik tiri nya menyembunyikan sesuatu. Sedikit tidak percaya pengakuan gadis di samping nya tadi akan tetapi ia berusaha mengabaikan. Mereka berjalan menghampiri saudara nya yang masih di area parkir restoran.


...................................................



Terlihat James dan Sean tidak berhenti menggerutu sejak tadi. Pasalnya David dan Luvena tidak datang-datang. Revian yang melihat itu berusaha acuh dan fokus pada ponsel nya. David datang bersama Luvena yang tampak posesif merangkul lengan laki-laki itu.


" Dav, kenapa lo lama banget? Gue bisa jamuran karena nunggu lo berdua. Lo gak habis goda cewek dulu kan sebelum masuk toilet. " Ujar James terlihat sangat kesal.


" Enak aja, gue gak mungkin melakukan hal konyol kayak gitu. " Bantah David.


" Hei, kalian berhenti berdebat! Cepat kalian berdua masuk! " Perintah Revian yang siap dengan kemudi nya.


" Apa-apaan kau! "


Sean menatap tajam Luvena yang menerobos masuk dan duduk di samping nya. Sama hal nya dengan Sean, James juga mencebik kesal bersebelah dengan adik tiri nya.


" Aku hanya ingin duduk bersama kalian. Tidak boleh? "


" Terserah. " Jawab James mewakili.


" Gak! Kau duduk di depan aja sana. " Tolak Sean.


" Sudahlah biarkan, jangan berisik! " Ucap Revian menghentikan mereka.


Mobil yang ditumpangi Alex, Helen, Edward, Keano dan Nathan sudah terlebih dahulu melaju meninggalkan area restoran. Sehingga membuat Revian, James, David dan Sean terpaksa satu mobil bersama Luvena.


Kini Luvena tersenyum, duduk diam di antara Sean dan James. Sebenarnya tidak juga. Ia menyenderkan kepala nya pada bahu Sean yang sangat terlihat tidak nyaman. Revian dan David terkekeh melihat wajah sang adik dari spion depan.


..................................................



Sesampainya Bryan di kediaman Xander Family's ia merasa sedikit khawatir. Pasal nya lampu-lampu di dalam rumah tidak semua nya menyala dan emergency masih menunjukkan tanda on.


" Apa tadi listrik padam? " Ia cemas memikirkan keadaan adik nya yang sendirian.


" BABY..... KAMU DI MANA? " Teriaknya.


" VIO..... VIO..... "


" VIOLETTA! JANGAN MAIN-MAIN KELUARLAH! "


Bryan menelusuri setiap ruang dari mulai kamar adik kecil nya hingga kamar mandi bahkan gudang. Namun tidak dapat ia temukan adik nya tersebut.


" Pak..... hosh..... hosh..... tadi Violet hosh..... sudah pulang hosh..... ke rumah hosh..... kan pak? " Ujarnya ketika sampai di depan pos satpam sembari mengatur nafas.


" Benar tuan muda tapi baru saja nona Violet pergi sambil menangis. "


" Menangis? "


" Ya ampun... Maaf sayang, kakak meninggalkan kamu terlalu lama. Semoga kamu baik-baik aja. Kita cuma mau membuat kejutan bukan nya masalah baru. "


Bryan tidak percaya, Violetta bukan gadis cengeng bahkan saat diri nya terluka ia selalu menunjukkan senyum terbaik nya.


" Apa dia bilang mau pergi ke mana gitu pak? "


" Maaf tuan, saat saya akan bertanya nona Violet terburu-buru pergi. "


" Begitu ya. Oh ya, apa tadi listrik padam? "


" Betul tuan, listrik padam sejak siang dan tepat setelah nona Violet pergi listrik baru menyala. "


" Yah baiklah pak, saya pergi dulu. Nanti kalau Violet udah balik hubungi saya. "


" Ya tuan hati-hati. "


Hatinya cemas bagaimana mungkin ia dan yang lain tidak memikirkan hal ini bisa terjadi. Sekarang ia tidak tahu harus mencari sang adik di mana. Adik nya yang satu ini tidak pernah pergi sendiri apalagi kini hari telah malam.


" Apa yang harus gue bilang ke semua? Ide bodoh gue pasti bikin salah sangka. Di mana kamu Letta? Udah seminggu kita jarang ketemu dan sekarang kamu pergi. Kakak merindukan mu sayang, cepat kembali. Maaf... "


Mobil nya melaju cepat menuju pantai. Ia yakin semua sedang bersiap untuk menyambut putri satu-satu nya Xander Family's. Anak kesayangan Alex.


Ini hari ulang tahun nya atau lebih tepat nya besok akan tetapi karena kedua adik nya yang lain ulang tahun hari ini jadi semua sepakat menggabungkan nya.


...................................................



Bryan memarkirkan mobil nya dengan sembarang. Pikiran nya kacau, di perjalanan ia berusaha menghubungi Violetta. Namun nihil ponsel nya tidak aktif. Ini salah nya, semua sepakat mematikan ponsel sesuai usul nya kecuali Alex.


" Pah... Papah... hosh... hosh... Vi... Violet... hosh... hosh... "


" Hei, atur nafas mu terlebih dahulu. " Ucap Alex sambil menepuk pundak putra sulung nya.


" Katakan yang jelas kak, ada apa? " Tanya Sean, ia merasa gelisah sedari tadi.


" Di mana Violet? " Tanya Revian seraya mengedarkan penglihatan nya.


" Lo datang sendiri? " Tanya James memastikan.


" Di mana Letta? " Keano melambaikan tangan tepat di hadapan Bryan.


" Apa yang terjadi? " Nathan menatap intens.


" Kak, katakan! Di mana Letta? " Ucap Edward sedikit membentak.


Semua khawatir melihat Bryan datang tanpa Violetta. Begitu juga David hanya saja ia memilih diam. Tatapan mengintimidasi tertuju pada Bryan. Ia berusaha tenang meski diri nya sangat panik. Ya, semua panik kecuali Helen dan Luvena.


" Bagaimana, Bry? " Alex memecahkan keheningan yang sempat terjadi.


" Huft, dia gak ada di rumah. Bryan gak tau di mana dia sekarang, pah. Sejak siang listrik padam dan gue udah coba hubungi tapi ponsel nya gak aktif. "


Terdengar helaan nafas berat. Bagaimana semua bisa terjadi. Mereka semua tidak memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi.


Violetta pergi tanpa kabar sama hal nya dengan mereka. Pesta yang telah disiapkan seakan sia-sia. Garis kekecewaan tampak jelas pada wajah mereka.


" Ed..... Kau tau Vio dekat dengan siapa di sekolah? "


" I don't know dad. " Jawab Edward.


" Kurasa hanya dengan kami. " Sambung Sean.


" Ken... Bisa kau tanyakan di grup kelas mu. Mungkin ada yang mengetahui nya. "


" Yes dad, I will try it. "


" Lebih baik kita kembali. Kemasi semua nya sekarang! "


" Tapi... "


" Maaf Ken... Ed... Kita tidak... " Alex menyela ucapan Helen yang tampak ragu.


" No problem. "


Pada akhir nya mereka memutuskan merapikan semua dan kembali ke rumah. Tidak ada yang menyadari kedua wanita di sana tersenyum puas. Mengemas barang-barang dengan penuh semangat berbeda saat menata tadi mereka sungguh sangat malas.


...................................................



Di bawah cahaya lampu yang redup tampak dua sosok saling berhadapan. Mereka tengah merayakan keadaan yang memburuk pada keluarga baru nya. Langkah demi langkah akan mereka jalani sesuai keinginan diri mereka. Bahkan berakibat fatal pun tidak akan merubah jalan pikir mereka.


Seorang ibu yang semestinya mengajarkan kebaikan pada anak nya telah mengubah hukum alam. Semua terjadi atas takdir dan menyalahkan mereka yang sebagai perantara adalah bukan hal yang benar.


Usia nya masih terlalu dini untuk mengerti kesalahan. Ego dan dukungan dari sang ibu mendorong agar terus melakukan tipuan. Ia sendiri dalam kehampaan. Menyulut api di dekat minyak sering dilakukan hanya saja dalam bentuk ringan.


" Mam, apa rencana kita selanjutnya? " Tanya gadis kecil itu pada ibu nya.


Bersambung.....