
Setelah dari taman mereka pun pulang. Yudi mengantar Cecil sampai di depan rumahnya. "Sayang, mau berangkat jam berapa besok ke rumah Tante Mery," tanya Yudi kepada Cecil sebelum dia pulang.
"Besok kalau sudah rapi aku kabarin ya Mas," jawab Cecil. "Hati - hati dijalan Mas," lanjutnya. Yudi membalasnya dengan mencium punggung tangan Cecil dan mengusap lembut pipinya.
Di kamarnya Yudi tidak bisa tidur, Dia selalu memikirkan little girl kekasihnya. Setiap Dia memejamkan matanya, hanya wajah Cecil yang muncul. Dia sangat takut, cemas, bagaimana jika sampai terjadi. Dia mengambil bingkai foto kekasihnya yang ada di atas nakas, sambil memeluknya dan Yudi pun tertidur.
Pagi setelah siap membereskan barang - barang pribadi miliknya, Cecil pun mengirimkan pesan kepada Yudi, "Mas, aku dah siap. Sekarang aku mau mandi dulu." Terkirim dan tidak lama mendapat balasan, "Oke Sayang tunggu ya bentar lagi Mas jemput."
Tiba - tiba hujan turun, mau tidak mau Yudi harus menggunakan mobilnya. Yudi memiliki semuanya, sebenarnya Dia adalah anak seorang pengusaha asal kota B. Karena perjodohan yang tidak bisa ditolaknya, Yudi pun setuju untuk menikah dengan syarat Dia tidak mau tinggal di kota B. Dia harus jauh dari keluarganya karena pernikahannya dengan Intan hanya kesepakatannya.
Sampai di rumah Cecil, "Mas, kok kamu udah datang saja. Di luar masih hujan, kenapa tidak menunggu sampai reda," ucap Cecil terkejut. "Tunggu, tapi kamu ga basah sama sekali Mas, dan motornya dimana?" lanjut tanya heran melihat keluar tidak ada motor Yudi.
"Mas ga pake motor Sayang, tapi Mas pake mobil datang ke sini," ucap Yudi membuat Cecil mengerutkan keningnya tidak percaya. "Pinjam punya teman, Mas tidak mungkin membiarkan my little girl kehujanan," lanjut Yudi sambil memencet hidung mungil Cecil.
Akhirnya mereka berangkat menuju rumah Tante Mery, setealah pamit kepada kedua orang tua Cecil. Dan juga mengirim pesan kepada Tante Mery bahwa Cecil menuju ke sana. Di jalan hujan semakin deras. "Mas, hati - hati hujannya deras sekali," ucap Cecil khawatir.
Yudi menggengam tangan Cecil dengan tangan kirinya dan menciumnya. Cecil hanya tersenyum melihat Yudi.
Sampainya di rumah Tante Mery. "Tante rapi sekali, mau kemana hujan begini," tanya Cecil heran.
"Tante mau arisan sama temen - teman. Bentar lagi juga datang mau jemput Tante," jawab Tante Mery. " Kamu Tante tinggal arisan tidak apa - apa ya ? Tuh kayaknya di depan temen Tantre sudah datang." Lanjut Tante Mery.
Di rumah Tante Mery hanya ada Cecil dan Yudi. Yudi membantu Cecil membereskan barang - barangnya. Cecil mengangkat kedua tangannya ingin mengikat rambutnya karena merasa gerah. Tapi tiba - tiba, tangannya ditahan, "Mas, aku gerah jadi mau ikat sebentar," ucap Cecil dan digantikan dengan Yudi yang mengikatnya. Yudi tidak suka rambut Cecil yang di ikat. Setelah mengikatnya, kedua tangan Yudi berpindah memeluk pinggang Cecil. "Kamu tahu, dengan kamu mengikat rambut ini dan memperlihatkan semua bagian lehermu, Mas tidak bisa tahan," bisik Yudi dan langsung mencium leher putih Cecil serta meninggalkan jejak kepemilikkannya di sana.
Cecil pun kaget dan langsung membalikkan badannya menghadap Yudi. Belum mengucapkan apapun Yudi langsung mencium bibir mungil Cecil. Mereka terhanyut dalam suasana romantis. Cecil dibuat melayang indah oleh ciuman Yudi. Perlahan dan lama mereka saling menyatukan bibir dan lidahnya. Tanpa sadar Cecil melingkarkan kedua tangannya ke leher Yudi. Saat mereka berdua jatuh ke ranjang. Adegan tersebut selesai, keduanya langsung mengontrol diri masing - masing.
"Sayang, maaf," ucap Yudi langsung berlutut dan memegang kedua tangan Cecil. "Mas sudah bilang jangan pernah mengikat rambutmu ke atas," lanjutnya menyesal.
Cecil tertawa melihat Yudi yang berlutut memohon maaf, ini bukan kesalahan Yudi saja, tapi Dia juga salah. Cecil tersenyum dan membangunkan Yudi dari berlulutnya. Mereka berdua duduk di tepi ranjang. "Sayang, bagaimana kalau kita menikah sirih dulu," ucap Yudi. Mendengar perkataan itu membuat Cecil mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya. "Mas sangat mencintaimu dan sudah tidak tahan jika harus jauh darimu Sayang," lanjut Yudi dan langsung memeluk Cecil.
"Maaf Mas, aku tidak bisa. Aku juga cinta sama Mas. Tapi kalau menikah sirih keluargaku pasti akan sangat marah," jawab Cecil.
Yudi mengerti itu, tapi dipikirannya sudah takut akan kehilangan Cecil. Dia perlahan membuka ikatan rambut Cecil, lalu mergeraikan rambutnya dengan jari. "Jangan lakukan itu lagi, atau Mas tidak akan melepaskanmu nanti," bisik Yudi.
Cecil tertawa saat melepaskan pelukannya. "Kalau di rumah melihat Intan mengikat rambutnya berarti Mas juga.....," ucapan Cecil terpotong karena Yudi langsung mencium bibir dan mengigitnya pelan. "Au... sakit, Mas jahat," ucap Cecil cemberut dan memegang bibirnya yang digigit Yudi. "Kamu cemburu ya ?" Goda Yudi.
"Tidak.... siapa bilang. Aku cuma tanya, katanya Mas tidak tahan kalau lihat aku mengikat rambut, bagaimana dengan Intan," ucap Cecil cemberut.
"Mas, aku lapar," ucap Cecil manja.
"Kita pesan makanan saja ya ?" Tanya Yudi dan dijawab anggukan kepala oleh Cecil.
Mereka menunggu pesanan makanannya sambil menonton TV. Kemudian pesanannya pun tiba, mereka berdua memakannya. Masih di ruang TV, Cecil tanpa disadari sudah tertidur dipelukan Yudi.
Yudi mengusap lembut pipi kekasihnya, membelai rambutnya dan mengecup kening wanita yang paling Dia cintai. "Sayang, aku mencintaimu," bisik Yudi. Akhirnya mereka pun tertidur di sofa depan TV. Sampai sore Yudi terbangun, mendengar hp nya berbunyi. "Halo.... apa yang terjadi ? Baiklah, aku segera pulang," jawaban Yudi dari kabar si penelpon. Karena jawaban Yudi yang panik dan kaget, membuat Cecil terbangun dari pelukannya. "Sayang, maaf kamu jadi terbangun," ucap Yudi yang melihat Cecil bangun.
"Tidak apa - apa, siapa yang telpon ?" Tanya Cecil cemas. Dia merasa seperti terjadi sesuatu sampai Yudi terlihat gelisah.
"Kakak menelpon, katanya Papa sakit dan sekarang di rawat di rumah sakit," jawab Yudi sambil merapikan rambut Cecil.
"Ya sudah, Mas pulang saja dan langsung ke rumah sakit," ucap Cecil, dan ingin bangun dari sofa tapi ditahan oleh Yudi. Entah mengapa Cecil pun merasa hatinya mulai gelisah lagi. "Kenapa, aku mau ke kamar mandi Mas, " lanjutnya dan melepaskan tangan Yudi darinya.
Di dalam kamar mandi Cecil menangis,
Mengapa harus seperti ini ?
Mengapa harus jatuh cinta yang salah ?
Mengapa sulit untuk melepasnya ?
Yudi yang mengikuti Cecil ke kamar mandi, menunggu di depan pintu, lalu dia mendengar Cecil menangis dan apa yg dikatakannya. Yudi merasa cemas mendengar itu semua. Ketika membuka pintu Cecil kaget melihat Yudi ada di depannya. Dia langsung menunduk dan berjalan mendahului Yudi.
"Sayang," panggil Yudi dan membalikkan tubuh Cecil menghadapnya. Mengangkat dagu Cecil ke atas agar bisa menatapnya. Di sana terlihat matanya yang merah dan akan menetes lagi. Yudi langsung memeluknya dan begitu pun Cecil menangis dipelukan Yudi. " Sayang, dengar jangan lakukan itu. Mas tidak akan melepaskan kamu, Mas janji setelah Papa sembuh dari sakitnya, Mas akan bercerai dan segera menikahi kamu. Mas juga tidak mau berpisah dari kamu. Tolong kamu bersabar dan percaya," ucap Yudi. Lalu melepaskan pelukannya dan menghapus air mata di pipi Cecil. "Apa sekarang saja kita langsung menikah ke KUA," goda Yudi namun serius. Cecil menjawabnya dengan menggelengkan kepala dan cemberut. " Besok Mas tidak bisa menjemput kamu, jangan nakal ya," ucap Yudi dan mencium bibir mungil itu sebelum dia pulang. "Mas harus pergi ke rumah sakit sekarang. Jangan sampai telat makan. I Love U, My little girl," lanjutnya dan mencium kening Cecil.
Cecil hanya diam dan tersenyum di depan Yudi, entah apa yang harus dia katakan. Hatinya bingung haruskah bertahan atau pergi. "Sayang, kenapa diam saja. Ya sudah kalau begitu kita menikah saja sekarang," ucap Yudi membuat Cecil kaget.
"Hati - hati di jalan Sayang," jawab Cecil lalu mendorong Yudi ke arah mobilnya. "Senangnya di panggil Sayang," goda Yudi dan membuat Cecil malu dan "CUP" Yudi menciumnya sekilas sebelum membuka pintu mobilnya. Lambaian tangan Cecil terasa berat, saat mobil Yudi berlalu hati nya terasa sepi.
**** *To Be Continue ***
Terima kasih untuk semua pembaca yang setia menunggu up berikutnya. Mohon maaf up kali ini terlambat, mohon bantuannya jangan lupa, LIKE, COMMENT, BINTANG, FAVORITE, DAN VOTE nya. 👍 😘 ⭐ ❤
Buat Nanas dan Leo terima kasih sudah menyemangati aku untuk menyelesaikan up nya. I Love U. 😘😘😘**