
Kembalinya Noval ke rumah, Dia langsung menemui Cecil di kamarnya. Dia sangat kesal mengingat pertemuannya dengan Yudi tadi. Cecil saat itu sedang berbaring di ranjang dangan memainkan hp nya. Noval duduk di tepi ranjang, "Little girl," panggil Noval. Mendengar panggilan Noval dengan suara agak kesal, membuat Cecil bangun dan duduk menghadapnya. "Ada apa Kak?" Tanya Cecil pada Noval.
"Lebih baik kamu putus saja dengan Yudi," ucap Noval.
Mendengar apa yang dikatakan Noval, Cecil terdiam dan tanpa sadar Ia meneteskan air matanya.
"Kamu, Little girl kami. Tidak ada yang boleh menyakiti kamu," ucap Noval. Kemudian Noval mendekati wajah Cecil, mengusap air mata di pipinya. Dan memeluknya, mungkin ini akan berat dan sakit untuk seorang perempuan, jika harus memutuskan hubungan dengan orang yang dicintai.
Setelah Cecil melepaskan pelukannya, Dia pun bercerita bahwa sudah mengetahui status Yudi dari awal. Dan menjelaskan bagaimana hubungan yang yang mereka jalani. Mendengar apa yang diceritakan adiknya, Noval tidak menyangka bahwa Cecil sudah terlanjur mencintainya, begitu pun dengan Yudi.
"Baiklah, Kakak harap kamu mulai perlahan menjaga jarak dari Yudi," ucap Noval dengan mengusap lembut rambut Cecil sebelum meninggalkan kamar.
Keesokan hari, seperti biasa mereka melakukan aktivitasnya. Setelah pulang kuliah Yudi mengajak Cecil makan malam. Dia akan membicarakan masalahnya dengan Noval kemarin.
"Sayang," panggil Yudi dengan menggengam kedua tangan Cecil. "Maaf, kemarin Mas dan Noval sempat bertengkar, Dia melihat Mas bersama keluarga sedang makan siang dan Dia mendengar semua pembicaraan kami," ucap Yudi sambil mencium punggung tangan Cecil. "Dan Dia sangat marah, Mas ingin menjelaskan yang sebenarnya, tetapi karena emosi Noval tidak mau mendengarkan dulu," lanjut Yudi.
"Hmm, ga apa - apa Mas. Aku sudah menjelaskan semuanya kepada Kak Noval kemarin, saat Dia pulang ke rumah," ucap Cecil dengan tersenyum, agar Yudi tidak cemas dengannya. "Tapi mungkin Kak Noval tidak akan seperti biasa lagi, Dia sangat kecewa mengetahui semuanya. Dan Kak Noval akan berubah, jika Mas Yudi sudah bisa mengambil keputusan untuk hubungan kita," lanjut Cecil.
"Kamu percaya sama Mas kan, Sayang. Beri Mas waktu sebentar lagi oke," ucap Yudi memohon. Mendengar ucapan tersebut, Cecil hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya pelan.
Tapi maaf Mas, aku harus menjauhimu. Aku takut jika Orang tuaku sampai mengetahui semuanya, mereka tidak akan seperti Kak Noval yang bisa mengerti akan perasaanku. Batin Cecil.
Hampir satu minggu, di kantor setelah rapat selesai Cecil menemui Om Hary. Dia meminta di pindahkan ke kantor cabang lain. Karena di kantor cabang lain ada posisi kosong, akhirnya Cecil disetujui untuk pindah. Cecil menjelaskan kepada Yudi, bahwa mulai minggu depan Dia akan pindah ke kantor cabang. Yudi pun terkejut mengapa Cecil setuju untuk di pindahkan, kantor cabang yang letaknya lebih jauh dan tidak searah lagi. Tapi Yudi tetap bersikeras ingin mengantar dan menjemput Cecil. Dia sangat takut gadis kecilnya akan pergi menjauh bahkan meninggalkannya. Yudi tidak akan membiarkan Cecil berbuat itu.
Untuk saat ini, Aku hanya bisa menuruti Mas Yudi yang tetap ingin mengantar dan menjemputku. Semenjak sakit dan ketahuan oleh Kak Noval, Mas Yudi menjadi lebih perhatian dalam apapun menyangkut diriku dan tidak pernah membiarkanku pergi kemana pun sendiri. Aku harus mencari cara lain lagi untuk menjauhinya.
Seminggu di kantor cabang baru, Cecil harus berangkat lebih pagi dari biasanya, karena Yudi selalu mengantarnya dan itu membutuhkan waktu untuk Yudi bisa sampai ke kantornya tidak telat. Noval yang melihat Yudi sepertinya tidak mau melepaskan Cecil, akhirnya Noval memberi saran kepada adiknya, "Little girl, bagaimana kalau sementara kamu tinggal bersama Tante Mery. Jarak kantormu yang sekarang dan rumah Tante Mery tidak begitu jauh, jadi kamu tidak perlu berangkat lebih pagi dari biasanya," ucap Noval pada Cecil dan disetujuinya.
"Terima kasih Kak Noval, Aku akan mengikuti saran Kakak," jawab Cecil.
Malam minggu setelah pulang dari kampus, Yudi mengajaknya makan malam. Saat yang tepat untuk membicarakan rencana pindahnya ke rumah Tante Mery. "Mas, mulai besok aku akan tinggal dengan Tante Mery, jadi kamu setiap pagi tidak usah mengantarku lagi ke kantor," ucap Cecil. Mendengar perkataan tersebut membuat Yudi meletakkan sendok dan garpunya, selera makannya hilang seketika. Lagi - lagi, gadis kecilnya mencari alasan untuk menjauh.
Cecil segera menyelesaikan makannya, Dia tahu Yudi akan bereaksi seperti itu. Setelah selesai, Yudi membayar semua makanannya dan membawa Cecil pergi tanpa bicara apapun. Melihat sikapnya Cecil hanya mengikuti Yudi untuk membawanya pergi.
Yudi berhenti di taman, tempat dimana mereka pernah saling mencurahkan isi hatinya. Masih tanpa bicara Yudi berjalan dan merangkul Cecil. Duduk ditempat yang sama seperti malam itu, hanya berbeda langit tidak terang karena hanya ada bulan tanpa bintang.
"Sayang... kenapa kamu harus pindah ke rumah Tante Mery, apa mamang kamu mau meninggalkan Mas ?" Tanya Yudi dengan tatapan sedihnya. "Kamu ingat pertama kita kemari. Kenapa kamu mengingkarinya?" lanjut Yudi.
"Mas, bukan begitu... Aku hanya tidak mau merepotkan kamu," jawab Cecil.
"Apa yang kamu katakan, merepotkan ?" Tanya Yudi kesal dan membuang pandangannya. "Kamu berubah, Mas tahu kalau kamu mau meninggalkan Mas dan mencari berbagai alasan untuk menjauh kan ?" lanjut nya.
"Bukan... bukan seperti itu," jawab Cecil bingung, apa yang harus dikatakan jika Yudi sudah tahu akan maksudnya. Cecil pun langsung memeluk Yudi, "Maafkan Aku... maaf... maaf."
Yudi membalas pelukan itu, mendekapnya sangat erat. Seakan tidak rela untuk melepaskannya. Mencium rambut gadis kecil didalam dekapannya. Yudi mengangkat wajah Cecil menghadapnya, menghapus air mata di pipi gadis kecilnya.
"My little girl ingatlah kalau kamu adalah bintangku dan Mas adalah bulan. Jika kamu tidak ada disisiku, maka Mas akan seperti bulan malam ini, sendirian, gelap dan dingin tanpa bintangnya," ucap Yudi dengan menunjuk ke arah bulan di langit. "I Love U," lanjutnya dan mencium bibir mungil gadis kecilnya. Mencium dengan lembut tanpa ingin melepasnya, beberapa menit sampai Cecil hampir susah bernapas, Yudi menahan tengkuk lehernya agar Cecil tidak bisa melepaskan ciumannya. Akhirnya ciuman itu terlepas saat Cecil menggigit bibir Yudi.
"Mas bibirnya luka, maaf aku tidak sengaja. Mas juga tidak mau lepas, Aku kan tidak bisa bernapas kalau terlalu lama," ucap Cecil dan mengusap bibir Yudi yang luka.
Yudi tersenyum mengambil tangan Cecil yang sedang mengusap bibirnya, Dia menundukkan kepalanya dan ingin mencium kembali. "Mas mau ngapain," ucap Cecil dan menahannya. "Obat lukanya ada di bibirmu," jawab Yudi menggoda.
"Jangan modus Mas, bilang aja Kamu mau cium Aku lagi." ucap Cecil dan mencubit perut Yudi.
"Tapi Kamu juga suka kan," goda Yudi. "Sayang, jangan tinggalkan Aku. Aku sangat mencintaimu." lanjutnya dan memeluk Cecil.
"Aku juga cinta sama Mas Yudi."
"Besok antar aku ke rumah Tante Mery ya," ucap Cecil. Yudi menjawabnya dengan menunjukkan arah bibirnya, memang harus seperti ini merayu cowo tampannya yang sangat posesif akut. Dan Cecil pun menciumnya, saat ingin melepaskan Yudi membalas menggigit bibir mungil Cecil. "Auuuu, sakit Mas," ucap Cecil dan langsung dicium kembali bibirnya, Yudi menghisap lembut bibir Cecil yang luka.
Akhirnya masalah malam ini selesai dengan indah, walaupun mendapatkan tanda luka.
******To Be Continue ***
Terima kasih sudah membaca dan setia menunggu kelanjutan ceritanya. Maaf jika ada kesalahan dalam naskahnya, jangan lupa.... ditunggu ya COMMENT, LIKE & VOTE*. 😘 ❤ 👍**.