DIVA AND THE BRANDALS

DIVA AND THE BRANDALS
DIVA Nine



Hara memberitahukan Dru jika ia terluka saat perjalanan pulang dari rumah neneknya. Ia sengaja menceritakan kejadian yang masuk akal hingga dengan mudah diterima oleh sahabatnya itu.


Setelah mendengar cerita Hara, Dru mengantar sahabatnya itu ke rumah sakit.


Saat di rumah sakit, Hara meminta kepada Dru untuk berhenti menjadi pelindung bagi teman-teman mereka yang selalu di rundung.


"Kenapa kamu bilang begitu, memangnya ada masalah?" tanya Dru


"Kau lihat kan sekarang aku tak sekuat dulu lagi, tubuhku sekarang sudah ringkih. Jangankan untuk menghajar para preman, untuk bertahan aja sulit," jawab Hara


"Ok, apapun keputusan mu aku ikut aja. Asalkan kau bahagia,"


"Astaghfirullah, amit-amit jabang bayi tujuh turunan, 8 tanjakan, 9 pengkolan jangan sampai punya anak kaya dia," celetukan Hara


Seketika Dru tertawa mendengar celetukan Hara.


**********


Sementara itu Sammy menyampaikan kepada Diva untuk pindah sekolah dengan alasan permintaan ibunya.


Namun Diva menolak karena setahunya ibunya tak meminta seperti itu dalam surat terakhirnya.


"Ayolah Diva, semua ini demi kebaikan mu, jika kau mau ibumu bahagia di alam sana maka ikuti kata-kata Om," meskipun Sammy terus membujuk Diva namun gadis itu tetap bersikeras tak mau pindah sekolah.


"Aku merasakan ada yang om dan mamah sembunyikan dari ku. Mulai dari mamah yang tiba-tiba menitipkan aku kepada Om dengan alasan yang tidak jelas padahal sebelumnya ia terbiasa meninggalkan aku sendirian di rumah berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Tapi tiba-tiba saja dengan alasan khawatir terjadi sesuatu padaku ia menitipkan aku sama Om. Dan tidak lama mamah meninggal, bukankah itu sesuatu yang janggal??" tanya Diva membuat Sammy seketika terdiam


"Dan sekarang Om memintaku untuk pindah sekolah dengan alasan permintaan mamah. Meski aku ini anak yang bodoh tetap saja sebagai anak aku juga punya firasat tentang mamah. Jadi maaf Om aku tidak akan pindah apapun alasannya. Dan jika Om keberatan aku tinggal di sini, aku dengan senang hati akan kembali lagi ke rumah ku sendiri,"


Sammy merasa bersalah saat melihat raut wajah gusar Diva. Bagaimanapun ia tetap tak bisa membiarkan gadis itu tinggal sendirian di rumahnya.


Meskipun ia tak bisa meluluhkan hati Diva, sammy tak putus asa. Ia bahkan meminta Rakha untuk membujuk Diva agar pindah sekolah.


Meskipun awalnya Rakha menolak untuk membujuk gadis itu namun setelah mendengar alasan dari ayahnya ia kemudian mencoba membujuk Diva.


"Kenapa ayah tidak memberitahu Diva tentang Tante Rachel??"


"Aku tidak berani, aku takut dia shock saat tahu profesi ibunya. Lebih baik dia tidak tahu apapun tentangnya," jawab Sammy membetulkan kacamatanya


"Tapi lambat laun dia juga akan tahu ayah, dan mungkin akan menyakitkan jika ia tahu dari orang lain,"


"Mungkin saat waktunya tepat aku akan memberitahunya," Sammy berharap jika Rakha bisa membujuk Diva untuk pindah sekolah.


Rakha mengetuk pintu kamar Diva, tidak lama gadis itu keluar dengan wajah sembabnya.


Rakha berpikir jika Diva baru saja menangis hingga mengurungkan niatnya.


"Ada apa?"


"Gak papa, hanya mau kasih ini buat kamu," Rakha memberikan sebuah coklat kepadanya


"So sweat banget sih, jadi makin cinta," jawab Diva berseri-seri


Seketika Rakha menjadi ill feel saat melihat wajah Diva yang tersipu-sipu.


"Ah sial, jangan sampai dia salah paham!" gerutu Rakha


Benar saja pagi harinya Diva sengaja bangun pagi untuk membuat sarapan pagi.


Sammy yang mencium bau gosong segera berlari ke dapur untuk melihat apa yang terbakar.


Ia terkejut saat mendapati telor yang di goreng Diva gosong.


"Kenapa telornya sampai gosong gini?" seru Sammy


Melihat Dapur berantakan membuat Sammy meminta Diva untuk berhenti memasak. Namun gadis itu tetap bersikeras membantunya memasak.


Rakha begitu terkejut saat melihat begitu banyak menu di meja makan. Lalu dengan bangganya Diva mengatakan jika ia sengaja memasak menu spesial untuknya sebagai perpisahan.


Tentu saja hal itu membuat Sammy dan Rakha terkejut mendengarnya.


"Perpisahan, memangnya kau mau kemana?" tanya Sammy


"Seperti kata Om, aku mau pindah sekolah. Setelah saya pikirkan semalaman suntuk mungkin aku memang harus berubah untuk mendapatkan sesuatu yang aku inginkan," jawab Diva


"Syukurlah kalau begitu, Om senang mendengarnya. Tapi ngomong-ngomong memangnya apa yang ingin kau dapatkan sampai bersedia belajar di luar negeri?" tanya Sammy penasaran


"Aku mau jadi pacar Rakha?" jawab Diva begitu polos membuat Rakha seketika tersedak mendengarnya


Berbeda dengan Rakha, Sammy justru tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Diva.


"Aku setuju sekali Diva, semoga saja kau berhasil menjadi cewek idaman Rakha setelah belajar di luar negeri,"


"Apaan si ayah!" cibir Rakha


"Memangnya bagaimana ciri wanita idaman Rakha Om?"


"Yang pertama harus pinter, kedua rapih, bersih, dan wangi," jawab Sammy


"Alhamdulillah semuanya ada di aku kecuali pinter. Tapi Om setuju kan kalau aku pacaran sama Rakha,"


"Tentu saja,"


"Makasih Om, aku janji akan menjadi menantu idaman bagi Om," jawab Diva begitu bersemangat


"Ok, kalau begitu setelah ini kamu siap-siap. Kebetulan Om sudah punya tiket pesawat untuk penerbangan sore ini,"


"Ah sial, kenapa hari ini. Kalau begitu aku harus berpamitan dulu dengan Dru dan Hara," Diva segera berlari meninggalkan rumah itu.


Ia sengaja pergi ke sekolah untuk bertemu dengan Har dan Dru.


Ia terkejut saat melihat Dru di depan kelas. Melihat wajahnya yang tampak pucat membuat gadis itu langsung menghampirinya.


"Darimana saja kau selama ini, kenapa baru kelihatan!" seru Diva sambil memukulinya.


Hara meringis kesakitan saat gadis itu terus menunjuknya. Namun Har rak bisa menghentikannya.


Ia tetap tak melawan bisa melarang Diva. Dru yang Melihatnya seketika langsung memaki Diva.


"Meskipun Har bukan seseorang yang spesial untuk ku, tapi tetap saj Gue merasa harus menunjukkan perhatian ku kepadanya," ucap Dru menghampiri mereka


"Memangnya kenapa, apa kamu pikirkan tentang ku!" seru Diva


"Tidak ada aku hanya mau bilang jangan sentuh Hara jika tak mau berurusan denganku?" timpal Dru dengan mata melotot.


"Wow, Diva !" seru Dru


Melihat ada yang berbeda Dru Diva segera menanyakan apa yang terjadi kepadanya.


Seketika Diva yang merasa terpukau melihat Dru dan Hara saling berpelukan.


"Aku juga ikut!" serunya


Diva tiba-tiba memeluk pemuda itu membuat kedua pria itu seketika membuka tangannya.


"Aku sayang kalian berdua!" seru Diva memeluk Hara