DIVA AND THE BRANDALS

DIVA AND THE BRANDALS
DIVA Twenty Eight



*Tak, tak, tak!


Gandhi segera menarik Diva dan mendorongnya masuk kedalam gudang saat mendengar suara derap langkah Herly memasuki kediamannya.


Seorang pria tinggi besar berdiri di depannya. Dia adalah Herly ketua gengster Dark Samus sekaligus ayah dari Ricky.


"Aku dengar Ricky terlibat tawuran pelajar, apa itu benar?" tanyanya dengan wajah sangar


Seketika semua orang tercengang mendengar ucapan Herly. Tentu saja diantara mereka Gandhilah yang merasa paling tegang.


"Maaf aku terlalu sibuk menangani pembebasan lahan jadi belum mendengar kabar itu," jawab Gandhi mencoba mencari alibi yang tepat


Herly segera memberikan ponselnya kepada Gandhi.


"Ini bukan tawuran biasa karena sudah masuk kolom berita utama. Aku mau kau selesaikan masalah ini secepatnya. Aku tak mau nama baikku rusak karena berita sampah seperti ini. Bila perlu bungkam para siswa itu agar tak ada berita lagi," ujar Herly


"Baik Bos,"


Herly kemudian duduk di sofa dan memandangi 4 gelas yang ada di atas meja.


"Sepertinya kau baru saja menerima tamu," ucap Herly kemudian menyalakan sebatang rokok


"Benar, mereka adalah perwakilan dari pemilik lahan," jawab Gandhi kemudian duduk di samping Herly


"Bagaimana kelanjutan proyek kita?" tanya Herly


"Semuanya berjalan sesuai rencana,"


Herly tersenyum senang mendengar jawaban Gandhi.


"Kau memang selalu bisa diandalkan. Terimakasih untuk kerja kerasmu selama ini, dan tolong jaga putraku. Aku harap dia akan menjadi tanggung seperti mu jika kau yang mendidiknya," tukas Herly


"Tapi anda juga sangat berperan dalam membentuk karakternya," jawab Gandhi


"Semoga saja ucapanmu benar, karena aku tahu benar jika putraku tak pernah menyukaiku," jawab Herly kemudian beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kediaman Gandhi.


Sementara itu di dalam Gudang Diva tampak menatap Ricky terlihat berkaca-kaca.


Ricky segera memalingkan wajahnya saat mengetahui Diva tengah memperhatikannya.


Hara kemudian mengajak Dru keluar begitupun dengan Diva yang mengikutinya.


Ketiganya langsung menemui Gandhi untuk berterima kasih kepadanya.


"Apa kau sudah benar-benar baikan?" tanya Gandhi menatap lekat kearah Diva


Diva hanya mengangguk tanpa berani menatapnya.


"Kalau begitu biar anak buahku yang akan mengantar kalian pulang. Karena berbahaya jika kalian pulang tanpa pengawalan," tukas Gandhi


"Sepertinya tidak perlu Om, karena kami bisa menjaga diri," jawab Hara


"Jangan sok jagoan, kalian tidak tahu kan jika yang kalian hadapi saat ini bukan hanya seorang preman sekolah biasa. Dia adalah putra seorang perwira dan kalian sedang menjadi buronan kepolisian!" seru Gandhi


"Tetap saja selama kami tidak bersalah aku tidak takut menghadapi apapun," sahut Hara


Seketika Gandhi tertawa mendengar jawaban Hara.


"Aku suka semangat anak muda yang begitu membara, mereka tak gentar menghadapi segala halangan dan rintangan bahkan meski maut taruhannya. Mungkin kau bisa melawan para berandalan itu dengan kekuatan mu, tapi kau tidak akan bisa melawan hukum hanya bermodalkan otot-otot mu itu," jawab Gandhi


"Aku harap kau tidak akan memberikan hukuman berlebihan kepada para berandalan itu," ucap Ricky kemudian menghampiri mereka


"Tentu saja, aku tahu takaran hukuman untuk anak-anak muda seperti kalian. Kau tidak perlu khawatir karena aku akan menyelesaikannya dengan cepat, tanpa harus berjatuhan korban," sahut Gandhi


"Kalau begitu biarkan aku saja yang mengantar Diva, kau hanya perlu mengantar kedua berandalan itu saja!" tukas Ricky kemudian menyambar menggandeng lengan Diva


Gandhi mengangguk dan memberikan kunci mobilnya kepadanya.


"Ah dasar brengsek, selalu saja ia mencari-cari celah untuk bisa berdekatan dengan Diva," gerutu Dru


"Sudahlah biarkan saja, lagipula cinta itu tidak bisa di paksa. Santai saja kalau Diva memang jodoh lo meskipun Ricky berusaha mengejarnya mati-matian tetap saja di pelaminan Diva akan bersama lo," jawab Hara


"Cakep, tumben omongan lo bener Bro!" seru Dru langsung merangkul Hara


"Emangnya selama ini omongan gue gak ada yang bener?" celetuk Hara


"Ada sih cuma persentasenya satu banding 100,"


"Sue lo!" cibir Hara kemudian segera masuk kedalam mobilnya.


Sementara itu Gandhi diam-diam memerhatikan Ricky yang tampak membukakan pintu untuk Diva.


Ia tersenyum sinis memperhatikan sikap romantis Ricky kepada gadis itu.


"Sepertinya kau sangat menyukainya, tapi sayangnya ayahmu tidak akan pernah merestui hubungan kalian," gumam Gandhi