DIVA AND THE BRANDALS

DIVA AND THE BRANDALS
DIVA Thirteen



"Istri??" Diva tampak memicingkan matanya saat mendengar ucapan Sammy


Bukan hanya Diva yang terkejut dengan pernyataan Sammy namun juga Rakha putranya. Ia tak mengira jika ibunya berada dalam bahaya.


Sammy kemudian menceritakan jika istrinya memang tinggal di luar kota. Ia mengetahui istrinya dalam bahaya saat mendapatkan sebuah pesan singkat dari orang yang tak di kenal.


Dan Sammy yakin jika pesan tersebut dikirim oleh orang yang menyandera istrinya tersebut.


Mereka meminta dirinya untuk menyerahkan Diva untuk ditukar dengan istrinya.


Mendengar Diva akan dijadikan tumbal membuat Dru tak terima dan berusaha mengajak Diva pergi meninggalkan Sammy.


"Om jahat, kok Om tega-teganya menjadikan Diva sebagai tumbal untuk membebaskan istri Om. Memangnya menurut Om Diva itu tak berharga hingga kau bisa menukar nyawanya demi menyelamatkan istri Om?" Ujar Dru


"Bukan begitu, sudah ku bilang tak ada cara lain untuk menyelamatkannya. Lagipula Diva itu anak yang kuat dan memiliki kemampuan beladiri yang tingga untuk menyelamatkan dirinya dari para penjahat itu. Tapi istriku, dia adalah wanita lemah yang tak bisa menyelamatkan dirinya sendiri saat sesuatu mengancam nyawanya," jawab Sammy


Meskipun Dru dan Hara merasa kesal dengan Sammy, namun tidak dengan Diva. Ia yang sudah tahu kondisi istri Sammy dari almarhum ibunya.


Ia pun menyampaikan keputusan sulit yang membuat semuanya tercengang bukan main. Diva bersedia untuk menyerah kepada para gengster demi menyelamatkan istri sammy.


Sammy segera memeluknya erat, "Kau memang sama baiknya dengan ibumu. Aku berdoa semoga ada seseorang yang menyelamatkan mu dari para gengster itu," ucap Sammy


"Aamiin," jawab Diva singkat


"Sekali lagi terimakasih Diva, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan mu ini. Meskipun aku tidak bisa membalasnya semoga Tuhan yang akan membalas semua kebaikanmu," ucap Sammy kemudian mengusap kepala gadis itu


"Jangan bodoh Div, apa kau tidak sayang dengan nyawamu, kau bisa saja tewas. Mereka itu para gengster yang sangat keji. Sekuat apapun dirimu kau takan mampu menghadapi ratusan gengster seorang diri," ujar Hara


"Hara benar, aku juga tak setuju jika kamu harus mengorbankan dirimu hanya untuk menyelamatkan keluarga barumu," sahut Dru


"Sans aja, lagian siapa yang bilang aku akan menghadapi para gengster itu sendirian. Tentu saja aku mengandalkan kalian," jawab Diva


"Kalau begitu aku siap membantu mu," jawab Dru bersemangat


"Tapi tetap saja, kita bertiga tak cukup kuat untuk melawan mereka," tandas Hara


"Kalau begitu jangan pakai otot kita, tapi gunakan otak kita. Hanya itu satu-satunya cara agar kita bisa selamat dari mereka," ucap Diva


"Teori itu mudah Div, tapi prakteknya berbeda," sahut Hara


"Terus gimana dong?" tanya Dru


"Bismillah aja, aku yakin selalu ada jalan bagi orang-orang yang mau berusaha. Jangan menyerah karena di balik kesusahan pasti ada kemudahan," ujar Diva membuat Dru dan Hara menganga mendengarnya


"Apa ada yang salah?" tanya Diva menatap kedua sahabatnya


Dru dan Hara kompak menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada, hanya saja otak kita yang tiba-tiba ngeheng saat mendengar kalimat-kalimat Mario teguh," celetuk Dru kemudian menempelkan telapak tangannya di kening Diva


"Kamu gak salah minum obat kan?" tanyanya memastikan


"Ish apaan sih!" cibir Diva kemudian mendorongnya


"Iya aku setuju!" sahut Hara


"Aku juga setuju, asal bisa bersamamu, bahkan mukaku bonyok sekalipun aku gak peduli," jawab Dru membuat Diva seketika terkekeh dibuatnya


"Dasar Arjuna kw!" seru Diva kemudian menggandeng lengannya.


Setelah semuanya sepakat Sammy kemudian mengantar mereka menuju ke tempat istri Sammy di sandera.


Setelah satu jam perjalanan mereka akhirnya tiba disebuah rumah kecil yang ada di pinggiran kota


Meskipun rumah itu terlihat kecil, namun siapa sangka jika ratusan gengster ada didalamnya.


Mereka segera keluar saat mendengar suara Sammy mengantarkan Diva.


Diva terlihat pasrah saat Sam menukarnya dengan seorang wanita disabilitas yang memakai kursi roda.


Diva benar-benar tak menyangka jika pria seperti Sammy memiliki seorang istri yang tidak sempurna.


"Sekali lagi terimakasih Diva, aku harap kau bisa selamat dan kita bisa bertemu lagi dengan suasana bahagia," ucap Sammy kemudian memeluk Diva untuk terakhir kalinya


Rakha berjalan pelan mendekatinya. Meskipun ia tak menyukai Diva, namun kali ini ia benar-benar terpukau dengan keberanian gadis itu.


"Bagaimana bisa gadis kecil sepertimu berani mengorbankan dirinya hanya demi keluarga yang baru di kenalnya. Apa kau tidak curiga jika kamu sengaja berbuat jahat padamu?" ucap Rakha berkaca-kaca


"Tentu saja tidak, lagipula aku sangat senang saat Om Sammy mau menerima ku di rumahnya. Ia bahkan memperlakukan aku dengan baik seperti putrinya sendiri. Dan tentu saja yang membuat aku begitu bahagia adalah karena aku bisa tinggal bersama dengan pria yang aku sukai yaitu kamu," ucap Diva tampak tersipu


"Dasar bodoh, kau pikir aku akan mencintai gadis bodoh dan urakan seperti dirimu," jawab Rakha kemudian memeluknya erat


"Aku tahu, tapi setidaknya sekarang aku senang karena sepertinya kau mulai menyukaiku," jawab Diva tersenyum menatapnya.


"Mulai sekarang jadilah gadis yang pandai dan elegan. Mulailah dengan rajin belajar dan jangan berkelahi lagu. Aku yakin dengan begitu akan ada pria tampan yang menyukaimu,"


"Apa kau akan menyukaiku jika aku menjadi siswa yang pandai dan manis?" tanya Diva


"Mungkin saja," jawab Rakha kemudian mengacak-acak rambut gadis itu.


Momen itu menjadi momen paling bahagia dan sekaligus sedih bagi Diva. Dimana ia harus berpisah dengan Rakha pemuda yang begitu di cintainya.


Semuanya kemudian pergi meninggalkan Diva bersama para gengster. Awalnya Diva merasa takut namun dengan penuh percaya diri ia yakin jika dirinya akan bisa membebaskan diri dari tempat itu.


Diva memang menyuruh semuanya untuk pergi dan tak mempersalahkan dirinya. ia yakin jika bisa keluar dari tempat itu hidup-hidup.


Namun Hara dan Dru tetap menolaknya.


"Percuma saja jika kalian melawan mereka, kalian tidak akan pernah menang dan yang ada kalian malah bisa mati sia-sia. Daripada banyak nyawa yang akan melayang karena aku. Lebih baik kalian kembali saja ke rumah. Doakan saja aku bisa selamat dan bisa kembali bekumpul dengan kalian. Dari semua pria tampan yang ada di sini hanya Rakha yang paling aku inginkan perhatiannya. Semoga setelah ini kau mau menerima cinta dan menjadikan aku sebagai kekasihmu karena telah menyelamatkan ibumu," ucap Diva seketika membuat Hara tertawa mendengarnya


"Cih, sekarang aku tahu kenapa kau nekad melakukan hal gila ini. Kau memang bodoh Diva. Masa kau rela mengorbankan nyawamu hanya demi mendapatkan hati seorang pria!" cibir Dru


"Namanya juga usaha," jawab Diva membuat Dru semakin kesal hingga mengajak Hara pergi meninggalkannya.