DIVA AND THE BRANDALS

DIVA AND THE BRANDALS
DIVA Six



"Sebagai seorang perempuan harusnya kau lebih hati-hati saat makan, jangan sampai ada sisa makanan yang tertinggal," ucap Rakha membuat Dru dan Hara seketika menatapnya sinis


"Iya sih, tapi gimana ya aku suka kebablasan," jawab Diva malu-malu


Dru dan Hara seketika tertawa mendengar jawaban Diva.


"Bukan kebablasan emang lo jorok Div!" seru Dru


"Yups seratus buat lo!" sahut Diva memberikan jempolnya kepada Dru


"Btw thanks ya udah care sama gue. Aku jadi gimana gitu kalau diperhatikan sama cowok ganteng," imbuh Diva tersipu-sipu


"Dasar cewek semua sama aja!" celetuk Dru


"Sama-sama," jawab Rakha kemudian bergegas pergi


Melihat Diva masih menciumi tisu yang bekas mengelap bibirnya, membuat Dru langsung merebutnya dan membuang tisu itu.


Diva marah dan melampiaskan kemarahannya dengan memukuli Dru. Tingkah kekanakan Dru dan Diva membuat Hara tak berhenti tertawa. Namun tiba-tiba ia pergi meninggalkan keduanya saat ponselnya berdering.


"Jangan berantem aja, bayar bonnya!" seru pemilik kantin


Seketika Dru berhenti dan mencari keberadaan Hara.


"Dimana Hara!"


"Balik ke kelas kali!" sahut Diva


"Hadeeh, cepat telpon dia. Soalnya gue gak bawa handphone," tukas Dru


"Kenapa harus telpon dia?"


"Karena gue gak bawa duit, semua duit Hara yang pegang," jawab Dru


"Dasar modus, yaudah kalau gitu biar gue yang bayar!" seru Diva


"Pinjam dulu ya Div, gue janji bakal ganti nanti di kelas!" seru Dru


"Ok," jawab Diva


Keduanya kemudian kembali ke kelas. Namun mereka tak melihat Hara hingga jam pelajaran usai.


Dru merasa khawatir apalagi saat ponsel Hara tak bisa dihubungi.


Ia bahkan mendatangi kediaman Hara untuk memastikan apa dia ada di sana atau tidak. Namun Hara tak kunjung kembali meskipun sudah malam.


"Kemana dia, kenapa tiba-tiba menghilang tanpa jejak," ucap Dru tampak frustasi


"Mungkin dia ada masalah kali makanya ia harus menyelesaikan masalah itu tapi lupa gak kabarin kamu jadi sans aja," ucap Diva mencoba menenangkan Dru


"Tidak mungkin selama ini dia baik-baik aja kok, Kalaupun ada apa-apa dia selalu kasih tahu gue. Dia gak pernah ngilang tanpa kabar gini. Gue takut dia kenapa-kenapa," tandas Dru


"Kalau gitu kuy cari dia,"


"Kemana??"


"Ke hatimu, ya di tempat ia biasa nongkrong dong. Dasar dodol!" seru Diva


"Biasanya kita selalu nongkrong di sini. Kita tak pernah kemana-mana," sahut Dru


"Astoge, katanya bandit sekolahan tapi kok tongkrongannya di rumah aja, hadeeh gak gaul banget deh," sahut Diva


"Sebenarnya kita tuh bukan bandit kali Div. Asal lo tahu tiap hari gue mintain duit ke anak-anak itu bukan malak, tapi mereka memang bayar kita buat melindungi mereka dari preman-preman sekolah yang suka merundung atau membully mereka," terang Dru


"Masa iya gitu,"


"Swear!" sahut Dru


"Kalau gitu mungkin aja Dru ditangkap para preman sekolah yang dendam sama dia,"


"Gak mungkin, Selama ini tak ada seorangpun yang bisa mengalahkan Hara. Semua preman sekolah takut dengan Hara," jawab Dru


"Jangan sombong, bisa saja mereka meminta bantuan dari orang lain untuk menangkap Hara," jawab Diva


"Benar juga sih, yaudah nanti besok aja kita cari dia. Sekarang sudah malam sebaiknya kamu pulang, aku gak enak nanti mama kamu khawatir,"


Dru kemudian mengantarkan Diva pulang.


Setibanya di rumah Sammy langsung memeluknya erat. Pria itu berkali-kali memintanya untuk sabar.


"Ada apa sih Om, apa sesuatu yang buruk terjadi?" tanya Diva


"Rachel...." Sammy tak mampu meneruskan ucapannya


Lelaki itu tampak beberapa kali menghela nafas dan mencoba menahan sesuatu.


"Mamah kamu...mamah kamu mengalami kecelakaan saat kerja hingga ia meninggal," tukas Sam


"Tidak mungkin, Om jangan bohong... mamah gak mungkin ninggalin Diva. Dia udah janji bakal pulang untuk menjemput Diva jadi mustahil dia mati!" seru Diva


Sammy kemudian menjelaskan perlahan-lahan kepada Diva tentang apa yang menimpa Rachel.


Ia juga mengajak Diva untuk menemuinya di rumah sakit tempat ia di rawat.


Pukul sebelas malam Diva tiba di rumah sakit bersama Sammy.


Keduanya segera menuju ruang mayat tempat Rachel di semayamkan.


Tangis Diva seketika pecah saat melihat sosok ibunya terbaring kaku di depannya.


Ia tak bisa membendung kesedihannya saat mengetahui satu-satunya orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya.


Sammy memeluk Diva dan mencoba menghiburnya. Ia kemudian membawa gadis itu keluar dari ruangan mayat. Ia sengaja membawa Diva ke mushola. Ia kemudian memberikan selembar kertas peninggalan Rachel kepada gadis itu.


Meskipun ia sangat ingin memberitahu semuanya kepada gadis itu, namun mengingat usianya yang masih terlalu muda membuatnya mengurungkan niatnya.


Diva terus memeluk selembar surat dari ibunya sambil menangis tersedu-sedu.


Ia benar-benar tak menyangka jika ibunya akan pergi secepat itu meninggalkannya.


"Menangis lah jika itu bisa meringankan beban kamu, tapi jangan terlalu bersedih karena itu bisa membuat ibumu juga bersedih. Tetaplah menjadi Diva yang ceria seperti pesan ibumu dan jadilah dirimu apa adanya seperti biasanya. Jangan sampai kepergian ibumu merubah dirimu menjadi pribadi yang berbeda," ucap Sammy


Pria itu kemudian memakaikan sebuah kalung kepadanya.


"Sekarang ayo kita pulang," ucap Sammy


Keduanya kemudian bergegas pergi mengikuti mobil ambulance yang membawa jenazah Rachel.


Pagi itu Dru tampak kesepian karena Diva juga tak masuk sekolah. Ia kemudian menghubungi gadis itu untuk menanyakan alasan ia tak masuk sekolah.


Dru segera menjenguk Diva di rumahnya saat tahu mamah Diva meninggal.


"Sorry Div kalau gue baru datang sekarang," ucap Dru


"Gak papa, btw thanks ya udah bela-belain bolos buat menghibur aku," jawab Diva


"Tahu aja kalau gue bolos,"


"Tentu saja, mana ada anak sekolah jam segini udah pulang!" cibir Diva


"Iya juga sih, btw sekarang lo tinggal di sini?"


"Iya ini rumah Om gue, kebetulan mamah menitipkan aku sama Om Sammy karena hanya dia satu-satunya keluarga mamah," jawab Diva


"Pasti lo seneng kan karena harus tinggal bareng si Rakha idola sekolah kita,"


"Tentunya," jawab Diva tampak bahagia


"Ah sial, hilang deh kesempatan gue buat deketin lo!" sahut Dru


"Ish jangan ngarep ya, lo itu cocoknya jadi bestie gue bukan pacar gue!" Seru Diva


"Beneran hanya teman nih, terus gimana dong kalau ada kuch kuch hota hai diantara kita?" tanya Dru dengan wajah memelas


"Masih terlalu dini untuk mengatakan itu dodol. Setidaknya butuh waktu setahun atau bila perlu kita pisah dulu pas lagi deket-deketnya biar gue tahu apa gue suka sama lo atau gak," jawab Diva


"Dasar jahara, gak peka!"


Diva seketika tertawa mendengar celotehan Dru yang dianggap seperti sebuah candaan olehnya. Meskipun Dru harus kecewa namun ia tak membenci Diva. Keduanya justru semakin dekat sebagai seorang teman. Bagi Dru Diva bisa menggantikan posisi Hara yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar.


Semenjak Hara tak ada pendapatan Dru menurun karena banyak anak-anak yang tak memberikan uang kepadanya karena tak Percaya dengan kemampuan Dru.


Tentu saja itu beralasan karena Dru berkali-kali dihajar habis-habisan oleh preman sekolah.


Namun Dru yang pandai berakting mampu menutupi luka-lukanya hingga beberapa siswa masih mempercayainya.


Hingga suatu hari Dru benar-benar dikepung oleh beberapa orang preman sekolah.


Dru babak belur dikeroyok puluhan siswa.


"Makanya jangan sok jagoan dan sok menjadi pelindung para pecundang sekolah jika kau sendiri adalah seorang pecundang.


Kasian sekali nasibmu Dru, berharap bisa menolong orang lain tapi dirimu sendiri babak belur!"


"Habisi saja dia bos, agar tak berulah lagi!" seru yang lainnya


Seorang pria mendekati Dru dan bersiap melepaskan tinjunya.