
Ricky tampak duduk si samping Diva yang masih terbaring tak sadarkan diri di ranjangnya. Pemuda itu menggenggam erat jemarinya sambil terus berdoa untuk kesembuhan Diva.
*Dreet, dreet, drett!!
Ricky membuka ponselnya yang terus berdering dan terkejut saat melihat pesan yang ia terima.
Disaat bersamaan Diva membuka matanya. Ia segera duduk dan tak sengaja melihat pesan singkat yang diterima oleh Ricky.
Ia segera merebut ponsel Ricky dan membaca pesan itu untuk memastikan ia tidak salah lihat.
"Hara, Dru???" seketika matanya berkaca-kaca saat melihat kedua sahabatnya itu babak belur
Ia segera turun dari ranjangnya dan melepaskan semua infus di tangannya.
"Mau kemana kamu?" tanya Ricky menarik lengan gadis itu
"Aku harus menolong Dru dan Hara," sahut Diva kemudian melepaskan tangan Ricky
"Aku sudah memberitahu Om Gandhi untuk menolong mereka jadi kau tak perlu ke sana, lagipula kau masih sakit, jadi sebaiknya istirahat saja," ucap Ricky
"Tidak bisa, aku tak bisa membiarkan mereka menyakiti teman-teman ku!" Diva mendorong Ricky dan berlari meninggalkan ruangan itu.
Ricky berlari sekencang-kencangnya mengejar Diva. Namun gadis itu begitu cepat hingga ia tak berhasil menangkapnya.
Diva segera menghentikan sebuah taksi dan melaju meninggalkan halaman rumah sakit.
Ricky segera melompat keatas motor sportnya dan melesat mengejar Diva.
Taksi itu berhenti di SMA TUNAS MUDA sesuai perintah Diva.
Gadis itu segera keluar dari dalam taksi dan melangkah masuk ke gerbang sekolah.
Suasana sekolah tampak sepi karena sudah jam pulang sekolah.
Bahkan satpam sekolah pun sudah pulang. Tak ada satupun manusia di sekolah itu yang ada hanya daun daun kering yang berterbangan tertiup angin.
Diva tampak mencari gudang sekolah, ia yakin Dru dan Hara di sekap di sana. Ia kemudian membuka ponsel Ricky yang dibawanya untuk mencari ruangan yang ada di dalam photo yang dikirim kepadanya.
"Sepertinya ruangan ini ada di belakang,"
Diva melangkah masuk menuju ke belakang gedung sekolah. Benar saja di sana ia melihat beberapa orang siswa tampak sedang bermain sepak bola di lapangan.
Ia melihat Dru dan Hara yang di gantung di atas pohon mangga.
"Bangs*t, beraninya mereka menganiaya teman-temanku. Apa mereka belum tahu siapa Diva,"
Salah seorang pemain bola sengaja menendang bolanya kearah Diva saat melihat gadis itu berjalan mendekati mereka.
Gadis itu menyeringai sambil memainkan bola di tangannya.
"Oi, lihat siapa yang datang!" seru salah seorang dari mereka
"Wah jagoan kita sudah kembali!" ledek mereka menertawakan Diva
"Bagaimana kabarmu cantik, apa wajahmu baik-baik saja, atau bibirmu pecah karena terkena tendangan ku," ucap Salah seorang mereka menghampiri Diva
Pemuda itu berjalan mengitari Diva sambil memperhatikan penampilan gadis itu. Saat ia hendak menyentuh wajah Diva yang tampak lebam Diva langsung menarik lengannya dan memelintirnya hingga lelaki itu mengerang kesakitan.
*Krekkk!
"Arrghhhh!!"
"Bagaimana rasanya memiliki satu tangan?" tanya Diva menatap sinis pria di depannya
"Dasar perempuan gila, kau pikir kau bisa menyelamatkan mereka. Urusi saja dirimu sebelum berlaga sok pahlawan!" hardik yang lainnya
Diva tersenyum mendengar cibiran para siswa yang sudah membuatnya babak belur.
"Apa kalian pikir sudah mengalahkan aku setelah membuatku pingsan. Ternyata pemikiran kalian sempit, sekarang mari kita buktikan siapa pemenang sebenarnya!" tantang Diva
Gadis itu kemudian menggerakkan lehernya dan melakukan peregangan.
"Wow, cari mati dia!"
"Sudah hajar saja!"
Ke sepuluh pria itu langsung merangsek maju menyerang Diva.
Diva segera melepaskan tendangan mautnya saat dua orang pria melesatkan pukulannya.
*Bruughhh!!
Melihat tiga pria di belakangnya ia pun langsung melompat dan melumpuhkan mereka dengan tendangan melintang hingga ketiga pria itu seketika terjatuh.
Melihat salah seorang dari mereka mengeluarkan senjata tajam, Diva menggunakan syal yang di pakainya untuk menjatuhkan pisau itu. Dengan beberapa kali pukulan ia kembali dapat melupakan mereka satu persatu.
Kini tinggal satu orang yang tersisa, ia tampak ketakutan dan berjalan mundur menjauhi Diva.
"Hati-hati di belakang mu Diva!" seru Hara memperingatkan Diva saat segerombolan siswa lain keluar dari ruang kelas dan menghampirinya.
"Ternyata ini triknya, pantas mereka berhasil melumpuhkan Hara!"
Diva tampak memasang kuda-kuda dan Bersiap untuk menghadapi mereka.