
Pagi menjelang, Ricky pun terbangun. Ia terkejut saat mengetahui dirinya tertidur di pangkuan Diva.
Pemuda itu memandangi Nina yang tidur bersandar di dinding namun begitu pulas. Ia tersenyum melihat wajah Diva yang tampak lucu saat tertidur dengan mulut menganga.
"Untung gak ada lalat masuk," celetuknya kemudian menggendong Nina dan memindahkannya ke brangkar.
"Manis juga kalau lagi tidur," ucap Ricky memandangi wajah teduh Diva saat tertidur.
Tiba-tiba ia teringat peristiwa saat dirinya ketakutan mendengar suara petir dan memeluk Diva.
"Hais, kenapa kejadian memalukan itu harus terjadi saat aku bersama kamu. Btw thanks sudah sudah mau stay dan tak meninggalkan gue," ucap Ricky terharu mengingat kejadian semalam.
Saat melihat jam dinding, raut wajahnya seketika berubah.
"Sorry Div gue harus cabut dulu, maaf lo ya gue tinggal," ucap Ricky mengusap lembut kening gadis itu kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Tidak lama Hara datang mencari Diva. Ia terkejut saat melihat Diva masih terlelap di sana.
"Astaga Diva, bagaimana bisa kamu tertidur pulas sementara aku mengkhawatirkan mu sepanjang malam," Hara kemudian mengguncang tubuh gadis itu untuk membangunkannya.
Namun seperti biasa Diva yang sulit di bangunkan membuat Hara berpikir keras bagaimana cara membangunkannya.
Senyumnya tiba-tiba mengembang saat ia teringat ketika Dru membangunkannya dengan memanggil nama Rakha.
Ia segera berdiri dan mempersiapkan suaranya agar tak membuat kesalahan saat memanggil Rakha.
"Ehem, tes, tes!"
"Rakha, sejak kapan kamu datang!" seru Hara dengan suara keras.
Namun Diva tak bergeming meskipun ia sudah memanggil nama Rakha. Ia pun mengulanginya hingga beberapa kali. Namun tetap saja Diva masih belum membuka matanya.
"Fiuuh, sepertinya nama Rakha sudah tereliminasi dari hatinya,_" ucap Hara seketika merasa frustasi apalagi bel masuk akan segera berdering lima menit lagi.
"Ayo dong Div bangun, jangan bikin gue panik karena gagal bangunin lo. Masa sih gue harus gendong lo dari sini ke kelas," tukas Hara melirik kearah Diva yang masih pulas
"Huft, sepertinya tidak ada cara lain," Hara kemudian membalikkan badannya dan menatap lesu kearahnya.
Saat ia hendak mengangkat tubuh gadis itu, Diva justru menarik lengannya hingga ia jatuh terbaring di sampingnya.
*Buughh!!
"Haish, kenapa pakai di kunci pula kaki gue, jangan-jangan dia mimpi lagi main MMA kali," cibir Hara pasrah
Hara yang tak bisa bergerak hanya pasrah memandang lesu kearah Diva yang terbaring di sampingnya.
"Aku kangen banget sama kamu," ucap Diva kemudian memeluk Hara
Seketika netra Hara membulat sempurna. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Pemuda itu merasakan dadanya bergemuruh membuat perasaannya gak karun.
Meskipun ia tahu jika Diva membayangkan memeluk Rakha namun ia tak bisa menampik sengatan-sengatan listrik yang mulai menjalar di tubuhnya.
Ia berusaha melepaskan diri darinya namun semakin ia mencoba melepaskan dirinya semakin erat Diva memeluknya.
"Lepasin gue Div, gue bukan Rakha tapi Hara," ucapnya berharap Diva sadar namun gadis itu tetap saja menganggapnya seperti guling hingga terus memeluknya.
"Ah, kenapa kuat banget tenaganya," ucap Hara tampak kesulitan menggeser lengan Diva dari tubuhnya.
Hara merasa semakin tak nyaman dengan keadaan itu. Beruntung suara dering ponselnya membuat Diva terbangun.
Diva segera menatap sinis kearahnya membuat Hara segera tersenyum memamerkan deretan gigi kelincinya.
"Lepasin gue!" ucap Hara menunjuk kearah kaki Diva yang masih menguncinya.
Diva langsung melepaskan kakinya dan mendorongnya hingga Hara jatuh terjungkal ke lantai.
*Bruugghhh!!!
"Arrghhh!!" pekik Hara memegangi bok*ngnya yang terasa sakit.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Diva sinis
"Aku mencari mu karena kau tak ada di rumah," jawab Hara
"Lalu kenapa kita bisa berbagi ranjang?" ucapnya dengan nada kesal
"Itu...karena kamu yang menarik ku," jawab Hara dengan wajah yang berubah merah.
"Haish, dasar pria murahan, gimana bisa kamu diam saja saat seorang cewek memelukmu!" hardik Diva
"Gimana aku mau melepaskan diri dari kamu kalau tangan dan kakiku kau kunci," sahut Hara dengan wajah sendu
"Sudahlah, lupakan saja kejadian hari ini," ucap Diva kemudian keluar dari ruangan itu.
Diva segera menarik Hara saat melintasi toilet.
"Jagain di sini!" seru Diva
"Mau ngapain?" tanya Hara
"Gue mau mandi,"
"Astoge kenapa di toilet guru," bisik Hara
"Karena hanya di sini yang bersih," sahut Diva
Baru saja ia akan masuk ke toilet itu tiba-tiba Pak Haris, menariknya.
"Ngapain masih di sini, cepetan naik ke bus. Bentar lagi kita akan jalan," ujar Haris
"Jalan kemana Pak?" tanya Diva
"Renanglah," jawab Haris segera masuk ke toilet
"Ish bapak salah masuk, itukan toilet cewek!" seru Diva
"Gak papalah namanya juga darurat!" celetuk Haris dari dalam toilet
Mendengar Pak Haris akan mengajak mereka renang, Diva mengurungkan niatnya untuk mandi.
Iapun mengajak Hara segera ke kelasnya.
"Kenapa gak jadi mandi?"
"Tar aja sekalian mandi di kolam renang," jawab Diva dengan enteng
Setibanya di kelas Dru melambaikan tangannya kearahnya.
"Ayo cepat, darimana aja sih kalian lama banget!" cibirnya
"Kepo lo!" sahut Diva
Dru kemudian melemparkan tas mereka dan mengajak keduanya masuk kedalam Bus.
Diva segera mencari kursi kosong, namun semua kursi sudah terisi kecuali Ricky yang duduk sendirian.
Ricky tersenyum simpul kearahnya dan menyuruhnya untuk duduk disebelahnya. Namun Diva langsung mengabaikannya.
"Kalian duduk dimana?" tanya Diva
Dru langsung menunjuk kearah kursi belakang.
"Gue juga ikut ah,"
"Gak bisa Div, udah penuh!" seru Dru
"Yaudah kalau gitu lo duduk sama Ricky, biar gue di sana sama Hara," jawab Diva
"No, daripada gue duduk sama dia mending gue berdiri saja," jawab Dru
"Kalau gitu terimakasih banyak atas pengertiannya Dru, kamu memang sahabat sejati," ucap Diva menepuk-nepuk pundaknya
Dru begitu kesal saat Diva menyalah artikan ucapannya, "Bukan begitu Diva!" serunya sambil menarik Diva bangun dari kursinya
"Lo itu beneran dodol ya, masak gak ngeh sih kalau gue sengaja pakai perumpamaan," gerutu Dru
"Kalau udah tahu kenapa nanya!" sahut Diva memasang wajah kesal
Tentu saja hal itu membuat Dru buru-buru meminta maaf padanya dan menyuruh duduk.
Namun saat ia akan duduk Ricky langsung menghampirinya dan menariknya.
"Oi, mau dibawa kemana Diva ku!" seru Dru
Ricky langsung menghentikan langkahnya dan memasang wajah bengis membuat Dru seketika langsung tak berani mengejarnya.
"Ish, kenapa sih lo gak hajar aja tuh si Ricky, tambah belagu kan dia!" gerutu Dru
"Biarkan saja dia, selama dia tak menyakiti Diva, gak masalah!" sahut Hara yang tak pernah mengedipkan matanya mengikuti kemanapun Ricky membawa Diva
"Duduk!" seru Dru dengan suara tinggi