DIVA AND THE BRANDALS

DIVA AND THE BRANDALS
DIVA Twenty Four



Diva terdiam saat Ricky membentaknya. Ia segera duduk dan tak mau berdebat dengannya, apalagi saat melihat semua orang kini menoleh kearahnya.


Melihat Diva sudah duduk, membuat Ricky pun tersenyum senang.


"Ngapain lihat-lihat!" serunya saat melihat semu orang menatapnya


"Ngapain sih lihat-lihat mereka, mendingan lihat bapak," tutur Haris sambil memamerkan apa yang dibawanya.


"Ada yang mau??" tanyanya begitu antusias


Namun tak satupun siswa yang menjawab pertanyaannya.


"Yaudah kalau gak ada yang mau, mending aku makan sendiri saja," ujar Haris kemudian memakan kue yang ia bawa


"Dasar anak jaman sekarang giliran di kasih singkong rebus aja gak ada yang doyan, coba kalau aku tawarin spaghetti pasti pada berebutan," gerutu Haris


Bus mulai melaju meninggalkan halaman sekolah. Semua siswa tampak bernyanyi riang selama perjalanan.


"Pak, kita gak dapat jatah makan siang apa, laper nih!" celetuk salah seorang siswa


"Harusnya sih ada, tapi Bapak belum tahu juga, soalnya aku belum mencium bau-bau nasi kotak," sahut Haris


"Yaah!" seru para siswa bersamaan


Tiba-tiba Ricky mendengar suara perut keroncongan Diva.


Kasian sekali, dia pasti kelaparan karena belum makan,


Ricky kemudian mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak makan dan memberikannya kepada Diva.


"Apa ini?" tanya Diva


"Makan saja," jawab Ricky singkat


Diva segera membuka kotak bekal itu. Ia begitu terkejut saat melihat isi di dalamnya.


"Beneran ini buat aku?" tanya Diva memastikan


Ricky langsung mengangguk.


"Thanks," jawab Diva kemudian menyantap roti lapis itu.


Diva menoleh kearah Dru dan Hara sambil menunjukkan roti lapisnya.


"Mau?" tanya Diva menawari Keduanya


Tentu saja Hara dan Dru langsung mengangguk mendengarnya. Diva segera memberikan isyarat agar keduanya segera mendatanginya.


"Dasar celamitan!" gerutu Ricky saat melihat Dru menghampirinya.


Diva kemudian mengambil satu potong roti lapisnya dan memberikannya kepada Dru. Namun Dru malah membuka mulutnya.


Diva terpaksa menyuapinya.


Melihat Diva menyuapi Dru, Ricky pun merasa iri. Ia buru-buru membuka mulutnya berharap Diva juga akan menyuapinya.


Ricky begitu senang saat Diva mau menyuapinya. Namun ia begitu terkejut saat merasakan sesuatu yang berbeda di mulutnya.


"Kok singkong sih!" seru Ricky kaget saat tahu Diva menyuapinya dengan singkong bukan roti lapis


"Sorry Ky, rotinya tinggal sedikit, dan ini gak cukup kalau buat kamu," ucap Diva


"Yaudah kalau gitu, makan aja biar kamu kenyang," jawab Ricky


"Terimakasih Ky," jawab Diva tersenyum menatapnya


Diva segera membangunkan Hara yang terlihat memejamkan matanya.


"Ada apa?" ucap Hara saat menyadari Diva membangunkannya


"Aaaa!" seru Diva menyuruhnya untuk membuka mulutnya


Hara tampak memperhatikan teman-teman di sampingnya yang kini mulai memperhatikannya.


"Buka ga!" seru Diva dengan nada tinggi membuat Hara terpaksa membuka mulutnya meskipun malu Kate dilihatin teman-temannya.


Melihat Diva memberikan sisa roti lapisnya untuk Hara membuat Ricky semakin kesal kepada pemuda itu.


"Kenapa harus dia lagi sih, memangnya apa istimewanya Hara dari gue. Ganteng jelas gantengan gue. Tajir udah pasti, macho juga lebih macho gue. Sebenarnya apa yang dilihat Diva dari berandalan itu!" gerutu Ricky


"Terimakasih Div,"


"Kembali kasih," jawab Diva kemudian mengacak-acak rambutnya


Wajah Hara seketika memerah saat mendapat perlakuan manis dari Diva.


Namun di waktu yang bersamaan juga Dru tampak terluka karena Diva lebih memilih Hara darinya.


"Apa kau menyukai Hara?" tanya Dru dengan wajah sendu


Seketika Ricky langsung menoleh kebelakang karena penasaran dengan jawaban Diva.


Ia juga ingin tahu bagaimana perasaan gadis itu kepada Hara sebenarnya.


Bukan hanya kedua cowok itu yang penasaran dengan jawaban Diva, pak Haris bahkan sengaja menghentikan makannya demi mendengar pengakuan Diva.


"Ayo jawab Diva!" celetuk teman-temannya


Diantara mereka yang penasaran dengan jawaban Diva, sebenarnya Hara lah yang merasa paling deg-degan. Bagaimana tidak, ia tak tahu kenapa ia tiba-tiba merasa debaran aneh dalam dirinya saat gadis itu menariknya dan bergelayut manja di sampingnya.


"Kalian pasti penasaran kan kenapa aku selalu perhatian dengan Hara?" tanya Diva sambil menatap Hara


"Yoi!"


Saat Diva menatapnya Hara merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya.


Sorot mata yang berbeda dari biasanya, ia merasakan tatapan kerinduan mendalam dari diri Diva.


Ia bisa merasakan jika gadis itu merindukan seseorang hingga melampiaskan kerinduan itu kepadanya.


Dia tidak menyukai ku, aku bisa melihat dari tatapan matanya,


Melihat keduanya yang saling berpandangan cukup lama membuat hati Dru hancur hingga menangis tersedu-sedu.


"Huaaaa, kalian jahat. Kamu seperti onta makan tanaman Har, kamu tega menikung ku!" seru Dru


"Onta makan tanaman emangnya ada yang salah?" ucap Haris mengoreksi ucapan Dru


"Mungkin yang dimaksud pagar makan tanaman pak," celetuk siswa terpandai di kelas itu


"Iya bener!" jawab Dru membenarkannya


"Baiklah supaya tidak menimbulkan kegaduhan berkepanjangan sebaiknya Diva jawab saja, kamu menyukai Hara atau tidak. Ayo jawab Diva yes or No!" seru Haris


"No," jawab Diva seketika membuat Dru langsung sujud syukur


"Yeay!!" ucap Ricky pelan-pelan, ia sengaja meluapkan kebahagiaannya diam-diam karena tak mau semua siswa mengetahuinya.


"Alhamdulillah ya Allah, ternyata gue masih ada kesempatan!" seru Dru membuat semua orang seketika menertawakan ke polosannya.