
"Jangan berani menyentuhnya di depan ku jika kau tidak ingin mati!" ancam Gandhi
Seketika sang polisi langsung menurunkan tangannya.
"Maaf, hampir kelepasan," ucap Pria itu menyeringai lebar-lebar
Gandhi segera manarik Diva dan membawanya ke ruang kunjungan.
"Duduklah!" seru Gandhi
Diva segera duduk dan melipat tangannya di meja.
Gandhi menarik sudut bibirnya melihat sikap manis Diva yang berbeda dari biasanya.
"Cih, Kau pikir ini sekolahan makanya duduk seperti itu!" seru Gandhi menertawakan Diva
Diva hanya menyeringai kemudian menurunkan tangannya.
Gandhi mulai bertanya-tanya kepada gadis itu perihal penangkapannya. Ia juga tak lupa menanyakan aktivitasnya selama di dalam sel.
Diva menjawabnya dengan santai, seolah tak ada beban meskipun ia mengalami banyak tekanan selama di dalam sel.
"Apa kedua orang tua temanmu tidak ada yang berkunjung atau menyewa pengacara untuknya?" tanya Gandhi
"Kami bertiga yatim piatu," jawab Diva
"Sorry,"
"Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, aku pamit Om," ucap Diva tampak melirik jam dinding yang ada di sampingnya
"Silakan," jawab Gandhi membiarkan Diva pergi
Pria itu diam-diam mengikuti Diva dari kejauhan. Sementara itu setibanya di sel, seorang sipir langsung menyuruh Diva untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Melihat Diva menyetrika tumpukan baju membuat Gandhi begitu geram. Ia segera menarik sang sipir dan menghajarnya hingga babak belur.
Mengetahui ada keributan di sel sang sipir menghubungi atasannya untuk meminta bantuan.
Beberapa polisi bersenjata segera turun dan mengarahkan pistolnya kepada Gandhi.
Gandhi terlihat begitu santai, tak ada rasa takut ataupun gentar saat puluhan polisi menodongkan senjata apinya kepadanya.
Ia bahkan mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.
Dengan tenang ia mulai menghisap rokoknya dan mengepulkan asapnya ke angkasa.
Dengan santai Gandhi segera mengambil pistol dari balik bajunya dan menembaki setiap polisi yang menyerangnya.
"Wah, dia keren sekali!" seru Dru
"Apa yang kau pikirkan Gandhi!" tiba-tiba bayangan Herly melintas di depannya membuat Gandhi seketika tersadar dari lamunannya.
"Astaga, hampir saja aku melakukan hal bodoh," seru Gandhi kemudian menyembunyikan pistolnya lagi
Ia mengambil ponselnya dan mengambil gambar Diva dan kawan-kawannya yang sedang melakukan kerja rodi.
Tak lupa ia memotret wajah para sipir yang tersenyum senang melihat para siswa SMA itu.
"Kali ini aku akan berusaha menggunakan otaku, daripada ototku," ucap Gandhi kemudian pergi
Sementara itu Herly tampak menunggu kedatangan Gandhi dikantornya.
Lelaki itu tampak berkali-kali menatap lekat foto Gandhi bersama seorang wanita.
"Sial, dimana dia. Kenapa sampai sekarang dia belum kembali juga!" gerutu Herly
Saat ia hendak bergegas pergi, Gandhi memasuki ruangannya.
"Selamat sore Bos, maaf sudah membuat anda lama menunggu!" sapa Gandhi
*Buuggh!!
Sebuah pukulan keras mendarat di perut Gandhi membuat pria itu memegangi perutnya.
Namun ia segera berdiri tegak kembali saat melihat Herly kembali akan melepaskan pukulannya.
Ia hanya pasrah dan menahan setiap pukulan dari bosnya.
"Bagaimana bisa kau membohongi aku selama ini!" seru Herly
"Maaf aku tidak paham dengan apa yang anda ucapkan, mungkin anda bisa memberitahu ku agar aku bisa tahu apa kesalahan ku!" jawab Gandhi
Herly menyeringai lelaki itu kemudian tertawa terbahak-bahak melihat wajah Gandhi.
Ia kemudian menepuk-nepuk pipi Gandhi, "Anak itu, kenapa kau belum menghabisinya. Kenapa kau tidak membunuh anak Rachel!" seru Herly
Ia kemudian memperlihatkan foto Gandhi bersama dengan Rachel, "Aku curiga kenapa kau mati-matian melindungi bocah itu, apa dia putrimu??" tanya Herly