
Pagi itu tampak dua orang polisi memeriksa setiap siswa yang masuk ke SMA Tunas Bangsa.
Tentu saja hal itu membuat beberapa siswa pria menyembunyikan rokok mereka. Bukan hanya rokok, mereka juga menyembunyikan aneka senjata tajam, dan obat-obatan terlarang.
Ricky berjalan santai menerobos antrian siswa yang menunggu giliran untuk di periksa.
Bukan hal aneh jika Ricky melakukan hal itu, tentu saja itu karena kepala sekolah memberikan hak istimewa kepadanya.
*Grep!
Ricky seketika membalikkan badannya sembari mengayunkan tinjunya kearah seseorang yang menepuk bahunya.
Wajah Ricky seketika merah padam saat melihat seorang pria berseragam polisi menahan pukulannya. Ia segera menurunkan lengannya, "Sorry,"
Pria itu memintanya untuk berbaris menunggu giliran untuk diperiksa.
Ricky menoleh kearah kepala sekolah yang ada di depannya.
Pak Amir menganggukkan kepalanya seolah memintanya untuk menuruti perintahnya.
Ricky pun berjalan malas menuju barisan para siswa yang mengantri.
Sebuah angkutan umum berhenti di depan gerbang sekolah, tak lama Diva keluar dan berlari menuju ke barisan siswa.
Namun seorang polwan segera menarik Diva dan membawanya pergi dari tempat itu.
Begitupun dengan Dru dan Hara yang berada di belakang Diva, dua orang polisi langsung menyeretnya masuk kedalam patroli.
Melihat Diva dan kedua rekannya dibawa pergi tentu saja membuat Ricky terkejut.
"Ada apa sebenarnya?, kenapa mereka menangkap Diva dan teman-temannya??"
Ricky kemudian menemui Kepala sekolah untuk menanyakan hal itu.
Amir menjelaskan jika Diva, Dru, dan Hara di tangkap karena terlibat tawuran.
"Tawuran??" Ricky tampak mengerutkan alisnya sambil mengingat kejadian bersama Diva setelah berenang
"Apa yang Bapak maksud perkelahian dengan SMA Pembangunan??" ucap Ricky
"Benar, dari keterangan polisi ia mengatakan jika Diva dan kedua sahabatnya itu menyerang anak-anak SMA Pembangunan hinga ada salah seorang siswa yang terluka parah dan saat ini masih terbaring di rumah sakit,"
"Cih, menyerang mereka, sepertinya para polisi itu salah menerima informasi. Yang benar adalah anak-anak Pembangunan menculik Hara hingga membuat Aku, Diva, dan Dru datang menyelamatkannya. Sebenarnya perkelahian itu tidak akan terjadi jika mereka tidak menculik Hara," jawab Ricky
"Lalu Kenapa mereka tidak menangkap aku juga, toh yang membuat ketua berandal pembangunan itu aku, bukan mereka bertiga," imbuh Ricky
"Kalau masalah itu Bapak tidak tahu. Bapak hanya menerima surat pengaduan dari polisi dan surat pemberitahuan untuk merazia anak-anak untuk mencegah hal serupa terjadi lagi," jawan Amir
"Dasar brengsek, sepertinya aku harus memberi pelajaran kepada mereka!" gerutu Ricky kemudian meninggalkan ruang kepala sekolah.
Ia kemudian menghubungi Gandhi dan memintanya untuk mengeluarkan Diva dan teman-temannya.
"Sebaiknya anda tidak perlu ikut campur dalam urusan ini, aku tidak bisa membebaskan Diva dan teman-temannya karena sesuatu hal tapi jangan khawatir meskipun begitu aku akan berusaha untuk membuat mereka tak mendekam lama di penjara," jawab Gandhi
"Kenapa bisa begitu, apa kali ini ada campur tangan dari ayahku!"
"Kau sudah tahu jawabannya jadi aku tidak perlu lagi menjelaskan alasannya," jawab Gandhi
"Ah sial, kenapa dia selalu saja ikut campur dalam urusan ku!" gerutu Ricky kemudian mengakhiri obrolannya.
Ia segera mengambil tasnya dan bergegas pergi meninggalkan kelasnya.
Ricky melesatkan motor sportnya menerobos penjagaan para polisi.
Seorang polisi segera mengambil sepeda motornya dan mengejarnya.
Mengetahui dirinya diikuti oleh polisi Ricky sengaja menambah kecepatan motornya hingga sang polisi kehilangan jejak.
"Mampus lo!" pekik Ricky kemudian membelokkan motornya
*Ciit!!
Ricky segera mengerem motornya saat melihat sebuah motor polisi menghalangi jalannya.
"Sial, hampir saja!!" gerutu Ricky
Saat ia hendak memutar balik kendaraannya, sebuah mobil polisi memblok jalan hingga membuat ia hanya pasrah saat polisi menggelandangnya ke kantor polisi.
Tidak lama Herly datang bersama dengan Gandhi untuk menjenguknya.
Lelaki itu langsung menampar wajah Ricky setibanya di sana.
*Plaaakk!!!
"Dasar berandalan, tidak bisakah kau diam di kelas dan tidak membuat ulah!" seru pria itu menatapnya tajam
Ricky yang sudah muak dengan perangai sang ayah justru meminta polisi untuk segera menahannya.
Herly benar-benar kesal dengan ulah Ricky hingga ia mengurungkan niatnya untuk membebaskan putra semata wayangnya itu. Ia memilih pergi meninggalkan kantor polisi bahkan melarang Gandhi untuk membantunya.
"Pergi saja, lagipula aku tidak butuh bantuan mu. Lebih baik aku di penjara daripada harus mengemis belas kasihmu!" seru Ricky
"Dasar berandalan, kau pikir kau bisa hidup sendiri tanpa uangku. Kita lihat saja, sampai kapan kau akan bertahan di penjara!"