
Angin masih bertiup sepoi-sepoi, membuat awan melayang menutupi bulan purnama kala itu, Ivan bersama keluarganya sedang mempersiapkan makanan untuk makan malam mereka.
Ivan dan seluruh anggota keluarganya adalah seorang penyihir, kedua orang tuanya merupakan dua penyihir kerajaan terhebat pada masa itu.
Ayah Ivan bernama Martin sedangkan ibunya bernama Adena, Ivan mempunyai satu saudara perempuan, Ivan merupakan anak kedua sekaligus terakhir, mereka berempat hidup sederhana dan damai sampai...
*tok tok tok..
Terdengar suara orang mengetuk pintu dari arah luar, padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas diluar juga hujan walaupun tidak terlalu lebat, malam itu keluarga Ivan belum tidur, mereka masih berada di ruang tamu, entah apa yang mereka bicarakan.
Sesaat setelah suara ketokan pintu berakhir, suara itu kembali muncul namun dengan ritme yang agak cepat dan cenderung memaksa masuk, karena waspada Martin mengajukan dirinya untuk membuka pintu.
Semakin mendekati pintu, suara ketokan semakin keras dan cepat, Martin sebisa mungkin tidak menimbulkan suara ketika mencoba mengintip lewat celah yang ada di pintu.
Martin kaget, ternyata yang sedari tadi mengetok pintu adalah temanya sendiri, Martin pun membukakaan pintu, dan temannya yang bernama Mike masuk kedalam rumah. Mike juga seorang penyihir hebat, dia dan Martin sudah saling berteman sejak kecil
Mike masuk sambil sesekali mengelap bajunya yang basah.
Adena: Mike!!, tumben sekali kamu mampir saat tengah malam, takut kehujanan ya?
Mike: Maaf Adena, aku memang takut kehujanan tapi tujuanku memang kesini bukan mampir.
Martin: Memangnya ada apa sampai kau kemari tengah malam begini, lihat anak-anak ku sampai ketakutan.
Mike: Aku tidak datang pun anak-anak mu tetap akan ketakutan. Jadi begini......
Beberapa menit berlalu setelah Adena membawa anak-anak nya untuk tidur dan Mike mulai berbicara. Tiba-tiba angin berhembus kencang namun hujan tidak bertambah deras.
Martin lalu berlari ke kamar anak-anak nya, Martin membangunkan Ivan yang sebenarnya masih mencoba untuk tidur sambil mendengar suara angin yang semakin menakutkan.
Martin: Ivan, ayah dan ibu harus pergi sebentar, kamu tetap disini, jaga kakakmu, dan ingat, jangan pernah bukakan pintu untuk siapapun kecuali Mike.
Ivan hanya mengangguk kecil, sebelum ayahnya melakukan hal yang sama kepada kakaknya, setelah itu Martin keluar rumah bersama dengan Adena dan Mike entah kemana.
Ivan berdiri di sebelah jendela sambil memperhatikan kepergian kedua orang tuanya bersama Mike, saat Ivan menoleh ternyata kakanya sudah berdiri di sampingnya yang juga memperhatikan orang tuanya pergi.
Karena suara angin yang terlalu berisik membuat Ivan tidak bisa tidur, dia pun tetap terjaga malam itu. Selang setengah jam ketokan di pintu kembali terdengar, namun kali suaranya lebih lemah dan pelan.
Ivan membangunkan kakaknya yang sudah tertidur, kakaknya terbangun dan Ivan memberitah dirinya kalau ada seseorang yang sedang mengetok pintu rumah mereka.
Mereka berdua lantas turun untuk membukakan pintu, tapi Ivan teringat pesan ayahnya untuk tidak membukakan pintu untuk siapapun kecuali temannya Mike.
Ivan sedikit ragu begitu juga dengan kakanya, saat Ivan sudah mantap untuk membukakan pintu tiba-tiba ada dua orang yang masuk dari pintu belakang dan langsung menggendong Ivan dan kakaknya pergi.
*Brakk!!!!...
Tiba-tiba pintu depan tempat suara ketukan muncul rusak dan jatuh membuat suara bising, sekilas Ivan melihat seorang manusia namun dengan daun telinga yang panjang, siapa lagi kalau bukan bangsa Elf.
Elf itu mengenakan pakaian berwarna hijau tua dengan jubah berwarna abu-abu, tapi Elf itu tidak sendirian masih ada sekitar tiga Elf lainnya yang berdiri di belakangnya.
Begitu mendengar suara pintu tadi Mike langsung melompat keluar dari rumah itu kemudian disusul satu orang lagi yang menggendong kakaknya Ivan.
Elf: Kejar penyihir itu!!.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi, tapi sebelum berlari mengejar Mike para Elf itu memasang sebuah peledak untuk menghancurkan rumah Ivan.
Saat Ivan panik karena kaget dengan kejadian yang baru saja dialaminya ia mendengar ledakan dari arah rumah nya, beberapa saat kemudian terlihat api besar yang membakar rumahnya, Ivan ingin mengalihkan pandangannya dari rumahnya yang terbakar tapi malah melihat siluet yang bergerak dengan cepat menuju ke arahnya.
Mike: Sial!!, Elf-elf itu terlalu cepat
Benar saja kini para Elf itu sudah tepat berada di belakang Mike, karena tidak punya pilihan lain, Mike pun mencoba menyerang mereka, saat Mike berlari kencang dia memijakkan kaki kanan nya ke salah satu pohon, alhasil Mike berhenti sejenak di udara, lalu Mike memutar badannya dan melayangkan tendangan dengan kaki kanannya lagi ke arah belakang, dan berhasil mengenai kepala salah satu Elf, posisi Elf itu pun berbalik, dia terpental kencang sebelum menabrak pohon di depannya.
Tumbang satu, kini Elf itu tersisa tiga, ketiga Elf itu langsung mengepung Mike dan temannya, Mike sangat waspada karena tahu para Elf yang dikirim ke sini pasti bukan sembarang Elf.
Salah satu Elf menyuruh Mike dan temannya untuk menyerah karena kalau mereka bertarung pemenangnya pastilah dari pihak Elf, selain kalah jumlah, Mike juga harus menjaga anak yang ia bawa.
Elf yang merupakan pemimpin dari tim itu berkata " Menyerah saja, bertarung pun hasilnya pasti akan sia-sia " dia mengatakan nya sambil tersenyum meremehkan ke arah Mike dan temannya.
Beberapa detik setelah dia mengucapkan nya, tiba-tiba Elf yang berada di posisi yang berlawanan dengannya mengeluarkan darah dari mulutnya, ternyata sudah ada seseorang yang menusuk perutnya dengan sebuah belati yang lumayan besar.
Elf yang tertusuk itu mencoba melirik ke belakang sebelum ia tewas, Elf itu pun ambruk sambil memegangi perutnya yang telah berlubang.
Orang yang menyerang salah satu Elf itu menatap ke arah pimpinan Elf tadi dengan tatapannya yang menyeramkan, pupil matanya berwarna merah menyala menambah rasa takut bagi siapapun yang ditatap nya.
Ternyata pimpinan Elf itu tahu siapa orang yang telah membunuh anak buahnya hanya dengan sekali tusukan, dia adalah Kara yang mendapat julukan bayangan kematian.
Dia mendapatkan julukan itu karena aksi-aksi nya yang sangat berbahaya, salah satunya yaitu saat kerajaan Andalas terlibat perang dengan kerajaan lain, ia mampu menghabisi banyak sekali musuh meski pihak nya kalah jumlah dan peralatan, selain itu dia selalu menyelesaikan misi-misi berbahaya sendirian seperti pembersihan monster atau misi penyusupan.
Karena mendapatkan julukan itu juga karena siapapun musuh yang pernah berhadapan dengan nya pasti akan mati atau terkuka parah.
Setelah menyadari siapa yang ia hadapi Elf itu menjadi waspada dan sedikit mundur.
Kara: Pergilah, dua badut ini biar aku yang hadapi.
Mike: Tapi!..
Tiba-tiba saja Kara menghilang bersama dua Elf itu, dia memindahkan dirinya sendiri bersama dengan Elf menggunakan teleportasi, ia tak ingin terjadi pertarungan di dekat kota.
Setelah melihat Kara menghilang, Mike dan temannya pun kembali berlari untuk menyelamatkan diri, Ivan masih belum tenang karena apa yang dilihatnya tadi terlalu tidak layak untuk dilihat olehnya.
Ivan tertidur di gendongan Mike, saat suasananya sudah mulai tenang Ivan terbangun, dan hal pertama yang dia lihat adalah dua gunung menyeramkan di depan matanya, kemudian Ivan kembali melanjutkan tidurnya, Ivan bangun dan berkata " huhhh... pemandangannya tidak pernah berubah ".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.