
Air masih turun saat Ray dan Lisa pergi menuju tempat yang Merlin suruh, hari Lisa sebagai tersangka utama akan diinterogasi oleh para penyihir, karena kasus ini tidak ingin diketahui oleh pihak kerajaan alhasil Merlin mengubah tempat pertemuan.
Mereka berdua pergi dengan menunggangi kuda dengan kecepatan pelan, karena kuda itu berjalan bukan berlari seperti biasanya agar tidak menimbulkan kecurigaan, sekitar setengah jam berlalu akhirnya mereka sampai.
Ternyata tempat yang dituju mereka adalah sebuah rumah kecil yang sudah lumayan rapuh, bahkan kayunya sudah berganti warna, atapnya ada yang sudah bolong.
Ada seseorang penyihir anak buah Merlin disana yang sedang duduk menunggu mereka berdua datang, namanya Ivan, tangan kanan Merlin sekaligus salah satu lulusan akademi terbaik di bidang sihir. Mata sedikit sipit ditambah rambut yang menyentuh mata membuatnya terlihat dingin.
Ivan: Akhirnya kalian datang, ayo cepat! mereka sudah menunggu. (sambil menurunkan kaki dari meja)
Rey sedikit bingung dengan kata 'mereka' yang diucapkan Ivan, Ivan kemudian masuk ke rumah itu disusul Rey dan kemudian Lisa. Saat sudah sampai di ruang tamu terlihat meja bundar yang terlihat masih kokoh, tidak seperti benda-benda disekitarnya.
Ivan meloncat ke atas meja itu, kemudian dia menyuruh Rey dan Lisa untuk ikut menaikinya, meskipun sedikit bingung tapi mereka berdua tetap mengikuti arahan Ivan.
Saat mereka bertiga sudah berada di atas meja itu kemudian Ivan menghentikan kakinya pelan, meja itupun sedikit bergetar sebelum akhirnya berputar pelan dan turun dari tempat asalnya.
Meja itu terus berputar sampai ke dasar, tempat dimana para penyihir sedang berkumpul, mereka pun langsung menjadi pusat perhatian para penyihir yang berada di situ.
Sebenarnya yang menjadi pusat perhatian bukanlah mereka bertiga namun Lisa, mereka tidak menyangka elf yang mereka selamatkan kemarin akan berubah menjadi sangat cantik, mereka mulai menyesali kenapa bukan mereka yang menawarkan diri untuk menampung Lisa kemarin.
Merlin langsung mempersilahkan mereka duduk sebelum akhirnya mulai memberikan Lisa beberapa pertanyaan yang dijawab Lisa dengan sedikit gugup karena menjadi pusat perhatian.
Setelah lama berbincang akhirnya sebuah informasi penting muncul, ternyata elf yang selama beberapa hari ini bersama mereka adalah seorang putri dari salah satu kerajaan Elf terbesar yaitu kerajaan Vatania.
Selain salah satu kerajaan besar bangsa Elf, Vatania juga memiliki tongkat mutiara sihir yang para Elf curi dari bangsa Witch dahulu.
Lisa pun kembali berbicara, ia bercerita tentang bagaimana dia diculik, kabur, dan pada akhirnya bisa sampai di Kerajaan Andalas, dan penculiknya siapa lagi kalau bukan Angela.
Bangsa Witch ingin memanfaatkan Lisa karena posisinya yang sebagai tuan putri pasti mengetahui banyak hal dan juga sangat berpengaruh bagi kerajaan miliknya.
Bangsa Witch hanya menginginkan mutiara sihir yang dicuri, mereka tidak meminta tebusan dari putri yang sudah mereka culik, mereka ingin menggunakan cara mereka sendiri, bahkan jika perang harus tercipta sekalipun. Kini bangsa Witch tidak seperti dulu lagi, kemampuan sihir yang hebat membuat kehidupan mereka berkembang pesat bahkan mereka mampu menyembunyikan wilayah mereka dari dunia luar.
Tak berselang lama, proses interogasi Lisa berakhir, kini yang mereka tahu, ialah Rina diculik oleh salah satu penyihir yang membawa nya ke bangsa Witch yang juga sedang merencanakan perampasan kembali mutiara milik mereka yang pernah dicuri.
Ivan: Jadi bagimana Merlin? kalau kita mau menyelamatkan anak itu, posisi para Witch harus kita temukan terlebih dulu, kalaupun sudah ketemu resikonya pasti sangat besar, kau tahu itu.
Merlin: Resikonya akan bertambah jika perang benar-benar terjadi, kita tidak punya pilihan lain. Kalau masalah lokasi......
Lisa: Aku tahu tempatnya, penyihir yang menculik ku pernah berkata " Setelah melewati 2 gunung itu aku tak akan bersusah payah menyeretmu lagi ", itu adalah kata terakhir yang aku dengar darinya sebelum aku melarikan diri.
Ivan: Maaf nona, tapi gunung yang kau maksudkan itu dimana?.
Lisa: Disebelah barat dari kerajaan ini.
Ivan: Aaa.. gunung yang itu.
Merlin: Apa kau tahu Ivan?
Ivan: Tidak, hanya saja aku pernah melihatnya waktu aku masih kecil, informasi tentang gunung itu sangat minim, bahkan namanya saja aku tidak tahu. Benar-benar gunung yang menyeramkan.
Merlin: Benarkah, memangnya seperti apa gunung itu?
Ivan: Jalan menuju gunung itu sudah sangat buruk, mustahil jika kendaraan bisa melintasinya, bagian bawah gunung itu ditumbuhi pohon yang kering tanpa daun, semakin ke atas lebih didominasi bebatuan kasar sebelum akhirnya terdapat sedikit salju dibagian puncak, awan mendung selalu menutupi area itu, belum lagi monster yang berkeliaran bebas dan lolongan serigala yang terus berkumandang di sana
Tiba-tiba gadis berambut panjang berwarna merah yang sedari tadi hanya mendengarkan angkat bicara, namanya Alin. Alin adalah rival Ivan di Akademi dulu, jika bukan karena sifat nya yang sedikit malas bukan tidak mungkin dia mampu mendahului peringkat Ivan.
Alin: Bagaimana kau tahu sebanyak itu, kau bilang hanya melihatnya.
Ivan: Apa aku pernah bilang aku melihatnya dari jauh (sambil menatap tajam)
Alin: Memangnya barusan kamu bilang apa (tersenyum sinis)
Merlin: Hey, sudah hentikan. Karena posisinya sudah kita ketahui, aku akan memberi tahu siapa yang akan ikut serta dalam misi penyelamatan kali ini. Ivan, karena kamu yang tahu jalan dan gunung yang mana maka kamu harus ikut.
Ivan: oh.. tentu saja, tidak ada alasan pun juga aku pasti disuruh ikut.
Merlin: A..
Alin: Ya ya ya aku ikut.
Ray: Siap!!.
Ivan: Menjaga seseorang di tempat seperti ini bukanlah sebuah tugas.
Merlin: Apa kau lupa Ivan, menjaga seseorang itu jauh lebih sulit daripada menjaga diri sendiri.
Ivan terdiam, sementara Alin sedang menahan tawa dibelakangnya.
Merlin: Ya sudah..
Alin & Ivan: Apa!!!, hanya dua orang.
Merlin: Tentu tidak, aku juga ikut, aku juga akan mengajak Alaster, mungkin dia butuh sedikit hiburan setelah kematian Gabriel, ditambah lagi 2 orang yang akan ikut.
Alin & Ivan: Huuuft...
Merlin juga menyuruh Ray dan Lisa untuk tetap di tempat itu, mereka boleh keluar tapi tidak boleh terlalu mencolok, selain untuk keselamatan Lisa, mungkin Ray juga bisa sedikit membantu pekerjaan para penyihir yang ada disitu.
___
Kaze: Kau mendengar sesuatu?.
Andre: Mustahil mendengar mereka dari atas sini, sedangkan mereka berada jauh di bawah sana. Lebih baik kita bersiap saja, jika mereka berangkat kita bisa langsung menyusul.
Kaze: oke.
Ternyata Andre dan Kaze mengikuti Ray dan Lisa dari tadi, tapi upaya mereka dihentikan ketika melihat Ray, Lisa, dan Ivan turun ke bawah tanah menggunakan sebuah meja, Andre dan Kaze menunggu meja itu kembali ke atas namun sia-sia, lubang tempat meja itu pergi malah menutup berpadu dengan lantai.
Andre: Lebih baik kita kerumahmu saja, aku sudah lapar.
Kaze: oh tidak, aku lupa memberi makan tiga anak itu.
*sementara itu di rumah Kaze
Alan: Harta
Randa: Tahta
Muna: Makanan
mereka semua terkapar sambil membawa cendok masing-masing.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.