
Ray sedang sibuk mencarikan baju yang cocok dikenakan oleh seorang wanita, karena dirumahnya belum pernah ada seorang wanita yang tinggal dan juga dia tidak menyangka akan ada wanita yang tinggal di rumahnya membuat Ray sulit menemukan baju yang pas.
Setelah berhasil menemukan baju dan celana yang cocok kemudian Ray mememberikan nya kepada seorang elf yang baru saja datang kerumahnya.
Ray: Ini, ku bawakan baju ganti untukmu, mungkin agak terlalu besar, oh iya, ngomong-ngomong namamu siapa?, biar lebih enak ngobrolnya. (sambil cengengesan)
Lisa: Namaku Lisa, terima kasih.
Ray: Namaku Ray, salam kenal.
Setelah memberitahu namanya, Lisa kemudian masuk untuk membersihkan badannya yang sangat kotor, selagi menunggu Lisa selesai mandi, Ray kemudian pergi ke dapur untuk memasak.
Dapur milik Ray tidak terlalu besar hanya ada kompor, beberapa lemari kecil, lemari pendingin, dan sebuah meja dengan 4 kursi yang mengelilinginya. Untung saja masih ada daging di lemari pendingin nya, kalau tidak dia terpaksa harus pergi ke pasar untuk berbelanja.
Ray kemudian memotong daging itu tipis agr mudah untuk dimakan, dia pergi ke kebun belakang rumah nya sebentar untuk mengambil beberapa bumbu dan bahan tambahan untuk ia masukan ke dalam masakanya.
Setelah hampir satu jam, masakanya pun matang, bau sedap nya sangat kuat, hingga siapapun yang masuk ke rumah itu pasti akan langsung mencium bau sedap nya.
Masakanya sudah selesai tapi Lisa belum juga keluar dari kamar mandi, Ray akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah teh hangat untuknya, saat Ray sedang menuangkan air panas untuk menyeduh teh nya tiba-tiba terdengar langkah kaki di belakangnya.
Ray kehilangan konsentrasi nya hingga membuat air panas mengenai pergelangan tangannya yang sebelah kiri, di depannya kini berdiri seorang elf, kulitnya putih bersih, rambutnya berwarna abu-abu, kelopak matanya berwarna biru muda, dipadukan dengan bibir merah muda yang membuatnya menjadi sangat cantik.
Ray terpesona dengan elf yang ia tolong, sayang rasa kagumnya harus kalah dengan rasa sakit di tangannya, Ray menjerit lirih, Lisa yang melihatnya terkejut dan langsung membantu Ray.
Lisa: Apa kau tidak apa-apa?
Ray: Nggak apa-apa, tidak usah dipikirkan, lebih baik kita makan, kau pasti sangat lapar bukan.
Setelah itu Ray dan Lisa makan, Lisa yang sangat lapar tidak tahan dengan masakan Ray yang sangat enak, dia makan dengan sangat lahap, jika Ray adalah orang lain pasti dia akan merasa risih dengan cara Lisa makan
Lisa menghentikan makannya mendapati Ray yang terus memandangi nya, bahkan Ray baru makan satu gigitan yang terus ia kunyah.
Lisa: Kenapa kau melihatku seperti itu?
Ray yang menyadari kalau dari tadi dia terus menatap Lisa terkejut dan langsung meminta maaf, mereka pun melanjutkan makan, selesai makan Ray memberikan sebuah secangkir teh yang kini sudah menghangat tidak panas seperti yang mengenai tangan Ray tadi.
Sebenarnya Lisa tidak terlalu menyukai teh, tapi karena kejadian tadi dia menjadi tidak enak jika harus menolaknya, setelah satu sruputan Lisa menjadi ketagihan karena rasa teh nya yang unik sekaligus menghangatkan perutnya.
Lisa: Rasa teh nya enak sekali, bagaimana carmu membuatnya?
Ray: Cara membuatnya sebenarnya biasa saja, mungkin karena menanam sendiri jadi rasanya lebih enak. (sambil cengengesan)
Lisa: Benarkah, dimana kamu menanamnya?
Ray: Di belakang rumah ini, mau liat?.
Ray kemudian membawa Lisa ke kebun belakang rumahnya, suasana siang hari yang sunyi, suara jangkrik yang merdu, ditambah sinar matahari yang tidak terlalu panas membuat siang itu menjadi waktu yang sangat pas untuk bersantai.
Lisa kagum dengan kebun milik Ray, meski tidak terlalu besar, tapi tumbuhannya tertata rapi dan sangat subur, apalagi ditambah bunga warna-warni yang bergelantungan, membuat kebun itu terasa sangat indah.
Ray: Kau pasti sangat lelah, apa mau tidur siang? suasana seperti ini sangat nyaman kalau untuk tidur.
Setelah mengiyakan, Ray dan Lisa berjalan menuju kamar Ray, Ray menyuruh Lisa untuk tidur di ranjangnya. Karena sangat lelah, Lisa langsung tertidur, sebenarnya Ray tidak keluar karena dia juga ingin tidur siang.
Ray lalu memasang sebuah kasur lipat kecil di lantai kamarnya.
Beberapa jam berlalu akhirnya waktu sore pun tiba, Ray bangun duluan sebelum Lisa juga bangun, wajah Lisa terlihat sangat cantik dengan sinar matahari yang mengenainya melalui jendela yang terbuka, angin sepoi-sepoi menerbangkan beberapa helai rambut nya.
Darah menetes dari hidung milik Ray karena kecantikan Lisa yang dilihatnya, Lisa mendekati Ray dan menyentuh pipinya dan berkata.
Lisa: Apa kamu baik-baik saja?, ada darah keluar dari hidungmu.
Ray: Aku tidak papa, hal seperti ini memang biasa terjadi.
Ray pun segera turun ke lantai bawah untuk membersihkan hidungnya yang mengeluarkan darah, setelah itu Ray pergi ke dapur dan melihat Lisa sudah duduk di salah satu kursi yang ada disana.
Karena kehausan Lisa meminta segelas air, Ray mengambilkan air untuk Lisa minum sebelum, memeriksa lemari tempat menyimpan makanan, ternyata persediaan makanan Ray sudah habis, dia tidak mengetahuinya karena tadi siang Ray hanya mencari daging di lemari pendingin.
Untung saja banyak pedagang yang masih membuka gerainya saat itu, sekitar setengah jam berlalu, semua makanan yang Ray cari sudah didapatkan, mereka berdua kemudian kembali ke rumah Ray saat hari sudah malam.
Damai rasanya berjalan saat malam hari, bulan bundar sempurna, langit yang cerah dihiasi bintang-bintang, angin sejuk yang terus berhembus, suara serangga malam yang mendamaikan hati, ditambah lagi dengan ditemani gadis cantik, mungkin itu yang sedang terjadi dengan Ray saat ini.
Setelah melewati perumahan dan menyebrang sungai akhirnya mereka sampai, Ray menuju ke dapur untuk meletakkan belanjaanya, dia juga menyuruh Lisa untuk mandi sambil menunggu makanan siap.
Lisa keluar dari kamar mandi menandakan ia sudah selesai dengan kegiatannya, dia berjalan ke dapur tempat Ray berada, Ray masih memasak saat Lisa sampai, Lisa mengambil kursi dan duduk di samping Ray yang sedang memasak.
Di tempatnya dulu Lisa selalu di buatkan makanan dan tidak pernah memasak, oleh karena itu dia tidak bisa memasak, alhasil dia hanya melihat Ray masak tanpa membantunya.
Lisa: Sejak kapan kamu bisa memasak?
Ray: sejak kecil, Ibuku yang mengajari memasak.
Lisa: Dimana ibumu sekarang? kenapa kamu tinggal sendirian?
Ray: Ibuku tinggal di desa bersama keluarga ku, aku mulai tinggal sendirian semenjak belajar di akademi kota ini sebagai seorang penyihir.
Lisa: Ternyata kau seorang penyihir, lalu dimana tongkat sihir mu? aku tidak melihatnya.
Ray: Aku punya satu, tapi tidak pernah ku gunakan, itulah mengapa aku selalu di posisi terkahir di akademi.
Lisa: Kenapa tak digunakan?
Ray: Tidak papa, tidak ingin saja.
Pembicaraan mereka berakhir berbarengan dengan selesainya Ray memasak, karena sudah lapar mereka langsung makan.
Ray: Kamu tidur saja duluan!, aku mau mandi sebentar.
Lisa: Ok.
Lisa pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamar atas untuk tidur, sedangkan Ray ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sebuah keberuntungan bagi Ray karena bisa akrab dengan Lisa walaupun belum satu hari penuh mereka bersama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.