
"Cukup sampai di sini saja, saya sudah banyak merepotkan anda, dan lagipula ayah saya takan pernah melepaskan anaknya begitu saja, apalagi sampai membiarkan anaknya pergi sendirian tanpa adanya pengawalan, terima kasih."
Bila Clara menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya, mungkin ucapan itu akan terdengar lebih manis lagi, namun sebagaimana watak mereka berdua, mereka hanya bisa merasakan tatapan yang begitu datar, suara yang terdengar begitu dingin, serta tubuh yang terlihat begitu kaku.
Tanpa ucapan terakhir Azka pun lalu pergi meninggalkan Clara di taman itu sendirian. Sebelumnya Azka akan pergi mengambil motor Yamaha R1 berwarna hitamnya di markas besar para abdi negara.
Tak lama setelah Azka meninggalkan Clara, tiba-tiba Clara dihampiri oleh sekumpulan pria yang sepertinya mereka bukan orang-orang biasa.
"Apakah anda adalah anak dari Tuan Julian?" ucap salah satu pria bertubuh besar.
"Bila iya anda mau apa! dan bila tidak apakah anda akan tetap membuntuti saya," ucap Clara terlihat begitu dingin sekali.
"Tangkap dia, dan ingat! jangan sakiti dia karena Bos melarang kita melukai wanita ini," ucap salah satu pria yang diduga pemimpin mereka.
Dengan sigapnya Clara pun memukul salah satu wajah penjahat yang hampir saja memegang tangannya. Di sanalah Clara mulai berkelahi dengan para penjahat itu.
Tak ada satu pun diantara mereka yang sanggup menyentuh wajah cantik Clara. Clara hanya bisa menghindar, sementara itu para Bodyguard milik ayahnya belum juga tiba membantunya.
Grungg, grungg, grungg ....
Suara raungan motor dengan seketika memberhentikan perkelahian itu.
Brugg ....
Sang pengendara motor pun akhirnya menabrak salah satu penjahat yang bertubuh besar hingga penjahat itu terkapar, namun sayangnya dia masih bisa berdiri kembali.
Sang pengendara motor dengan perlahan membuka helmnya, dan ternyata dia adalah Azka. Seperti biasa sebagaimana sikap dingin Clara, dia sama sekali tak memberikan respon apa-apa, pandangan yang datar sudah mencerimkan watak asli mereka berdua.
"Hari ini banyak sekali kejadian yang tidak dapat kita duga, apakah anda mau beristirahat terlebih dahulu nona?" ucap Azka dengan posisi sigapnya.
"Tidak usah repot-repot ini baru saja dimulai, tenang aja nanti anda akan melihatnya sendiri bahwa saya dapat mengelahkan mereka hanya dengan memberikan beberapa pukulan kecil saja," ucap Clara mulai menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya di hadapan Azka.
Mereka berdua mulai berkelahi, dan sepertinya itu akan menjadi pertarungan yang sangat singkat, apalagi sekarang Azka ikut serta dalam pertarungan Clara.
Bila dihitung secara keseluruhan ada 20 penjahat yang menghadang Clara dan Azka, semua sudah dibagi, Azka melawan sepuluh penjahat dan Clara pun melawan sepuluh penjahat juga.
Para penjahat melingkari tubuh mereka berdua, namun itu tidak masalah dikarenakan mereka berdua pasti bisa mengalahkan para penjahat itu dengan mudah.
Pada saat mereka berdua tengah asik melawan para penjahat di jalanan yang tak jauh di sekitaran taman kota, di sana terlihat ada salah satu penjahat yang menodongkan senjata api berjenis revolver ke arah Clara.
Duarr ....
Penjahat itu sudah menarik pelatuknya revolvernya, dan di situlah Azka menarik tangan Clara hingga pada akhirya peluru revolver tersebut berhasil mengenai salah satu rekan penjahatnya.
Tembakan yang sangat fatal, bila Azka telat sedikit saja dalam mengambil tindakannya itu, maka nyawa Clara akan terancam, dikarenakan tembakan tersebut sudah di arahkan dan tepat mengarah ke arah dada sebelah kiri target.
Azka pun berlari ke arah sipenembak, namun penembak itu malah meluncurkan kembali tembakannya hingga pelurunya mengenai salah satu rekannya lagi.
Kecepatan lari dari seorang Azka dapat membuat si penembak bingung, si penembak tak tahu harus menembakan pelurunya ke arah mana, sedangkan Azka dapat menghindari dan membaca semua arah peluru yang melayang itu ke arah mana saja.
Hingga saat si penembak kehabisan pelurunya, pada saat itu juga Azka mengambil kesempatan untuk mematahkan kedua tangannya.
Krakk ....
"Ahhh .... tangan gue," teriak kesakitan dari si penembak itu benar-benar mengganggu konsentrasi semua rekan sepenjahatnya.
Azka tersenyum bagaikan orang yang tak memiliki belas kasihan, untung saja di sana ada Clara, jadi para penjahat kelas amatiran ini tak dapat melihat kekejaman yang dimiliki oleh seorang Azka seperti apa.
....
Perkelahian yang cukup singkat, di mana setelah Azka mematahkan kedua tangan si penembak itu, dengan seketika dia pun dibuat takjub dan kagum oleh Clara. Tanpa Azka sadari ternyata Clara dapat mengalahkan sekumpulan penjahat-penjahat itu dengan begitu mudahnya, dan bahkan tanpa sekali pun dia membantunnya.
Lantas pada saat itu Azka mengacungkan ibu jarinya untuk mengakui kehebatan Clara di sana. Azka pun berpikir, sepertinya tanpa dirinya wanita ceroboh itu masih sanggup mengalahkan sekumpulan penjahat dari kelas amatiran tersebut meskipun hanya seorang diri.
"Ternyata anda cukup hebat juga ya, kalau tahu gitu saya tidak akan membantu anda tadi," ucap Azka dengan tatapan datarnya.
"Saya bilang juga apa, padahal anda tidak perlu membantu saya dikarenakan saya masih sanggup mengalahkan mereka meski sekali pun anda tidak membantu saya," ucap Clara dengan tatapan sombongnya.
"Bila saya tidak datang, mungkin anda tidak akan pernah bisa menatap raut wajah saya lagi."
Azka berbicara seolah-olah dia sedang mengingatkan Clara bahwa sebenarnya dia telah menyelamatkan Clara dari bahaya. Mungkin bila Azka tidak ada di sana dan membantu Clara, maka tidak lain Clara pasti sudah tertembak.
"Anda mungkin telah melupakannya, namun bila saya tidak ada di sini anda pasti sudah tertembak nona, apalagi senjata yang dia gunakan merupakan senjata api yang cukup berbahaya."
"Anda bisa melihatnya sendirikan dua penjahat itu mati dalam hitungan detik, jika anda tetap angkuh dan berpikiran bahwa anda dapat mengalahkan para penjahat itu seorang diri, maka dari itu anda sudah salah besar," ucap Azka, dan sepertinya kali ini Clara menyadari kesalahannya apa, namun pada saat itu juga tiba-tiba Clara jatuh pingsan.
Dengan sigapnya Azka berlari menghampiri Clara, hingga pada akhirnya Clara pun terjatuh tepat berada dalam genggaman seorang Azka.
Azka terus menatap wajah Clara sampai Clara sadar, namun itu tidaklah mudah, Azka sudah cukup lama menunggu Clara sadar, sampai-sampai para Bodyguard milik Tuan Julian tiba di sana.
"Nona muda! anda kenapa? apakah anda baik-baik saja? Bos besar sudah lama menunggu anda di rumah."
"Sebenarnya anda kenapa, dan mengapa anda bisa berada di tempat seperti ini, bukankah anda menyuruh saya untuk menjemput anda di depan pintu gerbang utama, tapi kenapa anda tidak ada di sana," ucap Samuel yang terlihat begitu mengkhawatirkan keselamatan Clara.
Samuel begitu mengkhawatirkan keselamatan Clara, dan terlebih dia sudah menganggap Clara bagaikan adiknya sendiri, bahkan dari dulu pada saat Clara masih menginjakan kakinya di bangku sekolah dasar, seorang Samuel selalu berdiam diri di belakang tubuh Clara dengan waktu yang cukup lama tanpa sedikit pun dia melepaskan rasa perhatiannya.
Kali ini Samuel dibuat kecewa oleh dirinya sendiri, bahkan dia juga tidak mengetahui penyebab Clara bisa terbaring lemas dipangkuan Azka seperti itu karena apa.
Samuel berpikir seharusnya dari awal dia tetap menjalankan tugasnya sebagai salah satu pelindung pribadi Clara, namun waktu itu Clara membuat dirinya bimbang harus memilih jalan yang mana, antara melindungi atau mematuhi ucapan Clara.
Semenjak Clara bertumbuh menjadi wanita dewasa, pemikiran serta tingkah laku Clara makin sulit dipahami, entah itu dari segi dia bersikap ataupun itu dari segi dia berteman dengan orang lain.
Semua itu adalah letak di mana ketakutan Samuel muncul, banyaknya pertanyaan yang dia terima dari Bos besar semakin membuat diamnya dia tak karuan.
"Saya berharap nona muda mau mengertikan posisi saya dan mau memahami serta melihat sedikit saja rasa cinta yang saya abdikan kepada ayah anda itu seperti apa."
"Maka dari itu saya mau meminta maaf terlebih dahulu kepada anda dikarenakan mulai dari sekarang dan untuk selamanya saya akan memilih disebut sebagai pembangkang yang tak tahu diri oleh anda ketimbang saya harus memilih menjadi seorang pembohong, apalagi orang yang sering saya bohongi itu merupakan ayah anda sendiri nona."
Samuel berbicara dalam hatinya sendiri sembari memberikan tatapan yang tidak terlalu tajam, namun kesannya memperlihatkan sebuah harapan.
Bahkan sosok pria yang terkenal beringas seperti Samuel itu pun dapat merasakan rasa kekecewaan dihati seseorang, namun entah kenapa Clara tak dapat merasakan hal tersebut.
Hingga Azka pun memikirkan hal yang sama seperti Samuel, mengapa Clara sekeras kepala seperti ini, padahal dia adalah seorang wanita, seharusnya dia dapat bersikap sebagaimana mestinya menjadi seorang wanita yang sering menjauhi adanya tanda-tanda bahaya.