
3 minggu kemudian ....
Hari senin, tepatnya berada di lapangan markas besar para abdi negara. Seperti biasa sebelum melaksanakan aktifitasnya para abdi negara akan dikumpulkan dan dibaeiskan terlebih dahulu dilapangan untuk melaksanakan ucapara pengibaran bendera.
"Lapor, ucapara pengibaran bendera hari senin siap dilaksanakan jendral."
"Laksanakan, kembali ke tempat."
Setelah mendengar perintah diistirahatkan, dengan serentak pasukan abdi negara pun terdiam tanpa suara pada saat mereka melihat bahwa jendral Soepomo Dirga Caksana lah yang mengambil komando waktu itu.
Beliau merupakan salah satu jendral berpangkat tinggi yang dimiliki oleh negara. Namanya sangat tersebar luas dikalangan para penjahat pembunuh berantai. Bahkan negara luar sangat mengagumi sosok beliau.
Bukan dikenal sebagai sosok jendral yang paling ditakuti saja, beliau juga sudah banyak membantu menegakan kedaulatan negara dari ketidak adilan orang-orangnya.
Beliau merupakan jendral yang tidak pernah mengenal sedikit pun rasa takut, bisa dibilang rasa ketakutan yang beliau miliki sudah lama menghilang dan mati.
Para abdi negara merasa bila komando sudah diambil alih oleh beliau yang pastinya beliau akan membahas sumber masalah yang telah terjadi di tanah air tercinta ini.
"Kalian semua pasti sudah tahu alasan mengapa saya berdiri di sini, jadi langsung saja, saya hanya ingin menyampaikan beberapa perihal yang sudah terjadi di tanah air tercinta ini, tidak lama setelah tragedi pengeboman di salah satu pusat perusahaan termukaka itu, dan sekarang tepatnya malam tadi, di mana bapak presiden menghubungi saya bahwa intel negara telah menemukan sebuah kasus pemberontakan yang dilakukan oleh para ******* asing terhadap warga negara kita."
"Bapak presiden menyuruh saya beserta dengan para jajarannya untuk segera menuntaskan masalah yang ini secepat mungkin, berhubung bapak presiden tidak memberikan perintah apa pun lagi, maka dari ini saya menyuruh kalian untuk menenggelamkan siapa saja yang sudah berani masuk ke kawasan kita."
"Matikan!" teriak jendral dengan yang begitu tegasnya hingga pada akhirnya semangat dari para abdi negara pun mulai berkobaran.
"Siap ... matikan!" suara teriakan yang khas itu mulai digumamkan hingga mana tanah pun bergetar ketika mendengar suara mereka.
Barisan dibubarkan, dan kini pembahasan akan dilanjutkan di dalam ruang rapat. Rapat akan dilaksanakan sekiranya pada pukul 09:00 pagi, sedangkan sekarang baru pukul 08:25.
Para abdi negara memanfaatkan waktu singkatnya untuk berbincang dan bersantai-santai di sekitaran markas besar yang tak jauh dari ruangan rapat.
Sementara di sana terlihat bahwa Azka tengah duduk berdua bersama dengan seorang wanita, dan wanita itu merupakan rekan kerja di pasukan elite yang sama, yakni bayangan yang bergerak diantara kegelapan langit malam, atau bahasa singkatnya, yaitu Shadow Black.
"Huuh ... kapan saya bisa hidup dengan tenang ya! dan kenapa belakangan ini masalah sering datang tiada hentinya ya, Capt? pokoknya awas aja kalian semua! bila saya sudah mendapatkan perintah dari jendral, maka saya akan menebas leher kalian," ucap wanita yang bernama Ariska sembari mengepalkan kedua tangannya.
Azka hanya terdiam kaku tanpa sekali pun dia memberikan reaksi yang sama seperti Ariska. Waktu itu Azka hanya terobsesi kepada bukunya saja, bahkan ucapan Ariska dia abaikan tanpa sekali pun dia mau mendengarkannya.
Ariska merupakan sosok wanita yang kesannya terbilang beringas, kuat, kasar, kejam, dan wanita yang paling pandai dalam membuat starategi perang.
Bukan hanya itu saja, dan mengapa Ariska disebut sebagai wanita kejam, tidak lain dikarenakan dulu dia pernah menjadi sosok algojo wanita pertama yang dimiliki oleh negara.
Sebenarnya cita-cita Ariska iyalah menjadi seorang pilot wanita, namum dia memiliki teraumannya tersendiri, di mana dia pernah bermimpi tentang dia yang tanpa sengaja menjatuhkan pesawat beserta dengan para penumpangnya hingga hancur.
"Bersyukurlah selagi sempat, kebanyakan mengeluh pun untuk apa! semua itu tidak ada gunannya."
"Tuhan hanya ingin melihat hambanya yang sabar, kita meminta dan kita menyembahnya untuk apa? pastinya untuk diri kita sendiri, bila Tuhan membahagiakan umatnya begitu saja, di mana letak perjuangan kita, takan ada kebahagiaan tanpa adanya ujian serta cobaan, semua butuh proses, tak ada proses yang dapat kita capai tanpa adanya usaha."
"Anda bisa berdiri di sini dikarenakan apa, pastinya dikarenakan anda telah berjuangkan? sekarang saya tanya, apakah anda mampu menjalaninya?" tanya seorang Azka membuat Ariska merasa kesal atas sikap dingin yang Azka berikan kepadanya.
"Saya selalu mampu Capt, tapi saya mau bertanya kepada anda, apakah anda mampu bersikap sebagaimana layaknya menjadi pria yang berada dicerita novel?" tanya Ariska yang dibalas dengan sikap dingin Azka kembali.
Azka kembali terdiam, perkataan dari Ariska merupakan sebuah pertanyaan yang sia-sia saja dikarenakan Azka tidak bisa mengubah sikapnya sebelum dia melihat tawa dan senyuman dari semua orang.
"Percuma saja saya berbicara dengan anda Capt!".
Setelah melontarkan ucapan tersebut, Ariska pun lalu pergi meninggalkan Azka, namun tak lama kemudian Ariska pun menghampirinya kembali setelah dia melihat Azka tetap mempertahankan pandangannya ke arah buku yang tengah Azka genggam itu.
"Benarkan apa yang saya bilang, anda tidak pernah bisa menghargai seseorang, bahkan pada saat saya pergi meninggalkan anda, anda tidak mau melihat saya sedikit pun," ucap Ariska sembari mengernyitkan dahinya.
"Anda tak layak dihargai, bukankah anda pernah bilang seperti itu kepada semua orang bahwa anda tidak suka dipuji dan dikasihani, apalagi sampai diperhatikan oleh orang lain."
"Sangat menyebalkan sekali! padahal seluruh anggota keluarga bermata biru tak ada yang bersikap semacam Capt Azka, tapi entah kenapa dia selalu bersikap sedingin ini kepada semua orang termasuk saya juga, namun anehnya dia selalu bersikap ramah ketika berada di hadapan anak-anak serta orang tua, sangat membingungkan," ucap Ariska dalam hati, di mana sebenarnya Ariska ingin menanyakan hal ini, namun dia sadar bahwa Azka tidak akan pernah mau menjawab pertanyaan darinya.
Ngiungg ....
Suara bell peringatan telah mendengung kencang, seluruh pasukan mulai berbaris di depan ruang rapat, para abdi negara sering menyebutnya sebagai ruangan satu suara.
Namun, berbeda hal nya dengan Azka, di mana dia selalu datang dibarisan paling akhir, kenapa? dikarenakan seorang Azka tidak ingin dirinya yang sekerang dipanggil sebagai orang penting.
"Capt, bell peringatan sudah berbunyi, kita harus segera pergi dari tempat ini sebelum jendral tiba di ruang satu suara," perintah dari Ariska masih diabaikan oleh Azka.
Sebelum Azka menyelesaikan bacaannya, dia takan pernah mau mendengarkan perintah dari seseorang bahkan sekali pun dari atasannya.
"Capt, ayo."
"Ayo, kumpulkan semua pasukan kita Ka," perintah Azka di mana dia tak menyadarinya bahwa semua pasukannya telah menunggu di hadapannya.
Saking asiknya Azka membaca buku, dia sampai tak melihat para pasukannya di sana, dan untung saja mereka sudah mengetahui sikap pemimpinnya seperti apa, jadi masalah ini merupakan masalah yang sudah biasa.
"Kamu kayak engga tahu Captein kita seperti apa Ka, kalau dia udah fokus membaca satu buku, apalagi bila bacaannya belum dia selesaikan, maka satu perintah takan pernah bisa membuatnya berdiri dari zona nyamannya," ucap salah satu rekannya yang bernama Arga, di mana dia tersenyum lebar melihat Ariska memonyongkan bibirnya dikarenakan Azka selalu mengabaikan perintah darinya.
Arga merupakan sosok pria yang sangat baik, dia ramah, tampan, murah senyum, dan pastinya dia tidak sedingin Azka. Hanya saja Arga akan terlihat menyeramkan pada saat dia tengah berada di medan perang.