
Pesawat diterbangkan, semua pasukan Black Shadow terlihat begitu percaya diri, mereka sudah siap menaklukan semua anggota ******* bajingan itu sampai habis tak bersisa.
Diperkirakan mereka akan tiba di tempat tujuan lebih awal, berhubung cuaca di hari sekarang terlihat sangat bersahabat, jadi mereka hanya membutuhkan waktu 10 menitan untuk sampai di tempat tujuan.
"Capt, santai aja kali, memangnya anda mau pergi ke mana? sebaiknya anda tetap menggunakan sabuk pengaman anda dikarenakan ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan pendaratan," tanya Ariska dengan tatapan keraguannya.
Ariska memang sangat ragu kepada Azka, tapi ragu yang dia pikirkan itu bukan bertentangan dengan seorang Azka yang tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan sebaik mungkin, namun melainkan bertentangan kepada seorang Azka yang takan patuh menjalankan tugasnya.
Azka membuka pintu pesawat hingga sang pilot merasa heran, bukankah sebelumnya pintu bagian belakang pesawat sudah dia tutup rapat-rapat, namun entah kenapa sang pintu belakang pesawat bisa terbuka begitu saja, maka dari itu sang pilot pun segera menutup pintu tersebut agar para pasukan tak terhempas hingga keluar dari pesawat.
Namun, sang pilot tidak bisa menyelamatkan Azka, dan sang pilot pun tak secepat Azka, hingga pada akhirnya Azka terhempas dikarenakan Azka sengaja menghempaskan dirinya.
"Capt! anda masih terlalu muda untuk mati sekarang, lebih baik anda kembali ke tempat duduk anda sebelum angin di luar pesawat menarik tubuh anda, sudahlah Capt, jangan main-main dengan maut!" bahkan perintah dari seorang Arga pun diabaikan begitu saja oleh Azka.
"Saya hitung satu sampai tiga, bila anda tidak mendengarkan perintah dari jendral, maka saya akan menembak anda," ucap sosok Ariska seraya mengarahkan pistolnya ke arah Azka.
Ariska mulai menghitung mundur, namun Azka tetap mengabaikan dan menganggap Ariska takan pernah berani menembak Capteinnya sendiri.
Pada saat Ariska menyebut hitungan terakhirnya, Azka pun dengan seketika menjatuhkan dirinya. Tapi, sebelum itu Azka sempat memberikan beberapa patah kata kepada semua rekannya agar mereka tetap menjalankan misinya.
"Tetap berada dalam misi," ucap Azka di mana dia pun mulai menerjunkan dirinya sendiri sambil tersenyum di dalam topengnya.
"Ini adalah tugas saya, kalian hanya perlu menghabisi sisanya saja, saya terlalu perhatian sehingga saya tidak ingin membuat anggota saya kelelahan," ucap Azka sembari menarik tali parasutnya seraya membuang semua alat komunikasinya itu.
Semua pasukan Azka terdiam kaku, namun mereka sadar untuk apa mereka mengkhawatirkan seorang Azka, sedangkan julukan yang diberikan kepada Azka bukan julukan biasa bahkan nama julukan tersebut tak dimiliki oleh siapa pun selain Azka.
Sebenarnya yang mereka khawatirkan itu bukanlah Azka, melainkan alasan apa yang harus mereka buat nantinya bila sewaktu-waktu jendral menanyakan keberadaan Azka.
Untuk sementara waktu ini mereka sedang berusaha menghubungi Azka, namun mereka sadar bahwa Capteinnya itu pasti sudah memutuskan saluran komunikasinya dengan mereka serta dengan pusat markas besar abdi negara.
Demi menjaga nama baik Azka dan demi menjaga suasana tetap damai, mereka semua memutuskan saluran komunikasi dengan pusat markas besar abdi negara.
"Untuk menjaga kedamaian kita saat pergi bertugas, alangkah baiknya kita memutuskan semua saluran komunikasi kita dengan para jendral serta dengan pusat markas besar abdi negara, berhubung sekarang Captein kita juga susah dihubungi, maka dari itu kita pun harus mengikuti cara yang tengah direncanakan oleh Captein kita di sana," ujar Arga dengan begitu santainya berbicara kepada rekan-rekannya.
Arga sempat menghubungi kedua pilot di ruang kopit agar mereka menutup mulutnya dan merahasiakan semua kejadian yang telah terjadi kepada jendral.
Sang pilot setuju, lantas di sana para pasukan Azka memutuskan semua saluran komunikasi dengan markas, sementara untuk saluran komunikasi kedua pilot itu masih mereka hubungkan dikarenakan para pasukan Azka yang memerintahkan mereka untuk tetap menyalakan saluran komunikasi dengan markas.
....
"Five, five, five, zero langit masuk, statuskan keadaan para pasukan Black Shadow kepada markas besar ganti," pusat informen markas besar abdi negara mulai menghubungi kedua pilot untuk menanyakan status para anggota pasukan elite Black Shadow.
"Five, five, five, zero langit ada di sini. Keadaan para pasukan elite Black Shadow aman," ucap sang pilot kepada pusat informen markas abdi negara.
"Ada kendala! mengapa para pasukan Black Shadow memutuskan semua saluran komunikasi?" tanya informen kepada sang pilot dengan tatapan penuh keraguan.
"Five, five, five zero langit, terima kasih atas informasinya, selamat bertugas."
Kembali kepada Azka, di mana dia telah mendarat tepat di pulau terpencil yang tak berpenduduk. Di sana terdapat air terjun yang cukup tinggi, aliran air terjun itu mengalir hingga ke titik lokasi yang pertama.
Azka mengikuti aliran air yang ke ********** bisa merendam semua tubuh Azka. Azka berjalan di bawah air tanpa alat bantuan pernapasan apa pun.
Seperti yang Azka duga sebelumnya bahwa para ******* itu ternyata sedang lengah, dia melihat kurang lebih supuluh pasukan ******* yang sedang bertugas di sekitaran air sungai.
Azka memberikan tatapan yang diselimuti oleh kebenciannya terhadap mereka, dia memelotokan matanya di dalam topeng besinya itu seraya mengawasi lokasi di sekitaran tempat tersebut.
Azka berjalan perlahan menghampiri salah satu pasukan ******* yang sedang buang air kecil di balik batu besar sembari menggenggam satu buah bambu runcing seukuran pisau komandonya.
Tanpa suara, tanpa bayangan Azka menutup mulut ******* itu dan lalu menyayatkan bambu tersebut ke arah leher ******* yang bernasib tak sebaik Azka itu.
Azka sengaja menghanyutkan tubuh ******* itu agar para rekannya mengetahui bahwa di sana ada sosok bayangan yang siap menerkam mereka sebagaimana dia bertindak seperti sosok singa yang kelaparan.
Sisanya tinggal sembilang orang, namun yang terpancing oleh mayat dari rekannya hanya beberapa orang. Dan pada saat itu juga sosok Azka keluar dari dalam air dengan menampakan dirinya di hadapan para saksi yang telah melihat mayat dari rekan terorisnya mengapung di atas air dengan keadaan seluruh tubuhnya sudah dilumuri oleh darah.
Azka memberikan reaksi yang tak dapat mereka tebak, bahkan senapan yang mereka genggam itu tak bisa bekerja dengan sebaik mungkin bila sudah menatap mata biru Azka. Dan dengan cepatnya Azka pun lalu mematahkan tulang leher dari salah satu ******* yang melihatnya lebih dulu itu hingga mana dia membuat salah satu kepala dari ******* itu menghadap ke belakang.
Pada saat itu juga Azka pun melempar bambu runcingnya ke arah ******* yang lainnya hingga bambu tersebut melayang secepat kilat dan menembus ke arah dua kepala ******* sekaligus.
Sisanya tinggal enam *******, itu bukanlah jumlah yang banyak bagi Azka, bahkan menurut dia jumlah tersebut tergolong cukup sedikit.
Azka memanggil keenam ******* itu seraya melepaskan semua senapan serbunya dan juga revolver Magnumnya. Di sana Azka pun berniat mengajak mereka semua berkelahi secara jantan, dan alangkah bodohnya para ******* itu malah menerima ajakan dari sosok pembunuh berantai seperti Azka.
"Kalian semua hanya sekumpulan sampah yang tidak berguna dan tak memiliki seni bertempur yang bisa dibilang cukup baik, maka dari itu saya ingin mengajak kalian semua berkelahi secara jantan, jaminan bila kalian bisa mengalahkan saya adalah kepala saya sendiri," ucap Azka sembari melepaskan semua atributnya terkecuali sorban, topeng, dan tasbihnya.
Begitu baik hatinya para ******* itu melepaskan senapan apinya, yang mereka genggam sekarang hanyalah satu bilah golok yang entah itu tajam atau tidaknya.
"Ada terlalu baik hati Tuan, apakah anda bisa mengalahkan kita dengan tombak itu! saya harap anda tidak akan menyesali tindakan yang anda lakukan itu, lebih baik sekarang anda bersiap-siap saja dikarenakan malaikat maut akan mencabut nyawa anda detik ini juga," ucap salah satu ******* sambil tertawa dengan begitu lepasnya di hadapan Azka.
Syatt ....
Azka melemparkan tombak bambunya hingga melubangi satu wajah sang ******* itu. Lalu kemudian Azka pun bergerak seperti kilatan cahaya yang menembus tubuh mereka.
Alhasil Azka menumbangkan mereka dengan begitu mudahnya tanpa sedikit pun dia terluka. Setelah itu Azka pun mengambil semua rompi milik sang ******* beserta dengan senjatanya untuk dia berikan kepada para sandra.
Alasan Azka membuat semua luka di kepala para ******* itu dikerenakan dia mengincar semua rompi milik mereka untuk dia berikan kepada para tawanan, yang tidak lain dia ingin melindungi semua tawanan dan membawa mereka hingga mereka semua tiba di Kotanya masing-masing.
Namun, sayangnya Azka bukan regu penyelamat, sehingga Azka tidak bisa bertemu dengan para tawanan apalagi sampai bertatap muka bersama dengan mereka. Tugas Azka di sana tidak lain hanya sebagai regu pembasmi saja, dan tugas penyelamatan akan diserahkan kepada para pasukan elite atau bisa dibilang sebagai salah satu pasukan khusus milik negara yang diantarnya yaitu, Mata Elang pasukan elite dari angkatan udara, Hantu Lautan pasukan elite dari angkatan laut, dan yang terakhir ada pada Tapak Rimba pasukan elite dari angkatan darat.
Sebenarnya masih ada banyak lagi, namun yang dipilih oleh jendral hanyalah ketiga pasukan itu saja, sementara pasukan elite dari angkatan udara yang bernama Langit Biru diberi tugas sebagai pasukan penyelamat cadangan bila diperlukan.