
Para abdi negara beserta dengan pasukan Azka mulai masuk ke dalam ruang hening. Dan seperti biasa Azka selalu dipilih menjadi perwakilan dari pasukan elite Black Shadow.
Azka duduk di meja bundar bersama dengan jajaran para jendral yang paling disegani oleh negara. Tentunya ini bukan kali pertama bagi Azka duduk bersama dengan mereka, sebenarnya sosok Azka pun merupakan sebagian dari orang penting juga.
Rapat dimulai, dan ini yang dinamakan ruang hening, atau bisa dibilang sebagai ruang satu suara. Seluruh pasukan terdiam pada saat jendral Soepomo membacakan beberapa surat pengajuan dari para saksi dan para intel milik negara.
"Sebagian orang yang ditangkap oleh ******* merupakan warga negara kita, sementara para warga sekitar yang menjadi saksi telah melihat ada beberapa orang asing yang mereka sandra juga."
"Kalian bisa melihat video ini bahwa para sandra ditawan di beberapa titik, saya sudah membuat tanda di dalam video tersebut, dan sekarang saya ingin memberikan beberapa waktu agar kalian semua bisa menyimaknya."
Jendral Soepomo memperlihatkan semua hasil rekaman dari salah satu kamera dron milik intel negara. Kurang lebih jendral hanya memperlihatkan beberapa tayangan singkat saja dikarenakan alasan waktu.
Seluruh jajaran abdi negara mulai memperhatikan video tersebut, dan di sana mereka semua bisa melihat kekejaman para ******* bajingan itu seperti apa, bahkan di sana para abdi negara sempat melihat ada sebagian sandra yang dibunuh oleh para *******-******* itu.
Setelah mereka melihat tayangan video tersebut, lantas jendral pun mulai melanjutkan pembahasannya. Jendral mengungkapkan beberapa identitas para ******* yang bisa dibilang mereka adalah anggota paling berpengaruh atau memiliki jabatan di dalam komplotan tersebut.
"Kira-kira jumlah mereka ada berapa? bagi siapa yang bisa menjawab, silahkan," tanya jendral dengan tatapan yang dipenuhi oleh rasa keseriusannya.
Ariska dan Azka mengangkat tangannya, mereka berdua mengetahui jumlah ******* itu ada berapa, namun Azka terlihat tidak begitu tertarik menjawab pertanyaan dari jendral sehingga dia lebih memilih menyerahkan jawabannya kepada rekan kerjanya.
"Silahkan lanjutkan saja Ka, saya biarkan anda menjawab pertanyaan dari jendral, dan terlebih saya tidak begitu tertarik menjawab pertanyaan dari jendral," hanya Azka yang berani berbicara lantang seperti itu di hadapan para jendral.
Para jendral tak ada yang berani menegurnya dikarenakan sosok Azka terkenal dengan kekejamannya dan terlebih para jendral tidak ingin menyinggung perasaan Azka.
"Mungkin anda sudah mengetahuinya lebih awal jendral, dan tebakan saya bukan perkiraan, melainkan tembakan jumlah yang nyata, mereka berjumlah 500 orang."
"Disetiap titik tempat mereka sudah menyiapkan 50 pasukan, dan itu untuk dititik yang pertama, sementara dititik tempat yang kedua mereka menambah 20 pasukan, berarti jumlah totalnya menjadi 70 pasukan."
"Jangan lupa! ini adalah point penting yang harus kita ingat dan harus kita waspadai di sana nanti. Oke, lokasi tempat yang patut kita waspadai berada di titik yang kedua, mengapa? apakah jumlah mereka sedikit lebih banyak, bukan! melainkan patokan jalan yang dipenuhi oleh lumpur serta jalanan yang terjal."
"Mungkin bagi kita itu merupakan hal biasa, namun masalahnya apakah para sandera sanggup melewati semua jalan-jalan yang dipenuhi oleh lumpur serta terjal itu? saya rasa mereka semua takan sanggup, apalagi kita belum melihat kondisi para sandera seperti apa."
"Lanjut, sementara untuk di pos yang keempat dan untuk di pos yang kelima mereka masih menyimpan pasukan yang sama, yakni dalam jumlah 100 orang jendral, jadi total keseluruhan untuk sementara waktu ini adalah 320."
"Dan sisanya berdiam diri di pos keenam, pos yang mereka jadikan sebagai gudang persejataan dan juga gudang persediaan mereka, serta tempat yang mereka jadikan sebagai tempat berkumpulnya para sandera wanita."
"Jumlah sisa keseluruhannya, yakni 180."
Penjelasan yang Ariska sampaikan tadi merupakan penjelasan yang akan jendral Soepomo beritahukan kepada para abdi negara, berhubung Ariska telah membantu tugas beliau, maka beliau tak perlu membahas masalah itu lagi kepada mereka.
....
"Semua pembahasan sudah saya susun lewat peta hologram, rekan-rekan bisa melihat susunan tersebut dengan begitu jelasnya."
Jendral memberikan peta hologram berjalan. Semua rencana telah disusun matang-matang, namun bagi Azka susunan tersebut terlalu mencolok sehingga Azka mengubah susunan yang jendral buat.
"Apakah menurut kalian rencana tersebut terlalu mencolok? sebaiknya anda merubahnya jendral."
"Kalian bisa melihatnya sendiri, kenapa jendral menyuruh pasukan elite Black Shadow bergerak pada waktu siang hari, sementara para pasukan saya bisa dibilang merupakan pasukan elite yang memiliki waktu serta ciri khas gaya bertempurnya sendiri."
"Bukankah salah satu pasukan yang pantas menerima tugas ini adalah pasukan elite Mata Elang, Langit Biru, dan juga pasukan elite dari Tapak Rimba, serta pasukan Hantu Lautan."
"Sebenarnya itu tidak masalah dan terlebih kami pasti bisa melakukannya, tapi cara ini tidak ada dalam sejarah pasukan elite Black Shadow."
"Maka dari itu, saya menegaskan bahwa tugas ini dialihkan dengan alasan menjaga indentitas pasukan kami tetap aman tanpa ada yang mengenali siapa sosok bayangan itu."
Tegasan Azka mempengaruhi pemikiran jendral, di mana akhirnya jendral mengalihkan tugas tersebut ke pasukan elite yang sebelumnya sudah Azka sebutkan.
Hal ini memang tak ada dalam sejarahnya, bahkan negara pun melarang menampilkan identitas pasukan Black Shadow dikarenakan dengan alasan bersifat rahasia.
Makanya kenapa pasukan Black Shadow sering disebut sebagai salah satu pasukan ghoib, pasukan yang selalu bergerak di tengah kegelapan malam.
Bahkan pada saat tugas nama mereka akan disamarkan, dan sampai sekarang pasukan tersebut dilarang menampakan wajahnya meskipun dalam posisi sedang rapat seperti ini.
Sebelumnya di lapangan upacara Azka dan para rekannya memang sudah menggunakan masker serta kacamata hitam untuk menutupi wajah mereka dari kamera.
Rapat tak berlangsung lama, hingga pada akhirnya mereka semua meninggalkan ruang satu suara. Semua rencana telah disusun ulang, dan sekarang tepatnya pada pukul 17:36, di mana pasukan Black Shadow diberangkatkan menggunakan pesawat cargo milik abdi negara angkatan udara.
Baju hitam tanpa badge, rompi yang dipenuhi oleh amunisi, celana cargo hitam panjang, sorban segitiga yang melekat dileher mereka, tasbih berbahan kayu jati berwarna hitam yang selalu mereka genggam ditangannya, topeng besi yang bercorakan kepala tengkorak merah diwajahnya, baret hitam yang melekat dikepalanya, sepatu tinggi khas para abdi negara, dan syal bahan merah putih yang melekat dilengan kanannya, serta bambu runcing yang mereka jadikan sebagai senjata pamungkasnya merupakan ciri yang dimiliki oleh para pasukan elite Black Shadow.
Penampilan yang begitu sangar dimiliki oleh mereka semua, dan yang lebih mencengangkannya lagi, yaitu mereka bergerak tanpa adanya sosok pelindung.
Sepuluh banding lima ratus orang, sebenarnya lima ratus orang itu bukan apa-apa bagi para pasukan elite Black Shadow, bahkan seribu ******* sekali pun dapat mereka lawan hingga habis dalam waktu semalam saja.
Sepuluh pasukan Black Shadow mulai memasuki area dalam ruangan pesawat cargo. Mereka berdoa dengan seksama di dalam sana.
Setelah selesai berdoa mereka pun mulai memasang sabuk pengaman mereka masing-masing dikarenakan sesaat lagi dan takan lama lagi pesawat akan segera diluncurkan.
Tanpa dipikir panjang, jendral Soepomo memerintahkan agar pesawat segera diluncurkan. Pasukan Black Shadow harus tiba dititik lokasi secepat mungkin, bila waktu penerbangan telat satu detik saja, maka misi dinyatakan gagal.