DETECTIVE

DETECTIVE
Chapter 7 : Ancaman besar



"Apakah anda meremehkan seorang Azka! sebaiknya anda keluar dari sana dikarenakan saya sudah mengetahui bahwa anda sedang mengawasi saya di balik rak buku itu," ucap Azka yang tak langsung menoleh ke arah si pembuntut.


"Ternyata mata anda benar-benar tajam sekali ya," ucap Clara seraya memberikan tepukan tangannya kepada Azka.


Huhhh ....


Azka menghela napas ketika dia melihat bahwa Clara benar-benar membuntuti dirinya sampai sejauh ini. Azka mengira wanita itu sudah pergi, namun Azka terlalu menganggap remeh seorang Clara.


"Mengapa anda mengikuti saya, apakah ada masalah yang masih anda ingin tanyakan kepada saya?" tanya Azka sambil melepaskan kacamata hitamnya.


"Clara, panggil saja Clara. Saya kira anda telah dihajar habis-habisan oleh para Bodyguard suruhan ayah saya, tapi saya sudah salah kira."


Dengan seketika Clara dibuat kagum, mengapa Azka bisa mengalahkan sekumpulan pengawal terbaik yang dimiliki oleh ayahnya itu dengan begitu mudahnya.


Padahal mereka merupakan sekumpulan orang yang tidak pernah mengenal kata lelah, apalagi menyerah, namun di sana Azka telah memperlihatkan kesanggupannya kepada mereka hingga mana para Bodyguard itu sadar, bahwa tak selamanya yang menang akan terus menang, bila mereka bersungguh-sungguh meremehkan seseorang, di sanalah titik kekuatan mereka dapat ditaklukan oleh kesombongannya sendiri, sesungguhnya yang membuat mereka terjatuh bukanlah lawannya, akan tetapi dirinya-sendiri.


"Bukan saya, akan tetapi diri mereka sendiri. Mungkin bila mereka semua bersikap sedikit lebih rendah hati lagi, dan mungkin situasinya akan berbalik ke arah mereka, pada dasarnya di sana saya sudah kalah jumlah, namun tidak kalah akal serta kecerdasan."


"Maaf bila saya sudah mengganggu pekerjaan anda, sebenarnya maksud dan tujuan saya mengikuti anda sampai ke dalam sini itu dikarenakan saya ingin mengembalikan alat penerangan milik anda ini."


"Saya tak sengaja melihat bahwa anda menjatuhkan senter ini, maka dari itu tidak ada salahnyakan saya mengikuti anda? lagipula saya tahu bahwa anda pasti membutuhkan benda ini," ucap Clara sembari memberikan senter tersebut kepada Azka.


"Sebenarnya saya lebih membutuhkan cahaya yang diberikan langsung oleh sang senja, dan satuhal lagi, sebenarnya saya juga tidak membutuhkan senter itu dikarenakan jiwa saya sepenuhnya sudah menyatu dengan kegelapan malam."


Detik demi detik cahaya senja pun mulai meredup hingga mana ruangan di sekitaran tempat perkara pemberontakan itu menjadi hening dengan seketika cepatnya.


Kegelapan malam telah membutakan mata Clara, ruangan yang nampak sepi meskipun di sana Clara sedang bersama dengan seorang Azka, namun akan tetapi Clara seperti tak merasakan bahwa Azka benar-benar ada di dalam sana.


Clara tak merasakan adanya tanda kehidupan, dan sekarang senter yang tengah dia genggam itu mulai meredup, sehingga dia dibuat panik oleh keadaan.


Wajah Azka berubah seiring waktu. Kegelapan malam sudah membutakan pandangan Clara, dan di sana kegelapan benar-benar telah menutupi wajah Azka, sementara Clara terlalu fokus membenarkan senter yang mulai mati itu sehingga dia tak sadar bahwa Azka telah menghilang bagaikan bayangan tanpa cahaya.


"Tuan Azka, anda ada di mana? sebaiknya anda memastikan terlebih dahulu senter milik anda ini sebelum senternya mati total."


"Tuan, Tuan Azka, udah deh jangan main-main! kita ini bukan anak-anak lagi, engga seharusnya anda mengajak saya pergi bermain petak umpet," ucap Clara mulai merasa tak nyaman dengan keadaan yang sekarang.


....


Clara mulai melangkahkan kakinya meski senter yang sekarang tengah dia genggam itu sudah hampir mati. Pada saat Clara akan melangkahkan kakinya tiba-tiba bayangan hitam melintas di hadapannya.


Clara terkejut, lantas dia pun menyinari ruangan tersebut, namun di sana tidak ada apa-apa selain pecahan kaca dan sisa-sisa puing bangunan yang hampir rubuh.


Krakk ....


Pada saat puing-puing bangunan hendak menimpa Clara, dan di sanalah Azka muncul bagaikan kilatan cahaya. Untung saja Azka tiba tepat waktu, alhasil Clara pun dapat diselamatkan.


Azka terjatuh bersama dengan Clara. Puing-puing bangunan itu nyaris menimpa tubuh Clara, bila Azka tak datang tepat waktu, mungkin semua orang akan menyalahkannya.


Sosok Clara yang bisa dibilang merupakan sosok wanita tegas dan jauh dari kata-kata manja itu ternyata memiliki rasa takut juga, pantas saja mengapa sekarang dia memeluk tubuh Azka dengan begitu eratnya, padahal Clara bukan tipe wanita yang seperti itu, bahkan ketika situasinya sedang mecekam pun dia takan pernah mau memeluk siapa pun, apalagi memeluk pria yang baru dia kenal.


"Dasar wartawan keras kepala! puing-puing bangunan itu hampir saja menimpa tubuh anda, memangnya anda tidak bisa membedakan mana bangunan yang layak huni sama dengan bangunan yang sudah tak layak huni."


"Sepertinya anda tidak mengerti arti hidup! anda harus bisa memilih antara menyelamatkan hidup anda atau menyelamatkan senter yang sudah rusak itu."


Azka merasa bahwa Clara telah membuat dirinya kesal, namun dia sama sekali tidak menyalahkan niat baik Clara, maka dari itu dia ingin membalas kebaikan Clara dengan sebuah pertolongan darurat yang telah Azka kira sebelumnya bahwa masalah ini pasti akan terjadi.


"Mungkin sepatutnya anda bersikap seperti ini kepada semua orang, namun saya tidak menyukai pandangan datar anda dan juga cara anda berkata dingin seperti itu," ucap Clara mulai membuka matanya yang sempat dia pejamkan karena panik.


"Saya harap anda bisa tetap diam dipangkuan saya, dikarenakan puing-puing bangunan di ruangan ini sudah hampir roboh, dan saya pikir tidak baik jika kita terus-terusan berada di dalam ruangan ini," ucap Azka sembari memangku tubuh Clara seraya melihat-lihat apakah akan ada puing-puing bangunan yang akan roboh kembali.


"Orang ini benar-benar menakutkan, mengapa dia bisa melihat ruangan yang sudah gelap ini tanpa sedikit pun dia menggunakan alat penerangan," ucap Clara dalam hari sembari memperhatikan orang yang tengah memangku tubuhnya itu dalam diam.


Tak lama kemudian mereka berdua pun akhirnya telah tiba di tempat yang aman, yakni area parkiran bawah tanah. Berhubung pintu utama Perusahaan jaraknya lumayan jauh, jadi Azka lebih memilih untuk pergi menggunakan pintu emergency.


Azka mulai menurunkan tubuh Clara setelah dia tiba di lokasi paling aman. Namun, tidak sampai di situ saja, di mana Azka mendengar suara Bom aktif yang sepertinya tidak begitu jauh.


Titt, titt, titt ....


Suara Bom aktif terdengar begitu jelas sekali ditelinga Azka dan Clara. Mereka mulai mencari letak Bom tersebut dipasangkan.


"Emmm, Tuan Azka, apakah anda juga mendengarkan hal yang sama, kalau menurut saya sepertinya itu bukan suara dari token listrik yang hampir habis, melainkan suara dari Bom yang masih aktif."


"Saya kira para polisi sudah menangkap semua pemberontak-pemberontak itu, namun ternyata mereka masih menyisakan beberapa pemberontak di tempat ini," ucap Clara seraya memperhatikan di mana suara itu berasal.


"Sepertinya anda salah nona muda, sebenarnya yang telah memasangkan Bom ini bukan para pemberotak itu, melainkan para pembunuh bayaran, saya bisa membedakannya dari seberapa detailnya mereka merakit Bom berkekuatan besar ini."


"Apakah anda hanya memastikan hal itu saja?" tanya Clara dengan perasaan terkejutnya.


"Anda sudah melihatnya sendirikan, tipe Bom rakitan ini berbeda dengan Bom rakitan yang mereka gunakan sebelumnya, dan terlebih apakah anda sudah melihat waktu yang mereka pasang di dalam Bom itu hanya sekian menit."


"Jadi sebaiknya anda harus segera pergi sebelum Bom ini meledak."


"Tapi anda juga harus segera pergi keluar Tuan."


"Cepat pergi Clara!" ucap Azka dengan begitu tenangnya mengingatkan Clara untuk segera pergi dari dalam area parkiran bawah tanah.