
Satu Minggu kemudian ....
Waktu berjalan begitu cepat, dan waktu itu juga telah menunjukan Azka yang baru saja menuntaskan pekerjaannya sebagai seorang Detective.
Azka berhasil mengungkap siapa dalang di balik rencana pengeboman di salah satu perusahaan besar yang diduga pemilik perusahaan itu merupakan teman bisnis Tuan Julian.
Bukan hanya mengungkap identitas si pemasang bom itu saja, dan ternyata di sana Azka pun telah berhasil mematikan semua aliran listrik yang berada di dalam bom rakitan tersebut.
Hingga pada akhirnya perusahaan milik rekan bisnis Tuan Julian dapat diselamatkan meskipun ada beberapa bagian yang rusak dikarenakan si pengebom itu tidak hanya memasangkan satu buah bom rakitan saja, melainkan si pengebom itu memasang beberapa bom rakitan di ruangan yang lain.
Dan yang lebih parahnya lagi, si pengebom memang sengaja menciptakan satu buah bom yang ledakannya dapat membuat satu peruhasaan tingkat atas hancur sehancur-hancurnya.
Untuk bom rakitan yang memiliki dampak ledakan paling besar tersebut dipasang di dalam ruangan Bos pemilik perusahaan, dan memang mereka hanya mengincar si Bos, bukan melainkan mengincar para karyawan yang lain.
Sementara di sisi lain nama Azka dengan seketika menjadi terkenal, dan di sana banyak sekali yang mewawancarai Azka, salah satunya Clara, anak dari Tuan Julian pun ikut berpartisipasi mewawancarai Azka.
"Tuan, bagaimana tanggapan anda dalam menangani kasus ini, dan mengapa anda bisa mengetahui si pengebom tanpa berpikir panjang terlebih dahulu?" tanya Clara dalam liputannya itu.
"Hal tersebut cukup sederhana, dan sistem mainnya pun bisa dibilang cukup akrab dengan para detective, saya hanya mengikuti dan memahaminya, dan setelah itu memastikannya."
"Intinya tak ada penjahat yang dapat melakukan pekerjaannya secara maksimal bila dihatinya dilumuri oleh kebencian dan dendam, maka dari itu saya dapat menebak siapa dalang di balik semua ini dengan cepat."
Berapa kali Azka diberi pertanyaan, dan seberapa banyak dia menjawab semua pertanyaan itu, namun seorang Azka tetap tidak mau memperlihatkan kemampuannya di hadapan orang banyak, apalagi di hadapan kameramen.
Azka tetap tampil rendah hati, bahkan ucapan yang dia lontarkan terdengar biasa saja dan membosankan. Sebagian wartawan menganggap bahwa Azka terlihat seperti seorang psikopat, tatapan datarnya serta tak diperlihatkan reaksi senyuman di raut wajahnya itu sudah mencerminkan bahwa seorang Azka sudah sama menakutkannya seperti para pembunuh bayaran.
Di sana hampir semua wartawan yang meliputi Azka itu adalah para wanita, dan di sana yang benar-benar berbicara banyak itu adalah Clara.
Clara memang wanita pemberani, bahkan sebenarnya Clara merupakan orang yang sama seperti Azka, yakni pendiam dan tak mau banyak berbicara, apalagi sampai berhubungan dengan orang banyak selain teman dekatnya saja.
Tak ada kata terima kasih yang diucapkan, bahkan setelah selesai diwawancarai oleh wartawan tiba-tiba Azka pergi begitu saja, padahal panglima besar TNI dan panglima satuan kepolosian ingin bertemu dengannya, namun setelah keramaian di sana mengusik dan memadati tubuhnya, maka Azka lebih memilih untuk pergi saja sekaligus untuk memutuskan keramaian sebelum terjadi lagi hal yang tak diinginkan.
"Benar kata orang-orang, dia merupakan salah satu detective yang sangat sulit untuk didekati dan dipintai banyak pertanyaan, tapi bila dipikir-pikir saya pun sama seperti dia," ucap Clara dalam hati sembari menatap kepergian Azka.
....
Masih di hari yang sama, di sana terlihat bahwa Azka tengah duduk seorang diri sembari membaca salah satu buku yang membahas tentang ilmu hukum.
Tak lama setelah itu Clara melihat Azka tengah duduk di kursi taman dengan begitu damainya. Lantas pada saat itu Clara mencoba mendekati Azka dan berniat memberikan beberapa buah roti yang dia bawa dari rumahnya.
"Mau bagaimanapun seorang Detective tetaplah manusia, dan jangan sesekali anda membiarkan perut anda kosong dikarenakan tubuh anda membutuhkan asupan yang cukup, apalagi disaat-saat seperti ini."
"Berhubung saya membawa roti lebih, alangkah baiknya anda menerima pemberian dari saya ini sebelum semuanya terbuang sia-sia," ucap Clara sambil menodongkan kotak makan yang berisikan roti tawar itu seraya memperlihatkan sikap aslinya yang begitu dingin.
"Sebelumnya saya ingin mengucapkan kata terima kasih dikarenakan anda sudah mau menawarkan roti anda kepada saya, namun jika anda memberikan roti itu dengan sebuah syarat, maka saya tidak akan menerimanya, tapi bila anda bersungguh-sungguh ingin memberikan roti itu kepada saya, maka dengan senang hati saya akan menerimanya."
Entah kenapa Azka terlihat begitu santai sekali tanpa sekali pun dia merasa risih ketika Clara menghampirinya, padahal sebelumnya dia merasa risih apalagi pada saat Clara memberikan beberapa pertanyaan kepada dirinya.
"Tugas saya sudah selesai lebih awal dikerenakan anda tidak mau bekerja sama dengan saya, maka dari itu saya sudah diperbolehkan untuk pulang," ucap Clara terlihat begitu dingin sekali, bahkan Clara tidak memberikan reaksi tatapan apa pun kepada Azka.
"Apa hubungannya?" tanya Azka singkat dan terlihat begitu datar sekali
"Napsu makan saya sudah hilang dikarenakan anda tidak mau menjawab dengan jelas pertanyaan dari saya, dan saya berpikir anda tengah kelaparan, makanya tadi anda terlihat seperti tidak begitu fokus pada saat anda sedang menjalankan tugas anda sebagai Detective."
"Maka dari itu saya memberikan roti ini untuk anda makan agar anda bisa menjalankan pekerjaanya dengan sebaik mungkin."
"Pada umumnya saya sangat manjauhi para mediamen seperti anda, bahkan saya tidak mau di pandang mewah ataupun di pandang sebagai salah satu pahlawan di negri ini dikarenakan saya sudah banyak membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan dari makhluk rendahan seperti saya ini."
"Saya hanya ingin menjadi pria sederhana karena sebabnya dan pada dasarnya saya membantu mereka atas berdasarkan keadilan yang harus ditegakan."
"Ternyata anda bisa cerewet juga ya! saya pikir orang seperti anda ini tidak dapat melakukan hal tersebut, walaupun tatapan itu sebenarnya masih harus diubah juga bilamana nanti anda ingin kembali tampil secerewet seperti ini lagi ketika anda tengah berasa di hadapan saya."
Pada saat itu Clara mulai bisa menatap raut wajah datar Azka, dan memang Azka itu merupakan salah satu pria yang memiliki sikap serta sifat dingin yang sama dengannya.
Kretekk ....
Suara tutup kotak makan telah di buka oleh Clara.
Lalu setelah itu Clara pun mendekatkan kotak makan tersebut agar Azka dapat mengambil satu buah roti tawar buatannya dengan mudah.
Sebenarnya Azka masih merasa enggan bila dia merima pemberian dari Clara, namun apa boleh buat, hingga pada akhirnya Azka dibuat mengalah oleh seorang wanita yang entah Clara itu siapanya dia.