
Dari penjelasan yang telah disampaikan oleh Samuel tadi, sebenarnya yang ingin Clara ketahui tidak lain hanyalah tugas dari sang bayangan yang bergerak di tengah kegelapan malam itu saja.
Clara memang sengaja menyuruh Samuel untuk menceritakan pengalaman yang bisa dibilang sejarahnya cukup panjang terlebih dahulu, agar supaya Samuel tidak mengetahui langsung niatan yang ingin Clara tanyakan itu kepadanya.
"Sungguh kejam sekali mereka! tapi syukurlah, untung saja pekerjaan sang bayangan yang bergerak di tengah kegelapan malam itu merupakan pekerjaan yang berbeda dengan pekerjaan yang berada di dalam dunia gelap," ucap Clara yang tiada henti membuat Samuel mati bagaikan arwah penasaran.
"Sebenarnya anda tengah menyembunyikan hal apa dari saya? perasaan anda selalu menyebutkan nama julukan para abdi negara itu, tapi anehnya nona tidak mau meberitahukan alasannya kepada saya, sungguh sangat menyebalkan sekali anda," ucap Samuel semakin dibuat penasaran saja oleh Clara.
Sesungguhnya Samuel merasa kecewa dikarenakan dia tak dapat mengetahui alasan mengapa Clara selalu menyebutkan nama julukan para abdi negara itu, namun di sisi lain Samuel juga terlihat begitu bahagia sekali dikarenakan dia bisa melihat senyuman dari Clara walaupun senyuman itu adalah senyuman tipisnya.
"Nona muda, saya sering membayangkan betapa bahagianya hati saya bila setiap hari bisa melihat anda tersenyum seperti ini."
"Hmm, apakah tidak ada kata-kata lain selain dari itu? sebenarnya saya sudah bosan mendengarkan kata-kata tersebut, bila tidak mendengarkan pujian indah senyumanmu, palingan saya akan dipaksa untuk mendengarkan pujian cantik raut wajahmu," ucapan yang sangat dingin sekali, bahkan di sana Clara tak memberikan reaski tercengang sedikit pun.
"Ahh, sial! rasanya rasa sakit ini jauh lebih sakit dari sayatan sebuah pisau tajam," ucap Samuel dalam hati, di mana dia sudah mengetahui bahwa Clara merupakan sosok wanita yang kebal terhadap pujian.
Kejahilan Clara tentunya tidak akan berhenti sampai di situ saja, berhubung sekarang dia mulai merasa akrab kembali dengan Samuel, makanya sekarang Clara ingin sekali mengolok-olok sosok yang selalu ada untuknya itu.
"Anda itu adalah pengawal pribadi saya, mau bagaimanapun propesi anda tidak akan pernah bisa diubah sesuka hati anda, walaupun anda berusaha sekeras mungkin, anda tetaplah seorang pengawal pribadi saya, bukan melainkan pangeran yang berada di negri dongeng."
"Sangat menyedihkan sekali nasib anda, pantas saja mengapa dari dulu hingga sampai sekarang ini anda masih sendiri, sepertinya para wanita tahu bahwa anda tidak bisa bermain dengan kata-kata anda sendiri, anda harus banyak belajar sebelum di dahului oleh junior-junior anda."
Clara menganggap bahwa ucapan yang dia lontarkan terdengar begitu kejam sekali walaupun pada dasarnya itu hanyalah sebuah candaan saja, namun akan tetapi dia merasa sangat menyesal dikarenakan baru kali ini dia membercandai Samuel sekejam itu.
"Ahh, sial! nona muda memang benar, saya merupakan salah satu orang gagal, bahkan saya juga tidak mengetahui apa itu arti disayangi oleh wanita lain selain anda dan nyonya besar."
"Betapa sedih hati ini ketika anda berbicara seperti itu, namun mau bagaimanapun ucapan anda memang benar, saya lemah akan hadirnya cinta."
"Entah kepada siapa saya harus belajar mengetahui arti dari rasa cinta itu, apakah saya harus belajar kepada para junior saya! tapi saya rasa itu sungguh memalukan."
Samuel berucap kata dalam hatinya sendiri, hingga mana Clara tak sengaja melihat pandangan Samuel mulai berubah, di mana yang tadinya dia terlihat begitu ceria, namun sekarang Clara tak dapat melihat senyuman diraut wajah Samuel itu lagi, sementara yang bisa dia lihat sekarang cuma kerutan diraut wajah Samuel saja.
....
Clara tertawa dan tersenyum tipis melihat Samuel benar-benar mengkerutkan wajahnya seraya memoncongkan bibirnya ke depan.
Clara menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis seraya menyandarkan punggungnya kembali di kursi mobil dengan begitu damainya.
"Anda memang mewarisi semua sisi kepribadian yang dimiliki oleh orang tua anda nona, dari cara anda membercandai saya sudah sama seperti Tuan Julian, sementara sikap dingin itu merupakan sisi kepribadian yang dimiliki oleh ibu anda."
"Mereka berdua merupakan pasangan yang rendah hati, maka dari itu mengapa mereka bisa sesukses ini sekarang."
"Anda merupakan salah satu mutiara yang paling berharga bagi mereka berdua nona, jadi saya berharap anda mau bekerja sama dengan saya untuk mengubah semuanya."
"Mengubah! maksud anda mengubah apa?".
"Tuan Julian pernah berkata kepada saya nona, bahwa suatu saat nanti beliau akan membangun banyak sekali cabang perusahaan yang mampu membuktikan dan mampu menampung semua orang yang membutuhkan di dalam perusahaannya."
Clara mengangguk, dari dulu hingga sampai sekarang ayahnya memang tak pernah sekali pun mencari para pekerja yang memiliki pengalaman, ijazah, dan maupun itu uang untuk beliau jadikan sebagai pekerja karyawan kantoran.
Sampai saat ini semua perusahaan yang beliau miliki dapat menghasilkan satu miliyar uang dalam jangka waktu sehari saja, bahkan kurang dari satu hari pun perusahaannya masih mampu menghasilkan uang yang cukup menggiurkan.
"Sekarang perusahaan-perusahaan besar kebanyakan mencari orang-orang yang memiliki pengalaman, sedangkan bagi para karyawan yang sekarang bekerja di perusahaan ayah anda, sebenarnya mereka semua merupakan sekumpulan orang yang tidak mampu, dan tak memiliki ijazah, serta pengalaman kerja."
"Namun, atas keinginan serta kerja keras dari mereka, hingga pada akhirnya mereka bisa membuktikannya bahwa tanpa pengalaman bahkan tanpa sekolah sekali pun mereka sanggup memajukan dan mengharumkan nama negri ini."
"Mau sampai kapan pun beliau akan tetap menjadi yang pertama dihati semua orang, mungkin semua orang sering menganggap bahwa harta dan kekayaan merupakan sumber yang di mana titik kebahagiaan itu berada, namun bagi ayah anda berbeda nona."
"Kebahagiaan yang sebenarnya adalah melihat mereka tersenyum lepas kepadanya."
Kini Tuan julian telah membuktikan keberhasilannya, bahkan dulu para karyawan yang bekerja di tempatnya sama sekali tidak mengetahui bagaimana caranya menjalankan bisnid di dalam perusahaannya.
Namun, Tuan Julian sangat sabar, beliau rela memberikan pengarahan serta rela mengajarkan mereka hingga mana mereka semua mampu memahami masukan yang disampai oleh beliau dalam jangka waktu kurang dari satu minggu.
Jangankan di dalam negri, bahkan negara luar pun banyak sekali memberikan apresiasi atas apa yang telah perusahaan beliau raih sampai sejauh ini.
Samuel dan Clara terdiam ketika mereka tiba di tempat persinggahan keluarga Marga Aksara. Suasana di depan halaman rumah pun terasa hening, Clara berpikir apakah ayahnya sedang beristirahat sehingga ruangan depan dikosongkan untuk sementara waktu sampai Samuel tiba di sana.