DETECTIVE

DETECTIVE
Chapter 5 : Antara baik dan tidak



Azka mulai menyantap satu buah roti tawar buatan Clara, dan ternyata rasa dari roti tersebut mengingatkan satu memori diingatannya yang di mana dulu ibunya sering membuatkan roti tawar ketika Azka masih kecil.


Berhubung Clara tak terlalu memperhatikan dirinya, Azka pun dengan sembunyi-sembunyi mengambil beberapa roti tawar itu sampai roti tawar tersebut habis.


"Sepertinya anda menyukai roti isi buatan saya ini, dan mungkin dilain waktu saya akan membuatkan lebih banyak lagi roti isi ini untuk anda," ucap Clara yang ternyata dari awal dia tengah memperhatikan Azka dalam diam.


"Bila boleh jujur, darimana anda bisa membuat roti isi yang sama persis enaknya seperti buatan ibu saya?" tanya Azka penasaran, namun Azka tak terlalu mengrapkan jawaban yang akan diucapkan oleh Clara, berhubung Clara merupakan salah satu waniti pendiam dan kaku, maka dari itu Azka tak terlalu mengharapkan jawaban darinya.


Clara tersenyum tipis ketika dia mendengar ucapan tulus yang keluar dari mulut Azka. Sebenarnya ini merupakan kali pertamanya dia bisa merasa akrab dengan orang asing, apalagi orang tersebut adalah seorang pria dingin.


"Sepertinya anda harus berterima kasih kepada ibu saya terlebih dahulu dikarenakan roti ini saya buat menggunakan resep yang beliau ajarkan kepada saya dulu," ucap Clara masih terlihat datar, namun kali ini dia sudah bisa tersenyum tipis walaupun Azka masih mengabaikan senyuman darinya.


"Mungkin suatu saat nanti, tapi bila anda memaksa saya, maka saya akan pergi," ucap Azka yang masih mempertahankan sikap dinginnya itu.


Tak terasa hari sudah mulai larut, dan di sana Azka berniat untuk pergi terlebih dahulu dikarenakan dia tahu bahwa Clara pasti sedang diawasi oleh para Bodyguard ayahnya.


Dari awal Azka memang sudah mengetahuinya bahwa dia merupakan anak dari Tuan Julian, sosok pengusaha kaya raya yang minggu lalu pernah dia selamatkan.


"Saya tidak akan pernah tahu kapan kita akan bertemu kembali, maka dari itu anda harus lebih berhati-hati lagi dikarenakan banyak orang yang menginginkan anda."


"Mengapa?" tanya Clara singkat, dan Clara sudah mulai mengetahui sisi keperibadian dari seorang Detective dingin ini seperti apa, makanya dia tak begitu mengherankannya lagi bahwa pria ini pasti akan memberikan beberapa pertanyaan yang dapat membuat semua orang kebingungan.


"Karena saya adalah bayangan yang bergerak dalam kegelapan malam."


Ucapan Azka merupakan sebuah teka-teki yang harus Clara pahami meskipun teka-teki itu takan pernah terjawab secepat yang Clara kira.


Namun, Azka percaya Clara merupakan wanita pandai, dan bila waktunya telah tiba, akan ada saatnya Clara memahami semua ucapan yang keluar dari mulut Azka tadi.


"Sungguh pria yang sangat menyebalkan, mengapa bisa orang seperti dia menjadi Detective, padahal saya sama sekali tidak bisa menganggap pria itu merupakan pria yang paling ditakuti oleh para pembunuh bayaran."


Clara terlihat begitu meremehkan keahlian Azka, namun Clara berpikir apakah tidak ada salahnya dia mencari identitas pria itu, dan Clara berpikir apakah dia merupakan seorang pembunuh bayaran juga.


Clara menuding dia adalah seorang pembunuh bayaran lantaran pria tadi berbicara bahwa dia adalah sosok bayangan yang bergerak dalam kegelapan malam.


Kringg, kringg, kringg ....


Suara handphone Clara berdering, dan ternyata yang meneleponnya itu adalah Samuel, Bodyguard yang selalu menlindungi Clara ke mana pun dia pergi.


....


"Maaf mengganggu, nona muda baik-baik sajakan? apakah pria di samping anda tadi bertingkah tak sewajarnya kepada anda, bilamana dia benar-benar melakukan hal tersebut, maka saya dan rekan-rekan saya akan bertindak," tanya Samuel yang begitu memperhatikan Clara.


"Saya tidak begitu yakin kalau anda dan seluruh rekan-rekan anda bisa melawan dia, tapi jika anda merasa yakin ingin memberikan sedikit pelajaran kepada pria tadi silahkan saja," ucap Clara kembali meremehkan seseorang walaupun pada dasarnya ucapan Clara itu hanyalah sebatas candaan saja.


Tutt ....


Kemungkinan besar Azka masih berada di sekitaran tempat perkara, dan mungkin Azka juga akan kembali ke tempat itu sampai dia benar-benar menemukan alasan mengapa bisa sebagian karyawan yang bekerja di sana menjadi pemberontak.


Berhubung Azka merupakan salah satu seorang Detective handal, jadi Clara berpikir bahwa Azka memang takan pernah memberhentikan langkahnya begitu saja sebelum dia menemukan beberapa bukti untuk dia ungkap nantinya.


Dan ternyata memang benar, Samuel beserta dengan rekan-rekannya telah berhasil menemukan Azka di tempat yang sebelumnya.


Di sana terlihat bahwa Azka tengah memperhatikan ruang lingkup di sekitaran lingkungan area Perusahaan. Dan ternyata di lokasi tersebut terdapat banyak sekali celah yang tak beraturan, dan justru hal itu dapat memudahkan pergerakan si pemberontak dalam mengerjakan tugasnya.


Area parkiran bawah tanah merupakan titik utama yang dapat mereka gunakan sebagai salah satu lokasi untuk pergi keluar dan masuk ke dalam ruang area Perusahaan.


Di bawah sana terdapat beberapa buah pintu emergency yang memang biasanya sering digunakan sebagai salah satu tempat pelarian darurat, contohnya ketika ada gempa bumi, bilamana pintu utama tak dapat dilewati, maka salah satu jalan yang dapat dilalui adalah pintu itu.


"Para pemberontak itu ternyata sudah mempersiapkan semuannya, namun sayangnya mereka terlalu tergesa-gesa hingga mana ada beberapa kamera yang mereka lewatkan, dan yang lebih parahnya lagi mereka meninggalkan sidik jarinya di salah satu gagang pintu emergency."


Azka dapat mengetahui sidik jari mereka dikarenakan dia telah menaburkan bubuk murni disetiap pintu emergency yang berada di sekitaran area parkiran bawah tanah tersebut.


Trapp, trapp, trapp ....


Tak lama setelah Azka mencari beberapa bukti di ruangan tersebut, dengan seketika Azka mendengar suara langkah kaki yang begitu berirama.


"Sepertinya sang jagoan sudah tertangkap basah!" ucap Samuel seraya tersenyum jahat di hadapan Azka.


Azka menoleh tanpa reaksi apa pun selain tersenyum tipis seraya memasukan kacamatanya ke dalam saku jas abu-abunya. Wajahnya terlihat begitu datar sehingga para Bodyguard itu dibuat takjub melihat keberanian Azka.


"Jangan biarkan dia tersenyum!" teriak Samuel menyuruh rekannya untuk menyerang Azka.


Sepeluh Bodyguard yang paling ditakuti oleh para penjahat mulai menjalankan tugasnya, namun mereka terlalu meremehkan seorang Azka, hingga mana hasilnya Azka dapat mengalahkan mereka semua dengan begitu cepatnya.


Wushh ....


Azka berhasil menghindari pukulan keras itu hingga mana satu Bodyguard pilihan milik Samuel berhasil dibuat tunduk olehnya. Dia memukul bagian perut kanan si Bodyguard hingga Bodyguard pilihan Samuel terkapar lemas.


Tak mau membuang waktu banyak, alhasil Azka pun berlari menghampiri sisa-sia Bodyguard yang masih berdiri di hadapanya sekarang.


Satu-persatu Bodyguard itu terjatuh, bahkan sampai ada yang tak sadarkan diri. Sebenarnya Azka ingin memberikan dampak yang lebih buruk lagi kepada mereka, namun di sana Azka sudah mengetahui bahwa mereka menyerang bukan karena mengincar dirinya, akan tetapi mereka semua hanya ingin mengetahui kekuatan dari keluarga bermata biru.


Prokk, prokk, prokk ....


Samuel memberikan tepukan tangannya kepada Azka, dan ternyata sejarah memang tidak bisa diubah bahwa anggota keluarga Blue Eyes merupakan anggota keluarga terkuat yang masih ada hingga sampai sekarang ini.


"Tidak diragukan lagi, anda memang anak dari Tuan pewaris mata biru, tapi anda jangan jumawah dulu dikarenakan saya masih ingin menguji apakah anda bisa mengalahkan perwaris garis keturunan sang aligator dataran," ucap Samuel seraya membunyikan tulang-tulang yang berada di dalam tubuhnya itu hingga mana Samuel merasa lebih leluasa menyerang Azka.