
Dorr, dorr, dorr ....
Suara tembakan itu berbunyi hingga mengeluarkan 3 kali bunyi yang begitu keras sekali. Suara keras tersebut kira-kira berasal dari lantai ke dua, dan tempatnya berada di Hotel Elit Green House.
Hotel Elit Green House merupakan hotel tingkat kelas atas, bagi orang-orang yang memiliki pangkat tinggi sajalah yang diperbolehkan masuk dan menginap di dalam sana asalkan mereka memiliki cukup banyak uang.
Hari itu tepatnya di malam hari, Bos besar pemilik Perusahaan minyak bumi sedang merayakan pesta dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya yang ke 57 tahun dan sekaligus merayakan keberhasilannya mengerjakan bisnisnya yang sudah bergerak selama 20 tahun.
Beliau memiliki banyak julukan, namun beliau hanya ingin dipanggil sesuai dengan nama yang telah almarhum ayahnya berikan kepadanya.
Julian Marga Aksara, itu merupakan nama Bos besar pemegang saham minyak bumi terbesar di dunia. Bukan hanya kaya, beliau merupakan Bos besar yang sangat cerdas, baik, murah senyum, ramah, dan suka membatu orang-orang yang membutuhkan.
Makanya tak heran, mengapa sampai saat ini, dan sampai detik ini beliau sering di incar oleh para pembunuh bayaran. Pembunuh-pembunuh itu sebenarnya adalah pekerja suruhan yang bersifat sementara saja.
Kejadian di malam hari itu sungguh di luar dugaan, sehingga para tamu undangan dibuat takut berketerusan. Mereka semua takut dan lalu berhamburan pergi meninggalkan area ruang pesta.
Orang-orang yang berada di dalam ruang utama, khusnya bagi para tamu undangan wanita, mereka semua tak bisa berbuat apa-apa selain pergi dan berteriak meminta bantuan kepada para anak buah Bos besar.
Sementara itu di dalam ruangan hotel, tepatnya di lantai utama, ternyata di dalam sana masih ada beberapa orang, dan orang-orang tersebut adalah Bodyguard milik Tuan Julian.
"Perhatian untuk semua! cari sumber suara itu ada di mana, dan lindungi Bos besar dari bahaya, ini semua pasti ada hubungannya dengan beliau. Tetap siaga! jangan lengah sedikit pun! pantau semua titik yang paling strategis di hotel ini," ucap salah satu Bodyguard sekaligus dia juga merupakan orang yang dipilih langsung oleh Bos besar untuk menjadi tangan kanannya.
Tak lama kemudian ada salah satu rekan Bodyguarnya yang menghampiri dirinya. Dia memberikan sebuah kabar bahwa Bos besar hilang entah ke mana, padahal 5 menit yang lalu beliau terlihat tengah duduk di kursinya bersama dengan rekan satu bisnisnya.
"Bang, Bos besar hilang!" ucap rekan kerjanya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
Plakk ....
Dengan seketika orang kepercayaan Bos besar menampar wajah rekan kerjanya di saat itu juga. Dia sudah mengingatkan mereka untuk tetap siaga, namun mereka semua malah lengah.
"Jangan main-main kamu! dia itu Bos kita, bila ada sesuatu hal yang terjadi kepadanya, maka kita semua telah gagal menjalankan tugas darinya."
"Bukannya saya sudah bilang dari awal, bahwa kita harus tetap siaga, tapi kenapa kalian malah mengabaikan perintah itu hah! pokoknya kalian semua harus bisa menemukan beliau sampai ke titik terakhir."
Ucapan yang penuh kebencian telah dia gumamkan. Tak lama kemudian suara tembakan itu kembali berbunyi, namun sekarang suara tersebut bergema dan terdengar di lantai paling atas, tepatnya di lantai 50.
Tapp, tapp, tapp ....
Para Bodyguard Tuan Julian pun mulai berlari ke titik yang di mana suara itu bergema.
....
"Menyerahlah Bos! saya dan rekan kerja saya sudah memblokir semua akses di jalan ini, bahkan lift di hotel ini sudah kita matikan semua. Dan sekarang Bodyguard suruhan anda pasti sudah menunggu anda di pemakaman," ucap salah satu pembunuh bayaran sambil tertawa lepas bersama dengan rekan kerjanya.
Bos hanya tersenyum, dia yakin bahwa keajaiban akan datang kepadanya di saat itu juga. Para pembunuh bayaran mulai merasa muak melihat senyuman dari Bos besar.
Bos besar terlihat seperti meremehkan niat mereka, padahal pistol sudah mereka todongkan, dan pemimpin dari si pembunuh bayaran itu sudah mulai menghitung waktu mundur.
"Ada pesan terakhir Bos?" tanya pimpinan si pembunuh bayaran itu kepada Bos sambil tersenyum jahat.
Clikk ....
Suara stap kontak lampu tiba-tiba berbunyi. Dan pada saat itu juga lampu ruangan yang dijadikan sebagai tempat untuk menyandera Tuan Julian mati.
"Ada apa ini? apakah para Bodyguard itu sengaja mematikan semua aliran ristrik di hotel ini. Dasar bodoh! mereka engga tahu apa bahwa mereka membutuhkan penerangan yang jelas bilamana mereka mau menjemput mayat Bos besarnya."
Mereka kembali tertawa, namun tawa itu tiba-tiba terdengan semakin melemah. Dan ternyata di balik kegelapan itu ada seorang pria muda yang tentunya dia sudah ada di dalam sana sejak awal, bahkan dia mendahului para pembunuh bayaran itu.
Clikk ....
Stap kontak lampu berbunyi kembali. Satu-persatu semua lampu di dalam ruangan mulai menyala. Dan pada saat itu orang yang memimpin para pembunuh bayaran tersebut terkejut, mengapa semua rekannya mati.
"Anda adalah pembunuh bayaran tingkat atas, nama anda sudah tersebar keseluruh dunia, namun anda terlalu naif! mengapa anda bisa mengabaikan orang seperti saya," ucap pemuda yang terlihat santai itu, padahal pembunuh bayaran sudah menarik pelatuk pistolnya.
Dia berdiri tanpa reaski di hadapan si pembunuh bayaran dan juga Tuan Julian. Pemuda itu terlihat seperti pria biasa yang tak memiliki keahlian apa pun dikehidupannya.
Duar ....
Si pembunuh menarik pelatuk pistolnya, sehingga peluru yang berjenis peluru hampa, yang tidak lain adalah itu mengarah tepat ke arah mata si pemuda tersebut.
Sebenarnya senjata yang si pembunuh gunakan itu adalah Revolver Ruger GP100, bukan melainkan senjata api yang berupakan pistol.
Namun sebagian orang menganggap suara itu merupakan suara pistol yang sering mereka lihat dan dengar, contohnya seperti di film-film action luar negri.
"Revolver Ruger GP100! mengapa anda menggunakan senjata ini? padahal anda pembunuh yang sangat terkenal. Bukannya anda dapat membeli banyak Revolver yang lebih berbahaya daripada senjata ini."
"Contohnya mungkin seperti Revolver Smit and Wesson 686 Bekaliber .357," ucap pemuda itu sambil menatap model peluru Revolever tersebut yang sekarang tengah ia pegang.
Ya, pemuda itu adalah Azka. Dia merupakan seorang Detective yang bisa dibilang tingkat kekejamannya melebihi para pembunuh bayaran yang sekarang ada di hadapannya.
Umurnya bisa dibilang masih cukup muda, kurang lebih sekarang dia berumur 25 tahun. Azka merupakan anak dari anggota keluarga Blue Eyes, yang di mana semua anggota keluarganya memiliki mata biru.
Namun, entah kenapa Azka hanya memiliki satu mata biru di sebelah kanannya saja, sementara anggota keluarganya yang lain masing-masing memiliki 2 mata biru di sebelah kanan dan kirinya, tapi yang jelas hal tersebut memang sudah merupakan takdirnya, dan ia tak bisa menolaknya.
Azka adalah anak yang paling pendiam dianggota keluarganya, namun Azka merupakan anak yang penuh akan prestasi, dan tentunya dari diamnya semua orang bisa melihat, ternyata orang seperti Azka banyak sekali menutupi keahliannya dalam bidang seni berkelahi, kepandaiannya, kejeliannya, dan maupun itu disiplinnya.
"Mengapa anda terdiam? apakah anda terkejut melihat keterampilan saya. Ya, itu adalah salah satu kelebihan yang tertanam dalam diri saya."
"Apakah anda mau melihat kelebihan saya yang lain?" tanya Azka sambil mematikan lampu ruangan kembali.
Ruangan kembali gelap, dan di sana si pembunuh dibuat terkejut oleh Azka, mengapa dia sudah berada di hadapannya, padahal di dalam sana tak ada satu pun penerangan yang dapat menerangi arah pandangannya.
"Ya, dan ini adalah kelebihan saya yang kedua, yakni menjadi pembunuh berdarah dingin meski sekali pun gelap menutupi arah pandang si mata biru ini."
Syatt ....
Suara tusukan itu terdengar jelas ditelinga Tuan Julian, namun sayangnya beliau tak diizinkan melihat kekejaman yang dimiliki oleh Azka sekarang itu.